
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
...Suka cerita ini?...
...Jangan lupa dukung penulisnya ya.....
Caranya?
Gampang kok!
...Pencet like.....
...Kasih rate 5.....
...Vote sepekan sekali......
...Hadiah poin kalo ada😚....
...Komen dah yang bawel🤣....
...Lope klean poreper,😘😘....
Kenapa harus gitu?
...Harus dong, itu bentuk penghargaan klean pada penulis.🤗....
Biar makin semangat ngetik halu buat manjain mata klean di tengah kesibukan real life nya.
Udah tor ngocehnya?
...Udah....🤣🤣....
Cuzz baca lagi dah...hepi yak!🔥
*****
"Keren kamu Kak!"
"Wanita mulut kakus itu kau libas!"
"Ini baru setrong!"
"Mati kutu dia, hahaha...!"
Pujian dari kedua kawannya itu lantas membuat Susi tertawa. Ia pun lega bisa membalas perlakuan Daia dengan elegan.
Kini ia tinggal menunggu bonus lagi, bila pesanan membludak bulan ini.
(Aku harus semakin giat bekerja, akan ku buktikan bahwa aku bisa. Aku bukan perempuan lemah lagi. Tidak akan ku biarkan, siapa pun menindas ku!)
*****
Hari ini para sales-girl dan juga sales-boy akan ikut dalam pameran produk perusahaan ARSA. Mandiri.
Bertempat di sebuah mall terbesar di Ibukota.
Susi dan Vanish termasuk yang terpilih untuk menjaga stand salah satu produk.
Keadaan mall ramai sekali karena yang ikut pameran ini juga banyak. Perusahaan pesaing ARSA pun tak ketinggalan, bahkan stand mereka saling berhadapan.
Stand perusahaan lain banyak di jaga oleh para sales-boy. Mereka berpenampilan menarik, muda dan tampan.
Vanish sampai cengar-cengir saja sejak tadi. Merapikan dandananya berkali-kali. Karena kapan lagi, cuci mata dengan barang segar seperti ini. Ini kesempatan yang tidak datang setiap hari, menurutnya.
Stand mereka cukup ramai, ARSA.Mandiri dan LANG SENG Group memang bersaing cukup ketat. Meskipun jenis produk yang mereka jual sedikit berbeda.
Dua orang sales-boy menghampiri stand Susi saat jam makan siang. Para pengunjung mulai sepi karena mereka saat ini menyerbu depot makanan cepat saji.
"Hai!"
"Kenalan boleh dong?" sapa seorang pria dengan postur tinggi, kurus. Paras lumayan dengan kulit putih dan mata sipit.
Susi belum sempat menjawab keburu di serobot oleh Vanish.
__ADS_1
"Boleh, namaku Vanish!" ucapnya dengan senyum sumringah sambil mengulurkan tangan.
"Aku Vape," Jabat tangan dan tersenyum.
"Aku Hit," Melihat ke arah Susi dan mengulurkan tangan.
"Aku Susi," menunduk dengan sedikit senyum, lalu segera melepaskan tangan.
"Kita makan siang bareng yuk!" Ajak Hit si pria hitam manis dengan lesung pipi.
"Emm, gimana Kak?" tanya Vanish menoleh ke arah Susi.
"Kita gak bisa meninggalkan stand kita, maaf menolak tawaran baik kalian," jawab Susi sopan, pada dua pria di hadapannya itu.
"Tinggal aja sebentar, ini kan jam istirahat," saran Vape dengan wajah menggoda.
"Maaf, kita gak bisa. Mungkin kita akan pesan makanan saja, dan makannya di sini. Iya kan Van?" jelas Susi pada kedua pria yang setengah memaksa itu, kemudian meminta persetujuan dari Vanish.
"Ya, dengan berat hati ya Abang-abang ganteng. Kita gak bisa," ucap Vanish membenarkan kata-kata Susi.
"Cih, belagu banget si jadi cewek!" ketus Vape.
"Di ajakin baik-baik juga," tambah Hit.
"Lho? Kenapa kalian marah?"
"Hak kita dong nolak atau enggak!" ucap Susi tegas.
"Jangan sok deh, biarpun cantik tapi kamu janda bolong kan?" cibir Vape dengan senyum miring.
"Kok kamu malah menghina temen aku si?" hardik Vanish maju ke depan.
"Itu kenyataan,bukan hinaan!" seru Hit dengan mata yang terus menatap Susi.
"Memang ada yang salah dengan status saya?"
"Bukankah itu hak asasi saya untuk menolak?"
"Kalian siapa memangnya? Kenapa mendiskriminasi saya?!" cecar Susi membuat kedua pria itu kikuk dan tak bisa berkata lagi.
"Awas aja tu cewek!"
" Mau sombong sama gue, abis lu!" ancam Vape dengan senyum sinis nya.
"Kita bermain Bro!" Vape dan Hit pun ber-tos ria.
