Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Bab 284.ABPR


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥


"Gagal? Lagi?" Max mengeraskan rahangnya, kemudian.


PYARR ...!


Ia melempar gelas yang berada dalam genggamannya. Hingga benda itu menabrak tembok.


"Bagaimana bisa!" hardik Max dengan emosi tinggi di hadapan anak buahnya yang berjejer.


"Kami bahkan tidak menemukan jejak mayat-mayat mereka Bos. Sangat rapih, hanya tersisa ini." Anak buah Max menyodorkan beberapa kalung serta tanda pengenal dari anak buahnya.


"Damn it!" pekik Max sambil meremas tanda pengenal ke tujuh anak buahnya itu.


"Bagaimana bisa anak buahku yang terlatih hilang tanpa bekas. Siapa kedua orang itu sebenarnya? Kenapa Venda bisa berurusan dengan mereka?" Max menatap nyalang ke sembarang arah.


"Bagaimana sikap kita Bos?" tanya sang anak buah.


"Selidiki mereka, laporkan padaku segera!" titah Max kemudian berlalu dari hadapan para anak buahnya itu.


'Aku sangat kesal. Aku harus melampiaskannya pada Mona.' batin Max, seraya menampilkan seringai bengisnya.


"Apakah Max berhasil membunuh Joy atau tidak jadi menghabisinya? Jika iya, bukankah kepala Joy saat ini sudah ada di kamarku. Ah semoga saja tidak. Aku pasti akan langsung menghabisi nyawaku saat ini juga.' La Venda bergumam dalam batinnya. Kerisauannya membuat ia tak dapat memejamkan mata barang sedetik pun.


Padahal biasanya pengaruh obat akan membuatnya mengantuk. Venda mencoba berjalan keluar kamar demi mencari informasi. Kebetulan penjaganya mengira jika ia tengah tertidur.


______


" Bagaimana keadaannya." Max bertanya pada Rose dokter muda yang cantik, dimana wanita berjubah putih itu tengah membersihkan tubuh Mona yang tertelungkup. Max menampilkan raut wajah keras dan pandangan mata yang menusuk tajam.

__ADS_1


"Sudah lebih baik Tuan. Lukanya hampir mengering. Demamnya juga sudah turun," jelas Rose.


"Demam? Kenapa bisa?" tanya Max heran. Pria itu menyugar rambutnya hingga dirinya nampak keren dan mempesona di mata Rose. Akan tetapi wanita itu segera tersadar akan bagaimana sifat dari pria menawan di hadapannya ini.


"Iya Tuan. Nyonya sempat demam tinggi dan mengigau," jelas Rose lagi dengan menundukkan wajahnya. Ia sungguh tak kuat jika melihat wajah Max. Pria itu tampan dan luar biasa. Hanya saja, bila mengingat akan sakit kejiwaannya. seketika membuat bulu kuduk Rose merinding takut.


"Jadi, dia belum sembuh?" tanya Max serius. Menatap begitu intens ke arah Rose.


"Be–belum Tuan. Bukankah anda memberi waktu tiga hari. Sedangkan, sekarang baru dua hari," jawab Rose terbata. Ia mencoba sekuat tenang menjawab dengan berani. Karena bagaimanapun ia tak ingin jika Max menyalahkannya. Karena itu Rose mengingatkan Max akan perjanjiannya.


"Hm, begitu ya." Max berdehem dengan menaikan salah satu sudut bibirnya. Ia menatap Mona kemudian beralih kepada Rose. Ia menatap dokter cantik itu dengan pandangan penuh arti, Rose yang paham seketika merasakan tungkai kakinya gemetar saat ini.


'Tidak, tidak mungkin kan jika Max ingin menghukum ku? Ini bahkan belum lewat dari perjanjian waktu itu.' batin Rose menghawatirkan keselamatan serta kehormatan dirinya.


Seketika ia merutuki nasibnya, entah bagaimana awalnya ia bisa terjebak untuk bekerja pada manusia seperti Max. Meskipun gajinya terbilang sangatlah fantastis sebagai dokter pribadi.


"Aku sedang membutuhkan istriku. Akan tetapi dirinya belumlah pulih. Lalu, bagaimana menurutmu?" tanya Max ambigu membuat kedua mata Rose membola saat itu juga.


"A–apa maksud Tuan. Saya tidak mengerti," jawab Rose memalingkan wajahnya. Karena Max tengah menatapnya intens pada saat ini.


