
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Susi pun akhirnya memberikan air kelapa itu sesuai dengan saran dari para pembaca setia. Dari beberapa ratusan komentar yang masuk, salah satu saran paling uwwu inilah yang akhirnya author sematkan.
๐พHalu ae thor, ngarep komentar ratusan๐คฃ๐คฃ
Author: Kau sangat romantis ๐
Author: Die ada masalah ape sih? sentimen bener romannye๐
๐ฅฅ๐ฅฅ๐ฅฅ๐
Susi pun melakukannya, tanpa memikirkan tanggapan orang lain di sana, karena yang terpenting baginya sekarang adalah keselamatan Arjuna. Suaminya itu, telah begitu banyak mengeluarkan isi dari dalam perutnya. Membuat Arjunanya lemas karena dehidrasi.
Susi menenggak air kelapa itu, lalu menyimpan di mulutnya. Kemudian, ia mentransfernya dengan cara ๐ฎ๐ฐ๐ถ๐ต๐ฉ ๐ต๐ฐ ๐ฎ๐ฐ๐ถ๐ต๐ฉ. Ia melakukannya berulang-ulang, hingga cairan dari kelapa hijau itu masuk cukup banyak ke lambung Arjuna. Hingga, Arjuna merasa baikan dan terlihat lebih segar.
๐๐ถ๐ข๐ฏ, ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฏ๐จ. ๐๐ข๐บ๐ข ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ, ๐ต๐ข๐ฅ๐ช ๐ฏ๐บ๐ฐ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ถ๐ต ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข. ๐๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข, ๐ฏ๐บ๐ฐ๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ถ๐ด๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ญ๐ข๐ฉ ๐ณ๐ฐ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ต๐ช๐ด ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ต. ๐๐ฏ๐ฅ๐ข ๐ด๐ถ๐ฌ๐ด๐ฆ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ช๐ณ๐ช ๐ต๐ถ๐ข๐ฏ.
Better terus bergumam di dalam hatinya. Matanya tak lepas menatap sepasang majikannya itu.
Pada kiriman terakhir, Arjuna yang sudah mulai bertenaga meraih tengkuk Susi dengan tangannya. Meraup bibir basah nan manis itu, yang sejak tadi memasukkan air kelapa ke mulutnya.
๐๐ฌ. ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฎ๐ฐ๐ฅ๐ถ๐ด ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข, ๐ต๐ถ๐ข๐ฏ. ๐๐ต๐ข๐ถ, ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฃ๐ข๐จ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ข? ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ซ๐ข '๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข๐ด-๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข๐ด๐ช ๐ฑ๐ข๐ณ๐ข ๐ซ๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ญ๐ฐ ๐ฎ๐ข๐ค๐ข๐ฎ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช.
Joy, berdecak kesal. Sembari menggilas rumput yang bergoyang di bawah sepatunya.
Yaahh, para penonton hanya bisa memasang wajah manyun dan kusut. Pasalnya, mereka baru saja di suguhi adegan drama paling romantis sejagad alam maya.
๐พEmangnya klean doang nyang kepanasan? Reader's juga noh!๐๐
"Terima kasih, sayang. Sentuhan mu memang mujarab." Arjuna tersenyum dengan sisa pucat di wajahnya.
"Kau ini, bisa-bisanya mengambil kesempatan, di saat kami semua khawatir dengan keadaanmu," cebik Susi. Dirinya hendak bangun, tapi Arjuna masih merangkul pinggangnya dengan erat.
__ADS_1
"Kalau saja di rumah, sudah pasti adegan tadi akan ada kelanjutannya," ucapnya pelan karena wajah mereka sangatlah dekat.
" Aku janji, setelah di rumah pasti akan ada season kedua. Anggap saja, sebagai pemintaan maaf dariku dan calon bayi kita. Bagaimana?" kerling Susi dengan gaya genitnya. Membuat Arjuna ingin mencium bibirnya kembali.
"Stop! Kasian tuh, anak buah mu belum ada yang nikah." Susi menahan pergerakan bibir Arjuna dengan jari telunjuknya. Membuat Arjuna melirik keempat anak buahnya yang sedang membuang pandangan mereka.
