
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Better merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh dadanya, sepertinya coat yang di kenakan oleh Vanish terbuka. Sementara, gadis itu terus mendekap Better dengan erat. Demi, menumpahkan rasa yang bergemuruh di dalam hatinya. Tanpa ia sadari, sikapnya itu justru membuat Better salah fokus.
"Nis. Eng ... iโitu, tutupi dulu deh," bisik Better.
"Apanya?" jawab Vanish, tanpa melepas pelukannya. Karena dirinya sudah terlanjur nyaman.
"Iโitu, daโdada kamu," ucap Better lagi, yang mana membuat Vanish segera melepaskan diri dari pelukannya, lalu ia langsung melihat ke arah depan pakaiannya. Ternyata, benar saja, bagian dadanya terbuka karena kancing pada coat-nya terlepas. Buru-buru Vanish membenarkan pakaiannya. Seraya menunduk malu, karena keadaannya yang begitu berantakan.
๐๐ฏ๐ช ๐ฎ๐ข๐ต๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ด๐ฆ๐จ๐ข๐ญ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ช๐ต๐ถ ๐ด๐ช๐ฉ, ๐ด๐ช๐ข๐ญ! ๐๐ฆ๐ซ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฌ ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ถ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข, ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ด๐ช๐ญ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ? ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช๐ต ๐ต๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ต๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฉ ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ช๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ด๐ถ๐ข๐ต๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ต๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฉ๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ข๐ฌ๐ข๐ณ?
Better, berusaha sekuat tenaga menguasai gelora yang tiba-tiba bergejolak dalam dirinya. Ia telah melihat benda itu dengan jelas, lalu sekarang merasakan bagaimana bongkahan kenyal tersebut menempel di dadanya.
Membuat seketika otaknya berkelana serta membara kemana-mana. Bagaimanapun, dirinya adalah lelaki normal. Berduaan di tengah malam dengan situasi serta kondisi yang mendukung, membuat iman serta imin nya bergolak dalam batin.
" Aku, akan mencarikan pakaian ganti untukmu," ucap Better, lalu pria itu mengusap wajahnya. Sepertinya, ia butuh mendinginkan kepalanya, agar segala pikiran liar itu kabur dari otaknya.
Vanish tak ada menjawab. Ia hanya mengangguk pelan. Canggung juga akhirnya, setelah apa yang terjadi barusan. Ia benar-benar tidak menyadarinya.
๐๐ข๐ช๐ฉ, ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ฑ๐ข๐ค๐ข๐ณ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ณ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ฐ๐ฅ๐ข๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ฆ๐ฎ๐ช ๐ฎ๐ข๐ณ๐ต๐ข๐ฃ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ซ๐ถ, ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ค๐ฆ๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ฅ๐ช. ๐๐ข๐ฎ๐ถ๐ฏ, ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข, ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฑ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ค๐ข๐ณ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ฏ๐บ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ฏ๐จ๐ช. ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐บ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ, ๐ฑ๐ข๐ค๐ข๐ณ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐จ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ฐ๐ณ๐ฎ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช.
Vanish menerawang, sembari melihat kakinya yang tanpa alas.
"Nis, aku hanya menemukan ini." Better menyerahkan kemeja flanel miliknya kepada Vanish. Membuat gadis yang tengah melamun itu tersentak. Kemudian, Vanish langsung meraih pakaian itu dengan cepat.
"NiโNinis, mau pinjam toiletnya, boleh?" tanya Vanish, tergagap malu.
"Tentu saja boleh, Nis. Gunakanlah air hangat untuk membersihkan tubuhmu. Handuknya ada di dalam lemari, kau bisa menggunakannya," jelas Better. Mendapat izin dari kekasihnya, Vanish pun langsung ngacir tanpa ba bi bu lagi.
Better mendudukkan tubuhnya, lalu ia menenggak habis air es hingga sebotol penuh.
" Kenapa bayangan benda itu tidak pergi juga!" Better meremas kepalanya frustasi.
Sementara itu, di dalam ๐ฃ๐ข๐ต๐ฉ ๐ณ๐ฐ๐ฐ๐ฎ.
"Aduh, ini gayungnya mana? Ninis gimana mandinya?" gumam Vanish sembari mengitari sekeliling kamar mandi mewah itu.
