
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Lingkungan kerja yang baru, lebih menghargai Susi sehingga membuatnya merasa nyaman saat bekerja.
Mungkin karena penampilannya yang sekarang lebih modis dan trendi. Rambut pendek coklatnya yang di buat sedikit curly di ujung, menambah kesan manis pada wajahnya yang cantik.
"Hai Susi!" sapa beberapa karyawan ketika ia melewati kubikel mereka saat menuju pantry.
"Hai Choki, Kalpa! Selamat bekerja untuk kalian." balasnya dengan lambaian tangan dan senyum manis.
Setibanya di pantry Susi segera meracik kopi untuk bosnya, Arjuna. Karena memang inilah rutinitasnya setiap pagi.
Tok. Tok. Tok!
"Masuk!" sahut pria kharismatik itu dari dalam.
Susi melangkah anggun meletakkan cangkir kopi itu pelan di atas meja. Dengan perasaan canggung yang masih menyelimuti dirinya, hingga wajahnya selalu menghangat acapkali ia melihat wajah itu.
"Silakan Tuan, saya permisi." pamit nya dengan nada di buat setenang mungkin. Bagaimanapun, ia harus bekerja secara profesional.
"Hemm." Arjuna tetap fokus pada layar laptop dan tumpukkan berkas di hadapannya.
Susi pun keluar dari ruangan yang mencekik napasnya itu. Ia segera menghirup udara banyak-banyak ketika sampai di mejanya.
"Hufft..., akhirnya bisa bernapas lega,"
"Kenapa jadi begini? Sampai kapan hubungan kami sedingin kutub utara?" gumam Susi sambil mengetuk-ketuk bolpoin ke dagunya.
"Ahaa..., aku akan masak makanan spesial dan enak untuk nanti malam. Pulang kerja cuz belanja." monolog Susi sambil bertepuk tangan girang.
(Aku akan mencairkan hubungan ini lewat perutmu tuan Arjuna.)
__ADS_1
Sepulang kerja Susi mampir ke swalayan di dekat kantornya, membeli beberapa potong daging sapi, kentang, udang dan yang lainnya.
Ia memang terbiasa pulang menggunakan jasa taksi online, karena Arjuna tidak pernah lagi menawarkan tumpangan untuknya.
Untungnya, Susi masih memiliki sedikit tabungan di ATM-nya
___**___
Arjuna keluar dari kamar ketika jam makan malam tiba, sehingga Susi tidak perlu memanggilnya.
Pria tinggi besar dengan tubuh atletis itu, hanya mengenakan kaos polo dan celana selutut.
Ekspresi datar selalu ia tampakkan pada wajah blasteran nya itu. Dahulu ia tak sedingin ini, rasa kecewa yang mendalam telah merubah hampir seluruh jiwanya.
"Silakan Tuan, semoga anda suka dengan menu malam ini," ucap Susi sopan, berusaha mencairkan hubungan mereka agar tidak terlalu kaku.
Arjuna menarik kursi dan meletakkan bokongnya, membiarkan wanita cantik yang sudah beberapa minggu tinggal bersamanya itu melayaninya.
Arjuna melirik sekilas pada wajah Susi yang selalu menghias senyum di wajahnya.
Meskipun ia tak pernah meresponnya, wanita itu tetap ramah dan lembut padanya.
Susi menyerahkan piring ke hadapan Arjuna hingga mata mereka berpapasan sepersekian detik.
(Sial. Kenapa bisa kebablasan ngeliatin nya!) Arjuna ngedumel di dalam hatinya, meskipun begitu air mukanya tetap saja datar tak terbaca.
Susi berdehem menguar canggung yang melingkupi ruang makan itu.
Berusaha biasa saja,meskipun hatinya berdegup kencang.
Ya,semenjak kejadian di dapur akibat tragedi keran copot. Susi merasakan perasaan aneh tiap kali bertatapan mata dengan bosnya itu.
__ADS_1
(Sadar Sus, siapa dirimu! Haruskah kau percaya pada makhluk yang bernama, lelaki? Yang awalnya manis saja bisa memberi kepahitan padamu, bagaimana kalau yang awalnya saja sudah sepet seperti itu, apa yang kau harapkan?) Susi menasehati dirinya sendiri, kata hatinya telah membuatnya sadar.
Arjuna mengerjapkan matanya, tetapi mulutnya terus mengunyah karena tangannya tak berhenti menyendok kan makanan ke mulutnya.
" Itu namanya rendang, perkedel kentang dan bakwan udang, kalau Tuan mau tau," jelas Susi, sambil menunjuk satu persatu makanan yang tersaji di atas meja.
"Masakan lagi untuk sarapan besok." Arjuna berkata singkat, sambil tangannya menyendok nasi dari bakul.
" Baik, Tuan." Susi kembali menyuap makanannya. Tercetak senyum tipis di wajah cantik yang polos tanpa make up itu.
Paginya.
Arjuna tengah melahap sarapannya dengan menu yang sama dengan semalam.
( Kenapa janda bodoh itu, bisa masak seenak ini? Persis seperti masakan mama.)
Sesekali matanya melirik singkat pada wanita yang telah di bicarakan oleh hatinya itu.
(Mantan suami mu itu, tak berhak mendapatkan mu kembali. Akan ku buat dirinya menderita di dalam penyesalan. Dendam, akan segera terbalaskan.)
"Ternyata kau bermanfaat juga." Arjuna bersuara di sela suapannya.
"Heh? Maksudnya?"
"Uhukk!"
"Minum, Tuan...!"
(Damn! Keceplosan.)
Bersambung>>>>
__ADS_1