Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Joy Kena Mental.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Moy, jam berapa meeting terakhir kita hari ini?" tanya Better pada sang istri yang sedang menyusul jadwalnya di laptop, siang itu.


"Hanya yang pada jam dua siang ini saja," jelas Vanish. Ia hanya menengok sekilas kearah suaminya.


"Bagaimana dengan besok, Moy?" gemas Better, karena Vanish hanya menjawab singkat.


"Besok ada dua rapat tapi diluar. Pertama pada jam sepuluh pagi di hotel Morrinaga, kedua pada jam empat sore di restoran Tropicana. Begitu Sugan-ku," Begitulah penjelasan yang di sampaikan oleh Vanish. Masih dengan gaya ceria meski sedikit di paksakan. Karena sejak pagi, dirinya sudah merasa tak enak pada tubuhnya.


Better bangun dari kursinya untuk segera menghampiri istrinya.


"Kenapa?" heran Vanish, karena tiba-tiba Better ada di sebelahnya kemudian meletakkan telapak tangan di dahinya.


" Kau demam Moy. Sejak kapan?" tanya Better, sambil memutar kursi Vanish agar menghadapnya.


"Eh, benarkah? Apa iya?"heran Vanish dengan dahi berkerut. Telapak tangannya ikut ia letakkan di sana.


" Enggak ah," dalihnya.


"Ini demam Moy, batalkan aja deh rapatnya. Kita pulang ya?" ajak Better.


"Iya sih, Ninis juga merasa agak gimana gitu badannya. Tapi, membatalkan secara mendadak itu gak etis lho. Kita bisa di cap sebagai pengusaha yang tidak profesional," jelas Vanish.


"Ya sudah, kalau begitu tutup saja laptopnya. Istirahatlah. Biar aku panggilkan Rapika untuk membuatkan mu teh hangat," ucap Better. Ia pun mengajak istri mungilnya ke sofa.


"Iya Sugan, Ninis istirahat ya. Gak usah khawatir gitu mukanya," ledek Vanish seraya terkekeh geli.


"Dasar Imoy. Suami khawatir malah tertawa." Better mencubit pipi Vanish dengan gemas. Kemudian ia beranjak berdiri untuk memanggil Rapika. Vanish yang tubuhnya memang lemas, sontak memejamkan matanya.Tak butuh waktu lama ia pun terlelap di atas sofa.


"Moy, Imoy!" panggil Better seraya mencolek pipi Vanish untuk membangunkan istrinya itu.


"Eughh ...," Vanish melenguh panjang. Kedua matanya mengerjap lucu, kemudian dirinya tersenyum.


"Kok Ninis malah tidur ya," kekehnya seraya bangun hendak mendudukkan diri. Better pun sigap membantu istrinya itu.


"Kamu capek ya?" tanya Better tak tega melihat wajah sayu Vanish.


"Capek, ya pasti. Tapi, ini 'kan memang sudah menjadi tanggung jawab Ninis. Sugan gak usah khawatir. Ninis gapapa kok," ucapnya menenangkan. Karena risau itu telah di lihatnya di wajah tampan suaminya


"Minum dulu tehnya. Setelah ini kita pulang. Aku sudah memerintahkan Rapika untuk membatalkan rapatnya." Better menyodorkan gelas berisi teh hangat itu, kemudian Vanish meneguknya perlahan.


" Lalu, gimana sama janji kita ke tim design undangan? Belom lagi kita harus setor ukuran malam ini," tanya Vanish bingung.


"Soal undangan serahkan saja pada mereka, Joy pun begitu. Soal ukuran, kita bisa tunda besok mungkin," ucap Better agak ragu. Karena jadwal mereka besok sangatlah padat.


" Gak bisa Sugan, semua harus hari ini," kilah Vanish.


"Tapi, keadaanmu 'kan?" Better tak meneruskan ucapannya karena Vanish telah meletakkan jari telunjuk ke depan bibir Better.


"Ninis gapapa, mungkin cuma butuh makan yang pedas dan berkuah biar seger lagi," katanya dengan mata berbinar sambil membayangkan sesuatu.


"Imoy mau makan apa, biar aku pesankan lewat aplikasi," tawar Better.


Vanish menggeleng pelan dengan senyum. " Maunya makan di tempat itu sih," kodenya, yang sepertinya belum juga ditangkap oleh Better.


"Dimana? Atau kita kesana saja sekarang?" ajak Better, yang sudah menggenggam jemari Vanish.


"Beneran?" heran Vanish. Tak menyangka, di tengah kesibukan akhir bulan, Better rela meninggalkan pekerjaannya demi menuruti kemauannya.