"Eh, iya itu ada shower. Tapi, keran air hangatnya yang mana ya?" Vanish menggaruk kepalanya, bingung.
"Aduhh, biasa juga di rumah atau di kosan mandinya pake air dingin. Udah lah, air dingin aja deh." Vanish pun memutuskan untuk, memutar keran air biasa.
__ADS_1
"Ahh! Kenapa dingin sekali!" Vanish memekik, ketika air dari shower jatuh ke tubuhnya.
"Brrrr ..., dingin banget ini. Keran air hangatnya yang mana sih? Ini ada keran sampe berapa biji. Bikin, Ninis bingung deh ini. Orang kaya kok gini amat dah ribet!" gerutu Vanish, sambil merasakan dingin di sekujur tubuhnya.
"Coba deh warna ini." Vanish pun memutar salah satu keran.
"Aww! Kepanasan!" Vanish mengibaskan jarinya, lalu ia memutar sedikit keran tersebut hingga pada suhu yang diinginkan.
"Aduh, melepuh gak ya, jari Ninis?" gumamnya sembari meniup jarinya yang memerah.
Selesai membersihkan seluruh tubuhnya, Vanish mencari handuk di lemari yang menempel pada dinding. Ketika ia hendak mengambil pakaian dalamnya, kaca mata kudanya terjatuh ke lantai kamar mandi.
"Yah, pake jatoh lagi. Aduh mana basah! Gimana dong ini?" Vanish mengaduh, seraya memijat dahinya. Melihat penutup gunungnya yang basah, membuat kepalanya pusing seketika.
"Kalo di pake, nanti aku bisa masuk angin. Lagian, kotor juga 'kan udah jatoh barusan." Vanish terus mengoceh seorang diri.
Sementara di luar sana, seorang pria tengah gusar mengkhawatirkannya.
"Kenapa dia lama sekali? apa dia tengah menangis di dalam sana? bagaimana kalau dia pingsan?" gumamnya, sembari bersandar di pintu kamar mandi.
"Vanish, aku terluka melihat mu seperti itu. Aku sangat takut terjadi hal buruk pada dirimu, apakah ini berarti, aku benar-benar mencintaimu?" gumam Better, di dalam kegalauannya.
"Papi, aku juga tidak ingin mengecewakannya." Better terus meremas kepalanya dengan kuat. Dirinya di lema, kebimbangan telah menghantui pikiran serta hatinya.
"Aduh!" Better, mengusap bokongnya yang mencium lantai. Ketika tanpa sengaja, Vanish membuka pintu di saat dirinya tengah bersandar.
"Ya ampun, pacar!" Vanish segera berjongkok untuk membantu Better berdiri, tanpa ia sadari bawahan kemejanya tidak dapat menutupi kedua pahanya secara sempurna. Membuat kedua mata Better membola.
๐พGodaan terus ya bang ...
Sabar ... ini ujian๐๐
๐๐ข๐ฅ๐ช๐ด ๐ช๐ฏ๐ช! ๐๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐บ๐ข ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ช๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ค๐ฆ๐ณ๐ฐ๐ฃ๐ฐ๐ฉ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ถ๐ข๐ต ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ข๐จ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ญ ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐จ๐ถ๐ด ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข.
Better, mengalihkan pandangannya ke arah lain. Seandainya saja ada pakaian yang bisa menutupi hingga keseluruhan kaki kekasihnya itu. Biasa, melihat Vanish mengenakan celana serta blues setiap hari. Membuatnya tersentak kala melihat betapa mulus dan indahnya kaki Vanish.
" Pacar gak apa-apa 'kan? apa ada yang sakit? ya ampun, Ninis minta maaf ya?" cecar Vanish, beruntun.
๐พGa papa kok Nis, cuma ada yang cenat-cenut aja tuh.๐คญ๐คญ
"Kalau bertanya itu, satu persatu. Biar aku gak bingung jawabnya," protes Better. Satu tangannya masih mengelus bokongnya pelan. Lumayanlah, lagi enak berdiri sambil senderan, tiba-tiba terjatuh duduk pantat duluan. Kan mantab.
__ADS_1
"Maaf ya, Ninis gak tau. Maen tarik aja pintunya. Sini, Ninis bantu." Vanish hendak mengulurkan tangannya ke bokong Better, rencana mau bantu mengusap. Tapi, buru-buru di tepis oleh pria yang rambut gondrongnya sengaja di gerai itu.
