Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Apakah ini? kebersamaan yang terakhir?


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Better merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh dadanya, sepertinya coat yang di kenakan oleh Vanish terbuka. Sementara, gadis itu terus mendekap Better dengan erat. Demi, menumpahkan rasa yang bergemuruh di dalam hatinya. Tanpa ia sadari, sikapnya itu justru membuat Better salah fokus.


"Nis. Eng ... iโ€“itu, tutupi dulu deh," bisik Better.


"Apanya?" jawab Vanish, tanpa melepas pelukannya. Karena dirinya sudah terlanjur nyaman.


"Iโ€“itu, daโ€“dada kamu," ucap Better lagi, yang mana membuat Vanish segera melepaskan diri dari pelukannya, lalu ia langsung melihat ke arah depan pakaiannya. Ternyata, benar saja, bagian dadanya terbuka karena kancing pada coat-nya terlepas. Buru-buru Vanish membenarkan pakaiannya. Seraya menunduk malu, karena keadaannya yang begitu berantakan.


๐˜๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ญ! ๐˜Ž๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ? ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ?


Better, berusaha sekuat tenaga menguasai gelora yang tiba-tiba bergejolak dalam dirinya. Ia telah melihat benda itu dengan jelas, lalu sekarang merasakan bagaimana bongkahan kenyal tersebut menempel di dadanya.


Membuat seketika otaknya berkelana serta membara kemana-mana. Bagaimanapun, dirinya adalah lelaki normal. Berduaan di tengah malam dengan situasi serta kondisi yang mendukung, membuat iman serta imin nya bergolak dalam batin.


" Aku, akan mencarikan pakaian ganti untukmu," ucap Better, lalu pria itu mengusap wajahnya. Sepertinya, ia butuh mendinginkan kepalanya, agar segala pikiran liar itu kabur dari otaknya.


Vanish tak ada menjawab. Ia hanya mengangguk pelan. Canggung juga akhirnya, setelah apa yang terjadi barusan. Ia benar-benar tidak menyadarinya.


๐˜๐˜ข๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ถ, ๐˜•๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช. ๐˜•๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ, ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜•๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช. ๐˜•๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ณ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜จ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.


Vanish menerawang, sembari melihat kakinya yang tanpa alas.


"Nis, aku hanya menemukan ini." Better menyerahkan kemeja flanel miliknya kepada Vanish. Membuat gadis yang tengah melamun itu tersentak. Kemudian, Vanish langsung meraih pakaian itu dengan cepat.


"Niโ€“Ninis, mau pinjam toiletnya, boleh?" tanya Vanish, tergagap malu.


"Tentu saja boleh, Nis. Gunakanlah air hangat untuk membersihkan tubuhmu. Handuknya ada di dalam lemari, kau bisa menggunakannya," jelas Better. Mendapat izin dari kekasihnya, Vanish pun langsung ngacir tanpa ba bi bu lagi.


Better mendudukkan tubuhnya, lalu ia menenggak habis air es hingga sebotol penuh.


" Kenapa bayangan benda itu tidak pergi juga!" Better meremas kepalanya frustasi.


Sementara itu, di dalam ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ฎ.


"Aduh, ini gayungnya mana? Ninis gimana mandinya?" gumam Vanish sembari mengitari sekeliling kamar mandi mewah itu.


"Eh, iya itu ada shower. Tapi, keran air hangatnya yang mana ya?" Vanish menggaruk kepalanya, bingung.


"Aduhh, biasa juga di rumah atau di kosan mandinya pake air dingin. Udah lah, air dingin aja deh." Vanish pun memutuskan untuk, memutar keran air biasa.

__ADS_1


"Ahh! Kenapa dingin sekali!" Vanish memekik, ketika air dari shower jatuh ke tubuhnya.


"Brrrr ..., dingin banget ini. Keran air hangatnya yang mana sih? Ini ada keran sampe berapa biji. Bikin, Ninis bingung deh ini. Orang kaya kok gini amat dah ribet!" gerutu Vanish, sambil merasakan dingin di sekujur tubuhnya.


"Coba deh warna ini." Vanish pun memutar salah satu keran.


"Aww! Kepanasan!" Vanish mengibaskan jarinya, lalu ia memutar sedikit keran tersebut hingga pada suhu yang diinginkan.


"Aduh, melepuh gak ya, jari Ninis?" gumamnya sembari meniup jarinya yang memerah.


Selesai membersihkan seluruh tubuhnya, Vanish mencari handuk di lemari yang menempel pada dinding. Ketika ia hendak mengambil pakaian dalamnya, kaca mata kudanya terjatuh ke lantai kamar mandi.


"Yah, pake jatoh lagi. Aduh mana basah! Gimana dong ini?" Vanish mengaduh, seraya memijat dahinya. Melihat penutup gunungnya yang basah, membuat kepalanya pusing seketika.


"Kalo di pake, nanti aku bisa masuk angin. Lagian, kotor juga 'kan udah jatoh barusan." Vanish terus mengoceh seorang diri.


Sementara di luar sana, seorang pria tengah gusar mengkhawatirkannya.


"Kenapa dia lama sekali? apa dia tengah menangis di dalam sana? bagaimana kalau dia pingsan?" gumamnya, sembari bersandar di pintu kamar mandi.


"Vanish, aku terluka melihat mu seperti itu. Aku sangat takut terjadi hal buruk pada dirimu, apakah ini berarti, aku benar-benar mencintaimu?" gumam Better, di dalam kegalauannya.


