Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Bumil Perkasa.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


" Apa ada syarat untuk mengikuti permainan ini?" tanya Susi, tapi tak ada yang menjawabnya. Mereka semua hanya menatapnya heran.


"Maaf, Mbak yang cantik lagi manis. Ini khusus untuk pria. Lagipula, bagaimana kalau nanti kulitnya lecet atau kukunya rusak?" jawab sang moderator.


"Khusus untuk pria? apa itu artinya kalian takut melawan wanita?" sarkas Susi, dengan senyum sinis nya.


Tiba-tiba, Arjuna menerobos kerumunan. Lalu, melewati Susi untuk mendekati sang moderator.


"Ada yang harus saya bicarakan dengan anda," ucapnya.


"Ada apa ini?" heran pria berbadan besar itu.


"Wanita di sana, adalah istri saya," jelas Arjuna, spontan membuat sang moderator kaget.


"Tolong, turuti saja apa maunya. Istri saya sedang hamil muda. Saya akan memberi kompensasi yang menguntungkan kalian." Arjuna, yang tidak membawa uang cash banyak. Kemudian, menyerahkan kartu namanya.


"Setelah semua selesai, hubungi saya." Arjuna menyerahkan secarik kartu dengan dua lembar uang merah.


"Baiklah, gampang di atur. Jadi, wanita mengidam ya." Pria tersebut mengangguk dengan seulas senyum.


"Baiklah, Mbaknya bisa melawan jagoan kami." Sang moderator menepuk pundak pria kekar berkaus oblong biru tersebut. Membuatnya sontak menoleh, sekaligus terheran.


"Apa-apaan lu! Mau menjatuhkan harga diriku gua, hah!" marahnya pada sang moderator.


"Mau duit, nggak? Lumayan 'kan, bisa untuk biaya bini lu operasi," bisik sang moderator memberi arahan.


"Oh, oke. Jadi, gua cuma harus pura-pura." Pria kekar itu pun mengangguk pelan.


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ?


Susi membatin, sembari memperhatikan gerak-gerik para pria kekar tersebut.


" Jangan merekayasa. Aku bisa melawan dia, jangan coba-coba meremehkan ku!" hardiknya marah.


" Sayang, tenanglah. Lihat, kau menjadi tontonan orang." Arjuna menunjuk dengan dagunya. Pada beberapa pengunjung yang mulai berkumpul.


"Kau juga, tarik lagi perjanjian mu dengannya! Aku, mau sungguhan. Bukan pura-pura!" protes Susi, seraya menggoncang tangan Arjuna.


" Tapi, itu ...." Arjuna semakin bingung di buatnya. Keinginan Susi ini membuat hatinya nyeri dan ngeri.


Dia sendiri saja, belum tentu menang melawan pria kekar tersebut. Karena, adu panco bukan hanya mengandalkan kekuatan, tapi juga tehnik.


Arjuna hanya bisa menggaruk kepalanya gusar. Istrinya ini telah membuat kepalanya mau pecah.


"Cepatlah! Aku hanya ingin melawan mu sekali! Apa itu membuat kalian takut! Hingga lama mengambil keputusan!" Susi menggebrak meja tanding yang ada di hadapan pria kekar tersebut.


"Alamakjang!"

__ADS_1


"Mejanya retak!" Para pria itu kaget, ketika meja kayu jati yang di gunakan untuk arena pertandingan, menjadi sedikit retak karena pukulan dari Susi.


"Kalian masih meragukan, kemampuanku!" tantang Susi, dengan senyum smirknya.


"Sayang, bagaimana bisa menjadi sekuat ini?" lirih Arjuna, seraya memijat pelipisnya. Kepalanya benar-benar berdenyut nyeri melihat kelakuan bar-bar Susi.


" Menjauh dariku, Ar!" Susi mendorong suaminya itu, sambil menutup hidung.


"Cepat lawan aku! Bukankah, kau membutuhkan biaya operasi untuk istrimu?" tanya Susi, sekaligus memberi penawaran.


"Ba-bagaimana kau tau?!" kaget sang pria kekar, yang di pilih Susi sebagai lawannya.


"Sudahlah, lawan saja. Jika kau bisa mengalahkan ku. Aku akan membiayai operasi istrimu." Susi mengajukan penawaran sekaligus tantangan. "Tapi, jika kau kalah. Kau dan keturunanmu, harus mengabdi pada anakku!"


๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜จ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฎ. ๐˜ˆ๐˜ฉ, ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข '๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜›๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ช๐˜ญ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ช๐˜ช๐˜ฉ๐˜ฉ. ๐˜š๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ.


Pria kekar itu membatin, dan berniat menerima tantangan dari wanita cantik di hadapannya.


๐˜š๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ? ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข!


Arjuna, terlihat mengeratkan rahang serta mengepalkan tangannya.


"Baiklah, apapun yang terjadi kami tidak akan bertanggung jawab, mengerti!" pesan sang moderator.


"Tentu saja! Aku dan suamiku, tidak akan menuntut kalian. Benar begitu, sayang?" tanya Susi pada Arjuna yang agak jauh darinya itu. Membuat pria itu terkesiap, kaget.


๐˜›๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ.


Mungkin ini yang di maksud masa mengidam. Meski tidak seperti apa ya yang telah di jelaskan oleh Netta. Karena, jenis mengidam istrinya ini sungguh di luar nalar manusia.


Pertandingan pun di mulai.


