Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Bab 285. ABPR.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Aku tidak akan melarangmu. Asal kau berjanji untuk pulang dalam keadaan selamat tanpa luka sedikitpun," ucap Susi pada suaminya yang tengah menggendong putra semata wayang mereka. Baby S.


"Tentu saja aku akan pulang dengan selamat. Aku kan belum dapat jatah keempat pekan ini," ucap Arjuna terus terang.


"Ingat aja kalau soal itu." Susi menepuk keningnya pelan sambil menggeleng.


"Aku akan selalu mengingatnya. Karena itu jangan lah kau berpikir untuk memotong jatah ku," pesan Arjuna serius.


"Iya, iya. Sudah, jangan bicarakan hal itu lagi di depan baby S," ucap Susi menyerah. Suaminya itu teramat detil jika sudah mengenai urusan kesejahteraan pedang naga puspa-nya.


'Bisa-bisanya mereka membahas mengenai hal itu dihadapan orang lain.' batin Better tak habis pikir. Pria yang rambut gondrongnya selalu diikat ke belakang itu terlihat memijat pangkal hidungnya. Menyaksikan kemesraan antara Arjuna dan Susi, membuat dirinya tiba-tiba merindukan Vanish.


Dirinya langsung teringat ketika tadi pagi berpamitan dengan istri mungilnya itu. Di luar dugaan Better, Vanish dengan sikap manja dan cerianya ternyata kini mampu bersikap dewasa. Ia mendukung sepenuhnya kepergian better yang tak lain demi membela sahabat mereka masing-masing.


Better tenang meninggalkan istri mungilnya itu karena emak Kelly ada di apartemen untuk menemani Vanish. Bahkan Kiss juga ikut, dengan begitu perasaan better lebih tenang saat meninggalkan istrinya di rumah.


Arjuna meninggalkan mansion, diiringi lambaian tangan dari istri dan juga bayi gembul nya. "Babay Daddy ...," ucap Susi menirukan suara bayi seraya menggerakkan tangan baby S untuk melambai ke Arjuna. Arjuna turut melambaikan tangannya ketika ia telah berada di dalam mobil. Sementara Better berada di samping sang pengemudi. Menunduk sekilas.


Ferrari berwarna hitam metalik itu pun maju meninggalkan pekarangan mansion. Diikuti dengan konvoi empat kendaraan dengan jenis Jeep Wrangler berwarna hitam. Susi menatap kendaraan itu sampai hilang di balik gerbang. Kemudian ia menatap wajah bayi S yang kini tengah menghisap ibu jarinya sendiri.


"Mommy pikir setelah kau lahir, Daddy-mu tidak akan berhadapan lagi dengan penjahat dan sejenisnya. Ternyata, hal yang berhubungan dengan skill dan juga kesetiakawanan itu tak bisa di hapus dan di tinggalkan begitu saja.


Susi pun berbalik mengajak bayinya masuk ke dalam Mansion.

__ADS_1


______


" Hiks ... keterlaluan! Sudah jam segini aku masih belum bisa juga turun dari atas ranjang," ringis Rose Seraya kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur. Rose menaikkan selimut itu hingga ke atas perutnya. ia memilih untuk meminjamkan kedua matanya lagi. sekelebat bayangan kejadian semalam pun kembali muncul.


๐˜“๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ! ๐˜›๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช! Rose meronta kala Max mulai mencumbu seraya melucuti pakaiannya.


๐˜Ž๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜›๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข-๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข! Rose terus berusaha berontak dari kungkungan Max. Meski ia kalah body dan tenaga, Rose takkan menyerah. Sekuat tenaga ia akan mempertahankan mahkotanya. Meski nyawa nya harus melayang ia tak peduli.


'Lebih baik aku mati saja. Ketimbang harus menjadi budak napsu dan juga gelora pria gila sepertinya.' batin Rose putus asa. Baginya tenaga besar pria ini tidak akan sanggup di lawannya. Karena itu Rose mengedarkan pandangannya demi mencari benda yang sekira dapat membantunya.


Sayang, tas miliknya telah terlempar entah kemana. Rose telah menyiapkan amunisi perlawanannya di sana. 'Seharusnya aku meletakkannya di balik baju saja. Kalau begini bagaimana lagi ceritanya? sesalnya dalam hati.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ. ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ณ๐˜ข๐˜จ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ช๐˜ธ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช! Bentak Max dengan suara berat berat nan garang. Ia bahkan sudah dua kali mendaratkan telapak tangannya dengan tak mulus ke pipi Rose.


Dokter muda itu meringis sambil memegangi pipinya yang memerah. Cetakan jemari Max terlihat membekas di wajah mulus tanpa cacat itu.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต. Max semakin mengungkung Rose hingga wanita itu tak lagi dapat bergerak bebas dan leluasa di bawah kendali serta kuasanya.