"Papi, aku juga tidak ingin mengecewakannya." Better terus meremas kepalanya dengan kuat. Dirinya di lema, kebimbangan telah menghantui pikiran serta hatinya.


"Aduh!" Better, mengusap bokongnya yang mencium lantai. Ketika tanpa sengaja, Vanish membuka pintu di saat dirinya tengah bersandar.


"Ya ampun, pacar!" Vanish segera berjongkok untuk membantu Better berdiri, tanpa ia sadari bawahan kemejanya tidak dapat menutupi kedua pahanya secara sempurna. Membuat kedua mata Better membola.


๐ŸพGodaan terus ya bang ...


Sabar ... ini ujian๐Ÿ˜๐Ÿ˜


๐˜Ž๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช! ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฉ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


Better, mengalihkan pandangannya ke arah lain. Seandainya saja ada pakaian yang bisa menutupi hingga keseluruhan kaki kekasihnya itu. Biasa, melihat Vanish mengenakan celana serta blues setiap hari. Membuatnya tersentak kala melihat betapa mulus dan indahnya kaki Vanish.


" Pacar gak apa-apa 'kan? apa ada yang sakit? ya ampun, Ninis minta maaf ya?" cecar Vanish, beruntun.


๐ŸพGa papa kok Nis, cuma ada yang cenat-cenut aja tuh.๐Ÿคญ๐Ÿคญ


"Kalau bertanya itu, satu persatu. Biar aku gak bingung jawabnya," protes Better. Satu tangannya masih mengelus bokongnya pelan. Lumayanlah, lagi enak berdiri sambil senderan, tiba-tiba terjatuh duduk pantat duluan. Kan mantab.

__ADS_1


"Maaf ya, Ninis gak tau. Maen tarik aja pintunya. Sini, Ninis bantu." Vanish hendak mengulurkan tangannya ke bokong Better, rencana mau bantu mengusap. Tapi, buru-buru di tepis oleh pria yang rambut gondrongnya sengaja di gerai itu.


"Eh, gak usah!" Better pun, menghindar.


๐ŸพPunya pacar kok polos amat si bang๐Ÿ˜„.


Nis, kagak di elus aja udah merana, jangan kau tambah penderitaannya.๐Ÿคญ


Better mengajak Vanish duduk di sofa, lalu ia memberikan bantal sofa untuk menutupi paha gadisnya yang menggoda.


"Kenapa tadi lama sekali di dalam kamar mandi," tanya Better sembari menyerahkan segelas susu coklat panas kepada Vanish.


"Ah, itu, Ninis hanya mencari di mana air hangatnya," jawabnya polos, sembari meraih gelas yang di sodorkan oleh Better.


"Lalu, jarimu ini kenapa?" Better meraih tangan Vanish, melihat pada beberapa jarinya yang memerah.


"Hanya tersiram air panas sedikit, tidak apa kok, sudah tidak sakit," sahut Vanish dengan senyumnya. Ia senang mendapat perhatian demi perhatian dari pacar gantengnya ini.


๐˜”๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข, ๐˜•๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜Š๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฌ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช. ๐˜‹๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜•๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ฆ-๐˜ฆ๐˜ณ.


Vanish menghela napasnya, membuang angannya yang terlalu jauh.


"Sebentar." Better berdiri, kemudian ia kembali duduk di samping Vanish.


"Setelah ini, tidurlah di kamarku. Biar aku yang di sofa." Better berkata sembari mengolesi salep luka bakar ke jari Vanish.


"Ah, kenapa begitu. 'Kan Ninis yang menumpang. Biar aku saja yang tidur di sofa, pacar di kamar saja," tolak Vanish. Mana bisa, Better justru mengalah karenanya. Ia sungguh merasa tidak enak.


"Justru, karena kamu tamu, aku harus melayani mu dengan baik. Memberi fasilitas yang terbaik." Pria itu lantas berdiri dan masuk ke dalam kamarnya. Beberapa menit kemudian, ia keluar lagi dengan membawa bantal serta selimut.


"Masuk sana, istirahatkan tubuh serta pikiranmu." Better membantu Vanish berdiri, lalu mengantar gadis itu ke kamarnya.


Grep!


Vanish sontak berbalik, lalu memeluk pria gagah di hadapannya ini dengan erat.


"Makasih, pacar memang baik. Ninis sangat bahagia dan beruntung, bisa menjadi kekasih mu meski hanya sebentar. Ninis, sekarang rela gak rela melepas pacar. Tapi, Ninis gak mau memaksa keadaan. Biarlah, takdir yang akan membawa kisah kita ini, kemanapun ia mau." Vanish memeluk tubuh tegap itu erat. Mungkin, ini adalah malam terakhir bagi mereka untuk bisa seperti ini.


๐˜Ž๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช! ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข! ๐˜ˆ๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ญ! ๐˜๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ด๐˜ชโ€“๐˜ช๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ! ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ!


Better mendorong paksa tubuh mungil Vanish, hingga gadis itu terjengkang ke atas kasur. Tanpa sengaja, hal itu malah membuat kemeja bawah yang Vanish kenakan tersingkap hingga ke atas. Memperlihatkan kedua paha mulusnya itu.

__ADS_1


๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ! ๐˜“๐˜ข๐˜จ๐˜ช-๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ญ!


Bersambung>>>


__ADS_2