Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Kencan Anti Mainstream.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Sebuah kecupan sukses mendarat dengan mulus, di area yang juga mulus tanpa satu pun jerawat itu.


๐˜’๐˜ฐ๐˜ฌ, ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ! '๐˜’๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜•๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฉ. ๐˜œ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ซ๐˜ถ-๐˜ฎ๐˜ข๐˜ซ๐˜ถ ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


Vanish segera membuka matanya, dan yang pertama kali di lihatnya adalah senyum manis dari pacar gantengnya itu. Ia pun membalas dengan senyuman yang tak kalah manis juga, demi menyembunyikan kekecewaannya.


๐˜‰๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฉ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ.


๐ŸพAduh bang ganteng, bikin penonton kecewa aja deh! Eh, Ninis ding! ๐Ÿ˜… Langsung sosor aja sih!๐Ÿ˜™ 'kan udah bimoli tuh! ๐Ÿ˜œ


"Ar, apa kau baik-baik saja?" tanya Susi, yang mulai menyadari keanehan dari suaminya itu. Tadinya, ia berfikir Arjuna hanya sedang bermanja-manja dengan menyender di bahunya.


"Kita, berhenti saja ya?" tawar Susi, yang akhirnya dijawab anggukan lemah oleh Arjuna.


"Sayangnya, Mommy. Kita udahan ya, kasian Daddyโ€“mu. Sudah mabuk ketinggian," ucap Susi seraya mengelus perutnya yang sudah nampak sedikit membuncit itu. Seakan-akan ia tengah berbicara dengan calon bayi di dalam perutnya. Arjuna pun ikut mengelus perut itu pelan, karena sekujur tubuhnya mendadak lemas tak bertenaga.


๐˜”๐˜ข๐˜ข๐˜ง๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‹๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฅ๐˜บโ€“๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข, ๐˜•๐˜ข๐˜ฌ ...


Lirih Arjuna, entah kenapa jiwa melankolisnya berbanding terbalik dengan si ibu hamil itu sendiri. Sementara, Susi selalu menanggapi segalanya dengan cuek dan santai.


Di belakang dua pasangan dengan drama yang berbeda ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ณ๐˜ฆ itu. Terdapat pasangan dengan drama lainnya. Drama yang tidak kalah unik tentunya, bahkan author nya sampai beberapa kali menggigiti ujung meja.


๐Ÿพ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃkasian...


Antara gemes sama iri ya thor?โœŒ๐Ÿ˜


"Jangan berani kau mengambil kesempatan! Jauhkan tanganmu dari ku!" pekik Milna yang merasa risih karena berada cukup dekat dengan pria yang sangat di benci olehnya itu.


"Siapa juga sih, yang mau dekat-dekat denganmu! Kalau bukan karena menuruti keinginan kanjeng ratu, mana sudi aku berada di belakangmu! Mana rambutmu bau! Kapan sih, terakhir kali kau keramas?" cerca Joy, dengan ejekan di akhir kalimatnya. Memang lidah julidnya itu tidak bisa dikendalikan untuk mengomentari orang lain.


"Sembarangan! Apa kau ingin ku lempar dari atas sini!" marah Milna. Ingin rasanya ia menyikut pria yang berada di belakangnya ini.


"Kenapa marah! Tak taukah kau? betapa aku tersiksa di belakangmu!" sindir Joy, dengan senyum simpulnya. Sayang, Milna tak dapat melihat ekspresi Joy yang berbanding terbalik dengan ucapannya.

__ADS_1


"Tahan saja napas mu! Aku memang sudah seminggu tidak keramas! Jadi, rasakan ini!" Milna pun mengibas rambut pendek dengan model Bob itu. Membuat Joy semakin mengulum senyumnya.


" Sepertinya kutu mu pada loncat, awas saja jika menulari ku. Kau yang harus menanggung pengobatannya," bisik Joy di samping telinga Milna. Senyum miring tercetak di wajah rupawan nya itu. Puas sekali dirinya, telah membuat Milna mati gaya, diam seribu bahasa.


๐˜‘๐˜ฐ๐˜บ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ! ๐˜š๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ? ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ '๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช. ๐˜š๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ.


Milna, mengepalkan satu tangannya. Sementara itu mata Joy, terpejam. Ketika angin berembus lembut menerpa rambut pendek Milna, hingga surai itu mengenai wajahnya. Karena jarak keduanya yang terlampau dekat.


"Mundurlah sedikit!" protes Milna, menyadarkan Joy yang sedang menikmati suasana. Sepertinya, ia terbius oleh harum yang menguar dari ceruk leher gadis tomboi itu.


"Mundur bagaimana?" tanya Joy bingung. Tandu itu sudah di set sedemikian rupa. Mundur ke belakang sama saja meluncur dari bokong gajah.


