
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Hehehe ...!" Seringai buas tercetak pada wajah si pria botak berkulit hitam. Bahkan, di bawah matanya ada bekas luka yang memanjang. Menambah seram pada wajah garangnya tersebut.
๐๐ช๐ฌ๐ข ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ช ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ถ๐ฌ๐ข, ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ถ๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ด๐ช ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข.
Seno, terus berpikir bagaimana cara untuk melindungi dirinya. Ia tahu bagaimana desas-desus kehidupan keras penjara.
Sepertinya, para polisi itu memang sengaja menempatkan dirinya dalam posisi yang sulit hari ini. Hanya karena, dirinya sempat menyinggung mereka beberapa hari yang lalu.
๐พYe, salah sendiri gak bisa jaga bacot๐. Banyak yang benci jadinya, kan!
"Tadi lu bilang, ape! Mau beser?" Pria dengan wajah sangar itu mendekati Seno, lalu menarik tangannya agar ia berdiri.
Seno menepis tangan besar pria itu, membuat kedua mata seramnya mendelik, seperti hendak keluar dari cangkangnya. (Bayangin matanya tuan Takur ye gais๐. Zoom in ... zoom out)
"Wah, ni orang! Gua bantuin malah nolak." decak pria tersebut menyeringai ke arah dua temannya.
" Pergi, urus saja urusan kalian sendiri!" usir Seno, ketika kedua teman pria itu mendekat ke arahnya.
"Akh!" Seno memekik kencang, ketika kawan si wajah hitam menekan perban yang membalut bahunya.
"Sini lu! Gua bantuin berdiri! Lemah amat lu jadi lakik! Begini aja ngeringis muluk!" hardik pria kurus dengan tato di seluruh badannya itu.
" Pet, Gar." panggilnya.
"Bawa dia ke kamar mandi. Kasian kan, kawan kita ini mau pipis," ucap si pria berkepala pelontos pada kedua kawannya itu.
Mereka adalah begal, pemerkosa serta pembunuh. Yang kebetulan di pertemukan di penjara beberapa bulan yang lalu.
" Siap, Bang. Sem! Laksanakan!" Kedua pria ini yang sudah faham akan maksud dari ketua mereka, Bang Sem( Sem Ar). Akhirnya menarik paksa Seno yang terus berusaha memberontak.
"Lepas! Aku tidak butuh bantuan kalian!" teriak Seno, ia terus berusaha mempertahankan dirinya. Meski luka-lukanya kembali terasa sakit.
"Heh! Dasar gak tau terimakasih!" kesal pria kurus yang di ketahui bernama Pet Ruck.
"Tauk lu!" Pria yang bernama Gar Eeng ini, menoyor kepala Seno dengan keras. Hingga, dirinya membentur jeruji besi.
"Jangan sampe lu bocor di mari, begok!" Pria cungkring dengan banyak tato itu, kembali menarik hingga Seno berdiri.
๐๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฉ! ๐๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฉ๐ข๐ต ๐ด๐ช๐ข๐ญ๐ข๐ฏ! ๐๐ฑ๐ข ๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ? ๐๐ข๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ถ๐ฃ๐ช๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข๐ด ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ฆ๐ฏ๐ฐ ๐๐ณ๐ข๐ฅ๐ช๐ฑ๐ต๐ข!
Seno terlihat mengeratkan rahangnya, dengan kedua tangan yang terkepal di sisi tubuhnya.
Mereka berdua pun menyeret Seno ke dalam kamar mandi, sementara sang ketua. Pria yang berwajah hitam nan garang itu, tengah menyeringai buas ke arahnya.
๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ? ๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ฐ๐ด๐ช๐ด๐ช ๐ช๐ฏ๐ช.
"Kalian bisa keluar sekarang, saya bisa melakukannya sendiri." Seno berusaha tak beradu pandang dengan Sem. Perasaannya sangat buruk, sepertinya manusia di hadapannya ini adalah pria yang sangat kejam.