_______


Setelah mereka makan di tempat yang diinginkan Vanish. Wanita muda itu benar-benar kembali segar dan ceria lagi.

__ADS_1


"Makasih ya Sugan sayang. Akhirnya kepengenan Ninis kesampean juga," ucapnya senang.


"Iya Imoy, sayang. Kemanapun kamu pergi, aku ikut aja deh," sahut Better paarah.


๐˜‹๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ค๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ช๐˜ญ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ.


Better, menengok ke arah meja di sampingnya. Di mana kumpulan bocah silver itu makan dengan lahapnya.


Readers tau bocah silver?


Bisa search di google ya bagi yang belum tau. Keadaan mereka yang semakin menjamur cukup meresahkan. Miris, karena cat yang mereka gunakan pada tubuh mereka belum tentu safety.


"Semuanya, Kakak pergi dulu ya!" Pamit Vanish pada kumpulan bocah silver itu.


"Iya Kak!"


"Makasih ya Kak!"


"Lain kali main kesini lagi ya Kak!" Vanish hanya tertawa mendengar kata-kata polos mereka.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช ๐˜Š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ง๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.


Better segera mengeluarkan ponselnya, lalu mengetik pesan seraya mengirim lokasi.


"Ayok, kita pergi ke butik. Kak Milna juga lagi di jalan katanya." Vanish meraih lengan Better, kemudian menggandeng suaminya itu sembari berjalan menuju kendaraan mereka.


Sesampainya di butik


"Kak Nana! Udah dari tadi kah sampe nya?" tanya Vanish tak enak, takutnya bumil ini kelamaan menunggu dirinya.


"Enggak kok, baru tiba juga," ucap Milna dengan suara yang sedikit sengau.


"Kakak nangis mulu ya? Suaranya sampe kayak gitu," tebak Vanish.


Milna pun terkesiap sesaat, ternyata perasaan dan keadaannya saat ini begitu nampak di permukaan.


"Wah, jadi Kakak mau ketemu calon mertua? Ciiee ...,"


"Ish, malah meledek sih! Aku bingung tau! Bagaimana ini? Kau lihat 'kan anaknya seperti apa? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana karakter wanita yang telah membentuknya itu?" was-was Milna, akan kejadian yang belum tentu sesuai dengan isi pikirannya.


"Ih, Kakak jangan sok tau deh! Kalo belom ketemu itu jangan buat persepsi duluan," kata Vanish menasihati sahabatnya ini.


"Benar juga sih. Tapi, aku benar-benar risau Nis," ucap Milna. Kemudian, terlihat ia meringis memegangi bawah perutnya.


"Kak! Kenapa?" kaget Vanish yang melihat wajah Milna tiba-tiba pucat.


"Huffttt ...." desah Milna, seraya mengeluarkan Napasnya kasar.


"Beberapa hari ini, perutku suka keram," adunya.


"Periksa dong Kak. Takutnya ada apa-apa sama kalian bertiga," ucap Ninis berpesan.


"Kamu bilang apa tadi, Nis?"


" Bilang yang mana?"


"Barusan, masa gak inget!"


"Yang mana sih Kak?"


"Itu, yang kamu bilang bertiga!" gemas Milna.


"Masa sih aku bilang begitu!" Vanish membekap mulutnya kaget.

__ADS_1


"Jadi, kamu cuma keceplosan? Huuhhh ...!" Milna menghela napasnya. Ketika itulah ada dua cogan menghampiri mereka. Siapa lagi kalau bukan dua asisten keceh.


"Aku dengar tadi kamu teriak? Ada apa?" tanya Joy perhatian. Namun, tidak begitu ditanggapi oleh Milna. Dirinya justru menarik Vanish untuk masuk ke dalam ruangan untuk mengukur.


"Sabar Joy! Kata bos Arjuna, wanita hamil itu memang begitu. Apa kau sudah membawanya periksa ke dokter yang di rekomendasikan oleh, nyonya?" tanya Better pada Joy yang masih terpaku. Ia tengah berusaha mengolah emosinya.


" Dia selalu menolak. Katanya nanti saja setelah aku menjadi suaminya. Kemarin dia sudah periksa sendirian tanpa sepengetahuanku. Ingin rasanya aku, akh ...!" Joy terlihat frustrasi.


________


"Tuan, sebaiknya calon istri anda di periksakan kerumah sakit," ujar sang designer yang sudah berusia cukup matang itu.


"Kenapa memangnya dengan Milna?" kaget Joy.


