
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
" Kenapa kita bersembunyi?"
"Aku bisa menembaknya." Susi menunjukkan apa yang ada di dalam genggamannya.
Arjuna terkesiap dengan mata membola, "Kau ..., jadi suara tembakan tadi?" Arjuna, menelan ludahnya.
"Tadi aku sengaja menembak ke atas, aku tidak ingin membunuhnya. Karena itu akan terlalu mudah. Aku ingin dia mati perlahan dengan memikul malu." Seringai dengan aura kejam muncul tiba-tiba dari raut wajah cantik itu.
(Kenapa, kau menjadi mengerikan? Apa tekanan ini begitu mengubah dirimu?) Arjuna menatap lekat ke arah Susi. Hingga dirinya dikagetkan dengan sebuah pistol ditangannya.
" Kau saja yang menembak, aku takut mental lagi." Susi menyerahkan senjata api ke Arjuna.
Pfft...
"Jangan tertawa, berikutnya aku akan berlatih." Susi mencebik sambil menatap tajam pria yang merangkulnya ini.
"Aku sudah punya, ini ... dan ini." Arjuna menunjukkan senjata di tangan satunya lagi, serta pistol yang terselip di dalam pakaiannya.
" Peganglah, lagipula kau tidak akan menggunakannya selagi ada aku di sampingmu." Arjuna menarik pinggang ramping Susi serta memberi kecupan ringan di bibir wanita itu.
" Terimakasih, sudah mencariku." Susi pun membalas kecupan itu sebentar.
Karena ini bukan saatnya drama manis manja. Ada penjahat menanti mereka di bawah sana.
Perlahan tapi pasti posisi mereka akan terdeteksi.
"Ingat, tetap di belakangku," ucap Arjuna sekali lagi. Susi pun mengangguk patuh.
Kita keluar sebentar melihat pertarungan Duo asisten warbyasah.
Yang mana dari sudut sebelah utara terlihat Joy melayangkan Katananya dengan gaya yang elegan tapi mematikan.
Meskipun dirinya dikepung oleh tiga pengawal berbadan lebih besar darinya, dengan kemampuan mumpuni ala ksatria, Joy menari bersama senjata nya dengan gemulai.
Teriakan serta dentingan senjata, terdengar selaras.
Seett ...!
Sabetan Katana dari Joy Kinder, menumpahkan cairan merah ke tanah.
"Aakkh!"
__ADS_1
Pria berbadan besar itu tumbang dengan lengan yang telah terpisah dari tubuhnya.
Hosh. Hosh. Hosh ...
Napas Joy mulai terengah-engah. Telinganya berdenyut dan kembali mengeluarkan cairan merah berbau anyir.
" Bos, anda baik-baik saja?" tanya anak buahnya yang juga mengalami luka di tubuhnya. Setidaknya nyawa mereka masih melekat di badan.
Sedangkan di pihak musuh, entah sudah berapa nyawa yang melayang. Karena, jumlah mereka yang bertambah membuat tenaga pasukan Arjuna lumayan terkuras.
" Sebaiknya kau bantu Better saja, jangan sampai dia jadi coklat leleh." titah Joy. Masih sempat julid dengan kawannya sendiri, padahal keadaannya sudah sangat berantakkan.
Joy menekan earphone yang terselip di telinganya.
"Walls, benar dugaanmu. Sepertinya Don mengirim beberapa anak buahnya. Ciptakan kerusuhan pada sistem mereka, untuk mengalihkan perhatian. Karena, kami disini sudah kelelahan." tutur Joy, yang tengah menghubungi Walls dari panggilan seluler.
" Lalu, bagaimana status abang dan kakak ipar? Soal sistem serahkan padaku! Jangan panggil aku Diamond, jika tidak bisa menemukan kelemahan ke-Don-dong busuk itu." Walls tersenyum smirk di ujung sana.
"Kami mengandalkanmu anak badung!" Joy tersenyum penuh kemenangan. Dirinya yakin akan kemampuan si bocah tua nakal itu.
Melupakan sakit di hampir sekujur tubuhnya, Joy melesat ke dalam bangunan. Berniat mencari di mana Bosnya berada.
Sementara di sudut sebelah barat, Better terpojok oleh pengeroyokan dua orang.
Setelah Trisula milik Better terlepas lalu patah karena sabetan benda tajam panjang entah apa namanya, yang pasti bukan pedang naga puspa milik Kamandanu.
Tak. Tak.
Set. Seet ... Sett.
Better memutar double stik nya, sekilas menyeka hidungnya yang mengeluarkan darah.
" Maju kalian!" tantangnya dengan tatapan elang, di balik surai yang menutupi sebagian wajahnya. Karena rambutnya sudah berantakkan.
Cuiih ...!
Better meludah kesamping, membuang cairan merah yang rembes melalui sudut bibir.
Pria macho dengan gaya rambut gondrong itu pun siap memasang kuda-kuda.
"Hiiaa ... Wattaaww ...!" teriak Better sambil membalas serangan dari dua pengawal yang mengerubutinya.
Dugh!
__ADS_1
Anak buah Joy mendang salah satu punggung pengawal itu hingga tersungkur.
" Thanks bro!" seru Better menaikkan jempolnya.
Kini mereka imbang satu lawan satu. Sedangkan si kembar kepala pelontos, yang mana mereka adalah anak buah Better, telah terkapar pingsan dengan luka di beberapa bagian tubuhnya masing-masing.
Di dalan bangunan suara lesatan peluru bersahutan, menimbulkan suara bising memekakkan telinga.
Arjuna dan Susi yang bersembunyi di balik lemari besar menarik napas cepat-cepat.
"Apa kau masih kuat berlari?" tanya Arjuna pada Susi yang nampak pucat dan berkeringat.
Bagaimana tidak, pasalnya ini kali pertama didalam hidup wanita cantik itu.
Berada di antara perang peluru, berlari kesana- kemari serta berguling dan bersembunyi. Entah, sudah berapa banyak memar di sekujur tubuhnya.
"Aku ... masih kuat, " jawab Susi dengan napas yang terengah-engah.
"Kenapa ... kita jadi action gini sih? Kayak the Matrix yang di hujani peluru." seloroh Susi, membuat Arjuna membekap mulutnya seketika.
"Ssttt ... Aku akan melindungimu berlarilah ke bawah, oke ...." bisik Arjuna dengan hembusan napas hangatnya di telinga Susi. Wanita itu hanya mengangguk, dan sekejap kemudian menggeleng.
"Menurutlah," bisik Arjuna lagi. Kali ini membuat Susi mengangguk patuh. Setelah Arjuna menggigit pelan telinganya.
( Kenapa pake gigit-gigit segala sih! Dasar tukang maksa!)
Lalu mereka pun memposisikan diri.
Doorr!!
Doorr!!
"Akhh!"
...Gais, gais ...!...
...Kira-kira yang ketembak siapa ya?...
...Arjuna, atau si tato ulat kaki seribu?...
...Penasaran??...
...Lanjut ya, jangan lupa kembang sekebon buat nyonya😁...
__ADS_1
Bersambung>>>>