Rose memekik sekuat tenaga ketika Max melepas semua kain yang melekat pada tubuhnya. Rose berusaha menutupi bagian pribadi dengan kedua tangannya. Satu menangkup dada, satunya lagi menangkup bagian bawah.


Sia-sia, Max yang jauh lebih kuat berhasil menyingkirkan tangan Rose. Pria tampan dengan wajah bengis itu serta merta menelan air liurnya. Tatkala ia memandang pahatan hasil maha karya Tuhan yang begitu indah.


Max, melepas kain terakhir yang melekat di tubuhnya. Dimana segitiga itu telah menyembul onggokan besar dan penuh. Kita benda keramat yang tersembunyi itu telah terpampang nyata. Membuat Rose membelalakkan mata sambil membekap mulutnya.


'Apa aku akan mati setelah ini? Benda sebesar itu pasti akan membunuhku seketika. Ya Tuhan, apakah mati itu sakit? Jika iya percepat saja. Jangan biarkan aku berlama-lama merasakan penderitaan itu.' batin Rose dengan seluruh sendi yang bergetar.

__ADS_1


Rose sudah lelah meronta dan melawan setiap cekalan dan kekasaran Max. Seluruh tubuhnya ngilu belum lagi hatinya. Kini sang dokter muda nan cantik tersebut hanya bisa pasrah. Tenaganya sudah habis, menyisakan gemetar kala jari jemari Max menyusuri setiap inchi lekuk tubuhnya.


Rose memejamkan kedua matanya. Ia tak sanggup melihat hal apa lagi yang akan di lakukan Max padanya. Seluruh bagian tubuhnya telah berhasil di jamah serta di beri tanda stempel oleh Max.


' Aku berharap pingsan dan tak sadar saja saat ini. Atau, kalau perlu cabut saja nyawaku saat ini Tuhan! Sebelum aku merasakan hinaan yang lebih dari ini. Aku sudah tidak akan sanggup lagi untuk membuka mata di kemudian hari. Kedua kaki ini juga tidak akan merasa pantas lagi berpijak di atas bumi mu.' batin Rose telah putus dari harapan. Ia sudah tak mungkin melawan lagi. Tenaganya sirna keberaniannya telah mati.


Pria yang menguasai tubuhnya semakin menggila. Membuat Rose jijik serasa mau muntah. Max mencekal kedua tangannya keatas kepala Rose. Pria itu terus memberi stimulasi rangsangan pada Rose. Hal itu membuat Rose membenci dirinya sendiri. Hati dan Otaknya begitu membenci Max dan semua yang pria itu lakukan pada tubuhnya.


Akan tetapi, ternyata tubuh indahnya yang selama ini lindungi dan jaga sepenuh hati. Justru mengkhianatinya saat ini. Tubuhnya merespon setiap jilatan dan kecupan yang di berikan oleh Max. Hingga kedua paha Rose refleks membuka ketika wajah Max telah berada siap sedia di depan taman bunga nan segar mewangi itu.


๐˜ž๐˜ข๐˜ธ! ๐˜๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ. ๐˜๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ. Max terus mencium dan menikmatinya dengan sepenuh hati. Bagaikan seekor kumbang yang baru pertama kali melihat nektar pada bunga. Max lantas menghisapnya sampai puas.


Rose menggeliat, menggeram dan meraung. Ia merasakan buaian yang mengalirkan listrik ke setiap sendinya. Membuatnya seakan melayang entah kemana. Terlupa sesaat akan apa yang sebentar lagi akan terjadi pada dirinya.


๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜จ๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ. ๐˜Ž๐˜ข๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ-๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ข๐˜จ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ.


๐˜—๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ด๐˜ฉ๐˜ฉ ...


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ฉ!! Rose melenting kan tubuhnya ketika Max memasukkan kelapa naga ke depan gua. Bahkan belum masuk seluruhnya akan tetapi pekikan Rose sudah sedemikian kencangnya.


Bukan Max jika ia peduli teriakan serta rintihan dari wanita yang dikuasainya. Karena kini ia telah membuat Rose teriak untuk yang kedua kalinya. Bahkan wanita itu kini juga menangis. Max membenamkan dulu kepala naga yang sudah masuk gua seluruhnya.


Sambil merasakan otot naga- nya dihisap sebuah kekuatan tak kasat mata dari dalam taman bunga milik Rose. Merasa sudah cukup waktu agar Rose terbiasa dengan ukurannya yang luar biasa. Max maju-mundur cantik tak tahan. Kepalanya menggeleng tanpa sadar. Hingga akhirnya Keduanya mendapat sensasi itu pada akhirnya.


Rose kesal sekaligus geram jika mengingat bagaimana respon tubuhnya semalam.

__ADS_1


' Tubuh sialan! Gak ngotak! Kurang asem! Kenapa mau menikmatinya! Memalukan! Kenapa aku tidak mati saja sekarang!' batin Rose memaki dirinya sendiri sambil memukul kepala dengan kedua tangannya. Ia menaikkan selimut hingga menutupi wajahnya.


Bersambung>>>>


__ADS_2