
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
"Mami tolongin aku mami!" teriak Daia ketika para polisi wanita itu membawanya.
Daia terus memberontak dan menolak di bawa.
Easy, mendekati Susi dengan penuh amarah emosi.
"Perempuan pembawa sial!"
"Beraninya kau sudah mengusik dan menganggu ketenangan keluarga ku!"
" Bebaskan anak perempuanku dari tuduhan mu!" hardik Easy hendak menerkam Susi namun, Seno keburu menahannya.
"Hentikan, Mi." bisik Seno.
"Lepaskan, Mami! Kenapa kau malah membela perempuan gila yang sudah menjebloskan kakak mu ke penjara, hah!" teriak Easy pada Seno, sambil memukuli kepala Seno berkali-kali.
Ia miris dan tidak tega melihat Daia menatap tak berdaya padanya.
Sampai para polisi wanita itu membawa Daia keluar dari ruangan itu dengan memborgol kedua tangannya. Karena, wanita itu terus memberontak.
"Itu karena ulahnya sendiri," bisik Seno lagi. Ia tidak ingin sang mami justru malah memperkeruh suasana dan membuat keadaan tambah sulit.
PLAK!
"Seharusnya kau membela kakakmu!' Easy sukses mendaratkan tangannya pada wajah sang putra, hingga Seno menoleh dengan keras.
Seno menatap wajah tua di hadapannya itu dengan perasaan kesal yang teramat. Pasalnya, orangtuanya itu semakin membuatnya tak punya muka.
" Jangan membuat ulah yang akan membuat mu menyesalinya sampai liang lahat!" seru Susi, melerai perdebatan antara ibu dan anak itu.
__ADS_1
"Diam kau wanita tak tau di untung!" hardik Easy sambil menunjuk ke arah Susi.
Susi hanya tersenyum remeh, ia mengibaskan rambutnya.
"Kau tau, apa akibatnya terus-terusan menghina dan meneriaki seorang Direktur?" tanya Susi dengan tangan yang di silangkan di depan tubuhnya.
" Aku bisa saja menendang mu dari posisimu saat ini." ucap Susi tegas.
Easy hanya bisa menahan geramnya, terlihat dari wajah berkerut nya yang mengeras.
"Bet, kau tak perlu menyebarkan kejadian ini kepada dewan direksi. Simpan saja rekamannya." titah Susi atau Direktur S pada asisten gondrongnya itu.
" Baik, Bu Direktur." sahut Better dengan menundukkan kepalanya.
"Aku memaklumi sikapmu karena kau pernah menjadi orangtuaku, meskipun kau tidak pernah mengumumkan hubungan kita," bisik Susi ketika ia telah sampai di samping Easy dan Seno.
Pria itu masih terus memegangi maminya erat.
"Seandainya dulu kau menerima semua kasih sayang dan bakti ku padamu. Pasti, hari ini kau akan ku sambut dengan pelukan hangat." bisik Susi lagi, tangannya menyusuri kerah atasan yang di kenakan oleh Easy.
Bulu kuduk Easy dan Seno berdiri seketika.
"Kalian tidak mau kan, anakku mengutuk keluarga Pradipta? Sayangnya aku tidak berkuasa mencabut kutukan itu," Susi menggeleng pelan dengan senyum remeh.
"Semoga saja, Seno bukanlah keturunan terakhir." Susi meninggalkan kedua orang yang tengah tercengang itu.
Ia melangkah dengan tegap dan pasti keluar dari ruangan meeting yang mendadak menjadi eksekusi pagi ini.
"Tuan, tolong jaga kelakuan anda dan keluarga anda ke depannya." Better telah berdiri di hadapan Seno dan Easy.
" Bagaimanapun, Direktur S bisa sewaktu-waktu mengambil kembali sahamnya, dan perusahaan ini akan tinggal nama saja," tegas Better memperingati.
__ADS_1
" Permisi." Better menundukkan kepalanya sebelum ia berlalu.
"Kau!"
"Anak tak berguna!"
"Kau diam saja ketika Mami di hina perempuan mandul tak berguna itu!" Easy kalap, ia terus memukuli Seno dari kelapa hingga bahu.
" Hentikan!" Seno menangkap tangan pendek dari wanita gemuk yang pernah melahirkannya itu.
" Siapa yang sering menyiksanya di masa lalu?"
"Kenapa Mami marah padaku!"
" Semua ini juga karena kalian para perempuan yang taunya hanya menghabiskan uang!" pekiknya pada sang mami.
" Kau!" Easy memegangi kepalanya yang mendadak pusing. Ia mendudukkan dirinya ke kursi.
" Sebaiknya, kita pikirkan cara menghadapinya. Bukan saling menyalahkan satu sama lain," bisik Seno di samping telinga Easy.
Membuat senyum licik itu terbit, melengkung dari kedua bibirnya yang bergincu merah.
" Kita susul kakakmu ke penjara." ajak Easy, sambil beranjak berdiri.
" Dia pasti sangat marah dan kecewa." ucapnya dengan nada sedih.
" Semua itu karena ulah mu, Mam." lirik Seno menghentikan langkah mereka yang hendak keluar.
" Kau selalu memanjakannya dan hanya keras padaku." protesnya.
" Sudahlah, jangan terus menyalahkan Mami!" kilah Easy, wanita itu menutup mulutnya dan menunduk.
__ADS_1
" Jangan berlakon pada ku Mam!"
Bersambung>>>