"Kau sudah gila ya! Ingin aku melihatku jatuh!" geram Joy. Pria maskulin itu mengeratkan rahangnya, hingga giginya yang bergesekan menimbulkan suara gemeretak.


"Setidaknya, jauhkan wajahmu dari tengkuk leherku! Napas naga mu menggangguku! Apa kau tidak sadar!" ketus Milna. Ia sangat terganggu, ketika aroma mint itu membuatnya merinding.


"Haaaahhh!" Joy mengembuskan napas di atas telapak tangannya. Membauinya sendiri, mencari kebenaran dari kata-kata yang di lontarkan oleh Milna.


๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ถ? ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ข๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ถ๐˜ค๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ญ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜•๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜‰๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข, ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜จ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ-๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ข๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ด๐˜ถ ?


๐˜Œ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ '๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ? ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ!


Milna pun terkekeh dengan pelan. Karena, Joy benar-benar menjauhkan wajahnya. Bahkan, pria itu tak lagi bersuara.


"Hei, itu gajah yang ditunggangi oleh nyonya, kenapa tiba-tiba berhenti? Eh, eh, eh, kita juga berhenti ya?" Milna sontak berpegangan erat pada lengan Joy yang tengah memegang tali kemudi.


Sang pawang telah memberi kode pada hewan besar itu, untuk berhenti lalu duduk. Ketika kaki gajah telah di tekuk, maka pawang akan turun terlebih dahulu. Kemudian, ia akan membantu para penumpang untuk turun.


"Biar saya saja. Joy mengusir sang pawang yang mengulurkan tangan untuk membantu Milna turun. Sementara dirinya segera melompat dari tandu ke bawah.


" HAP!" Kedua kaki perkasa Joy mendarat dengan mulus di atas tanah berumput.


"Ayo turunlah!" Joy mengulurkan tangannya untuk meraih pinggang Milna.


๐˜‹๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜Š๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ท๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ, ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ด! ๐˜™๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ด๐˜ช! ๐˜Ž๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฌ!

__ADS_1


Milna mengacuhkan tawaran Joy padanya. Kemudian ia mengambil ancang-ancang.


"Hakk!!"


Dap!


Gadis tomboi itu, menaikkan sudut bibirnya. Ketika Joy sukses membelalakkan kedua bola matanya.


"Gadis bodoh! Tak tau terima kasih! Sudah bagus aku mau berniat menolong mu! Ini justru mencari penyakit baru dengan melompat dari atas gajah!" hardik Joy kesal. Jantungnya hampir lepas ketika, Milna melompat lalu mendarat tepat di hadapannya.


"Memangnya, aku peduli!" Milna berlalu begitu saja, meninggalkan Joy yang keki dan terus mengumpat sendiri.


"Nyonya Susi!" panggilnya ketika jaraknya sudah dekat dengan istri majikannya itu. Dimana Arjuna di bawa ke bawah pohon rindang untuk di beri minum.


"Nyonya, Tuan kenapa?" tanya Milna heran, pasalnya wajah Arjuna sangatlah pucat. Vanish juga ikut mendekat ke sebelah Milna. Di susul Better, kemudian Joy yang masih dengan wajah yang di tekuk.


"Tuan, kalian ini, mabuk gajah!" jelas Susi lugas, dan jelas. Ada rasa kasihan dalam hatinya, tapi juga ingin tertawa. Sudah dua kali dirinya, membuat suaminya itu teler. Ternyata fobia ketinggian Arjuna semakin parah saja.


๐˜”๐˜ข๐˜ข๐˜ง๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜บ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


๐Ÿพ Ck. Jelasin yang bener napah kanjeng ratu. Kasian itu suaminya, mabuk berat.๐Ÿ™ƒ Di elus kek, kali aja waras.


Salah satu pawang gajah menghampiri Arjuna dengan sebongkah buah kelapa hijau.


"Nyonya, silakan berikan pada suami anda. Agar tenaganya pulih dan lebih segar." Pawang itu memberikan satu buah kelapa muda yang sudah di lubangi ujungnya.


"Baiklah, terima kasih!" Susi mengambil buah kelapa tersebut. Tapi, dia bingung bagaimana cara Arjuna meminumnya. Sementara, tidak ada sedotan di sana.


"Nona, Tuan sangat lemas. Cepat berikan air kelapa itu!" pinta Joy yang telah berada di samping Arjuna.


" Bagaimana, caraku memberikannya? tidak ada sendok atau sedotan agar Tuan mu dapat meminumnya." Susi terus memandangi kelapa hijau yang ada di tangannya.


Author: Readers ada yang mau kasih saran gak? gimana cara Susi memberikan air kelapa tersebut ke Arjuna.


Saran paling yahut, bakal author pake di bab selanjutnya.๐Ÿ˜‰

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2