
🔥🔥🔥🔥🔥
...Di harapkan baca bab ini setelah buka puasa ya ...😙...
...Cuzz ... happy reading ......
_________
"Kenapa saat itu kau juga pingsan?" tanya Susi ketika mereka telah di perbolehkan pulang dari rumah sakit.
"Itu, karena aku kelelahan, sekaligus kaget. Bagaimana tidak, leher si kucai di tebas di hadapanku, sehingga kepala jeleknya itu menggelinding di bawah kakiku. Menjijikkan." Arjuna bergidik membayangkan kejadian itu.
"Ini obatmu, minum dulu." Susi menyerahkan beberapa obat untuk luka dalam yang di berikan oleh Dokter.
"Kasihan Joy, ia harus menjalani operasi THT." Susi menghela napas sambil memasukkan kembali obat-obatan untuk Arjuna.
Arjuna menelan beberapa macam obat itu terpaksa, kalau saja Susi tidak mengancam. Ia tidak akan sudi menelan pil pahit itu.
Buru-buru ia menenggak air segelas hingga tandas, lalu lidahnya melet-melet.
"Kau ini, lucu." Susi tergelak lalu meninggalkan Arjuna ke arah dapur.
"Apanya yang lucu." celetuk Arjuna. Dirinya ikut mengekor ke mana Susi pergi.
" Lucu saja, pria segagah dirimu, yang bertarung seperti pendekar samurai. Dengan gaya lincah nya bersama Katana yang agung. Tapi, takut minum obat." seloroh Susi masih dengan tawa gelinya.
" Kau ini ya. Senang sekali meledekku sejak kemarin." Arjuna mendekap Susi dari belakang, lalu menciumi tengkuk serta leher Susi. Hingga wanita itu berteriak kegelian.
" Hentikan Ar. Geli ...!" Susi terus meronta, meski Arjuna memeluknya semakin erat.
"Terima hukumanmu, karena telah menertawaiku terus." Arjuna semakin gencar, bahkan kini ia menggigit kecil telinga Susi.
__ADS_1
Membuat capit itu kembali mendarat di pinggangnya. "Ish, dasar ratu kepiting!" decak Arjuna.
" Makanya jangan gigit-gigit, kau macam vampire saja." celetuk Susi. Sambil melepaskan diri dari Arjuna.
" Hei, mana ada vampire menggigit telinga." Arjuna kembali menarik Susi, memutarnya hingga posisinya membelakangi dirinya.
"Vampire itu, menggigit disini." Arjuna menempelkan bibirnya di leher jenjang Susi yang putih mulus.
Membuat Susi terkesiap seketika, ketika bibir dingin itu mengecup sekaligus menghisap lehernya.
Napas hangat Arjuna yang berembus menyapu bawah telinganya. Membuat bulu kuduk Susi berdiri karena merinding disco.
"Ar, lepas. Aku kan mau masak makan malam kita." elak Susi, berusaha meronta. Dirinya takut terhanyut, karena Arjuna selalu dapat membuainya hingga melayang.
"Biarkan seperti ini sebentar." Arjuna menyusupkan wajahnya diantara ceruk leher Susi. Mencari kenyamanan di sana.
"Nanti bisa telat deh makan malamnya." elak Susi lagi mencoba lepas dari jerat yang ujungnya akan membuat dirinya mabuk kepayang.
Lalu keadaan hening selama beberapa saat. Keduanya seakan menikmati waktu yang seakan berhenti di sekitar mereka.
Hingga Arjuna kembali mengeluarkan suaranya lebih dulu.
"Aku sempat takut saat itu, sangat takut. Ketika, ku dapati dirimu tak ada didalam kamar mandi." Arjuna memejamkan mata sambil menarik napasnya dalam.
"Apalagi saat tau bahwa dirimu di culik, saat itu dunia serasa berputar, pijakan ku bergetar. Seandainya, saat itu terjadi hal buruk pada dirimu ... mungkin, aku tidak akan bisa memaafkan diriku selamanya." Arjuna mengeratkan lingkaran lingkaran tangannya pada raga Susi.
Menghirup aroma shampo pada rambut itu sepuasnya, seakan dirinya sudah lama tidak bernapas.
Perlahan ia membalik pemilik tubuh yang aromanya sudah menjadi candu untuknya.
"Mulai saat, ini kau tidak boleh jauh dariku sesenti pun." Arjuna menatap mata yang telah basah itu lekat.
__ADS_1
"Terimakasih, sudah menghawatirkan aku sampai seperti ini," lirih Susi.
" Jangan keluarkan lagi air mata sedih di hadapanku. Aku akan selalu ada untukmu, merelakan apapun demi dirimu." Arjuna mengulurkan jarinya menghapus air mata Susi.
"Aku, sudah meyakinkan hati ini untukmu. Hingga diri ini ... tak sanggup membayangkan ... bila harus kehilangan ." ucap Arjuna terbata, napasnya seakan tercekat di tenggorokan. Mereka menyatukan kening sambil memejamkan mata.
Merasakan debaran dalam dada serta debur jantung yang berdetak tak seperti biasanya. Menjalin tautan hati keduanya dengan ikatan tak kasat mata yang semakin kuat.
"Ayo kita menikah." celetuk Susi membuyarkan momen syahdu nan manis itu.
Mata kedua nya sama-sama berbinar, hingga senyum ikut merekah dari bibir keduanya.
Susi mengalungkan kedua tangannya di leher Arjuna, dengan sedikit berjinjit ia meraih bibir seksi itu dengan bibirnya.
"Kau yang memulainya." Arjuna menahan tengkuk Susi, ketika wanita itu hendak melepaskan diri.
Maka, terjadilah pagutan yang manis, hingga sesapan dari keduanya menimbulkan suara decapan yang kentara.
____________
"Anak muda itu, tidak bisa dianggap remeh rupanya." Seorang pria paruh baya menghisap sesuatu dari hidungnya.
"Bawa wanita itu masuk, aku sudah tidak sabar bercinta dengannya. Sebelum ia menjadi mangsa dari dragonku." Kemudian, pria patuh baya itu menyeringai panjang macam joker.
"Hola, Don. Apa kau merindukanku?"
Senyum seksi nan menggoda, tercetak dari paras Jelita.
"Tentu saja My Hot Madame," Don meraih tangan Jelita yang terulur padanya. Lalu menarik tubuh seksi yang semakin berisi itu, ke atas pangkuannya.
Bersambung>>>
__ADS_1