Susi telah duduk berhadapan dengan pria kekar bersinglet. Otot-otot tangannya mencuat, menampilkan urat.


" Baru kali ini, gua adu panco sama cewek cantik. Kalah malu, menang juga malu." Gumamnya, sembari mengenakan sarung tangan khusus.


Begitupun, Susi. Ia juga mengenakan sarung tangan yang di berikan oleh moderator.


"Jangan sungkan padaku, siang tadi aku baru saja menghajar seorang penjambret hingga ia masuk rumah sakit. Jika kalian tidak percaya, buka saja akun tok-tok kalian." Susi mencoba membuat orang-orang di hadapannya ini percaya kemampuannya.


Meskipun, dirinya sendiripun tidak mengerti, serta mengetahui darimana asal kekuatannya itu. Satu keinginannya yang membuat dirinya, bertekad. Penciumannya yang mulai menangkap bau aneh dari suaminya. Serta perasaannya yang mulai kembali kesal dengan Arjuna.


Mereka berdua pun mulai mengambil posisi, menautkan kedua telapak tangan mereka. Dengan arah sikut sejajar meja, serta posisi duduk yang tegak, satu tangan di letakkan di belakang pinggang.


"Kalian sudah faham dengan aturan yang ku katakan tadi ' kan. Bersiaplah, setelah hitungan yang ketiga baru mulai." Sang moderator mulai memberi arahan sebelum pertandingan di mulai.


"Tolong kondisikan wajahmu, Nona. Jangan membuyarkan konsentrasi ku dengan kecantikan mu itu ya!" pinta si pria kekar, karena belum apa-apa hatinya sudah gelisah. Pasalnya, wajah wanita di hadapannya ini begitu cantik dan manis. Bisa-bisa ia tidak akan tega, jika dia sedikit meringis nanti.


"Berikan aku topeng seram!" pinta Susi pada sang moderator.

__ADS_1


" Nih, adanya cuma yang seperti ini."


Susi melihat bentuk topeng itu, menghela napas lalu menggunakamnya.


"Hei, Bung! Apa tidak ada model lain!Haruskah topeng upin-ipin!" teriak si pria kekar, geram.


"Enggak ada lagi! Gua, harus cari dimana dadakan begini!" sang moderator pun mulai kesal, ia nampak lelah dengan kejadian malam ini.


"Pak! Anda bisa bayarin topeng punya anak saya!" Seorang ibu menawarkan topeng ondel-ondel milik anaknya.


"Biar saya yang bayar." Arjuna maju ke arah para penonton, lalu mengambil topeng tersebut dan memberikannya pada moderator.


"Kenapa gak ngasi sendiri aja ke istrinya, Pak?" tanyanya heran.


Arjuna hanya memberi tatapan tajamnya, membuat pria itu seketika berlalu dari hadapannya.


๐˜Š๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ. ๐˜›๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช, ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ต!


"Siap! Sedia! Satu. Dua. Tiga!!" Sang moderator pun mengangkat tangan tanda pertandingan di mulai.


Tak ada yang bersorak, semua mata dari para penonton menatap lurus dan serius ke arah kedua peserta. Termasuk, Arjuna yang kini tengah menahan napasnya.


๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ! ๐˜•๐˜ช ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ฌ, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ? ๐˜”๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ช๐˜บ๐˜ข, ๐˜จ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ? ๐˜ž๐˜ฐ๐˜ช๐˜ช! ๐˜๐˜ฏ๐˜ช ๐˜จ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข! ๐˜Ž๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข! ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ฉ! ๐˜Ž๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ! ๐˜Ž๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ! ๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ข!


Si pria kekar, berusaha sekuat tenaga bertahan. Keringat serta urat telah menghiasi wajah garangnya itu.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ . ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช. ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข. ๐˜๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฎ ... ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


Susi pun menggerakkan tangannya, dengan sekali hentakan lengan kekar itu mencium dasar meja.


"Satu. Dua. Tiga!!"


" Pemenangnya adalah, sang Nona cantik!" Sang moderator ingin mengangkat tangan Susi, tapi keburu dihempaskan oleh Arjuna.


"Whooaaa!!"


"Gilaaakk!!"


"Kereenn!!"


Si pria kekar, meluruhkan kepalanya ke atas meja. Ia kalah taruhan sekaligus kehilangan harga dirinya. Mimpi apa dia semalam, pikirnya.


"Sesuai perjanjian, kau dan keturunanmu adalah milik anakku. Mengabdi lah mulai besok!" titah Susi, seraya melempar topeng ke atas meja.


"Siapa kau sebenarnya, apa kau memang sudah mengincar ku!" geramnya.


"Jangan meneriaki istriku! Atau ku tarik lidah mu itu keluar!" ancam Arjuna, dengan mengarahkan telunjuknya.


"Kalian, sudah menghancurkan karir ku. Bagaimana aku bisa melanjutkan hidup!" hardiknya. Meskipun ada rasa gentar akan tatapan tajam serta ancaman dari Arjuna. Namun, pria kekar itu telah putus asa. Ia kehilangan pencariannya, sementara dirinya sudah tergadai di tangan wanita cantik yang sejak awal ia sepelekan.

__ADS_1


"Jangan cengeng! Malu sama body! Cepat, berikan nomer rekening mu!" pinta Susi, membuat pria kekar itu seketika menyusut cairan dari hidungnya.


Bersambung>>>


__ADS_2