Waktu istirahat usai, namun terlihat Susi meninggalkan stand untuk pergi ke kamar kecil.
"Aku gak lama, nanti kita gantian oke!" pamit Susi pada Vanish yang mulai risih karena pandangan Hit dari seberang sana.
Sesampainya di kamar kecil, Susi seketika menengok. Merasa ada yang mengikuti langkah kakinya.
Seorang pria bersembunyi di balik tembok, mengintai sosok cantik itu menunggu saat yang pas.
Sementara di depot pameran tiba-tiba rusuh. Ada pengunjung yang tiba-tiba merusak barang.
"Eh, saya gak mau ganti ya! Itu bukan salah saya! Produk kamu aja kali yang palsu!" marah seorang wanita paruh baya, tak terima dirinya di mintai tanggung jawab. Karena ada salah satu pemanggang elektrik yang rusak.
"Nyonya gak bisa begitu, saya melihat dengan jelas bahwa Anda menjatuhkannya tadi," jelas Vanish mencoba tenang.
"Kamu punya bukti tidak? Jangan-jangan barangnya yang jelek makanya cepat rusak." omel wanita itu sambil berkacak pinggang.
(Kurang ajar! Ni mak lampir datang dari mana sih?)
Vanish hanya bisa mengeram dan mengepalkan tangannya.
(Cepet balik dong kak!)
Susi mencuci tangannya di wastafel serta merapikan sedikit rambutnya coklat pendeknya.
(Kenapa toilet sepi gini ya? Padahal mall nya kan rame?) batin Susi sambil merapikan bajunya, ia menengok kanan-kiri. Di lihatnya bilik toilet itu semua kosong.
Baru selangkah kakinya keluar, ia melihat bayangan pria yang terkapar setelah di pukul oleh seseorang.
__ADS_1
Pandangannya tak jelas karena ada di pojok setelah belokan.
(Akh, apa itu? Apa orang berkelahi? Aku lebih baik pergi dari sini gak mau lihat!)
Susi yang takut dan tak mau ikut campur, langsung melangkahkan kakinya dengan cepat.
"Bereskan seorang laki-laki di toilet Mall X."
"Laporkan pada perusahaan mereka, black list segera."
Seorang pria misterius dengan postur tinggi memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantung celana panjangnya.
Mengibaskan jas nya, seakan barusan ada kuman yang menempel di tubuhnya.
"Karyawan teladan LANG SENG. Group...?!"
"DESEASE!" makinya kembali memukul tengkuk pria yang hampir sadar itu, hingga dia kembali terkulai dengan tubuh lemah dan hidung yang mengeluarkan darah.
"SIAL!"
"Kau mengotori jas mahal ku!"
DRAP.
DRAP..DRAP...
Langkah kaki panjang dan tegap beberapa pria berseragam hitam menghampiri.
"Kenapa lama sekali!" pekiknya dengan tatapan menghunus.
"Maaf Tuan. Di stand terdapat keributan juga." jelas sang asisten.
" Bereskan seperti perintah ku!"
"Baik, Tuan."
Pria misterius itu pun segera berlalu bagai angin, tanpa meninggalkan jejak.
"Perusahaan tuan Bai Goon di ujung tanduk karena ulah karyawan mesum mereka."
"Sepertinya tuan Arjuna akan mengambil alih dengan mudah kali ini." ucap sang asisten dengan senyum penuh arti.
"Kalian! Amankan rekaman CCTV nya, lalu bawa dua pria itu kembali ke perusahaan mereka!" titahnya pada dua pria berseragam hitam.
" Kau dan kau! Bersihkan tempat ini!" tunjuknya pada petugas kebersihan yang sudah di siapkan.
"Baik Pak Joy!" seru mereka semua serempak.
Ketika Susi sampai di stand mereka kembali. Keadaan sudah rapi seperti semula.
"Apa ada yang terjadi sepeninggal ku tadi?" tanya Susi curiga. Karena saat lewat tadi ia mendengar bisik-bisik dari penjaga stand yang lain.
"Ada Kak. Tapi sudah di bereskan oleh orang-orang pusat Kak," jawab Vanish dengan raut wajah senang.
"Mereka keren-keren...," tambahnya lagi sambil tersenyum menerawang.
"Mereka? Orang-orang pusat? Keren?"
"Jelaskan coba yang bener Van?" gemas Susi tatkala melihat kawannya itu senyam-senyum gak jelas.
Padahal tadi paniknya minta ampun, hampir menangis pula.
"Tadi tuh... Bla ... Bla ... Bla...,"
" Gitu Kak," jelasnya.
"Astaga!"
"Aku hanya pergi beberapa menit dan sudah ada kejadian seheboh itu!" pekik Susi tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
" Eh, Kak lihat deh, stand cowok-cowok yang gak ada akhlak tadi!" seru Vanish ketika melihat pemandangan di seberang stand mereka.
"Di bongkar!"
__ADS_1
"Oleh siapa?" Mereka berdua saling menatap bingung.
Bersambung>>>>