
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
******
"Lho? Kenapa uang di ATM ku banyak sekali?"
" Sedangkan di struk gaji, bonusnya hanya sejuta lebih. Lalu uang segini banyak darimana?"
"Aku lapor saja, mungkin bagian keuangan salah ngetik angka." Monolog Susi yang baru saja menggesek kartu ATM nya.
*****
"Ternyata, tidak ada kesalahan pada bagian keuangan. Lalu, siapa yang mentransfer uang segitu banyak pada ku?"
"Masa iya, salah kirim?" gumam nya sambil berjalan keluar divisi keuangan. Kini ia berada di kantor pusat. Di mana ia pertama kali menginjakkan kaki nya di gedung ini, setelah keluar dari rumah sakit.
Kini, setelah sekian lama. Baru lagi ia menjejakkan kakinya di kantor megah dan bagus ini. Meski gedungnya tak terlalu tinggi.
(Ruangannya dimana ya?)
(Hei, apa yang aku pikirkan?) batinnya berbicara.
Susi buru-buru melangkahkan kaki nya setelah ia keluar dari dalam lift.
Sampai ia tak tau, bahwa ada sepasang mata elang yang tengah memindai nya. Sang pemilik mata itu menyunggingkan senyum miringnya.
(Apa kau mencari tau asal uang itu?)
(Gadis bodoh!)
"Maaf Tuan, ini berkasnya." Asisten Joy menyerahkan berkas yang tertinggal.
"Harus, aku yang bawa? Bos mu, ingat ?" Arjuna melirik tajam, dengan wajah datar.
"Ah iya, saya yang bawa." Joy tersenyum malu, setelah ingat bahwa itu tugasnya.
(Untung saja tidak ada hukuman kejam) buru-buru Joy membungkam mulut dan otaknya.
Setelah mendatangi bagian keuangan, seperti perintah dari pimpinan. Susi segera menemui kawan-kawannya di tempat calon customer mereka.
"Aku kehilangan waktu makan siang ku." Susi melirik tanda waktu di ponselnya.
"Masih ada 20 menit lagi, mungkin bisa beli cemilan itu dan, aku bisa makan di atas motor nanti" Susi membeli batagor sambil berselancar di aplikasi jasa berwarna hijau untuk memesan ojek online.
Singkat cerita, Susi telah sampai tepat waktu.
Vanish dan Rapika telah menunggunya di area parkir.
"Semoga aku tidak terlambat," ucapnya pada kedua kawannya itu.
"Hampir Kak. Tiga menit lagi," sahut Vanish.
Mereka pun masuk ke dalam cafe millenial itu. Di mana dekorasi dan penataan furniture nya mengesankan jiwa kekinian anak muda yang humble dan penuh cinta.
"Berasa jadi anak muda aku tuh, pas masuk kesini," komentar pertama di cetuskan oleh si gak bisa diem tukang nyerocos, Vanish.
"Kenapa aku malah merasa jadi jones ya, mengsad sekali," tukas Rapika menampilkan wajah sendunya.
__ADS_1
"Kau mah jones di buat sendiri," sambar Vanish membuat Rapika memajukan bibirnya.
"Jones apaan si?" tanya Susi ketika mereka sudah duduk. Karena resepsionis yang akan melaporkan kedatangan mereka melalui telepon.
"Kakak tak tau!"
"Untunglah." Mengelus dada, lega.
"Masa Akak tak tau?"
"Jones itu..., hmm!" Mulut Vanish sudah di bungkam tangan Rapika .
"Diamlah kau!" ancam Rapika pada Vanish.
Susi hanya mengkode agar mereka tak main-main lagi. Karena klien mereka hampir sampai di meja yang ia dan kawannya tempati.
Tak lama kemudian seorang pria dewasa datang sambil merangkul erat, pinggang ramping seorang wanita yang cantik.
Dua wanita yang berhadapan itu saling membelalakkan mata mereka. Ternyata dunia itu memang selebar daun kelor.
"Selamat siang Pak. Bisa kita mulai?" tanya Susi pada klien mereka kali ini adalah pemilik kafe baru.
"Silakan, saya butuh barang-barang elektronik untuk di kafe saya ini," jelas pria dewasa yang berusia sekitar 35 tahun. Berkacamata, tinggi dan lumayan tampan.
Mereka kini telah duduk bersama di tempat yang di sediakan, pelayan mengantarkan minuman dan camilan untuk mereka.
" Baiklah. Terimakasih atas waktunya."
"Jadi inilah beberapa produk dari perusahaan kami yang akan sangat membantu usaha kafe Anda."
Bermacam keunggulan dari produk ARSA yang tidak di miliki oleh produk lain yang sejenis. Harga yang bersaing serta kualitas yang bagus, membuat para customer tertarik.
"Sekian, terima kasih." Susi menutup kembali laptopnya. Kemudian menyerahkan katalog untuk dilihat sang klien.
