
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Uhukk ...kau ini kenapa Joy? Masa iya cemburu sama bocah kampret itu!" tunjuk Milna dengan telunjuknya ke arah Walls. Hingga keduanya mendapat pelototan dari orang yang dimaksud.
"Pasangan kunyuk! Seenaknya saja mengatai ku yang tampan ini sebagai temannya si Robin." Sungut Walls. Membuat Milna dan Joy menyembur tawa mereka.
Tak lama kemudian pintu kamar VVIP ruang perawatan Joy terbuka, menyembul lah sesosok pria tinggi nan gagah dengan seorang wanita berparas elok di sebelahnya.Senyumnya mengembang sempurna di sambut hal yang sama oleh Milna.
"Kak Susi," panggil Milna yang mana langsung masuk ke dalam dekapan sahabat laksana saudari itu. Hanya sebentar karena keduanya mendapat deheman dari Arjuna.
๐ ๐ข ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ฏ, ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ค๐ฆ๐ธ๐ฆ๐ฌ ๐ข๐ซ๐ข ๐ค๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ณ๐ถ. ๐๐ถ๐ค๐ช๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐จ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ถ๐ญ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฉ. Batin Milna, belum puas memeluk Susi tapi sudah mendapat peringatan begitu.
"Kau bisa tenang sekarang. Joy ternyata sudah melewati masa-masa menegangkan itu. Jangan berpikiran macam-macam. Perhatikan kondisimu dan juga mereka yang ada di sini." Susi berkata sambil menyentuh perut Milna yang terlihat agak menonjol itu.
"Iya Kak. Setelah ini kami akan ikut mami dan Lia pulang," jelas Milna.
"Oh iya dimana mereka?" tanya Susi sambil menelisik kedalam ruangan yang cukup luas itu. Karena juga terdapat satu sofa panjang, satu sofa single dan juga meja. Bahkan ada satu brangkar khusus untuk yang menemani pasien.
"Mereka lagi cari makan Kak. Baru aja keluar gak lama si badung tuh nongol," tunjuk Milna dengan ekor matanya.
"Hei aku dengar ya! Gini-gini punya nama. Badung-badung aja. Awas lho nanti anak kalian mirip sama aku." Walls mencebik sambil bersedekap.
"Tidak!!" Joy dan Milna memekik bersamaan. Sehingga ketiga orang itu menutup telinga mereka masing-masing. Kemudian setelah Arjuna dan Susi tergelak bersama.
"Hei! Aku tampan begini. Kenapa kalian menolak?" protes Walls tak terima. Tentu saja, seakan dirinya memiliki belang atau tompel sampai kedua suami istri itu kompak menolaknya. Padahal di mata wanita dirinya ini sosok yang amat sempurna.
"Aku ini idaman setiap wanita cantik. Bahkan bukan hanya wanita yang mengejarku akan tetapi kalangan elit pria juga. Karena aku menciptakan alat canggih untuk menyadap pasangan mereka. Militer USA saja mengincarku. Aku ini ๐ฉ๐ข๐ค๐ฌ๐ฆ๐ณ terhebat asal kalian tau!" Walls benar-benar membanggakan dirinya kali ini.
"Kami tau!" Sahut semuanya serempak. Kemudian kembali tertawa sambil menggeleng kepala.
"Lalu, apa yang membuat kalian keberatan? Jika anaknya Uncle Joy mirip denganku?" protes Walls masih tak terima.
__ADS_1
"Hei bocah badung! Bisa diam tidak kepalaku sakit mendengar rengekan mu!" Joy melempar satu bantal yang kemudian mendarat tepat di wajah Walls.
"Jawab dulu dong! Kenapa kalian seakan keberatan dan tidak terima. Apa yang kurang dari ku?" tanya Walls yang ternyata sedang bingung sungguhan.
"Hei! Casanova badung. Bagaimana bisa anak-anakku nanti mirip denganmu. Memangnya aku pernah membuatnya denganmu! Dasar bocah!" hardik Milna.
"Ya, memang tidak. Tapi kalian juga baru membuatnya sekali. Kau yakin nanti akan mirip dengan Uncle?" sindir Walls yang mana seketika langsung mendapat timpukan sepatu berikut pelototan mata dari Milna.
Joy pun demikian ia melempar apapun yang terdapat di atas nakas. Dari kaleng minuman hingga botol air mineral.
"Asshh, kalian kompak sekali menganiaya diriku yang jomblo ini!" pekik Walls yang kemudian mendapat jeweran dari Arjuna.
"Aduuhh! Ampun Bang!" Walls menjerit sambil memegangi tangan Arjuna yang hampir saja membuat telinganya copot.
"Bela kenapa Bang adiknya. Kok malah ikut-ikutan kekerasan sih?" protes Walls, setelah Arjuna menjauhkan tangannya dari telinga Walls.
