Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Menerima kenyataan.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Tolong lakukan yang terbaik, Dok. Tolong minimalisir rasa sakit istri saya pasca operasi. Berikan kami fasilitas terbaik rumah sakit ini, berapapun biayanya saya tidak masalah," ujar Better, mengajukan tindakan yang terbaik dengan fasilitas terbaik. Ketika Emak mengalami koma pasca operasi. Ada kemungkinan terdapat kesalahan terhadap penanganannya. Karenya, Better akan menghindari hal buruk itu dengan meminta kepada pihak rumah sakit, untuk menurunkan tim dokter terbaik dalam menangani Vanish.


"Baik Tuan Better Maxime, kami akan lakukan yang terbaik," ucap salah seorang dokter kepala yang akan menangani operasi Vanish.


Better pun mengantar kepergian istri mungilnya itu hingga menuju ke ruangan operasi. Di samping brangkar yang di dorong oleh beberapa perawat, ia terus menggenggam pinggiran besinya. Matanya lekat tak lepas memandang wajah pucat Vanish dengan hidung dan mulut yang terpasang alat bantu pernafasan. Serta beberapa alat lainnya berikut selang dan beberapa kabel yang tersambung dengan sebuah alat monitor.


Keadaan demikian semakin meremas jantungnya. Bahkan, perutnya sejak tadi berasa keram. Better mengolah napasnya agar teratur. Berkali-kali pria itu menghela napasnya secara kasar. Menandakan betapa sesak dalam dada yang ia rasakan.


Baru tadi pagi ia melihat wajah itu menyunggingkan senyum manis. Hingga membuat dirinya begitu berat melangkah keluar apartemen. Ternyata inilah arti dari firasatnya sejak membantu Vanish mandi tadi pagi.


๐˜ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜”๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฎ๐˜ถ... ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช. ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต, ๐˜”๐˜ฐ๐˜บ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ! Better, memberi remasan pelan pada telapak tangan Vanish yang dingin. Genggaman tangan itu terpaksa terlepas karena mereka telah sampai pada batas ruang steril.


"Mohon tunggu di sini Tuan!" tahan seorang perawat sebelum ia menutup pintu tersebut. Tak lama kemudian lampu indikator di ruang operasi menyala,


pertanda kegiatan operasi telah di mulai. Setidaknya, Better harus menunggu sekitar dua sampai empat jam.


"Moy ... bertahanlah ku mohon. Kau sangat berarti bagi kami. Terutama untukku. Melihatmu seperti itu, membuat hatiku hancur berkeping-keping ..." lirih Better pelan, kedua tangannya menutupi wajah kemudian menyugar rambutnya yang berantakan kebelakang. Ia menarik ikatan pada kunciran rambutnya. Hingga surai ikal itu tergerai hingga menyentuh bahu tegapnya.


Betapa berantakannya rupa Better saat ini, meski hal itu tak mengurangi kadar ketampanannya. Namun, melihatnya seperti itu siapapun pasti paham betapa kalut perasaannya saat ini.

__ADS_1


๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ-๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช, ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช. ๐˜‹๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช. ๐˜๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ... ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ. Better memberi remasan kuat pada dadanya. Berusaha menekan nyeri di sudut sana.


Hingga seseorang terlihat memberi sebotol minuman padanya.


"Nana ...," lirihnya, seraya mendongak pada wanita yang berdiri menjulang di hadapannya. Kemudian, pandangannya beralih kepada tiga orang lagi di belakangnya.


"Minum dulu, Bro! Lu harus kuat!" ucap Joy sembari menepuk bahu Better. Kedua mata pria itu kembali memanas. Hingga kristal bening itu mengalir dengan tak tau dirinya. Dirinya menyeringai dalam tangis. Berusaha menertawakan betapa cengeng dirinya jika menyangkut wanita yang sangat dicintainya itu.


"Keluarkan semuanya, karena di depan Vanish nanti kau harus tegar. Kau harus membuatnya mampu menghadapi ini semua. Ayo bro! Kami ada disini untukmu!" Joy menepuk dan memberi remasan kuat pada bahu Better. Menyalurkan dukungan pada sahabatnya. Sesak dan perih itu sampai juga ke hatinya. Tak bisa dibayangkan bila itu terjadi pada Milna.


Joy menggeleng kuat. Berusaha mengusir jauh bayang-bayang dari kejadian mengerikan itu. Berharap Milna beserta si kembar baik-baik saja di sana. Karena Ibu hamil itu sangatlah rentan, kejadian seperti ini tak bisa di prediksi oleh siapapun termasuk oleh ahli tenaga medis sekalipun.


