
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Astaga! Kau membuat bajuku kotor!" pekik Rose seraya mendelikkan matanya kearah pemuda tersebut.
"Bos Walls, anda tidak apa-apa?" tanya seorang pria yang menjadi asisten pemuda yang berambut pirang dengan warna mata ๐ฐ๐ค๐ฆ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ญ๐ถ๐ฆ ๐ช๐ต๐ถ.
"๐'๐ฎ ๐ฐ๐ฌ๐ฆ, ๐๐ช๐ญ๐ญ," ucap Walls tetap tak memindahkan pandangannya pada hasil maha karya sang pemilik semesta di hadapannya.
๐ ๐ฐ๐ถ ๐ข๐ณ๐ฆ ๐ด๐ฐ ๐ฑ๐ณ๐ฆ๐ต๐ต๐บ, ๐ธ๐ฐ๐ฎ๐ข๐ฏ. ๐๐ข๐ช๐ช๐ด, ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ, ๐ฎ๐ข๐ต๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ด๐ข๐ณ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ถ๐ญ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ฌ. ๐๐ช๐ฃ๐ช๐ณ ๐ต๐ช๐ฑ๐ช๐ด ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ช๐ถ๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ. Walls menelan air liurnya sendiri, jakunnya turun naik seiring pikiran liarnya ketika memandangi wajah Rose yang cantik.
"Maaf, Nona. Seharusnya jika mau minum kopi jangan sambil berjalan," ucap Walls tentunya dengan seulas senyum manis memikat sebagai jurus andalannya.
๐๐ข๐ฏ๐ต๐ช๐ฌ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข, ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช ๐จ๐ข๐ญ๐ข๐ฌ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฎ ... ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ช๐ฌ. Batin Walls.
๐๐ข๐ด๐ข๐ณ ๐ฑ๐ณ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ถ๐ฎ! ๐๐ช๐ข ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ-๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ. ๐๐ถ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ซ๐ข๐ณ! Umpat Rose dalam hari. Kemudian Mona menarik tangan Rose mengajak untuk menjauh segera. Karena ia tau jika Rose mulai tersinggung. Akan tetapi Rose tak bergeming.
"Apa itu masalahmu! Kau seharusnya menggunakan matamu saat berjalan!" kilah Rose dengan berapi-api.
"Hei, Nona manis. Horor banget sih! Sejak kapan manusia jalan menggunakan mata? Bukankah seharusnya dengan kaki? Iya 'kan Will?" tampik Walls bahkan ia mengajak Will untuk mendukungnya.
"Itu kan hanya kiasan! Dasar bule mesum!" gemas Rose.
"Hei, atas dasar apa kau memberi julukan itu pada. Aku sangat tersanjung." Walls tersenyum seraya mengedip nakal. Membuat Rose bergidik , sementara Mona menahan tawanya.
"Dasar gila!" Gumam Rose langsung meninggalkan Walls. Ia menggamit tangan Mona kemudian berjalan dengan cepat.
"Terimakasih atas pujiannya Nona cantik! Semoga kita bertemu lagi!" teriak Walls membuat Will menutup wajahnya karena malu akan kelakuan majikannya ini.
"Kita pasti akan bertemu lagi cantik." Gumam Walls sambil melihat punggung Rose yang menghilang di balik tikungan koridor.
"Bagaimana mungkin Bos?" tanya Will heran. Kenalan saja tidak apalagi tukar nomer ponsel. Begitulah kira-kira yang ada dalam pikiran Will Smurf. Asisten dari Walls Diamond. Karena ia butuh anak buah untuk menjalani bisnisnya nanti di negara ini.
"Kau perhatikan ini." Walls menunjukkan layar ponsel canggihnya itu, dimana di sana menunjukkan semacam ๐๐๐. Sebuah pergerakan tengah terbaca dengan jelas.