"Eh, gak usah!" Better pun, menghindar.
๐พPunya pacar kok polos amat si bang๐.
Nis, kagak di elus aja udah merana, jangan kau tambah penderitaannya.๐คญ
Better mengajak Vanish duduk di sofa, lalu ia memberikan bantal sofa untuk menutupi paha gadisnya yang menggoda.
"Kenapa tadi lama sekali di dalam kamar mandi," tanya Better sembari menyerahkan segelas susu coklat panas kepada Vanish.
"Ah, itu, Ninis hanya mencari di mana air hangatnya," jawabnya polos, sembari meraih gelas yang di sodorkan oleh Better.
"Lalu, jarimu ini kenapa?" Better meraih tangan Vanish, melihat pada beberapa jarinya yang memerah.
"Hanya tersiram air panas sedikit, tidak apa kok, sudah tidak sakit," sahut Vanish dengan senyumnya. Ia senang mendapat perhatian demi perhatian dari pacar gantengnya ini.
๐๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ต ๐ข๐ซ๐ข, ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ๐ช๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ฐ ๐ฌ๐ข๐บ๐ข๐ฌ ๐จ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฌ๐ข๐บ๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ฅ๐ช ๐ข๐ซ๐ข ๐จ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ถ๐ฆ๐ฌ, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐จ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ช. ๐๐ข๐ณ๐ช๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฌ๐ข๐บ๐ข๐ฌ ๐จ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฃ๐ช๐ฌ๐ช๐ฏ ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐จ๐ฆ-๐ฆ๐ณ.
Vanish menghela napasnya, membuang angannya yang terlalu jauh.
"Sebentar." Better berdiri, kemudian ia kembali duduk di samping Vanish.
"Setelah ini, tidurlah di kamarku. Biar aku yang di sofa." Better berkata sembari mengolesi salep luka bakar ke jari Vanish.
"Ah, kenapa begitu. 'Kan Ninis yang menumpang. Biar aku saja yang tidur di sofa, pacar di kamar saja," tolak Vanish. Mana bisa, Better justru mengalah karenanya. Ia sungguh merasa tidak enak.
"Justru, karena kamu tamu, aku harus melayani mu dengan baik. Memberi fasilitas yang terbaik." Pria itu lantas berdiri dan masuk ke dalam kamarnya. Beberapa menit kemudian, ia keluar lagi dengan membawa bantal serta selimut.
"Masuk sana, istirahatkan tubuh serta pikiranmu." Better membantu Vanish berdiri, lalu mengantar gadis itu ke kamarnya.
Grep!
Vanish sontak berbalik, lalu memeluk pria gagah di hadapannya ini dengan erat.
"Makasih, pacar memang baik. Ninis sangat bahagia dan beruntung, bisa menjadi kekasih mu meski hanya sebentar. Ninis, sekarang rela gak rela melepas pacar. Tapi, Ninis gak mau memaksa keadaan. Biarlah, takdir yang akan membawa kisah kita ini, kemanapun ia mau." Vanish memeluk tubuh tegap itu erat. Mungkin, ini adalah malam terakhir bagi mereka untuk bisa seperti ini.
๐๐ข๐ฅ๐ช๐ด ๐ช๐ฏ๐ช! ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฏ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ต๐ถ๐ฑ ๐จ๐ถ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฏ๐บ๐ข! ๐๐ฉ, ๐ด๐ช๐ข๐ญ! ๐๐ฎ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ถ๐ข๐ต, ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ด๐ชโ๐ช๐ฎ๐ช๐ฏ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ถ๐ข๐ด๐ข ๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ญ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ข๐ฏ๐ช๐ด๐ฉ! ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ด๐ข๐ฌ๐ถ!
Better mendorong paksa tubuh mungil Vanish, hingga gadis itu terjengkang ke atas kasur. Tanpa sengaja, hal itu malah membuat kemeja bawah yang Vanish kenakan tersingkap hingga ke atas. Memperlihatkan kedua paha mulusnya itu.
__ADS_1
๐๐ช๐ข๐ญ! ๐๐ข๐จ๐ช-๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ด๐ช๐ข๐ญ!
Bersambung>>>