(Ternyata, dia masih bertahan hidup. He...,)
Seorang wanita cantik dan seksi yang berada di sebelah pria itu tersenyum miring. Menatap sinis ke arah Susi.
Susi berusaha mengabaikannya, menganggap ia tidak pernah mengenal wanita itu. Semoga ia tidak mengacaukannya seperti hari sebelumnya.
(Kenapa harus bertemu dengan wanita iblis ini lagi? Tuhan, ternyata dunia ku sangat sempit.) Susi hanya bisa membatin tanpa menggubris.
"Presentasi Anda sangat menarik, produk perusahaan Anda juga sangat bagus dan canggih."
"Sepertinya saya tertarik," ucap pria berkacamata itu dengan memajukan sedikit tubuhnya ke depan.
Wajahnya menatap lamat pada wanita cantik di hadapannya ini.
(Sial kau! Laki-laki payah! )
"Honey," panggil wanita itu yang tak lain adalah Daia. Ia bergelayut pada lengan pria itu kemudian menariknya.
"Kondisikan dirimu, kita sedang rapat di sini," bisik pria itu yang jengah dengan kelakuan Daia.
" Aku hanya ingin memberi tahu pada mu, sebelum kau menyesal karena membeli barang dari wanita sial itu,"
"Kau, tidak ingin usaha kafe yang dirintis dengan susah payah ini bernasib sial bukan?" cetus Daia, memprovokasi.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" pria itu menoleh dan menatap Daia serius.
"Dia adalah wanita sial yang di usir oleh adikku, karenanya calon keturunan keluarga Pradipta mati, adikku berperangai aneh sejak saat itu. Keluarga ku yang damai dan hangat menjadi berantakan karena ulahnya." Sinis Daia, menatap tajam sambil menunjuk ke arah Susi.
(Ya Tuhan. Rekayasa apalagi ini? ) Susi meringis di dalam hatinya.
"Bahkan, mami ku sakit setelah bertemu dan di permalukan olehnya di hadapan komunitasnya." Daia berpura-pura sedih dan menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
"Jangan bicara sembarangan." Susi tiba-tiba berdiri.
"Kenapa kalian pandai sekali memutar balikkan fakta?"
"Haruskah, aku katakan siapa kau yang sebenarnya? Pada pria tampan yang sepertinya polos dan baik hati ini?" ucap Susi tegas, melihat ke arah kliennya dengan memasang wajah simpati.
"Tak cukupkah kau dan ibumu menghancurkan hidup dan karir, seorang anak yatim piatu?" cecar Susi dengan memasang wajah teraniaya. Ia tak mau kalah dengan peran yang di lakoni Daia.
"Memang kau tau apa hah!" Daia tak tahan dengan emosinya, ia pun berdiri dari duduknya.
"Kau itu wanita tak tau diri, tak tau balas budi. Kau...!"
Susi menangkap jemari telunjuk yang dijulurkan ke wajahnya. Menekannya sedikit hingga terlihat Daia meringis.
"Apa kau sedang membicarakan dirimu sendiri? Sarjana S2 Management. Tapi sekalipun tidak pernah bekerja, selalu bersenang-senang menghabiskan harta orang tua dan memeras adik sendiri. Bergonta-ganti pasangan demi mencukupi kehidupanmu yang glamor. Kau sungguh anak yang berbakti?"
"Wanita berbudi luhur?" sindir Susi membuat Daia tak berkutik.
(Sial! Kenapa perempuan ini berani membalas ku?) Daia nampak gusar.
"Kau bergonta-ganti pria, benarkah itu?" Pria berkacamata itu menepis tangan Daia yang merangkulnya.
"I-itu, kau jangan percaya padanya!"
(Mati aku!)
(Susi sialan!)
"Wanita matre seperti mu akan membuat usahaku bangkrut." Menepis kemudian menjauh.
" Kau lebih percaya pada sales macam dia!"
"Ketimbang aku kekasihmu?" pekik Daia menarik kembali tangan si pria.
"Lalu, apa pembelaan mu tentang kau yang tidak pernah bekerja? Kenapa?" tanya pria itu tegas.
"I-itu aku..., hanya belum menemukan pekerjaan yang cocok untukku. Itu saja," dalihnya kembali hendak merangkul namun pria itu menepisnya lagi.
"Aku suka wanita yang pekerja keras dan pintar, bukan tahu nya hanya menghabiskan uang!"
"Aku tidak suka wanita yang hanya bisa menjual kecantikan dan bakat merayunya saja." Bicara datar tanpa melihat.
"Nona, saya akan menghubungi kantor mu segera. Saya pun akan menyebut namamu nanti di kantor. Semoga kita bisa bertemu lagi," ucap pria itu tersenyum manis.
"Terimakasih, Pak." Berjabat tangan dan pamit.
(Susi sialan! Beraninya kau!) Daia hanya bisa mengeram dan merutuk dalam hati.
Bersambung>>>>>
__ADS_1