Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Bucin Baru Netes.


__ADS_3

πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Kembali ke rumah sakit, dimana ada pasangan bucin yang baru netes.


Mereka asik mendulang rindu, beberapa saat lalu. Menggulung rasa dengan decapan hangat dan basah.


Sementara keadaan diluar sana,sempat mencekam beberapa individu.


Susi kini tengah memotong buah kiwi dan meletakkan pada piring kecil. Lalu ia kembali duduk di atas brankar Arjuna, mulai menyuapi pria tampan itu tanpa memandangnya.


Susi berusaha menetralkan debar jantungnya yang berdetak tak normal sejak tadi.


Rasanya malu sekali setiap dia mengingat apa yang sudah di perbuatnya barusan tadi.


Susi berkali-kali mendorong suapan berisi potongan buah kiwi. Tapi, kenapa seperti tertahan.


Susi memberanikan diri untuk mendongak perlahan.


"Eh!" Susi menjengit kaget.


"Sejak kapan aku makan menggunakan hidung?" sarkas Arjuna.


Buru-buru Susi menyeka hidung Arjuna yang belepotan dan lengket.


"Maaf ...," lirihnya.


"Ck. Kau ini kenapa?" decak Arjuna gemas sekali.


Bagaimana tidak salah suap, kalau dirinya menunduk seperti itu.


"A-aku ... aku ... mau ke toilet dulu." Susi pun segera turun dari kasur kemudian meletakkan piring buah itu ke atas meja.


"Hei ... hati-hati!" teriak Arjuna tertahan karena melihat Susi berlari ketika hendak ke toilet.


"Wanita itu ...." Arjuna gemas sekali, sayang saja kedua tangannya tak bisa bebas bergerak.


"Infus ini menyusahkan saja," omel Arjuna seorang diri.

__ADS_1


BRAK


Susi menutup pintu kamar mandi dan bersandar di belakangnya. Tangannya memegangi dadanya yang berdegup.


"Oneng banget sih!" Susi berkali-kali memukul kepalanya pelan. Ia malu sekali, sangat malu.


"Kenapa bisa seagresif itu!"


"Kamu tuh janda ... nanti dia salah faham gimana!" gusar Susi, dia menghentakkan kakinya di lantai kamar mandi tersebut.


Tak lama dirinya keluar dari toilet dan mendapati deringan suara ponsel yang berasal dari atas nakas di samping kasur Arjuna.


"Sus, bisa tolong kau ambil kan ponsel ku?" tanya Arjuna yang mau tidak mau selalu menyuruh Susi sebagai pengganti kedua tangannya.


Susi kembali menunduk, sebelumnya ia hanya mengangguk kecil.


"Dari Joy ..," jelas Susi menunjukkan layar ponsel itu ke Arjuna.


"Angkat saja ... Ini pasti sangat penting." duga Arjuna karena perasaannya tidak enak sekali.


"Ini Ar." Susi meletakkan ponsel ke telinga Arjuna, memeganginya.


"Kau! Bagaimana bisa!" bentak Arjuna pada asistennya yang berada di ujung sana.


"Hussh ... sabar Ar, tahan emosi mu." Susi mengelus bahu Arjuna, berusaha menenangkannya.


Sementara Arjuna tidak menoleh sama sekali, melirik pun tak.


"Tambahkan personel untuk berjaga disini!" titah Arjuna.


Tuut ...


Arjuna menutup panggilannya secara sepihak.


"Dasar Bos arogan! Kebiasaan banget kalau orang masih ngomong, maen matiin aja." oceh Joy kesal setengah mateng.


Dahlah Joy, bos lu kan emang kek ngono.

__ADS_1


Diem lu thor!


Lagi emosi nih!


Iye, mangap ...


(Hii ... kabur ah ... takut di tebang pake Katana ama Joy.)


"Apa yang terjadi Ar?" tanya Susi khawatir, karena melihat wajah Arjuna mengeras.


"Para preman yang menyerang kita mati, sedangkan Joy belum dapat keterangan apapun dari mulut mereka." Arjuna, memejamkan matanya menahan geram.


"Ar, perhatikan kondisimu. Jangan membebani pikiranmu dulu. Biarlah Joy yang mengurusnya," saran Susi khawatir. Dia menyentuh bahu Arjuna dan mengusapnya perlahan.


(Apakah dia tahu, bahwa dirinyalah sasaran utamanya? Bagaimana bisa setenang ini?) batin Arjuna.


Pria itu membuka matanya tatkala merasakan sentuhan hangat di pundaknya.


"Mulai saat ini, kau dalam pengawalan ketat. Jangan sembarangan pergi tanpa penjaga," ucap Arjuna tegas.


"Ha ...!" Susi membuka mulutnya tak percaya.


Benar juga sih, dia juga takut dan trauma bila berjalan seorang diri sekarang.


Bayangan wajah seram preman itu, terus menari di kepalanya. Semoga malam nanti tak ada mimpi buruk.


"Kenapa mereka menginginkan kematian ku?" gumam Susi pelan, akan tetapi masih bisa terdengar jelas oleh Arjuna.


"Siapapun mereka, takkan ku biarkan dapat menyentuh mu seujung kuku pun." Arjuna menatap Susi dengan pandangan penuh arti.


Iris mata mereka bertabrakan, menelaah sebuah rasa, yang telah mengikat hati mereka semakin erat.


🍁🍁🍁🍁


"Sen, kakakmu telah bebas dari penjara!" pekik Easy dari seberang sana.


"Ya, aku telah mendapat laporan dari rumah tahanan Mam." sahut Seno dari balik ponselnya.

__ADS_1


" Lalu kemana Daia pergi, kenapa dia tak pulang kerumah? Mami ... mami khawatir, Sen." gusar Easy, terdengar dari suaranya yang bergetar.


Bersambung>>>>


__ADS_2