
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Astaga naga puspa! Upss!" Setelah memekik, Susi langsung membekap mulutnya. Lalu ia menoleh, ketika itu juga mata indahnya menangkap sosok pria yang hampir sempurna itu tengah tertawa renyah padanya.
Arjuna yang telah rapih sehabis mandi, hanya mengenakan kaus oblong tanpa lengan serta bawahan celana pendek. Bisa kalian bayangkan, bagaimana otot pada bisep itu nampak mencuat keluar.
"Jadi, sambil masak kamu bayangin naga puspa ku ya?" Arjuna yang tau-tau sudah berada di samping Susi, menjawil dagu lancip milik istrinya itu.
"Enak aja!" kilah Susi, membantah. Jangan lupa kedua mata besarnya yang melotot menggemaskan.
"Kebiasaan!" Arjuna mengusap wajah Susi dengan telapak tangan besarnya.
"Sama suami, masih aja suka mendelik." Kali ini, Arjuna menarik batang hidung Susi.
"Akh! Sakit!" Susi memukul lengan Arjuna, agar pria itu melepaskan hidungnya.
"Mana ada sih, aku nyakitin kamu."
Cuuuppp ...
Mata indah dengan iris pekat itu, kembali membola. Ketika, sesuatu yang dingin menempel di bibirnya. Perlahan, mata yang mendelik itu terpejam. Ketika dirinya sudah terbawa oleh arus permainan dari belitan dan sesapan pria menawan di hadapannya.
"Mmhh ... kamu masih belum pakai apa-apa. Apa sengaja untuk menggoda suamimu ini?" Arjuna berkata di sela-sela mengecup bibir yang ranum itu. Sebelah tangannya sudah merajalela, tatkala matanya tak sengaja melihat tombol yang tercetak di balik handuk kimono.
"Aโaku lupa, kepikiran buru-buru masak," dalih Susi
"Apa kamu begitu kelaparan?" tanya Arjuna. Ibu jarinya terus mengelus, bibir seksi yang basah karena ulahnya itu.
"Tentu saja, aku sangat lapar. Kau menghabisi ku sepanjang malam," Susi mencebik sambil mencubit pelan pinggang Arjuna.
Pria itu terkekeh, lalu membenamkan kembali kecupannya pada bibir yang menjadi candunya itu. Memberi ******* dalam serta gigitan kecil atas dan bawah.
"Terus, sekarang masaknya udah selesai belum?" tanyanya, setelah ia melepaskan tautan bibir mereka. Satu tangannya terus melakukan kegiatannya memainkan apa saja yang menarik pada wajah itu. Serta, satu tangannya lagi bertumpu pada meja dapur.
"Ya belum, kan kamu gangguin." Lagi-lagi, Susi mencebik dengan mengerucutkan bibirnya.
"Emmuachh!" Arjuna sengaja mencium bibir monyong lima senti itu dengan keras. Berkali-kali, dengan gemas. Hingga si empunya kesal, karena sang suami terus menggoda dirinya.
"Udah deh, gangguin terus. Bentar lagi aku pingsan nih karena kurang asupan nutrisi." Susi mendorong wajah tampan itu menjauh dari hadapannya.
Membuat Arjuna seketika tergelak, puas sekali ia meledek istrinya itu. Macam punya mainan setiap harinya.
"Kan barusan aku kasih vitamin, mana ada kurang nutrisi? Ini, buktinya malah makin subur tuh." Arjuna berkilah seraya menekan bemper Susi depan dan belakang. Tentunya dengan tangan yang berbeda. Karena kini tubuh ramping berisi istrinya itu, telah berada di dalam dekapannya.
Ckiiitt ...
"Awwss! My Queen ...!" pekik Arjuna sambil meringis. Tega ya kamu!" rajuk nya, sambil mengusap pelan perut kotak-kotaknya itu.
"Heran deh, jari mu lentik-lentik tapi sakit banget kalau mencubit," Arjuna terus mengaduh, merasa panas di kulit perutnya. Karena Susi lumayan kencang ketika mencubit tadi.
