Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Obat Mujarab.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Susi pun akhirnya memberikan air kelapa itu sesuai dengan saran dari para pembaca setia. Dari beberapa ratusan komentar yang masuk, salah satu saran paling uwwu inilah yang akhirnya author sematkan.


๐ŸพHalu ae thor, ngarep komentar ratusan๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ



Author: Kau sangat romantis ๐Ÿ˜‰



Author: Die ada masalah ape sih? sentimen bener romannye๐Ÿ™„


๐Ÿฅฅ๐Ÿฅฅ๐Ÿฅฅ๐Ÿ’


Susi pun melakukannya, tanpa memikirkan tanggapan orang lain di sana, karena yang terpenting baginya sekarang adalah keselamatan Arjuna. Suaminya itu, telah begitu banyak mengeluarkan isi dari dalam perutnya. Membuat Arjunanya lemas karena dehidrasi.


Susi menenggak air kelapa itu, lalu menyimpan di mulutnya. Kemudian, ia mentransfernya dengan cara ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฉ. Ia melakukannya berulang-ulang, hingga cairan dari kelapa hijau itu masuk cukup banyak ke lambung Arjuna. Hingga, Arjuna merasa baikan dan terlihat lebih segar.


๐˜›๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜š๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข. ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข, ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜š๐˜ถ๐˜ด๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต. ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ.


Better terus bergumam di dalam hatinya. Matanya tak lepas menatap sepasang majikannya itu.


Pada kiriman terakhir, Arjuna yang sudah mulai bertenaga meraih tengkuk Susi dengan tangannya. Meraup bibir basah nan manis itu, yang sejak tadi memasukkan air kelapa ke mulutnya.


๐˜Š๐˜ฌ. ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข, ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜ˆ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ, ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข? ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข '๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด-๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช.


Joy, berdecak kesal. Sembari menggilas rumput yang bergoyang di bawah sepatunya.


Yaahh, para penonton hanya bisa memasang wajah manyun dan kusut. Pasalnya, mereka baru saja di suguhi adegan drama paling romantis sejagad alam maya.


๐ŸพEmangnya klean doang nyang kepanasan? Reader's juga noh!๐Ÿ˜๐Ÿ˜œ


"Terima kasih, sayang. Sentuhan mu memang mujarab." Arjuna tersenyum dengan sisa pucat di wajahnya.


"Kau ini, bisa-bisanya mengambil kesempatan, di saat kami semua khawatir dengan keadaanmu," cebik Susi. Dirinya hendak bangun, tapi Arjuna masih merangkul pinggangnya dengan erat.

__ADS_1


"Kalau saja di rumah, sudah pasti adegan tadi akan ada kelanjutannya," ucapnya pelan karena wajah mereka sangatlah dekat.


" Aku janji, setelah di rumah pasti akan ada season kedua. Anggap saja, sebagai pemintaan maaf dariku dan calon bayi kita. Bagaimana?" kerling Susi dengan gaya genitnya. Membuat Arjuna ingin mencium bibirnya kembali.


"Stop! Kasian tuh, anak buah mu belum ada yang nikah." Susi menahan pergerakan bibir Arjuna dengan jari telunjuknya. Membuat Arjuna melirik keempat anak buahnya yang sedang membuang pandangan mereka.


๐ŸพDu du du du du du ...๐Ÿ˜™


Kita gak liat kok, silakan tuan dan nyonya lanjut. Anggap aja hutan milik berdua. ๐Ÿคช


_________


"Sayang, sudahlah. Jangan melayani ku terus. Aku sudah baik-baik saja. Istirahatlah." Arjuna menepuk kasur di sebelahnya.


Susi segera menghampirinya, wanita itu kini hanya mengenakan baju tidur berbahan sifon yang tipis. Hingga, setiap lekuk tubuhnya terlihat begitu menggairahkan naluri lelaki Arjuna. Hanya saja, ia tak ingin membuat istrinya itu kelelahan setelah perjalanan safari mereka tadi.


