Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Penolakan dari Better.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Malam ini, adalah saat di mana pertemuan dirinya dengan wanita yang hendak di jodohkan oleh papi Shim.


"Maaf, Papi belum menunjukkan foto Aroe padamu. Biarlah nanti kau melihatnya langsung saja ya." Papi Shim, tersenyum hangat. Pria itu terlihat tengah memasang kancing pada ujung lengannya.


Better tersenyum kecut mendengar nama yang aneh menurutnya. Lebih bagus nama pacarku, lebih lucu dan imut, pikirnya.


"Kau tau, Nak. Kenapa Papi memaksamu untuk menikah dengannya?" Shim bertanya sambil memperhatikan raut wajah putranya yang terdiam.


"Itu semua, karena dia adalah anak sulung dari sahabat lama Papi, yang mana ayahnya itu pernah menyelamatkan nyawaku dari percobaan pembunuhan berencana. Jika, ia tidak menolongku, mungkin aku juga tidak akan menemukanmu yang tengah kedinginan ketika itu. Karena, itulah. Secara tidak langsung, ayah gadis itu telah menyelamatkan dua nyawa sekaligus. Kau setuju 'kan?" Shim menengok ke arah Better, dimana saat ini sang putra hanya menunduk sambil menatap ujung sepatunya.


Shim meneruskan lagi kata-katanya, meski Better tidak terlalu merespon ucapannya.


"Papi, tidak ingin harta ini jatuh ke tangan orang yang tak pernah perduli dengan kita. Nanti, setelah kau menikah. Kau akan memiliki setengah dari harta Papi, dan aku akan menyerahkan seperempatnya atas nama istrimu. Lalu, sisanya nanti akan Papi hibahkan ke yayasan rumah kolong jembatan yang kau asuh. Juga, beberapa yayasan di tanah kelahiranku." Shim menjelaskan niatannya, sebelum putranya itu salah faham.


๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช, ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜•๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข!


"Kalau aku tidak mau bagaimana?" tanya Better sontak membuat Shim menatapnya dengan raut kaget.


"Apa alasanmu? apa kau sudah memiliki kekasih? Jika ya, apakah dia akan menerima dirimu di saat kau jatuh miskin?" cecar Shim.


" Itu tidak akan terjadi, ia gadis yang baik. Aku akan memintanya pada kedua orang tuanya malam ini." Better berkata tanpa memandang wajah papinya. Ia tidak tau wajah pria itu telah merah padam lantaran menahan kesal.


"Kau akan pergi bersamaku, menemui keluarga calon istrimu!" bentak Shim, emosinya tak bisa tertahan lagi. Kalau perlu, ia akan memaksa dan menyeret putranya itu.


"Tolong, batalkan rencana ini. Aku tidak ingin lagi kehilangan gadis yang ku cintai." Better beranjak dari duduknya, lalu berjalan cepat ke arah pintu.

__ADS_1


"Kau selalu memilih gadis yang salah! Aku tidak akan membiarkan itu kali ini! Kau harus menikah dengan Aroe atau tidak dengan siapapun!" Ancaman dari suara bariton itu sukses menghentikan langkah Better.


"Aku akan tetap menikahinya, dengan atau tanpa seizin mu. Aku tidak akan menggadaikan masa depanku bersama dengan orang yang tidak ku cintai. Bahkan, mengenal wajahnya pun tidak." Better berkata tanpa menoleh sedikitpun. Kedua tangannya terkepal kuat. Entah karena apa, ia berani menentang papinya kali ini.


"Aku sudah memilihkan yang terbaik untukmu. Bahkan, gadis itu sendiri telah menyetujuinya. Papi yakin, gadis itu akan membahagiakanmu seumur hidup!" ucap Shim tegas. Baru kali ini, ia berkata setengah berteriak dengan putra angkatnya itu.


"Aku tidak bisa, Pi. Aku tidak akan pernah bisa menerima gadis itu seumur hidupku. Selamanya, aku akan merasa sebagai penebus hutang! Jika, Papi ingin mensejahterakan nya, berikan saja hartamu itu padanya." Better menoleh sedikit, hingga ekor matanya dapat melihat kekagetan di wajah papi angkatnya itu. Pria yang begitu baik dengan percintaan yang begitu buruk. Di tinggalkan oleh istrinya yang lari bersama pria lain. Hanya karena Shim mandul, karena itulah, dirinya tak memiliki penerus serta pewaris sedarah.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ, ๐˜—๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜›๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช, ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฃ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ.