"Makanya, punya tangan juga di kondisikan. Jangan asal remas dan pencet saja." Susi pun berbalik membelakangi Arjuna, kembali menyalakan kompor yang tadi ia matikan.
__ADS_1
๐พLakik mah emang gitu Sus, dia nya gemas kita nya ...๐
Dah, lanjooot ...
"Emang kenapa? Kan ini dan ini milikku?" kata Arjuna, sambil menyentuh satu persatu bagian empuk yang dimaksud olehnya.
"Ar!" Susi menggeram seraya mengarahkan sutil kearah suaminya.
"Jangan mengganggu terus! Nanti kapan selesai masaknya? Kapan kita makannya? Emang kamu gak lapar?" cecar Susi gemas pada pria yang terus terkekeh itu.
"Aku? Makan kamu aja udah kenyang." Arjuna berkata seraya memepet kembali tubuhnya pada sang istri. Kali ini ia memeluk Susi dari belakang, merasakan bagaimana bemper yang kenyal tanpa penutupnya.
Glekk.
Susi menelan ludahnya kasar, kenapa suaminya jadi manusia super mesum begini.
๐๐ข๐ญ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ช๐ข๐ฏ, ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐๐ณ๐ซ๐ถ๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ ๐ฌ๐ฆ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ฏ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด. ๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฎ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ... ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข.
"Benar ya? Nanti kamu jangan ikut makan, biar aku saja." Lalu Susi kembali berbalik dan melanjutkan lagi sesi memasaknya. Ia berusaha abai dengan segala rangsangan yang di berikan oleh Arjuna.
"Iya, tentu saja."
" Bahkan, aku masih kuat tiga ronde lagi tanpa makan apapun," pongah Arjuna. Ia telah melepas pelukannya, memberi ruang agar istrinya itu kembali memasak. Arjuna hanya bisa memandangi wajah cantik natural itu, seraya bersandar sambil menyilang kan kedua tangan di depan dadanya.
"Sombongnya ...," ledek Susi dengan senyum miring.
"Aku bisa membuktikannya." Arjuna berkata sambil tertawa.
"Ada deh, pokoknya nanti kamu jangan ikut makan. Harus konsekuen dengan kesombongan kamu." Tantang Susi dengan senyum penuh arti.
Beberapa saat kemudian.
Kesombongan tinggal kesombongan.
Arjuna tidak begitu peduli dengan apa yang ia ucapkan tadi. Apa yang ada di hadapannya ini, begitu menggoda lambungnya yang memang kosong dari semalam.
Susi yang sudah mengenakan dress rumahan, telah duduk di hadapan suaminya dengan senyum mekar terkembang.
๐๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ, ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ. ๐๐ข๐ญ๐ถ, ๐ช๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ช๐ฅ๐ถ๐ณ ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ด๐ฐ๐ณ๐ฆ .
"Katanya, cukup makan aku saja sudah kenyang? Ternyata, rendang dan perkedel lebih menggoda dari diriku." Susi pura-pura merajuk, demi meledek suami nya itu.
" Sayang ... jangan salah tanggap dulu. Aku makan banyak begini, agar lebih kuat lagi nanti," ucap Arjuna di sela-sela mengunyahnya.
"Kalau tidak makan saja aku kuat tiga ronde, maka setelah ini aku bisa sampai tiga kali tiga tambah satu. Kau, bersiaplah, isi tenaga mu." imbuhnya lagi.
Kini ia telah memasukkan potongan daging yang terakhir di atas piringnya. Dimana tadi, ia menyendok sekitar delapan potong daging rendang.
"Aku cukup secentong nasi dengan dua potong daging. Lambungku itu kecil dan imut," sindir Susi, karena Arjuna telah menghabiskan semangkuk rendang dengan sepiring perkedel.
"Aku harus semakin rajin ngeโgym setelah ini. Atau, aku akan menjadi gendut dan melebar. Karena, akhir-akhir ini selalu makan makanan yang enak." seloroh Arjuna, yang terlihat kekenyangan sambil bersandar di kursi.
__ADS_1
"Jangan terlalu memikirkan bentuk tubuhmu. Hiduplah dengan bahagia, bukan tertekan oleh obsesi mu." pesan, Susi. Dalam dan penuh makna. Membuat Arjuna melongo, dan sekilas tersadar.