"Beser sekarang! Atau mau gua bantu ngeluarin barang lu?" titah Sem, dengan kilat tajam dari mata seramnya.
"Tanganku masih berfungsi, aku bukan pria lumpuh. Sebaiknya kalian keluar!" usir Seno.
__ADS_1
"Gak usah teriak ama gua luh!
" Lakukan sekarang! Atau gua hajar?" ancam Sem pada Seno. Sementara itu, mendapat bentakan super keras di depan wajahnya. Ternyata mampu membuat seorang mantan CEO tersebut, gemetaran.
๐๐ช๐ข๐ญ! ๐๐ช๐ข ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฎ๐ฌ๐ข๐ฏ.
Seno pun terpaksa, mengeluarkan benda pusaka nya di hadapan mereka.
"Eh, eh! Kok bentuknya begitu?" Mereka bertiga pun tertawa, membuat Seno menahan geram dan kesalnya. Lantas ia segera mengakhiri sesi buang airnya.
Namun, ketika Seno hendak menekan tombol air untuk menyiram. Sem, melarangnya.
"Jangan di siram bray, gua pengen lu minum itu, sekarang!" ancam Sem, dengan menekan bahu Seno.
"Brengshake!" Seno menepis tangan Sem yang menekan bahunya. Mendorong pria itu hingga membentur dinding kamar mandi.
Sem yang tidak siap, juga tidak menyangka bahwa Seno akan memberi perlawanan. Sehingga, raganya terhuyung ke belakang.
"Sialan!" makinya.
"Dasar penjahat sampah!"
"Manusia rendahan!" Seno mengumpat mereka sambil mengeratkan rahangnya. Seandainya kaki dan tangannya bebas bergerak, sudah ia patahkan rahang ketiga pria busuk di hadapannya.
Sem memberi kode pada kedua temannya, yang berdiri di belakang Seno.
"Hei! Kalian!"
"Hahahaha ...!" Gelak tawa menggema dari ketiga penjahat itu, di dalam kamar mandi mereka puas mengerjai seorang napi yang terluka. Hingga hari itu, akan di kenang sebagai hari paling buruk bagi seorang Seno Pradipta.
๐พ๐Penjahat kelamin, ketemu penjahat beneran.
Buk. Buk. Buk!
Seno pun terjengkang dengan keadaan basah kuyup, bau pesing menguar dari tubuh machonya yang sedikit kurus.
Matanya memerah menahan amarah yang sangat hebat. Hanya saja, cukup ia pendam hingga tiba masanya nanti ia akan membalas semua perlakuan hina ini.
"Heh, bekas orang kaya! Lain kali jangan sok lu di mari!"
"Enak, kan? Luluran pesing?"
"Hahaha ...!" Mereka bertiga pun meninggalkan Seno yang tergeletak di lantai kamar mandi.
๐๐ช๐ข๐ญ. ๐๐ช๐ข๐ญ. ๐๐ช๐ข๐ญ! ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ, ๐ฃ๐ฆ๐ฅ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฉ!
_______
"Maaf, Bu. Karena putra anda tidak pernah datang lagi kesini. Terpaksa, anda kami bawa ke panti sosial," kata seorang perawat yang sehari-hari bertugas merawat Easy.
"Engg ... Engg ...!" Easy hanya bisa mengeram.
๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ. ๐๐ช๐ฅ๐ข๐ข๐ข๐ข๐ฌ๐ฌ! ๐๐ข๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ช, ๐ฌ๐ข๐ฏ? ๐๐ฆ๐ฏ๐ฐ! ๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ต๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข๐ฎ๐ถ, ๐ฅ๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข๐ฑ๐ถ๐ฏ, ๐ฏ๐ข๐ฌ! ๐๐ด๐ข๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข! ๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ช ๐ญ๐ข๐จ๐ช! ๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ! ๐๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ต ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ช ...!
__ADS_1
Easy terus saja meluruhkan air matanya, kepalanya bergerak-gerak termasuk tangannya yang kaku. Ia terus berusaha untuk mengatakan sesuatu. Meskipun yang akhirnya keluar tetap saja geraman dan erangan.