" Jangan berlagak bodoh. Aku tau kau mengerti maksudku," ucap Max sinis. Kedua matanya tak sedikit pun berpindah dari raga tinggi semampai di hadapannya ini. Seingat Max, gadis perawan di mansion ini tinggal Rose seorang.


Semua pekerja wanitanya sudah digagahi semua olehnya. Jangan lupakan beberapa wanita yang di culik dan di sekap olehnya. Kemudian di jadikan selir pemuas napsu-nya. Meskipun begitu, Max memperhatikan kesejahteraan mereka. Dengan membuat bangunan khusus bagaikan puri di sebuah bukit.


Tapi saat ini dirinya enggan menemui para wanita peliharaannya tersebut. Ia melihat mangsa yang lebih empuk dan menarik. Max suka gadis yang melawan ketika di hendak di kuasai olehnya.


"Tuan, tolong pegang kata-kata anda. Mohon hargai peran saya, bagaimanapun saya sudah beberapa kali mengobati luka dan menyelamatkan hidup anda." Rose memundurkan tubuhnya perlahan. Ia tau jika dirinya saat ini terancam bahaya.


Sementara itu Mona yang tengah tertelungkup di atas tempat tidurnya, ternyata pura-pura tertidur saat Max datang. Justru pada saat ini ia sedang meluncurkan air matanya dengan deras. Mona menggigit bibir demi menahan isak tangisnya agar tidak keluar.

__ADS_1


Bukan rasa sakitlah yang membuatnya menangis. Akan tetapi bagaimana perbuatan serta perlakuan Max terhadap para wanita yang bekerja di rumah ini. Betapa Max memandang mereka semua rendah dan hanya sebagai mainannya belaka. Ini bukanlah Max yang pernah ia kenal dulu. Max yang sekarang adalah pria gila dan psycho. Hingga Mona menyebutnya Mad Max ( Max si gila).


"Kata-kata yang mana?" Kini Max telah menghimpit tubuh Rose ke pinggir nakas. Rose menahan tubuh Max dengan kedua tangannya.


"Hentikan Tuan. Apapun itu yang tersirat di kepala anda!" ancam Rose berani, entah apa yang membuatnya berucap seperti itu. Pastinya wanita muda ini, telah membangunkan naga api yang tertidur.


"Apapun yang aku pikirkan dan aku inginkan. Tak ada siapapun yang pantas melarangnya. Termasuk kau!" Max menekan rahang Rose dengan satu tangannya. Membuat napas Rose tercekat di tenggorokan. Bukan sakit karena cengkeraman yang membuatnya sesak napas. Akan tetapi tatapan penuh napsu dari Max lah yang membuat nyalinya menciut serta urat syarafnya lemas seketika.


'Apakah ini akhir dari semuanya? Apakah yang selama ini ku pertahankan setengah mati akan dihancurkan olehnya? Haruskah aku menyerah saat ini?' Rose merasa bimbang dalam hatinya. Ia tak mungkin melawan pria di hadapannya ini. Haruskah ia menyerahkan nyawanya saja? pikir Rose.


"Gantikan dia! Malam ini juga!" tunjuk Max pada raga Mona yang tertutup selimut. Namun, kedua matanya menatap bengis ke kepada Rose.


"Tu–tuan. A–aku ...," lirih Rose tertahan dengan bungkaman kasar dari Max.


'Bajiingan kau Max! Bahkan aku belum menyetujuinya!'


______


"Selidiki siapa mereka! Beraninya mengeroyok anak buahku!" sentak Arjuna dimana saat ini Better tengah melapor padanya di ruang kerja.


Semalam ia telah melihat keadaan Joy yang kritis. Karena peluru telah menyerempet paru-paru, membuat anak buah nya itu harus menjalankan operasi berat pagi ini.


"Tim saya sudah melacak siapa mereka, juga sepak terjangnya. Bahkan, informan mengatakan jika mereka akan beroperasi malam ini di Pulau Dewata," jelas Better memberi laporan pada Arjuna.


Pria itu meninggalkan perusahaan Chocho demi menyelidiki para penjahat yang menyerang Joy dan Milna di Raja Ampat. Hingga sahabatnya itu tak sadarkan diri sampai pada hari ini.


"Kita berangkat siang sore ini juga. Pria itu harus membayar apa yang telah ia lakukan!" titah Arjuna yang tidak akan mungkin dapat dibantah oleh siapapun. Meski itu Better sekalipun.


Bersambung>>>

__ADS_1


__ADS_2