"Semua pasti baik-baik saja. Yakinlah Bet." Milna ikut duduk di sebelah sahabatnya itu. Sungguh tak nampak Better yang bengis ketika berhadapan dengan mafia dan para gangster. Kedua mata pria itu merah dengan wajah kusut dan pipi lembab.


"Ar, bagaimana ini bisa terjadi pada Vanish. Dirinya masih sangat muda. Apa dokter tidak ada jalan lain selain mengangkat rahimnya?" Akhirnya Susi terisak dalam dekapan Arjuna. Wanita itu sejak tadi sudah menahan dirinya. Tapi ia tak kuat lagi, rasa sakit itu kembali terasa. Bahkan, bayang-bayang diagnosis dokter kala itu kembali berputar di kepalanya, Susi masih beruntung dokter tak mengambil langkah untuk mengangkat alat reproduksinya itu.


"Sayang, jangan samakan keadaan Vanish saat ini, dengan dirimu kala itu. Semua sangat berbeda. Vanish pasti kuat, karena ia memiliki dukungan dari keluarga, suami dan juga sahabatnya," bisik Arjuna tepat di telinga Susi.


Membuat istrinya itu segera menyusut air matanya. Arjuna membantu menyeka wajah Susi dengan ujung lengan kemejanya. Kemudian merapikan anak rambut yang menjuntai ke depan.


"Kenapa? Perutmu keram lagi?" tanya Arjuna kala melihat Susi memegangi perutnya. Susi mengangguk seraya meringis kecil.

__ADS_1


" Aku tidak apa-apa Ar. Sepertinya penghabisan masa nifas jadi seperti ini," jelas Susi. Membuat kedua mata Arjuna berbinar seketika.


"Jangan memasang wajah itu, ini bukan saat yang tepat untuk membayangkan kemesumanmu," tukas Susi tertahan. Karena ia tak ingin obrolannya dengan Arjuna terdengar yang lain.


"Siapa suruh kau memberi infonya sekarang, aku hanya mengungkapkan perasaanku. Itu saja," kilah Arjuna. Tangannya masih setia merangkul pinggang Susi yang semakin ramping. Susi bersyukur dirinya tak perlu diet seperti kebanyakan wanita lainnya. Ia hanya tinggal Zumba saja untuk mengencangkan otot-ototnya kembali. Juga kegel, itu adalah bagian terpenting dari semuanya.


Otot kewanitaan-lah yang paling penting untuk dikencangkan. Agar tetap menjepit dan menggigit meski sudah mengeluarkan kepala serta tubuh manusia secara utuh. Jadi jangan khawatir, bagi yang melahirkan secara normal.


"Jangan berpikiran macam-macam dulu Ar. Kau ingat kan jika aku ini pasca cesar. Kalau belum dua bulan aku tidak berani melakukan itu seperti biasanya, aku takut." Susi menunduk. Meskipun Netta mengatakan bahwa jahitannya sudah bagus dan boleh-boleh saja kembali melakukan hubungan suami istri secara normal. Hanya saja, Susi masih merasa ngeri. Bahkan ia mencari tau di internet bahwa kebanyakan wanita di luar sana membatasi dirinya minimal tiga bulan.


"Aku ikut apa kata kanjeng ratu saja. Tapi, jika kau sudah tak tahan. Di situ aku tidak akan bertahan lagi, mengerti?" ucap Arjuna tentunya dengan senyuman penuh arti dan sarat makna.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ˆ๐˜ณ. ๐˜‘๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ณ๐˜ข๐˜ต. ๐˜›๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ด๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ.๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ. Susi menghela napasnya berat. Dia pun berandai-andai, jika saja saat itu dapat melahirkan secara normal. Dirinya tidak akan perlu setakut ini. Sekali lagi, semua yang terjadi adalah suratan takdir dari pemilik semesta.


Beberapa saat kemudian lampu indikator di dalam ruang operasi telah padam, pertanda tindakan operasi telah selesai. Better dan yang lainnya, mungkin dapat bernapas lega sekarang.


Suara pintu terbuka, seiring dengan seorang pria berjubah hijau yang mengenakan masker bedah.


" Dokter!" Better segera menghampiri pria paruh baya tersebut.


"Operasinya ...,"

__ADS_1


Bersambung>>>>


__ADS_2