"Bu ... Ibu!"
"Tenang, Bu. Meskipun di panti, nanti anda akan tetap terurus. Jika, nanti putra anda datang kembali ke rumah sakit ini. Kami akan menyuruhnya menjemput Ibu," bujuk perawat, secara perlahan dan lembut.
"Bagaimana lagi, Bu. Putra anda tak bisa kami hubungi. Doakan saja, semoga putra anda baik-baik saja," jelas perawat tersebut. Sembari merapikan pakaian Easy, dan memasukkannya ke dalam tas.
Tak lama kemudian tim dari panti benar-benar datang menjemput Easy.
Easy tetap menolak dengan menggeram berkali-kali. Membuat tim agak kewalahan mendudukkannya di kursi roda.
๐๐ฆ๐ฏ๐ฐ ... ๐ซ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ต ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ช, ๐ฏ๐ข๐ฌ! ๐๐ข๐ฎ๐ช ๐จ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ณ๐ข๐ธ๐ข๐ต ๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ต๐ช! ๐๐ฆ๐ฏ๐ฐ ...!
_______
"Mami!!" Seno tersentak kaget. Ketika sadar, dirinya ternyata masih berada di dalam kamar mandi.
"Sial! Ternyata aku pingsan!" Seno merutuki keadaannya yang menjijikkan serta bau. Tanpa pikir panjang, dirinya melepas semua kain yang melekat pada tubuhnya.
Kemudian ia menyiram raganya dengan air bersih. Tak memperdulikan akan kondisi luka-lukanya. Karena yang penting baginya adalah menghilangkan kotoran yang melekat pada tubuhnya.
"Sial!"
"Setelah menyiksaku, mereka semua tertidur." Seno kembali mengumpat, ketika mendapati para napi meringkuk di atas kasur lantainya.
Seno berjalan melewati mereka dengan raga polos tanpa selembar kain melekat. Tanpa sedikit pun rasa takut, bahkan sakit pada luka-lukanya itu tak di rasakan nya.
Hanya ada dendam di dalam hatinya, mengingat perlakuan ketiga pria jelek itu padanya tadi. Kemudian ia menyambar pakaian gantinya, yang mana terletak di dekat kepala pria kurus bertato.
Srek!
"Ternyata kalian tidur seperti orang mati."
"Aku jadi mendapatkan ide, untuk membalas kalian," Gumam Seno, kemudian menampilkan seringai bengis di wajahnya.
Beberapa hari kemudian, karena keadaan Seno yang sudah dapat berjalan lebih baik. Maka ia memanfaatkan sesi makan siang sepekan sekali di kantin penjara. Seno memanfaatkan momentum itu untuk keluar dan memantau keadaan sekitar.
๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ณ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ถ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ช๐ต๐ถ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ข๐ด ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ต๐ช๐ข๐ฑ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข. ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ช, ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ด๐ฆ๐ถ๐ฎ๐ถ๐ณ ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ช๐ข๐บ๐ข๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฉ๐ข๐ต ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฉ ๐ช๐ต๐ถ .
Seno, menyeringai di balik aksi mengunyahnya. Brewok yang telah di cukur tipis membuat dirinya terlihat lebih rapi, dan tak seseram biasanya. Hanya saja, tanpa kacamata, maka ia kesulitan untuk melihat angka serta huruf.
๐๐ช๐ข๐ญ! ๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ข๐ต๐ข ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ถ๐ด๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ!
Seno menyembunyikan, sesuatu di balik gulungan celananya. Berharap dapat melewati bagian pemeriksaan, sebelum para napi kembali ke dalam sel mereka.
Seno tersenyum sinis seraya menggenggam benda itu di tangannya.
"Akhirnya lolos juga." Seno menyeringai dengan tatapan nyalang.
Entah, rencana gila apa yang telah tersusun di kepalanya.
Bersambung>>>
__ADS_1