Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Penyelamatan Dari Sang Pacar.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Aaakkhh!!" Vanish berteriak ketika pria itu menarik, blues bagian atasnya. Tangannya berusaha menahan agar pakaiannya tidak terbuka semua. Sembari terisak dan menjerit, Vanish juga melayangkan tendangannya asal ke arah sang sopir taksi gadungan itu.


"Waw, rejeki gua bener-bener bagus ni malem, whehehehe ...!" Pria jahat itu menyeringai seram lalu tertawa, jakunnya turun naik menahan napsu nya. Ketika tubuh bagian atas Vanish menampilkan dua bongkahan indah yang putih bersih serta padat.


Pria itu kembali hendak menarik tali pembungkus dada. Vanish berusaha menahan tangan pria itu sekuat tenaga, berupaya mempertahankan kehormatannya, meski dengan derai air mata dan tubuh yang bergetar ketakutan.


"Tolong ... jangan lakukan ini padaku! Lepas!" teriak Ninis meronta. Tapi, pria itu justru menindihnya dan hendak kembali menamparnya. Vanish, hanya bisa memalingkan wajahnya dengan tangan yang menyilang didepan dada.


Grep!


Pria itu menoleh ke belakang, ketika di rasa ada yang mencekal dengan kuat pergelangan tangannya.


Lalu tubuhnya ditarik ke belakang dengan cepat, hingga dirinya jatuh terjengkang ke atas aspal keras.


Bruugghh!


"Argh!"


"Sialan! Siapa kau!" Pria itu mengusap bokongnya yang ngilu karena mencium tanah keras berbatu.


Vanish membuka matanya, lalu melihat apa yang terjadi. Pria jahat itu tengah telentang di atas aspal.


๐˜—๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ณ ...! ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜•๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ..., ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ด!


Vanish semakin mendekap tubuhnya, dengan isak yang tertahan di tenggorokan. Ia cukup lega karena hal buruk dalam bayangannya tak menjadi kenyataan.


"Jangan berani ikut campur urusanku!" Pria itu hendak bangkit, tapi sebelum ia sempat berdiri sempurna tubuhnya kembali limbung ke belakang karena mendapat sebuah tendangan keras pada di kaki. Di susul tendangan berikutnya yang tepat mengenai wajah jeleknya itu. Hingga cairan darah segar, menetes dari hidung serta ujung bibirnya.


"Aโ€“ampun! Jangan pukul lagi!" Pria itu memohon dengan wajah memelas. Agar lelaki dihadapannya ini berhenti untuk menghajarnya.


"Apa kau mendengar permohonan ampun dari perempuan di dalam mobil tadi!" hardik pria dengan rambut ikal yang di kuncir kebelakang itu.


Duaghh!! Sebuah pukulan keras mendarat telak pada perut sopir taksi jahat. Membuat pria itu bergelung di tanah menahan sakit.


"Apa kau melihat air matanya lalu berbelas kasih!" Better kembali memberi serangan dengan tendangan bertubi-tubi pada pria yang beringsut di atas aspal itu.

__ADS_1


"Ampun! Gua akan pergi! Tolong jangan pukul lagi!" Pria itu terus memohon ampun dengan tangan yang menangkup di atas kepalanya.


"Kau telah berani menyakiti gadisku. Kau pantas mati." Better menatap tajam dengan tatapan penuh amarah. Setelahnya ia kembali melayangkan tendangannya ke arah kepala pria itu, hingga ...


Kreekkk!!


Tubuh sang sopir taksi gadungan, berputar sebentar di udara. Kemudian, terpental di atas tanah dengan posisi kepala yang miring. Mata pria itu juga mendelik, dengan darah yang mengalir lewat hidung serta mulutnya.


Better menahan gemuruh di dadanya, napasnya masih memburu karena emosi. Lantas, ia segera berbalik ke mobil di mana Vanish berada. Ketika, di rasa tak ada pergerakan lagi dari penjahat kelamin tersebut. Tentu saja, pria jelek itu pasti sudah menemui ajalnya.


"Nis ...," panggil Better lirih.


"Pacar ...," sahut Vanish dengan suara lemah. Ia lantas mendekap tubuhnya, demi menutupi bagian depan yang terkoyak. Bahkan, kancing celananya juga terlepas. Vanish kembali terisak menyadari keadaan dirinya. Melihat siapa pria yang telah menyelamatkan kehormatannya.


Better, melepas coatnya. Kemudian mengenakannya pada gadis yang tengah menunduk itu.


"Maafkan aku, seharusnya aku mengikutimu lebih cepat," lirih Better penuh sesal. Kemudian, ia menarik tubuh yang masih bergetar itu kedalam pelukannya.


"Ini, akibat dari kesombongan Ninis. Seharusnya, tadi Ninis gak bilang kayak gitu ke pacar," ucap Vanish dengan isak tangisnya yang semakin kencang.