Better menghela napasnya, hari ini adalah kali pertama ia dan sang papi bersitegang. Selama ini, ia selalu berusaha menjadi anak yang tidak menyusahkan. Baginya, segala pemberian Shim sudah cukup. Ia mampu berdiri dengan kedua kakinya sendiri saat ini. Ia tak ingin berebut harta, dengan keluarga besar papinya. Entah, bagaimana bisa Shim mengatakan, bahwa dirinya akan mendapatkan harta sebanyak 50 persen.


Tentu, keluarga Shim, yang sebagian besar beranggotakan yakuza itu harus di hindarinya.


" Aku tidak hanya memikirkan gadis itu dan juga keluarganya! Tapi, aku juga memikirkan mu! Kau harus bahagia dengan wanita yang tepat!" Shim berteriak lebih kencang ketimbang tadi. Amarahnya benar-benar sudah di ubun-ubun saat ini.


"Kalau begitu, buktikan jika pilihanku memang salah. Temui dulu gadis itu, setelahnya baru kau bisa menilai." Shim juga melunak, rencananya ini bukan untuk membuat hubungannya dengan sang putra retak.


" Papi, bukankah kau telah lama sendiri? kenapa tidak kau saja yang menikah lagi? jangan selalu memikirkan diriku, untuk kali ini ... pikirkanlah dirimu sendiri." Better, benar-benar melangkah pergi meninggalkan Shim mematung seorang diri.


๐˜’๐˜ข๐˜ถ, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜•๐˜ข๐˜ฌ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช. ๐˜—๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ.


"Shoba! Koro!" Panggil Shim pada kedua pengawalnya.


"Siap, Tuan!"


"Ikuti, tuan muda kalian. Kabarkan semua pergerakan darinya, pada ku. Cepat!" titah Shim dengan rahang yang telah mengeras menahan emosi di dalam dadanya.

__ADS_1


Para pengawal itu mengikuti Better, hingga kendaraan roda dua itu berhenti di rumah kolong jembatan.


"Bos, tuan muda pergi ke rumah kolong."


๐˜ˆ๐˜ธ๐˜ข๐˜ด๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


"Baik, Bos."


_______


"Pergi kerumah gadis itu, bilang sama dia kalau gue kecelakaan. Lu, harus ngajak dia secara diam-diam. Gue tunggu, di sekolah atap satu jam dari sekarang." Better berkata dengan serius pada kedua sahabatnya itu. Apapun akan dia lakukan demi dapat menemui Vanish.


Shim yang kecewa pada sang putra, tetap berniat, untuk menemui sahabatnya. Ia harus meminta maaf karena gagal mempertemukan keduanya malam ini.


"Aku berjanji akan membawa putraku kembali untuk menikah dengan anak gadismu." Shim berkata dengan tegas dan yakin.


"Ku pikir, setelah ia melihat anakku, putramu tidak akan menolak. Tak di sangka, melihat pun dia tak mau." Roma menunduk sedih, kenapa jadi begini ketika Vanish sudah menyetujuinya.


"Pegang janjiku. Aku akan tetap membawa Better menemui mu. Putraku harus menikah dengan putrimu, Vanish Wand Aroe.


"Dimana anakmu?" Shim, heran karena semenjak kedatangannya kerumah itu ia tak melihat calon menantunya menampakkan batang hidungnya.


"Kelly, kau panggil lagi Vanish keluar. Kenapa dandan saja lama sekali." Roma menyuruh sang istri memanggil putri mereka yang masih di kamar.


"Bang, Vanish gak ada di kamarnya!" panik Kelly, yang tidak mendapati sang putri.


"Memangnya, dia kemana? Vanish 'kan tau jika calon suaminya itu akan datang!" Roma pun ikut panik, dirinya tak mengerti kenapa semuanya menjadi tidak kondusif seperti ini. Kebetulan yang membingungkan.

__ADS_1


Bersambung>>>>


__ADS_2