
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Brengsekkk!!" Itulah kata pertama yang di keluarkan Milna ketika dirinya terbangun di atas kasur, dalam apartemennya. Gadis itu sudah berganti pakaian. Meski tidak menggunakan pakaian yang di gunakan di dalam, setidaknya dirinya sudah bersih dan tidak lengket.
"Pria itu, apa yang telah di lakukan padaku." Milna meluruhkan tubuhnya di samping tempat tidur. Kemudian matanya melihat secarik kertas yang di tindih sebuah boneka keramik kecil diatas nakas.
Milna meraih kertas itu kemudian membukanya.
๐๐ข, ๐ฎ๐ข๐ข๐ง ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ข๐ณ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ณ๐ช ๐ด๐ข๐ญ๐ฆ๐ฑ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฅ๐ข ๐ฎ๐ถ๐ข๐ญ ๐ฅ๐ช ๐ข๐ฑ๐ฐ๐ต๐ช๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ช ๐ด๐ข๐ณ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฌ๐ช๐ต๐ข. ๐๐ฐ๐ข๐ญ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ฎ๐ข๐ข๐ง ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ด๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ด๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฎ๐ถ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช.
Kalimat demi kalimat yang di bacanya, serasa mengguncang dunianya. "Jadi, benar jika diriku sudah ...?" Milna meremas kepalanya dengan kedua tangan lalu menjatuhkan kepalanya di atas lutut. Ia memeluk lutut itu dan menangis sejadi-jadinya.
Kepingan-kepingan kejadian pada malam itu dimobil, berputar cepat di kepalanya. Milna semakin menenggelamkan wajah diantara kedua lututnya. Ketika ingatannya kembali pada saat itu, justru dirinyalah yang memulai semuanya.
"Memalukan!"
"Bodoh!"
"Pasti tuduhannya padamu menjadi nyata sekarang. Kau murahan!!" Milna terus menerus memaki dirinya sendiri. Bahkan, dirinya juga ingat bagaimana kala ia meminta Joy mengantarnya ke klab. Bagaimana jika pada saat itu Joy mengiyakannya. Apa yang akan terjadi pada dirinya kini.
Bahkan, jika Joy tidak menolongnya. Mungkin saja saat ini dirinya sudah menjadi budak napsu dari Alex.
" Huhuuu ... bagaimana ini? Si tengik itu telah mengambil sesuatu yang berharga dariku. Sesuatu yang bahkan ku jaga dengan nyawaku sendiri." tangis Milna dengan isak yang lama kelamaan menjadi semakin keras.
"Mau di taruh mana wajahku ini. Akibat pengaruh obat itu, aku menjadi liar dan agresif. Terlihat aku begitu menikmati setiap sentuhan dan ciuman darinya. Aaaa ...! Alex keparat! Aku akan membinasakanmu!"
"Joy, dia ... aku tidak akan sanggup melihat wajahnya. Aku harus pergi." Milna berusaha bangkit berdiri, lalu berjalan perlahan ke kamar mandi. Meski perih masih terasa di area pribadinya, sehingga membuatnya jalan terseok-seok sambil berpegangan pada apa saja.
๐พOh merananya kau Mil.๐ข
"Apa ini, hiks ... kenapa banyak sekali." Milna melihat pantulan dirinya pada cermin wastafel. Di mana disana nampak tanda-tanda kemerahan pada hampir di seluruh bagian tubuhnya. Dari mulai leher, tulang selangka, dada atas, puncak dada, perut dan banyak di sekitar area bawah pusar.
Milna menggosok-gosokkannya kulitnya dengan sabun dan spon, berharap tanda-tanda laknat itu menghilang dari tubuhnya. Gadis yang sudah tidak gadis itu terus terisak sampai sesenggukkan.
Joy yang sudah berada di dalam kamar Milna, heran. Karena kasur begitu berantakan, tissue berserakan di lantai.
"Di mana dia sekarang, apa di kamar mandi?"
Joy menengok ke arah pintu, tapi tak terdengar sama sekali suara air gemericik.
__ADS_1
"Apa yang sekiranya dia lakukan di dalam sana? Sudah lebih dari setengah jam aku menunggunya." Keluh Joy pelan. Pria itu menyugar rambutnya yang berponi. Ia pun bangkit dari sofa, melihat makanan yang mulai dingin. Tak lama kemudian terdengar suara pintu di buka.
"Akh!"
BLAAM! Pintu tertutup kembali, setelah sebuah teriakan nyaring dari Milna.
"Mau apa si tengik itu? Kenapa dia masih ada di sini sih? Aku udah kedinginan ini, mana gak bawa baju ganti. Masa jalan kekamar pake handuk aja sih." Milna menggerutu di balik pintu. Joy yang paham akhirnya berkata, maksudnya sedikit berteriak.
"Aku keluar dulu! Kau makanlah! Di sini ada obat pereda nyeri dan salep, gunakanlah agar kau merasa lebih baik! Kita akan bicara lagi nanti!" Setelah berkata kencang di depan pintu, Joy pun berlalu keluar.
