
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Sepasang kaki jenjang melangkah dengan anggun memasuki perusahaan Pradipta.
Pakaian minim super pres body nya mengundang berpasang-pasang mata untuk menatap.
Memperhatikan bagaimana lekuk tubuh indah itu, berpadu sempurna dengan gerakan yang gemulai.
Wajah penuh polesan make up dengan rambut pirang tergerai sampai bahu. Senyum bangga dari bibirnya yang merona, ketika dirinya membayangkan akan menjadi pemilik gedung megah ini.
"Di mana sekretarisnya?" gumam Jelita yang tidak melihat wanita itu di meja kerjanya.
"Mungkinkah mereka sedang rapat?ah, aku tunggu di ruang kerja nya saja." Jelita pun memutuskan untuk masuk ke ruang kerja Seno.
Ia mendorong pintu itu, seketika mata nya membola melihat apa yang nampak pada pandangannya.
"Seno!" pekiknya.
Ia tahu bahwa Seno adalah player, dan mereka belum terikat secara resmi.
Namun, ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Bagaimana calon ayah dari anak yang berada didalam kandungannya itu, sedang asik memainkan susu dari sekretarisnya sendiri.
Mendengar ada yang masuk dan berteriak memergoki keasikan syahdu mereka berdua.
__ADS_1
Sekretaris wanita itu segera turun dari pangkuan Seno, kemudian merapikan baju atasnya yang terbuka.
"Saya permisi Tuan." Wanita itu undur diri dengan menatap sinis pada Jelita.
(Mengganggu saja!)
Jelita menahan geram dengan mengeratkan giginya, ingin rasanya ia mencakar wajah barusan.
(Awas saja kau!)
"Jangan seenaknya masuk kekantor ku!" hardik Seno, kedua matanya nyalang menatap wanita yang tengah berbadan dua dihadapannya.
Karena pakaian ketat Jelita menampakkan sedikit bentuk perutnya yang mulai kentara membuncit.
"Apa-apaan ini? Apa kau tidak tempat lain untuk bercinta?" Jelita membalas hardikan Seno dengan hal yang sama.
Bagaimanapun posisinya kuat saat ini, ia membutuhkan perhatian.
"Aku tidak suka kau mencampuri urusanku!" sentak Seno lagi. Rahangnya mengeras, karena Jelita telah mengganggunya.
"Kau ..., aku sedang hamil anakmu! Setidaknya beri perhatian sedikit untukku!" protes Jelita yang kini sudah mendudukkan dirinya di sofa.
Karena, ia merasa sedikit keram di perutnya.
"Sudah kukatakan, kau tidak bisa menuntut apapun pada ku. Ingat perjanjian kita!" kilah Seno dengan tatapan berkilat nya.
__ADS_1
Dirinya merasa kesal sekali saat ini, ketika geloranya lagi-lagi harus tertunda.
"Aku butuh perhatianmu saat ini, aku ini tengah mengidam. Aku membutuhkan sedikit perhatianmu." ucap Jelita sedikit melunak, ia terlihat mengusap-usap perutnya yang tiba-tiba kencang.
"Memangnya kau siapa?" Seno mencengkeram dagu Jelita, hingga wanita itu mendongak dan meringis.
"Sekarang, bisakah kau mempertanggung jawabkan perbuatanmu. Karena aku harus menuntaskan hasrat ku saat ini juga." Seno menghimpit Jelita di atas Sofa, kalau saja ia tak ingat bahwa wanita ini tengah mengandung calon bayinya. Mungkin, ia sudah menerkamnya sejak tadi.
Karena, pakaian Jelita sangat menggoda jiwa lelakinya. Apalagi, saat ini geloranya sudah sampai di ubun-ubun. Ia harus menumpahkan larvanya saat ini juga, atau ia akan sangat kesakitan.
" A-aku tidak bisa ... kau ingat kan kalau kandunganku lemah," lirih Jelita terbata.
"Kau yang sudah menggagalkan aksiku tadi, kini kau datang dengan pakaian menggoda seperti ini. Apa, kau sengaja membuat ku tersiksa hah!" bentak Seno melepas kasar cengkeraman jarinya pada dagu Jelita, hingga wanita itu terlentang di atas sofa.
"Ingat Seno, kau butuh anak ini!" tukas Jelita.
Seno membuka ikat pinggangnya, melepas pakaian bawahnya. Hingga pemandangan itu membuat Jelita menelan susah ludahnya sendiri.
" Selesaikan tugasmu, atau aku akan bercinta dengan wanita itu di depanmu." Seno menarik Jelita hingga wanita itu bangun.
"Tapi, aku sedang mual saat ini," jelas Jelita berusaha menolak permintaan Seno.
"Baiklah, kau yang menginginkannya. Sekarang panggil wanita itu!" titah Seno, membuat Jelita berat untuk melangkah. Dirinya tidak terima penghinaan ini, tapi dirinya sedang tidak berselera untuk melakukan itu.
Keadaannya yang lemah saat ini, membuat dirinya berada di posisi yang tidak menguntungkan.
__ADS_1
(Seno sialan!)
Bersambung>>>