Dirinya pun ikut bangun dari tempat duduknya, kemudian mengekor di belakang Susi.
" Memangnya, kalau aku tidak seperti ini ... kau akan tetap suka?" tanya Arjuna, yang terus mengikuti Susi hingga ke depan wastafel.
Susi meletakkan perabotan kotor itu di dalam bak cucian, mencuci tangan kemudian berbalik menatap wajah di atas kepalanya itu.
"Apapun keadaanmu, aku akan selalu mencintaimu. Akan tetap setia di sisimu." Susi memberanikan diri, melingkarkan tangannya pada pinggang Arjuna.
"Karena, pasangan sejati itu. Akan menerima kita dalam keadaan baik dan juga buruk. Bersyukur dengan segala kelebihannya, serta menerima segala kekurangannya. Bukan begitu?" Susi melempar kata-kata Arjuna tempo hari padanya.
Membuat pria itu menunduk dan tersenyum simpul. Ia turut merangkul tubuh itu, hingga semakin dalam tenggelam di dadanya.
"Seperti pernah dengar kata-kata itu," kekeh nya, yang akhirnya di balas juga dengan tawa kecil dari Susi.
"Aku mau cuci piring, bisa lepasin tidak?" pinta Susi, yang ingat akan perabotan kotor menumpuk.
"Aku akan membantumu." Arjuna membuka laci, lalu mengenakan sarung tangan serta celemek. Kemudian, ia juga memakaikan itu pada istrinya.
" Kita ini hanya akan mencuci piring." Susi berkata sambil melihat kedua tangannya, yang mana sudah terbungkus dengan sarung tangan karet berwarna biru.
"Jangan sampai, air sabun ini melukai kulit halus serta kuku-kuku cantikmu itu," jelas Arjuna. Mengenai fungsi dari beberapa alat pengaman itu.
๐๐ฉ, ๐๐ณ. ๐๐ข๐ถ ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ฆ๐ต๐ช๐ญ ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ฌ๐ถ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ต๐ข ๐ฌ๐ถ๐ญ๐ช๐ต ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฑ๐ณ๐ช๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฎ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ต๐ข๐ถ, ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ข๐ญ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ฑ ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข ๐ด๐ข๐ฃ๐ถ๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ถ๐ค๐ช ๐ฑ๐ช๐ณ๐ช๐ฏ๐จ. ๐๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ, ๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ญ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ด ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ช๐ฏ๐ง๐ฆ๐ฌ๐ด๐ช. ๐๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ฑ๐ถ๐ฏ, ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ฆ๐ฅ๐ข๐ณ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ธ๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ณ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ฏ๐ช.
"Kenapa melihatku seperti itu? My Queen tidak percaya, kalau suamimu ini bisa mencuci piring?" Pertanyaan lucu Arjuna, sontak menyadarkan Susi dari lamunannya.
"Tentu saja aku tidak percaya," ledek Susi dengan senyum meremehkannya..
"Lihat saja nanti!" sombong Arjuna.
Dan, kenyataannya ...
Dua gelas dan satu piring kecil sudah pecah, ketika Arjuna tengah mencuci perabotan makan itu.
Pranggg!
"Sudah, hentikan! Nanti, peralatan makan kita, bisa habis mau pecahkan!" cegah Susi, yang melihat Arjuna terus mengusap sambil menekan terlalu keras pada gelas ataupun piring yang kotor itu.
"Aku, bukannya tidak bisa. Hanya saja terlalu bersemangat." dalihnya.
"Iya ... iya, terserah apa katamu." Gumam Susi yang masih bisa di dengar Arjuna. Wajahnya di tekuk karena pekerjaannya malah bukan semakin ringan.
๐พPaksu kalian begitu gak si gais??
Niatnya mau bantuin tapi malah bikin rusuh, dan nambah ribet?๐
Kalo iya, kita senasib๐คฃ
Dahlah, bersambung aja. Otor dah ngantooook๐ฅฑ๐ฅฑ๐ฅฑ
__ADS_1