Hatinya begitu sakit dan perih, melihat keadaan Vanish yang begitu berantakan. Pakaiannya koyak, dengan beberapa lebam pada wajah juga pergelangan tangannya. Gadis mungil ini, pasti sangat syok dengan kejadian yang barusan menimpanya.


"Pria itu? apa ... kau membunuhnya?" tanya Vanish yang masih berada di dalam dekapan dada bidang Better.


"Manusia sampah seperti itu pantas mati. Karena, manusia seperti itu akan terus melanjutkan aksinya. Aku tidak bisa membayangkan, jika ia melakukan hal yang lebih buruk lagi padamu." Better, semakin menenggelamkan tubuh mungil Vanish ke dalam pelukannya.


๐˜—๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ณ ... ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜•๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ.


Vanish, menarik tubuhnya dari dekapan Better. Ia memberanikan diri untuk mendongakkan wajahnya, untuk menatap wajah pria yang telah menyelamatkannya.


"Makasih, udah nolongin Ninis," ucap Vanish, dengan wajah sembab serta mata bengkak. Air mata satu persatu, masih mengalir di kedua pipinya.


Jemari Better terulur pada wajah mengenaskan di hadapannya. Menyentuh lebam yang berwarna kebiruan itu pada salah satu pipi Vanish.


"Asshh!" desis Vanish merasakan nyeri ketika ibu jari Better menyentuh lukanya itu.


"Ini pasti sakit, aku akan membawamu ke rumah sakit." Better, menyusupkan tangannya di punggung serta pinggang Vanish. Mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya.

__ADS_1


Vanish, buru-buru, mengalungkan kedua tangannya ke leher Better. Seketika tatapan mereka beradu dalam diam. Menyelusup hingga ke rongga sukma, menyentil relung hati menyadarkan alam bawah sadar akan sesuatu yang samar.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ง๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ. ๐˜‘๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ.


Better memalingkan wajahnya, berusaha menguasai kembali emosinya. Wajah memar gadis di dalam gendongannya ini, benar-benar membuat hatinya sakit.


"Ninis gak mau kerumah sakit." Vanish, mengatakan penolakannya ketika ia telah duduk di dalam mobil. Tangannya terus memegangi depan coat yang dikenakannya. Karena, coat itu tak terkancing sampai atas. Tubuhnya yang mungil membuatnya tenggelam dalam pakaian luaran tersebut.


๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข, ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข-๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ธ๐˜ข๐˜ซ๐˜ช๐˜ฃ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช.


"Aku akan mengobati mu di rumah. Maksudku, di apartemenku," ucap Better, seraya menyibak surai yang berantakan hingga menutupi wajah Vanish. Karena gadis itu, sama sekali tidak memindahkan kedua tangannya dari bagian depan tubuhnya.


Better kembali mencengkeram kemudinya, lalu melajukan kendaraan itu membelah malam. Tak berapa lama, mereka berdua telah sampai di tempat tujuan.


"Izinkan, aku menggendong mu lagi," pinta Better, seraya mengusap kepala Vanish. Gadis itu hanya mengangguk, karena kakinya masih terasa lemas meski sudah tidak gemetar seperti tadi.


Sesampainya di dalam apartemen milik Better. Pria tampan itu, meletakkan Vanish di atas sofa dengan perlahan.


"Tunggulah di sini, aku ambil kotak P3K dulu." Better pun berlalu, sekejap kemudian ia telah kembali ke hadapan Vanish.


"Minumlah dulu." Better menyodorkan segelas air hangat. Entah kapan pria ini mengambilnya, karena gerakannya begitu cepat. Vanish, menerimanya dan menghabisi air itu dengan sekali tegukan.


"Aduh!" Vanish berteriak kecil, ketika Better mulai mengompres luka lebamnya.


"Maaf, ini sudah pelan kok," ucap Better. Lalu pria itu, mengolesi salep ke ujung bibir Vanish, yang sedikit robek. Membersihkan darahnya yang hampir mengering.


Posisi mereka yang begitu dekat, membuat detak jantung keduanya seperti berlomba dalam debaran. Kedua pasang mata mereka kembali saling menatap dengan dalam.


Better memindai wajah cantik yang kini penuh luka, hatinya kembali terasa perih. Hingga, dirinya kembali menarik raga itu ke dalam pelukannya.


" Istirahatlah, di sini malam ini. Aku akan mengantar mu ke stasiun besok," bisik Better di samping kepala Vanish. Gadis itu hanya mengangguk cepat.


Ia tengah menikmati kenyamanan yang di berikan oleh pria yang dicintainya itu. Namun, sayang. Cintanya tidak bersambut seperti keinginannya.


Better merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh dadanya, sepertinya coat yang di kenakan oleh Vanish terbuka.


Bersambung ahh >>>>

__ADS_1


__ADS_2