"Tidurlah, aku takut perutmu keram. Karena , ๐˜”๐˜บ ๐˜˜๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ sejak tadi tidak bisa diam." Arjuna lantas meletakkan telapak tangannya ke atas perut Susi, lalu memberi usapan secara perlahan dan lembut.


"Rebahkan tubuhmu, biar aku menemanimu sampai kau tertidur." Arjuna menyusun bantal yang sekiranya membuat sang istri nyaman.


"Ar, apa kau yakin. Ingin mengirim Milna serta Joy ke perusahaan Franklin?" tanya Susi, tiba-tiba saja membahas masalah yang tempo hari mereka diskusikan.


"Mereka belum kompak, selalu bertengkar dengan hal-hal kecil. Itu yang membuatku khawatir. Joy, selalu memancing emosi Milna. Mereka selalu memiliki argumentasi masing-masing, dan tak pernah ada yang mau mengalah atau mengaku salah," gusar Susi, ia yang hendak bangun kembali di tahan oleh tangan Arjuna.


"Jangan pikirkan lagi. Apa kau lupa, mereka adalah tipe anak buah yang profesional. Prajurit yang setia dan cekatan. Tak ada sisi egois pada jiwa seorang prajurit, mereka sangat menjunjung tinggi nilai kesetiakawanan," jelas Arjuna. Membuat Susi menghela napasnya lega.


"Yah, semoga masalah perusahaan kawanmu itu cepat selesai. Juga, ada hikmah di balik itu semua. Karena, aku berharap mereka semakin dekat. Agar nanti bayi kita bisa segera punya kawan main," tutur Susi penuh harap.


"Kau bisa berharap dari sahabatmu lebih dulu," ucap Arjuna disertai kekehan kecil.


"Maksudmu, pasangan Betis? Better dan Vanish." tanya Susi yang akhirnya membuat mereka tertawa bersama. Ternyata, kencan di atas gajah tidaklah gagal sepenuhnya.


Author: Cuplikan kisah JoNa ( Joy dan Milna) ada di novel baru otor ya gais. Mereka akan bantuin Franklin di sana. Karena Franklin adalah sahabat Arjuna yang apartemennya itu di tempati ketika pengobatan Susi di negara K.


________


"Ar, kenapa laju kendaraan ini pelan sekali? macam keong saja?" protes Susi. Karena sudah 25 menit, tapi mereka baru separuh jalan menuju rumah sakit.

__ADS_1


"Aku tidak ingin, sayang mengalami goncangan keras. Lebih baik lambat asalkan selamat," dalih Arjuna.


"Tapi ini terlalu lambat, Ar!" ketus Susi. Kenapa suaminya ini terlalu berlebihan, membuatnya beberapa kali di klakson oleh kendaraan lain. Akan tetapi, Arjuna tetap bersikeras dengan ideologinya.


"Aku lelah, jika harus duduk lagi. Aku mau jalan-jalan saja." Susi menolak di ajak duduk oleh Arjuna. Ia memilih berkeliling sembari menunggu Netta yang masih berada di gedung lainnya.


"Netta! Kenapa kau terlambat, membuat istriku menunggumu!" protes Arjuna, sedikit keras. Membuat Netta, melihat penunjuk waktu pada jam, yang melingkar di lengannya.


"Kau buat janji denganku, jam 1 siang. Tapi, kau sampai jam 2 lewat 15 menit. Menurut mu, siapa yang terlambat?" tanya Netta, membuat Arjuna tak berkutik dan kehabisan kata-kata. Sementara, Susi hanya menggeleng lemah seraya menatap wajah cantik Netta.


"Bagaimana tidak terlambat, jika dia mengemudikan mobilnya lebih lambat dari pada sepeda." Susi bercerita pada Netta, layaknya seorang anak yang sedang mengadu pada ibunya.