"Kau tau Will, aku telah menempelkan alat pelacak pada tas nona yang cantik tadi. Jadi, mulai saat ini aku akan memantau pergerakannya. Bahkan aku dapat mendengar apa yang ia bicarakan jika nona tadi mengenakan tas tersebut." Walls menjelaskannya sambil senyum-senyum sendiri. Tatapannya menerawang jauh ke depan.
๐๐ฅ๐ถ๐ฉ๐ฉ, ๐ฃ๐ฐ๐ด ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ข๐ช ๐จ๐ช๐ญ๐ข ๐ญ๐ข๐จ๐ช. ๐๐ข๐ญ๐ฐ ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ญ๐ช๐ข๐ต ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ค๐ข๐ฌ๐ฆ๐ฑ ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ข๐ถ ๐ต๐ข๐ณ๐จ๐ฆ๐ต ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ฏ๐ซ๐ถ๐ต๐ฏ๐บ๐ข ๐ฏ๐ฐ๐ฏ๐ข, ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ญ๐ข๐ฉ! batin Will seraya menggelengkan kepalanya. Karena selama mengikuti Walls selama enam bulan. Will melihat belum sekalipun bosnya itu gagal dalam hal mengejar wanita. Walls meskipun masih muda tapi sudah sangat ahli dan mahir dalam menaklukkan hati wanita.
__ADS_1
"Tenang saja, Will. Nanti temannya akan kuberikan untukmu. Bukankah dia juga cukup seksi," goda Walls pada asistennya itu. Membuat Will sumringah seketika.
_______
"Ar, kau baru saja sampai. Apa kau tidak lelah?" tanya Susi yang semenjak mendengar cerita dari suaminya itu ia menjadi begitu takut Arjuna jauh darinya.
"Sayang, aku hanya ingin menengok anak buah kesayangan. Setelah itu aku akan segera pulang dan menuruti apapun yang kau minta," ucap Arjuna seraya mengecup wajah Susi berkali-kali.
"Aku ikut ya, please ...," rajuk Susi memohon.
"Lalu baby S bagaimana hem?" Arjuna tersenyum geli karena istrinya itu tak mau melepaskan dirinya.
"Sementara biar saja di sini. Kan ada ibu dan adiknya Vanish. Mereka juga bilang mau menginap katanya," jelas Susi.
"Baiklah kalau begitu." Arjuna tersenyum senang. Sekali lagi ia melabuhkan bibir seksinya hingga Susi kesulitan bernapas.
"Kau ini, ingin membunuhku ya!" pekik Susi seraya mendaratkan jurus capit ratu kepiting di pinggang Arjuna.
"Aduuhh enakk ...," goda Arjuna sambil meringis.
"Ada dong, kalau yang mencubit istri sendiri pastilah enak," rayu Arjuna membuat Susi mati gaya.
"Iya deh terserah kamu. Nanti sepulang dari rumah sakit bakal aku cubit sepuasnya!" ancam Susi yang mana justru membuat Arjuna tergelak.
" Aduh aku udah ๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ฐ๐ฐ๐ฌ๐ช๐ฏ๐จ nih," goda Arjuna lagi membuat wajah Susi laksana tomat matang seketika.
"Ih, kok malah kesitu sih pikirannya!" pekik Susi malah salah tingkah macam ๐๐๐.
"Lho, emang iya kan? Ngaku aja deh ๐ฎ๐บ ๐ฒ๐ถ๐ฆ๐ฆ๐ฏ." Arjuna terus menggoda istrinya itu, hingga Susi membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman.
Ciuman yang semakin lama semakin menuntut jauh. Udara di sekitar kamar yang ber-AC itu pun menjadi panas seketika. Arjuna tak luput untuk membalas permainan lidah dari istrinya. ๐๐ช๐ด๐ด ๐๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฉ pun di lakoni keduanya hingga pertukaran saliva itu tak dapat di hindari lagi.
Pasangan suami istri ini yang baru berpisah kurang lebih tiga hari. Sudah begitu tak tahan untuk menumpahkan hasrat kerinduan mereka. Melalui pertautan bibir keduanya, setidaknya sedikit rasa rindu yang menyesakkan dada itu membuncah keluar.