๐พDu du du du du du ...๐
Kita gak liat kok, silakan tuan dan nyonya lanjut. Anggap aja hutan milik berdua. ๐คช
_________
"Sayang, sudahlah. Jangan melayani ku terus. Aku sudah baik-baik saja. Istirahatlah." Arjuna menepuk kasur di sebelahnya.
Susi segera menghampirinya, wanita itu kini hanya mengenakan baju tidur berbahan sifon yang tipis. Hingga, setiap lekuk tubuhnya terlihat begitu menggairahkan naluri lelaki Arjuna. Hanya saja, ia tak ingin membuat istrinya itu kelelahan setelah perjalanan safari mereka tadi.
"Tidurlah, aku takut perutmu keram. Karena , ๐๐บ ๐๐ถ๐ฆ๐ฆ๐ฏ sejak tadi tidak bisa diam." Arjuna lantas meletakkan telapak tangannya ke atas perut Susi, lalu memberi usapan secara perlahan dan lembut.
"Rebahkan tubuhmu, biar aku menemanimu sampai kau tertidur." Arjuna menyusun bantal yang sekiranya membuat sang istri nyaman.
"Ar, apa kau yakin. Ingin mengirim Milna serta Joy ke perusahaan Franklin?" tanya Susi, tiba-tiba saja membahas masalah yang tempo hari mereka diskusikan.
"Mereka belum kompak, selalu bertengkar dengan hal-hal kecil. Itu yang membuatku khawatir. Joy, selalu memancing emosi Milna. Mereka selalu memiliki argumentasi masing-masing, dan tak pernah ada yang mau mengalah atau mengaku salah," gusar Susi, ia yang hendak bangun kembali di tahan oleh tangan Arjuna.
"Jangan pikirkan lagi. Apa kau lupa, mereka adalah tipe anak buah yang profesional. Prajurit yang setia dan cekatan. Tak ada sisi egois pada jiwa seorang prajurit, mereka sangat menjunjung tinggi nilai kesetiakawanan," jelas Arjuna. Membuat Susi menghela napasnya lega.
"Yah, semoga masalah perusahaan kawanmu itu cepat selesai. Juga, ada hikmah di balik itu semua. Karena, aku berharap mereka semakin dekat. Agar nanti bayi kita bisa segera punya kawan main," tutur Susi penuh harap.
"Kau bisa berharap dari sahabatmu lebih dulu," ucap Arjuna disertai kekehan kecil.
"Maksudmu, pasangan Betis? Better dan Vanish." tanya Susi yang akhirnya membuat mereka tertawa bersama. Ternyata, kencan di atas gajah tidaklah gagal sepenuhnya.
Author: Cuplikan kisah JoNa ( Joy dan Milna) ada di novel baru otor ya gais. Mereka akan bantuin Franklin di sana. Karena Franklin adalah sahabat Arjuna yang apartemennya itu di tempati ketika pengobatan Susi di negara K.
________
"Ar, kenapa laju kendaraan ini pelan sekali? macam keong saja?" protes Susi. Karena sudah 25 menit, tapi mereka baru separuh jalan menuju rumah sakit.
__ADS_1
"Aku tidak ingin, sayang mengalami goncangan keras. Lebih baik lambat asalkan selamat," dalih Arjuna.
"Tapi ini terlalu lambat, Ar!" ketus Susi. Kenapa suaminya ini terlalu berlebihan, membuatnya beberapa kali di klakson oleh kendaraan lain. Akan tetapi, Arjuna tetap bersikeras dengan ideologinya.
"Aku lelah, jika harus duduk lagi. Aku mau jalan-jalan saja." Susi menolak di ajak duduk oleh Arjuna. Ia memilih berkeliling sembari menunggu Netta yang masih berada di gedung lainnya.
"Netta! Kenapa kau terlambat, membuat istriku menunggumu!" protes Arjuna, sedikit keras. Membuat Netta, melihat penunjuk waktu pada jam, yang melingkar di lengannya.
"Kau buat janji denganku, jam 1 siang. Tapi, kau sampai jam 2 lewat 15 menit. Menurut mu, siapa yang terlambat?" tanya Netta, membuat Arjuna tak berkutik dan kehabisan kata-kata. Sementara, Susi hanya menggeleng lemah seraya menatap wajah cantik Netta.
"Bagaimana tidak terlambat, jika dia mengemudikan mobilnya lebih lambat dari pada sepeda." Susi bercerita pada Netta, layaknya seorang anak yang sedang mengadu pada ibunya.