"Kak Joy! Eh, maksudku Pak! Kak Milna ...!" seru Vanish yang tengah menggandeng Milna dengan panik. Karena sahabatnya itu terlihat terus memegangi perutnya.


"Gapapa, panggil Kakak aja."


"Ini, dia kenapa?" heran Joy yang melihat wajah Milna sudah sedemikan pucat.


"Gak tau, makanya bawa aja yuk kerumah sakit!" ajak Milna. Better pun setuju.


"Iya Tuan. Lagi pula urusan kita sudah selesai nanti akan saya kabari untuk fitting nya." Kata sang designer.


"Ayo lah!" Joy pun mengangkat tubuh Milna yang sudah lemas itu.


"Biarkan aku jalan saja! Turunkan," lirih Milna.


"Diamlah! Menurut saja kali ini!" seru Joy. Milna pun menghentikan aksi penolakannya. Tubuhnya sudah tak punya daya lagi untuk sekedar meronta.


"Sugan."


"Imoy jaga Milna. Sugan nanti ikut di belakang kalian." Better mengelus puncak kepala Vanish, membuat bibir istrinya melengkungkan senyum lega.


Sesampainya di rumah sakit.


"Selamat ya untuk kalian berdua. Karena Ibu Milna tengah mengandung bayi kembar." Dokter Netta berkata dengan senyum ramahnya. Bukankah ini kabar yang sangat membahagiakan bagi setiap pasangan. Bahkan, ada sebagian orang yang rela mengeluarkan dana cukup besar demi program bayi kembar.


" Aโ€“apa dok? Kembar?" kaget Milna. Begitu pun dengan Joy. Bahkan mereka berdua saling menatap heran.


"Bagaimana bisa dok? Dua pekan lalu, saya periksa tidak ada indikasi janin kembar di rahim saya. Dokter kandungan itu hanya bilang saya harus USG untuk keterangan lebih detilnya itu saja," jelas Milna, yang mana justru membuat senyum itu terus terkembang di wajah cantik sang dokter.


"Pemeriksaan testpack atau transfunder saja, tidak bisa menemukan indikasi adanya janin kembar. Kenapa dokter anda sebelumnya menyarankan untuk usg? Karena mungkin beliau sudah menemukan satu gejala atau keanehan dari denyut nadi sang Ibu," jelas Netta dengan sabar. Ia mengerti ini pasti adalah pengalaman pertama bagi pasiennya. Terlihat dari usianya yang terbilang muda dan juga kepolosan wajahnya.


" Jadi saya?" tunjuk Milna pada perutnya.


"Jaga baik-baik ya. Istirahat yang cukup dan konsumsi makanan yang bergizi. Apa selama ini ada keluhan?" tanya Netta di sela penjelasannya.


"Iโ€“iya dok," jawab Milna, ia menunduk setelah sebelumnya sempat melirik sekilas ke arah Joy. Sementara, pria di sebelahnya ini terus memperhatikan gerak-geriknya.


" Apa saja? Boleh saya tau? Agar saya dapat membantu untuk sedikit meringankan," cecar Netta. Dirinya heran, sebenarnya pasangan seperti apa pasien di hadapannya ini. Gestur keduanya sangat aneh, karena begitu menjaga jarak.


Milna terlihat ragu karena ada Joy di sisinya. Ia tak ingin pria di sebelahnya ini beranggapan bahwa dirinya lemah dan payah. Padahal iya, apalagi setiap tengah malam.


Joy yang paham hanya bisa dia. Berharap Milna terbuka di hadapan sang dokter.


Bagaimanapun, dirinya harus tau apa yang Milna rasakan selama ini. Karena menurut cerita mami. Setiap perempuan hamil pasti akan mengalami yang dinamakan masa mengidam. Bagi sebagian wanita, ini adalah fase yang cukup sulit dan menyiksa.


"Saโ€“saya, sering mual dan muntah di siang hari. Juga sangat lapar setiap jam satu dini hari. Tapi, saya sangat lemas. Bahkan untuk sekedar membuat Susu pun tak bisa," jelas Milna dengan raut wajah sendu. Membuat pria di sebelahnya semakin merasa bersalah.


๐˜•๐˜ข, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข? ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ? ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ช๐˜ด๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฌ๐˜ถ.


Joy, terlihat mengeratkan gerahamnya. Ia tidak bisa membiarkan Milna berjuang seorang diri. Apalagi, ada dua calon penerusnya di dalam rahim hangat Milna.

__ADS_1


"Apa anda sebagai suaminya tau?" tanya Netta, yang mana membuat Joy seketika kena ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ก.


Bersambung>>>


__ADS_2