
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Mendengar jeritan istrinya, Arjuna spontan menghentikan tangisnya. Lalu, ia segera mengajak Susi pergi dari area itu. Menghindari gegap gempita dari tawa pada pedagang cemilan.
๐๐ฏ๐ต๐ถ๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ซ๐ข, ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ญ ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ข๐ช๐ฉ, ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ข๐ญ๐ถ ๐ต๐ถ๐ซ๐ถ๐ฉ ๐ต๐ถ๐ณ๐ถ๐ฏ๐ข๐ฏ. ๐๐ช๐ฌ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ข๐ฏ ๐ข๐ฅ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ฏ๐บ๐ข.
Arjuna membatin, sambil terus menuntun Susi menjauh dari keramaian.
Istrinya ini kenapa menjerit bahwa dirinya kesurupan.
Sementara itu, di balik gerobak kang tahu gejrot. Seorang pria dan wanita tengah asik cekikikan bersama.
" Anda sungguh jahat!" protes wanita mungil di sela tawanya. Ia memukul pelan bahu pria dengan rambut ikal yang di gelung asal.
" Ini, kejadian langka," ucap pria itu dengan senyum simpulnya. Membuat wanita di sebelahnya menatap tanpa kedip.
" Hei, ingat untuk berkedip!" seru pria yang beralis tebal itu. Seraya mengibaskan sebelah tangannya ke depan wajah gadis yang imut itu.
" Ah, iya! Aku selalu lupa untuk berkedip jika sudah memandang mu," godanya pada pria tampan di hadapannya.
"Kenyang deh, tiap hari di gombalin sama kamu." gemasnya seraya mencubit salah satu pipi berlesung itu.
"Ish, sakit. Pak! Lagian, aku serius tauk!" rajuknya, seraya memajukan kedua bibirnya bersamaan.
"Jangan memancingku!" Pria tampan dengan kaus turtle-neck itu, menekan jari telunjuknya ke bibir yang sedang mengerucut di hadapannya.
๐พHayoloo ... mereka siapa tu gais??
"Ar, kenapa jalannya cepat sekali!" protes Susi, karena Arjuna terus menarik tangannya.
"Oh! Sayang, maaf. Aku lupa!" sesalnya, seketika langsung menghentikan langkahnya.
" Apa kau lelah?" tanya Arjuna dengan semburat khawatir di wajahnya.
๐๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ข๐ญ, ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ ๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฉ ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฉ๐ข๐ธ๐ข๐ต๐ช๐ณ. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ด๐ถ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐ข ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ฎ๐ถ ๐ค๐ฆ๐ฑ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ฃ๐ข๐ฉ ,๐๐ณ.
"Tidak, aku baik-baik saja."
"Maaf, tadi ... aku tidak bermaksud ...,"
"Sudahlah, lupakan saja. Aku tidak ingin membahas hal itu," potong Arjuna, dengan seulas senyum yang di paksakan. Sebenarnya, dirinya ingin segera pergi dari tempat itu.
__ADS_1
"Baiklah, kita pulang saja." Susi pun berjalan lebih dulu. Meskipun dirinya masih betah, tapi ia tahu bahwa suaminya itu sudah tidak nyaman.
"Sayang, apa benar kau ingin pulang?" tanya Arjuna, yang menangkap gelagat terpaksa dari Susi.
" Iya, kau sudah tidak nyaman berada di tempat ini. Aku tidak ingin memaksamu," ucap Susi seraya merunduk. Entah kenapa dia enggan beranjak dari tempat ini.
" Ah, tidak begitu sayang. Mari, teruskan bermain sampai kau puas." Arjuna menggenggam tangan Susi lembut kemudian membawa istrinya itu ke tempat permainan. Seketika wajah Susi pun ceria lagi.
"Main yang itu ya, ๐ง๐ณ๐ฆ๐ฆ ๐ง๐ช๐ณ๐ฆ!" tunjuk Susi, pada stand permainan menembak dengan senjata tempur.
"Biar aku yang mainkan, ini bagian laki-laki perkasa," ucap Arjuna seraya membusungkan dadanya.
"Tidak! Aku yang akan bermain!" ketus Susi, lantas ia berjalan melewati suaminya. Merangsek ke depan, lalu membeli tiket.
" Sayang, meskipun ini bohongan tapi 'kan berat juga," larang Arjuna, mencoba mengambil alih senjata itu dari Susi.
"Apanya? Tidak sama sekali!" tanpa menggubris larangan Arjuna, Susi ternyata dapat memainkan game itu dengan apik. Sampai sang pemilik stand dan pengunjung lainnya di buat melongo oleh kepiawaiannya menembak sasaran.
"Ini, Nona. Hadiahnya."
Susi pun tersenyum dengan gembira, hadiah yang sejak kecil selalu diimpikannya kini bisa di dapatkannya dengan mudah.
"Apa kita langsung pulang, atau?" tanya nya pada Susi yang tak dapat di teruskan. Karena langkah wanita di yang berjalan di hadapannya ini, tiba-tiba berhenti. Susi bersorak girang, seakan tengah menatap sesuatu yang menakjubkan.
"Apa!" kaget Arjuna, mendengar hal yang di utarakan oleh istrinya itu.