" Iyakah?" tanya Netta heran, apa segitunya kekhawatiran Arjuna. Hingga logikanya sampai hilang akal.
"Juna ... kau ini. Selalu saja membuatku tak habis pikir. Kau itu, sudah masuk pada tahap paranoid tau!" cetus Netta, dengan gelengan serta senyum setelahnya.
"Mulai pekan depan, kalian mulai ikut seminar ya. Ada ilmu parenting yang harus kalian pelajari dan dalami. Karena, mendidik anak itu tidak semudah membuatnya. Kalian juga akan mempelajari, bagaimana menangani masa kehamilan trisemester selanjutnya. Juga ada ๐ฅ๐ง๐๐ฃ๐๐ฉ๐๐ก ๐ฎ๐ค๐๐ dengan pasangan. Yoga ini sangat penting, untuk kesehatan ibu dan bayi, menjalani masa kehamilan yang bugar serta minim keluhan. Terutama, pada fase ketika melahirkan nanti," tutur Netta, dokter cantik itu menjelaskan dengan detil, apa-apa saja agenda mereka selanjutnya. Karena kandungan Susi telah memasuki usia bulan kelima.
Susi dan Arjuna mendengarkan dengan seksama, mereka mengangguk antusias. Arjuna, memang sejak awal memutuskan, akan terus mendampingi di masa kehamilan sampai nanti mereka merawat bayi mereka sendiri.
Sampai akhirnya pekan seminar pertama mereka tiba. Susi mengenakan pakaian longgar berbahan kaus serta celana panjang khusus ibu hamil. Arjuna senantiasa menggandeng istrinya, menyusuri koridor menuju halaman belakang gedung rumah sakit bersalin ini. Di mana di sana, mereka akan melakukan senam hamil/yoga pertama untuk Susi.
"Oke! Kita akan melakukan yoga sendiri dulu ya untuk ibu hamilnya. Jadi, para suami bisa melihat dari sebelah sana dulu ya! Semangati istrinya ya para suami siaga!" ucap Instruktur senam memberi arahan.
Kini para ibu hamil, telah siap berada di atas matras mereka masing-masing. Melakukan pemanasan serta olah napas. Lalu beberapa gerakan ringan untuk melemaskan otot. Melakukan cara duduk yang benar untuk mengurangi keluhan sakit pada punggung serta pinggang.
๐ ๐ข ๐ต๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ. ๐๐ฆ๐ณ๐ถ๐ต๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ด๐ข๐ณ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช! ๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ, ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช ๐ฎ๐บ ๐ฒ๐ถ๐ฆ๐ฆ๐ฏ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ต๐ถ? ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฃ๐ฆ๐ด๐ข๐ณ, ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ช๐ข๐ณ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฏ๐ต๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข ๐ฃ๐ข๐บ๐ช ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช.
Arjuna berdecak ngilu, melihat beberapa wanita yang tengah hamil besar. Bahkan, mereka sampai kesulitan untuk sekedar bangun dan berjalan. Namun, istrinya itu macam tak sedang membawa beban saja. Ia berjalan dengan santai dan enteng dengan langkahnya yang bahkan terlalu cepat.
"Sayang, bisakah agak perlahan sedikit jika berjalan? pasti perutmu itu berat 'kan?" anjur Arjuna, ketika Susi mendekatinya untuk mengambil minum. Meski kalimat ini sudah berulang kali ia katakan, istrinya itu tetap saja lincah dan membuatnya meringis ngeri.
"Sayang, aku tidak merasa terbebani," sahut Susi sambil mengelus perut buncitnya itu.
" Aku menjalaninya dengan sangat bahagia. Karenanya, semua menjadi lebih mudah saat ini. Semua karena cintamu, perhatianmu," ucap Susi seraya mengulurkan tangannya untuk mengelus rahang menggoda suaminya itu.
"Jangan merayuku, ini tempat umum." Arjuna mendengus gemas, kemudian menangkap tangan Susi. Biarpun begitu, ia tetap membantu untuk menyeka peluh yang membasahi wajah serta leher istrinya itu. Susi, tersenyum sangat senang dengan setiap perhatian kecil yang di berikan oleh Arjuna.
__ADS_1
Bersambung lagi ya gais ...!
Next bab mengharu biru ...