"Apa si tengik itu sudah benar-benar keluar?" Milna mengintip dengan membuka sedikit daun pintu. Kedua matanya melirik sana-sini. Kemudian ia keluar secara perlahan, kemudian berlari kedepan pintu lalu menguncinya rapat.
Drriiiinggg!
"Akh!" Milna terperanjat kaget, ketika mendengar ponsel nya berdering.
"Haih, mengagetkan saja!" Milna meraih ponsel itu dan melihat nama kontak yang tertera di depan layar.
"KโKak Susi ...,"
"Bagaimana ini? Apa aku harus bercerita padanya." Milna kembali menyusut air matanya. Tak menyangka jika sebelum kepulangan dirinya ke tanah air. Ia justru mendapat petaka yang meluluhlantakkan masa depannya.
Oleh-oleh yang menyesakkan. Apa yang harus dibanggakan? Pergi utuh pulang koyak.
'Berhentilah menghubungiku, kak. Nanti aku akan cerita sendiri sama Kakak. Nunggu hatiku tenang dulu ya kak.' batin Milna. Ia membiarkan saja ponsel itu di atas kasurnya.
_______
"Gak diangkat-angkat, Ar. Gimana ini?" keluh Susi, bingung. Semenjak Arjuna menceritakan apa yang di ceritakan Joy padanya. Sejak itulah, Susi tak berhenti menghawatirkan keadaan Milna.
"Jangan paksa dia. Biarkan saja dulu, nanti jika siap dan tenang Milna pasti akan bercerita," ucap Arjuna, seperti biasa. Dirinya selalu bisa menenangkan perasaan istrinya itu.
"Baiklah, aku berharap Milna baik-baik saja. Semoga ia bisa menerima kejadian ini sebagai musibah." Susi berucap dengan penuh harap.
"Kau benar. Semoga saja."
"Oeekk ...!" Terdengar suara tangis baby S dari dalam kamar. Sedangkan pasangan orang tua baru ini. Tengah bercengkerama di balkon. Sengaja Arjuna membuka jendela kaca lebar-lebar.
Kedua orang tua baru itu segera menghampiri. Langsung Arjuna mengangkat baby S dan meletakkan sang bayi ke dalam gendongannya.
__ADS_1
Seketika itu juga,baby S langsung terdiam. Hanya mulutnya saja yang bergerak-gerak lucu.
" Hei, anak Daddy haus ya? "
" Sayang, dia ingin menyusu lagi. Kau lihat itu mulutnya," tunjuk Arjuna seraya tertawa. Karena baby S seakan sedang mengecap sesuatu.
"Padahal, baru saja satu jam yang lalu. Ia minum dari sumbernya." Susi menekan dan meremass dadanya. Takut, jika air susunya belum ada. Tapi, ternyata dadanya sudah mengembang dan bengkak.
"ASI-nya melimpah sekali sayang. Ternyata suplemen nya benar-benar bagus." Arjuna berkata sambil melirik benda yang ada di balik resleting daster istrinya itu.
"Apa liat-liat! Ini punya Satria lho!" ancam Susi dengan gaya meledek. Ia lantas tersenyum simpul melihat ekspresi murung suaminya itu.
"Sini sayang, baby S nya." Susi yang sudah siap, menadahkan tangan agar Arjuna meletakkan putranya kedalam pangkuannya.
" Uhmm ... lahapnya anak daddy. Pinter banget sih? Padahal 'kan gak ada yang ngajarin ya?" heran Arjuna, sehingga pertanyaan polos itu keluar begitu saja dari mulutnya.
"Pinter apa?" tanya Susi dengan mengernyitkan dahi.
"Itu, pinter ngenyot-nya." Celetuk Arjuna. Membuat Susi menyemburkan tawa seketika.
"Hush! Sayang ... baby S nya kaget itu lho!" protes Arjuna. Karena, ketika istrinya tertawa Satria melepas puncak sumber makanannya itu.
"Iya, maaf. Abisnya kamu lucu."
"Bayi enggak di ajarin juga tau 'kan itu mah naluri," jelas Susi.
" Berarti aku juga naluri dong ya?" tanya Arjuna dengan ekspresi penuh arti.
"Naluri apa?" tanya Susi heran.
"Naluri, untuk mencintai kamu selamanya," ucap Arjuna dengan senyum hangatnya.
Susi tersenyum dengan lebarnya. Mood booster banget seorang suami yang menemani istrinya ketika tengah menyusui sang buah hati. Melimpahkan perhatian dan kasih sayangnya. Meskipun hanya sekedar pujian kecil dan rayuan gombal.
_______
"Apa aku masuk lagi aja ya sekarang? Perutku lapar." Gumam Joy yang sejak satu jam lalu berjongkok di depan kamarnya. Ia bahkan tidak masuk ke dalam. Hanya bermain ponsel dan sesekali berjalan mondar-mandir.
"Si tengik itu. Kenapa beli makanan sebanyak ini. Dia pikir aku ini kelincing apa!" Milna hendak bangun dari duduknya, karena dirinya sudah selesai sarapan.
__ADS_1
"Apa aku ketuk aja ya pintunya? Di bukain gak ya?" Joy, sudah berkali-kali melayangkan tangannya, tapi selalu tidak jadi untuk mengetuk.
Bersambung>>>