
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Beberapa mobil pemadam kebakaran sudah sampai ke lokasi kejadian. Kendaraan berwarna merah itu berbaris, mengeluarkan selang besarnya untuk menyemprotkan air ke rumah Seno.
Dimana, apinya sudah menyebar hingga ke depan. Bahkan, beberapa warga yang tinggal berdekatan sudah lari kocar-kacir menyelamatkan diri serta barang-barang berharga mereka.
Karena mereka takut, bila apinya nanti akan menyambar rumah-rumah mereka. Apalagi, tadi terdengar suara ledakan, yang di curigai berasal dari tabung gas.
Warga semakin berteriak histeris, apalagi kaum bu-ibu dan mak-emak. Mereka mendekap anak-anak mereka, menonton si jago merah yang tengah melahap rumah beserta isinya itu.
Berharap, agar angin tidak membawa jilatan api besar tersebut ke tempat tinggal mereka. Beberapa ada yang menangis, karena takut di saat ledakan besar tadi.
Untung saja aparat kepolisian sudah berada di tengah-tengah warga. Memantau serta mengawasi keadaan agar tetap kondusif dan tidak ricuh.
"Pak RT, tolong hubungi pemilik rumah ini," ucap pak polisi, memberi arahan.
"Saya, tidak memiliki nomer ponselnya, Pak," ucap pria paruh baya dengan rambut beruban itu.
"Baru beberapa hari yang lalu melapor pada saya, Pak. Saya juga tidak kepikiran menyimpan nomer ponsel warga saya." Pria berbadan gempal yang menjabat sebagai ketua rukun tetangga di wilayah itu, menggaruk tengkuknya.
"Lain kali, minta dan simpan nomer ponsel setiap warga anda. Karena, itu berguna bila ada kejadian yang seperti ini!" saran pria berseragam itu dengan tegas.
Ketua RT tersebut hanya bisa menunduk malu, mendapat teguran halus karena keteledorannya.
"Semoga saja, pemilik rumahnya tidak ada di dalam," lirih pak RT penuh harap.
" Ya, semoga saja," sahut pak polisi menimpali. Karena, jika ada orang di dalam rumah itu, sudah pasti tidak akan selamat dan akan menjadi arang.
"Kesianan amat si, juragan. Baru juga nempatin entu rumah berapa hari, udeh ade tragedi." ucap salah satu warga seraya mengelus dadanya prihatin.
"Iye, semoga aje kagak ade orang nye di dalem," sahut bapak-bapak dengan kain sarung yang diselempangkan pada bahunya.
" Belon lama kita bantuin ngerapihin tu rumah, ngapa sekarang udeh jadi begono?"
"Gosong?"
" Iyak, sianan dah ah!"
Ketiga pria pak-bapak yang membantu Seno pindahan, berdecak miris.
"Namenye juge nasib, pan kagak ade nyang tau," timpal bapak-bapak yang lain.
Beberapa saat kemudian, ketika waktu menunjukkan dini hari. Si jago merah telah kalah oleh tim pemadam kebakaran. Dimana berkat kerja keras merekalah maka api dapat di padamkan.
Hingga matahari naik, selaras dengan ubun-ubun kepala. Sang pemilik rumah belum juga kelihatan batang hidungnya. Beberapa warga sengaja berjaga secara bergantian di depan rumah Seno itu.
__ADS_1
Memasang kursi, duduk mengobrol sambil minum kopi. Membicarakan sang empunya rumah yang tak kunjung datang.
Karena, setelah pemeriksaan dari pihak kepolisian. Tidak ada tanda-tanda manusia di dalam rumah itu.
Di waktu yang sama, Seno terlihat pamit pada sang mami.
"Mam, Seno pulang dulu. Supaya, aku dapat menyiapkan rumah dalam keadaan rapih. Apa, Mami mau aku hias kamar dengan bunga-bunga kesukaan mu?" tanya Seno lembut berharap respon dari Easy meski dengan kedipan mata.
Tidak berharap Easy mencoba tersenyum lagi, karena akan berakhir dengan raut wajah yang sedikit aneh. Seno mulai terbiasa, dengan wajah sang mami. Ia tak bisa mengabaikan wanita yang telah memberikan kasih sayang untuknya.
Meskipun, ada beberapa ingatan samar yang membuatnya bingung. Serta bayangan seorang wanita berambut panjang yang mendekapnya erat dan hangat.
Seno berusaha mengabaikan kepingan ingatan yang akan membuatnya migren. Berusaha menepis satu persatu puzzle yang sering muncul beberapa waktu belakangan ini.
"Mam, aku mungkin aku akan mencarikan orang yang dapat merawat mu. Mungkin aku akan meninggalkanmu untuk bekerja, meski aku belum mendapatkan pekerjaan apapun," jelas Seno, tetap selalu mengajak sang Mami diskusi.
Karena Dokter menyarankan, agar sering mengajak sang mami bicara. Semua hal itu,berguna untuk menstimulasi otaknya agar tetap aktif berpikir.
"Aku pulang dulu, nanti Seno pasti kesini lagi. Menjemput, Mami pulang kerumah kita yang baru." Seno pun mengecup punggung tangan Easy, yang sedikit bengkok itu. Kemudian kembali meletakkannya perlahan di atas perut Easy.