"Sayang, yang benar saja?" ringisnya, membayangkan tangan kecil istrinya harus beradu kuat dengan pria berbadan besar di sana.
" Aku ingin melakukannya. Keinginan ini begitu kuat, sama, dengan keinginanku ketika hendak menghajar penjambret itu. Ar, ku mohon ...," pinta Susi dengan wajah memelas, juga tangannya terus menarik ujung bawah baju Arjuna.
"Maafkan, aku ... ๐๐บ ๐๐ถ๐ฆ๐ฆ๐ฏ. Tidak lagi, untuk kali ini." Arjuna mengangkat tubuh Susi, menggendongnya ala bridal style.
"Ar! Turunkan aku! Lihatlah, nanti kita bisa jadi tontonan gratis!" pekik Susi, sembari membekap hidungnya. Entah kenapa, tiba- tiba ia mual lagi.
"Kau kenapa?" heran Arjuna. Melihat wajah Susi seperti sedang menahan sesuatu.
"Aku, muโmual." Susi pun membekap hidung serta mulutnya. Perutnya seakan diaduk-aduk. Sepertinya cilor yang baru saja di makannya hendak meledak keluar.
๐๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฌ. ๐๐ณ, ๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฐ๐ฉ๐ฐ๐ฏ ๐ต๐ถ๐ณ๐ถ๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ. ๐๐ข๐ถ ๐ฎ๐ถ, ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ด๐ช๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ถ๐ข๐ญ. ๐๐ข๐ข๐ง๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ, ๐๐ณ.
"Turunkan aku." Susi meronta, memaksa agar segera di turunkan oleh Arjuna. Setelah di turunkan, Susi pun segera menjauh dari suaminya itu. Bahkan, ia menggendong boneka panda raksasanya kedepannya, agar tak melihat wajah Arjuna.
__ADS_1
" Kenapa, kembali seperti semula," lirih Arjuna. Kemudian Susi menghampiri kembali perkumpulan pria berbadan kekar tadi.
" Sayang!" Arjuna memanggil seraya berlari mengejar.
"Cukup! Hentikan kataku! Jangan seperti ini." Arjuna tau-tau sudah mencekal tangan Susi.
"Izinkan aku, Ar. Aku pasti baik-baik saja. Keinginan ini begitu kuat, ku harap kau mengerti." Susi berucap sembari menutupi hidungnya dengan telapak tangannya.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan dirimu terancam bahaya di hadapanku sendiri!" Arjuna benar-benar menolak keinginan tak masuk akal istrinya itu.
"Izinkan aku, atau kita pisah kamar sampai bayi ini lahir! Apa itu maumu!" pekik Susi, dengan mata menatap tajam ke arah Arjuna.
"Kau, kau, memakiku?" Arjuna membekap mulutnya sendiri. Dirinya tak habis pikir, bahwa Susi berani membentaknya demi hal itu.
"Sayang, aku hanya khawatir dengan keadaanmu dan juga calon anak kita. Aku tidak akan sanggup berpisah lebih lama lagi denganmu, tidak akan. Aku ingin menyapa anak kita, sayang." Arjuna menjelaskan maksudnya dengan air mata yang tanpa ia sadari tengah mengucur deras.
๐๐ข๐ช๐ฉ, ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ญ๐ฐ๐ธ ๐ญ๐ข๐จ๐ช. ๐๐ฏ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ญ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ณ๐ซ๐ถ๐ฏ๐ข ๐๐ข๐ต๐ณ๐ช๐ข, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ช๐ด ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฃ๐ฐ๐ค๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ฌ ๐ฏ๐บ๐ข.
"Cukup percaya padaku, bahwa aku bisa mengalahkan pria bertangan besar itu!" tunjuk Susi, pada pria yang mengenakan singlet berwarna biru tua. Dimana, hal itu memperlihatkan otot-otot tangannya yang besar.
" Oh tidak! Sayang, tanganmu bisa patah." Arjuna kembali menyusut air matanya yang tumpah. Ia sangat takut hal buruk terjadi, inginnya marah, tapi yang terjadi malah menangis.
๐พApasih mereka berdua๐๐ง
Apakah Susi dalam mode ngidam yang aneh?
Susi tak menggubris larangan Arjuna, ia tetap maju mendekati arena adu panco tersebut.
"Ayo! Siapa lagi yang akan melawan Baby Hoey?!" tanya sang moderator.
Sementara pria yang di sebutkan namanya, sontak berdiri, lalu menunjukkan otot-otot bisep juga trisepnya.
"Aku!" Susi mengangkat tangannya, membuat Arjuna meluruhkan tubuhnya seketika. Hingga kedua lututnya mencium tanah.
" ๐๐บ ๐๐ถ๐ฆ๐ฆ๐ฏ ...!" panggilnya dengan lirih.
"Maaf, Mbak cantik nan manis. Apa tidak salah?" tanya sang moderator heran. Lalu ia tersenyum, karena mengira jika Susi hanya meledek saja.
" Main, lempar hola-hoop saja, di sebelah sana. Sepertinya, itu lebih cocok untuk wanita imut seperti anda." Sang moderator, tak menggubris tawaran Susi.
"Aku ingin adu panco dengan dia! Apa masalahnya?"
__ADS_1