"Kau! Bisa tidak mulut ini di-rem sedikit!" kata Arjuna seraya mendaratkan telapak tangannya ke bibir Walls, hingga menimbulkan bunyi ๐ฑ๐ญ๐ข๐ฌ!
"Jaga bicaramu! Dasar badung!" omel Arjuna.
"Ish, kan aku bicara apa adanya. Apa yang salah?" kekeh Walls tetap tak mau mengaku salah.
"Tunggu dulu! Darimana kau tau kalau aku dan Milna hanya membuatnya sekali?" tanya Joy penuh selidik. Akan tetapi pandangan matanya langsung menjurus ke Arjuna ketika Walls menjawab pertanyaan Joy dengan sekedar lirikan mata. Arjuna yang masih berada di samping Walls seketika memukul belakang kepala sepupunya itu dengan keras.
"Ar! Ingat dia adikmu!" ucap Susi. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan para pria di hadapannya ini.
"Apalagi sih Bang! Apakah aku datang ke sini untuk di aniaya saja!" pekik Walls tak terima, sejak kedatangan Arjuna ia terus saja di bully.
Sementara Arjuna hanya memberikan Walls tatapan yang tajam. "Aku diam kok!" elak Walls, kini ia tau apa kesalahannya.
"Tuan, anda benar-benar." Joy sontak memijat pangkal hidungnya. Kesal sekali, akan tetapi yang melakukan kesalahan adalah bos-nya sendiri.
__ADS_1
"Sudahlah! Hentikan perdebatan ini!" ujar Susi menengahi. Karena jika ia tidak turun tangan bisa sampai sore ketiganya akan saling menyalahkan.
"Jadi, kapan kau boleh pulang Joy?" tanya Susi anggun. Perangai galaknya langsung berubah seketika.
"Kemungkinan lusa, Nyonya. Masih menunggu hasil observasi luka dalam saya," jawab Joy.
"Jangan biarkan Milna yang menunggumu terus menerus. Kasian dia, biar saja Walls dan juga asistennya Will saja menemanimu di sini," ucap Susi yang mana langsung membuat air muka Joy murung seketika.
"Tak apa Kak. Biar kau saja. Lagi pula, kedua calon bayi kami sudah terbiasa dekat dengan daddy mereka," jawab Milna seraya menatap Joy dengan senyum hangatnya. Wajah muram Joy berubah ceria seketika.
๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ด๐ช๐ญ. ๐๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช ๐ฉ๐ช๐ฌ๐ฎ๐ข๐ฉ. ๐๐ช๐ญ๐ฏ๐ข ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข ๐ฑ๐ช๐ฏ๐ต๐ถ ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐๐ฐ๐บ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ข ๐ด๐ฆ๐ด๐ข๐ญ๐ช ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช ๐ต๐ข๐ฌ๐ฅ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ข๐ธ๐ข๐ญ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ซ๐ข, ๐จ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ด๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ต ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข. Susi tersenyum mendengar kata hatinya sendiri.
"Baiklah kalau itu memang keinginanmu. Aku akan mengirimkan orang untuk membawakan keperluan mu di sini," ucap Susi seraya melirik Arjuna. Suaminya itu pun mengedip kepadanya.
"Tuan, terima kasih. Seharusnya anda tidak perlu melakukannya. Karena, jika anda dan Better tidak kembali entah apakah aku dapat berjalan tegak di atas muka bumi ini," ucap Joy lirih. Milna menangkup tangan Joy mendukung seluruh kata-kata suaminya itu. Ia pun ikut menunduk.
"Tentu saja aku akan melakukannya Joy. Semua demi reputasi ku. Kau jangan besar kepala!" kilah Arjuna, membuat Susi menjengitkan hidungnya.
Gemas sekali jika suaminya ini sudah mulai berpura-pura. Pasalnya ia tau bagaimana khawatirnya Arjuna akan keselamatan Joy. Bahkan pria-nya itu sampai rela meninggalkannya dan juga Satria. Ia tau dengan sangat jelas bagaimana sayangnya Arjuna kepada orang-orang kepercayaannya ini. Hanya saja, pria itu tak mau mengungkapkannya.
Bahkan, tanpa Joy dan Milna tau. Bahwa Arjuna telah menyiapkan sebuah aset untuk mendukung pendidikan si kembar nantinya. Tentunya sama dengan apa yang akan di dapat oleh Satria Junior mereka. Perlakuan yang sama tentu juga akan di dapat jika nanti Van-Be punya anak.
"Apapun katamu. Terima kasih Tuan. Aku menyayangimu!" ucap Joy yang diakhiri dengan kekehan kecil.
"Ck. Berikan saja untuk istri dan anakmu. Aku tidak butuh!" ketus Arjuna kemudian ia menggandeng Susi keluar.
"Bang, ikut!" teriak Walls.
"Aku gak mau jadi nyamuk!"
Bersambung>>>
__ADS_1