" Iyakah?" tanya Netta heran, apa segitunya kekhawatiran Arjuna. Hingga logikanya sampai hilang akal.


"Juna ... kau ini. Selalu saja membuatku tak habis pikir. Kau itu, sudah masuk pada tahap paranoid tau!" cetus Netta, dengan gelengan serta senyum setelahnya.


"Mulai pekan depan, kalian mulai ikut seminar ya. Ada ilmu parenting yang harus kalian pelajari dan dalami. Karena, mendidik anak itu tidak semudah membuatnya. Kalian juga akan mempelajari, bagaimana menangani masa kehamilan trisemester selanjutnya. Juga ada ๐™ฅ๐™ง๐™š๐™ฃ๐™–๐™ฉ๐™–๐™ก ๐™ฎ๐™ค๐™œ๐™– dengan pasangan. Yoga ini sangat penting, untuk kesehatan ibu dan bayi, menjalani masa kehamilan yang bugar serta minim keluhan. Terutama, pada fase ketika melahirkan nanti," tutur Netta, dokter cantik itu menjelaskan dengan detil, apa-apa saja agenda mereka selanjutnya. Karena kandungan Susi telah memasuki usia bulan kelima.


Susi dan Arjuna mendengarkan dengan seksama, mereka mengangguk antusias. Arjuna, memang sejak awal memutuskan, akan terus mendampingi di masa kehamilan sampai nanti mereka merawat bayi mereka sendiri.


Sampai akhirnya pekan seminar pertama mereka tiba. Susi mengenakan pakaian longgar berbahan kaus serta celana panjang khusus ibu hamil. Arjuna senantiasa menggandeng istrinya, menyusuri koridor menuju halaman belakang gedung rumah sakit bersalin ini. Di mana di sana, mereka akan melakukan senam hamil/yoga pertama untuk Susi.


"Oke! Kita akan melakukan yoga sendiri dulu ya untuk ibu hamilnya. Jadi, para suami bisa melihat dari sebelah sana dulu ya! Semangati istrinya ya para suami siaga!" ucap Instruktur senam memberi arahan.


Kini para ibu hamil, telah siap berada di atas matras mereka masing-masing. Melakukan pemanasan serta olah napas. Lalu beberapa gerakan ringan untuk melemaskan otot. Melakukan cara duduk yang benar untuk mengurangi keluhan sakit pada punggung serta pinggang.


๐˜ ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช! ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฎ๐˜บ ๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ? ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ณ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜บ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช.


Arjuna berdecak ngilu, melihat beberapa wanita yang tengah hamil besar. Bahkan, mereka sampai kesulitan untuk sekedar bangun dan berjalan. Namun, istrinya itu macam tak sedang membawa beban saja. Ia berjalan dengan santai dan enteng dengan langkahnya yang bahkan terlalu cepat.


"Sayang, bisakah agak perlahan sedikit jika berjalan? pasti perutmu itu berat 'kan?" anjur Arjuna, ketika Susi mendekatinya untuk mengambil minum. Meski kalimat ini sudah berulang kali ia katakan, istrinya itu tetap saja lincah dan membuatnya meringis ngeri.


"Sayang, aku tidak merasa terbebani," sahut Susi sambil mengelus perut buncitnya itu.


" Aku menjalaninya dengan sangat bahagia. Karenanya, semua menjadi lebih mudah saat ini. Semua karena cintamu, perhatianmu," ucap Susi seraya mengulurkan tangannya untuk mengelus rahang menggoda suaminya itu.


"Jangan merayuku, ini tempat umum." Arjuna mendengus gemas, kemudian menangkap tangan Susi. Biarpun begitu, ia tetap membantu untuk menyeka peluh yang membasahi wajah serta leher istrinya itu. Susi, tersenyum sangat senang dengan setiap perhatian kecil yang di berikan oleh Arjuna.

__ADS_1


Bersambung lagi ya gais ...!


Next bab mengharu biru ...


__ADS_2