"Sudah ya sayang. Nanti lagi. Karena, kalau ini diteruskan kita bisa gagal menjenguk Joy," ucap Arjuna sambil menyeka bibir istrinya yang basah karena ulahnya. Bibir itu juga sedikit bengkak karena Arjuna terlalu bersemangat tadi.
"Aku sangat merindukanmu Ar. Aku juga teramat senang karena kau telah kembali untuk kami," balas Susi yang kemudian menggenggam jemari Joy yang sedang mengusap bibirnya.
__ADS_1
Susi pun mendekatkan jemari Arjuna ke depan wajah, menempelkannya ke sebelah pipi kemudian mengarahkannya diantara hidung dan bibirnya. Ia mengecup tangan yang baru saja menghabisi nyawa orang itu.
Arjuna bingung dengan apa yang dilakukan oleh Susi. Tak lama kemudian, terlihat buliran kristal bening itu mengalir dari ujung mata istrinya.
"Sayang, kenapa kau menangis?" heran Arjuna yang langsung menangkup pipi Susi dengan kedua telapak tangannya yang besar.
"Berjanjilah Ar. Ini adalah yang terakhir. Berhentilah bertindak main hakim sendiri, apapun alasannya. Aku, aku tidak ingin melihat tangan ini melukai orang lagi," pinta Susi lirih dalam isaknya.
"Sayang, aku ..." Arjuna tidak dapat meneruskan kalimatnya. Ia juga tidak dapat mengiyakan permintaan Susi begitu saja. Meskipun juga terbersit jauh didalam lubuk hatinya. Bahwa, ia juga ingin menghentikan semua.
"Aku akan memikirkan permintaanmu. Sekarang, kita berangkat yuk!" Ajak Arjuna mengalihkan topik pembicaraan yang bertema berat itu.
"Maaf Ar, bukannya aku bermaksud mengatur atau menyalahkan tindakanmu. Aku hanya ...." Suara Susi tiba-tiba tercekat hingga kalimatnya terpotong.
"Aku tau sayang. Aku sangat paham maksudmu. Tenanglah, kau tidak perlu khawatir berlebihan. Aku tidak ingin kau stress dan itu akan mempengaruhi kualitas serta kuantitas ASI-mu," ucap Arjuna mengelus pucuk kepala Susi dengan tatapan hangat penuh cinta.
Susi hanya mengangguk seraya menyeka kedua pipinya yang basah.
_____
"Mana nih abang? Tadi nyuruh aku cepat-cepat datang. Sendirinya malah belum terlihat batang pedangnya, eh hidungnya." Protes Walls entah pada siapa. Bibirnya mengerucut membuat nya terlihat imut. Sementara itu, Milna hanya bisa terkekeh kecil melihat kelakuan ๐ค๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐ฐ๐ท๐ข ๐ฃ๐ข๐ฅ๐ถ๐ฏ๐จ itu.
Joy tiba-tiba bangun lalu terduduk, ia menjulurkan tangannya untuk menarik wajah Milna agar menghadapnya.
"Eh, Joy. Kau sudah bangun rupanya." Sapa Milna dengan senyum termanisnya.
"Jangan melihat pria lain dengan pandangan seperti itu. Apalagi di depanku!" protes Joy. Membuat Milna tersedak udara.
...๐๐๐๐ ๐ฃ๐๐ฉ๐๐จ ๐ฃ๐๐ ๐๐๐๐จ....
^^^๐๐๐ฎ๐ฎ๐ค๐ค๐ค ...๐ฅ๐๐๐ ๐ข๐๐ข๐ฅ๐๐ง ๐ฎ๐ ...๐^^^
๐๐๐ฃ๐๐จ๐ช๐ฃ๐ ๐ฉ๐๐ฅ โค ๐ฃ๐ฎ๐ ๐ฎ๐๐ ...๐ฉ๐๐ฃ๐๐ ๐๐ฎ๐ช๐ช๐ช..
Bersambung>>>
__ADS_1