Kembali ke tempat kejadian perkara.
"Bray, ini yang punya rumah, kerja ape pegi kemane si?" Akhirnya ada salah satu warga yang tidak sabaran, menanyakan keberadaan pemilik rumah.
"Mane gue tau, plaud!" Baru saja dua orang pria itu beradu argumen, sebuah mobil memasuki gang. Kendaraan roda empat dengan warna silver itu berhenti tak jauh dari tempat mereka duduk.
"Kayaknya, aku gak salah masuk gang. Kalau benar, seharusnya yang di depan itu adalah rumahku, kan?" gumam Seno bertanya pada dirinya sendiri. Entah kenapa ia tidak turun saja, lalu tanyakan pada dua orang pria yang sedari tadi menatap nya dari kejauhan.
"Tidak mungkin itu rumahku, tidak!" Seno mencengkeram kemudinya erat. Berusaha menetralkan degup jantungnya yang seakan hendak meledak.
"Bray, entu orang nyang punye rume eni, pan?" tanya pria itu pada kawannya yang lagi ngunyah gorengan.
"Kayaknye sih, iye," jawab pria kedua kurang yakin.
"Terus, ngapa die kagak turun?" tanyanya lagi, penasaran.
"Lha, mana gue tau, plaud!" sahut kawannya dengan gemas, karena kawannya selalu bertanya terus. Padahal, mereka sama-sama tidak tau, dan belum mengenal si empunya rumah yang terbakar hebat semalam.
"Banyakan kagak taunye, ngomong ame elu," kesalnya. Kemudian ia menghampiri, kearah mobil yang berhenti tersebut.
Seno masih diam tak bergeming, mencoba mencerna kenyataan atas pemandangan nyata di depan matanya saat ini.
Tuk. Tuk.
Suara kaca mobil di ketuk dari luar.
__ADS_1
Seno pun menurunkan kaca jendela pada mobilnya.
"Maap, Pak. Situ nyang punye rumah di depan bukan?" tanya si bapak penghuni asli kampung itu.
Seno ingin menjawab, namun lidahnya kelu. Wajahnya kesemutan, serta kepalanya mendadak seperti kena setrum.
๐๐ฉ๐ข, ๐ฏ๐ช ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ. ๐๐ช ๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ช๐ฆ๐ฎ ๐ฃ๐ข๐ฆ, ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐บ๐ข๐ฌ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฅ๐ฆ๐ฏ ๐ฏ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฌ.
Pria itu hanya mengerutkan keningnya, mendapat respon bisu dari laki-laki yang berada di dalam mobil.
Seno sedang mencerna, ia mulai ngeh kalau itu memang rumahnya. Akan tetapi, melihat keadaannya yang hangus seperti itu, dirinya masih tidak percaya.
๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข? ๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ, ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ช ๐ฃ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฌ?
Seno terlihat menyugar rambutnya, kemudian meremasnya sedikit kencang.
"Kalo emang, situ nyang punye tu rume. Nih, saye bilangin. Entu rume semalem kebakaran, ampe di datengin ame empat mobil blambir alias damkar," jelas bapak itu, masa bodoh perihal Seno mau jawab ataupun tidak.
Namanya juga orang syok, kaget. Pasti udah gak bisa ngucapin apa-apa. Apalagi, Seno tipikal orang yang selalu menyembunyikan perasaan sebenarnya.
Seno pun memutuskan untuk turun, meski tungkai kakinya seakan lemas untuk ia gerakkan.
๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ข๐ฌ๐ข๐ณ? ๐๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฌ๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข๐ข๐ฏ ...
๐ ๐ข ๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ! ๐๐ข๐ข๐ต ๐ช๐ต๐ถ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ...
Seno merasakan lemas pada seluruh sendi di tubuhnya. Ketika ingatannya kembali pada malam, sebelum ia menemui sang mami di rumah sakit.
Seno terjatuh dengan kedua lutut mencium tanah. Pandangannya nanar menatap bangunan yang baru saja ia tempati selama beberapa hari.
"Eh, plaud. Panggil pak erte gih sonoh!"
"Oke, Bang. Oke!"
Setelah memerintahkan kawannya pergi melapor pada aparat kampung, alias ketua rukun tetangga. Si bapak pun menghampiri pria brewok yang sepertinya syok berat itu.
"Nih, Pak. Minum dulu dah biar tenang," tawarnya dengan memberikan air mineral dalam gelas.
Seno tak menanggapinya,, pria itu terlalu lemah untuk sekedar meraih minuman yang di sodorkan. Seluruh tulangnya seakan lepas dari tubuhnya. Bahkan, dirinya hanya bisa bersandar pada gerbang besinya yang rusak karena di paksa untuk dirubuhkan.
๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข, ๐ค๐ข๐ณ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ช? ๐๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฅ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐ช๐ฏ๐ช.
๐พ Unch, Seno ... kacian. Mav yak otor jahat๐.
Noh, readers nyang suruh.
__ADS_1
Kabooorrr ....
Bersambung>>>