Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Daia Yang Malang.


__ADS_3

πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Tubuhnya sudah tercemari oleh racun dari chip. Lakukan pembedahan segera, kita harus menyelamatkan barang berharga itu. Atau ... nyawa kita semua taruhannya." tegasnya pada beberapa petugas yang juga berpakaian sama.


"Tubuhnya tidak bisa menerima, bius kita!" panik salah satu petugas bedah itu. Ketika raga Daia menggelinjang hebat bahkan kejang-kejang beberapa saat.


"Berikan jenis lain, untuk menghentikan pendarahannya! Aku tidak bisa menemukan chip itu!" seru petugas bedah pertama, dirinya panik karena dada wanita di atas brankar ini membesar tiga kali lipat. Bahkan terlihat seperti balon dengan beberapa urat yang menjalar panjang.


" Haish ... malang sekali wanita ini. Jaringan alat vitalnya telah di rusak oleh radiasi yang di keluarkan chip ini." tunjuk petugas itu sambil mengangkat chip yang terbalut selaput pelindung.


"Bagaimana chip ini bisa menggerogotinya? Sedangkan, pembalutnya saja masih utuh." heran petugas bedah itu.


" Kesadaran wanita ini semakin menurun! Struktur jaringan vitalnya benar-benat rusak!"


"Lihatlah, darah keluar dari telinga, hidung bahkan matanya!"


"Ternyata, radiasi dari chip telah meledakkan seluruh pembuluh darahnya." Ketiga petugas itu saling berpandangan, sebelum akhirnya mereka menghela nafas berat bersamaan.


"Kedua dadanya benar-benar meledak." Petugas yang berpakaian seperti astronot itu, menutupi tubuh Daia yang tak henti mengeluarkan darah.


"Profesor bilang, selamatkan apa yang masih bermanfaat dari tubuhnya," ucap salah seorang yang baru saja selesai melapor pada pimpinan mereka.


"Jantung serta ginjalnya masih bagus. Sedangkan mata, sebelah kiri sudah rusak. Selamatkan mata kanannya segera!" titah sang Dokter bedah.


Mereka bertiga pun, mulai membedah kembali. Menyayat bagian dada, pinggang dan juga mata.

__ADS_1


Mempreteli bagian vital atau organ dari wanita yang sudah terbujur dengan keadaan yang mengenaskan.


Daia, telah menemui akhir hidupnya dengan cara yang sangat mengerikan.


" Lapor, Don."


" Agen yang gagal telah di eksekusi, bahkan tim bedah Profesor Go Kill, telah mengambil organ yang masih berfungsi dan layak jual," jelas pengawal bertato ulat kaki seribu.


Don Domino, hanya menyeringai. Di balik kepulan asap dari benda panjang yang dihisapnya.


"Sisa tubuhnya, berikan pada Dragon." titah Don dengan santai. Kepulan asap kembali samar menutupi aura kejam dari pria berdarah dingin ini.


"Tak ku sangka, kau hanya berguna sampai di sini." gumam Don Domino, dengan wajah kaku.


Satu memijat bahu, satu lagi memijat kaki sedangkan yang satunya lagi menuangkan wine ke dalam sloki.


"Berikan aku kesenangan, atau kalian akan kuberikan pada Dragon ku." Don menaikkan sudut bibirnya, hingga melengkung tajam.


🍁🍁🍁🍁


"Sen?"


" Apa kau sudah mendapat kabar dari Daia?" gusar Easy, yang sore itu menyambangi kantor Pradipta Residen.


" Mami datang kesini hanya untuk menanyakan itu." Seno menatap kesal pada Easy. Wanita paruh baya itu, bahkan hampir menangis.

__ADS_1


"Apa kau tidak khawatir pada kakakmu? Daia bahkan tidak bisa di hubungi," tanya Easy geram.


"Itu sudah bukan wewenang ku Mam."


"Semenjak Daia mengambil keputusan tanpa seijin ku, pada saat itulah aku lepas tangan dari apapun yang menyangkut hidup dan matinya," Seno menegaskan pada sang Mami dengan amarah yang di tahan. Bagaimanapun, dirinya masih memikirkan hubungan pada wanita yang sudah menampungnya.


Membawa dirinya selama 9 bulan dalam kandungan.


"Tapi ... Mami, mempunyai firasat buruk. Membuat tidur Mami gelisah setiap malam." Easy masih berusaha membujuk Seno.


" Sekalipun aku ingin tahu keadaan kakak, lalu apa yang bisa dan dapat ku perbuat?"


" Apa Mami ingin aku mendatangi Don lalu menanyakan bagaimana kabar Daia, begitu?" sarkas Seno, mendengus.


" Demi Kakakmu, lakukanlah," mohon Easy, memasang wajah memelas yang semakin membuat Seno muak.


"Bawa kakakmu kembali, dia juga berhak melahirkan penerus keluarga ini." titah Easy, membuat kedua mata Seno berkilat marah.


"Penerus keluarga ini, hanya berasal dari darah daging ku!" Seno sontak berdiri dan menatap tajam ke arah mami nya itu.


Klek!


"Sayang ...."


Bersambung>>>

__ADS_1


__ADS_2