
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Mau sampai kapan kau mengagumi ku?" sarkas dari seorang pria narsis yang baru saja terjaga dari tidurnya.
Membuat seorang pasien yang sedang bersandar pada kepala brankarnya gelagapan. Buru-buru ia membenahi posisinya.
"Si-siapa ... yang mengagumi siapa? Jangan asal bicara!" tampiknya tak terima. Padahal jelas-jelas dirinya memang tengah memandangi pria, yang ia pikir sedang tertidur pulas itu.
"Ck sudah merugikan orang masih tak mau mengaku," decak pria dengan potongan rambut ๐ค๐ถ๐ต ๐ด๐ฌ๐ช๐ฏ itu.
"Rugi ...? Memangnya apa yang diambil darimu?" gemas gadis itu, terus protes tak terima atas tuduhan dari asisten Arjuna.
๐๐ฆ๐ต๐ต๐ฆ๐ณ ๐ฃ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฉ๐ข๐ต๐ช-๐ฉ๐ข๐ต๐ช ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ฆ๐ฏ๐ต๐ถ ๐ด๐ข๐ซ๐ข, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ช๐ฑ๐ฆ ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ฃ๐ข๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ. ๐ ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ถ๐ญ๐ถ๐ฉ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ต๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ต๐ข ๐ณ๐ข๐บ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ถ๐ต, ๐ฅ๐ฐ๐ฏ ๐ซ๐ถ๐ข๐ฏ.
Pria dengan postur tinggi tegap itu berjalan perlahan mendekati brankar. Dua buah kancing pada kemejanya yang terbuka, menampilkan sedikit dada bidangnya.
Gadis di atas brankar pasien menelan ludah kasar. Melihat bagaimana mata tajam yang disertai senyum nyeleneh itu, berjalan ke arahnya dengan begitu cool.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ต, ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข? ๐๐ช๐ด๐ฉ, ๐ข๐ฑ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ช๐ฌ๐ถ. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฅ๐ช๐ข ...
Gadis tomboi itu gusar di bawah selimutnya, selama ini belum pernah ia merasa tak nyaman ketika berdua dengan lawan jenis.
Asisten pria bernama Joy itu, semakin mendekat ke arah kepala brankar. Tangannya terulur kedepan, hendak menggapai bantal yang di gunakan untuk mengganjal punggung Milna.
Srett ...
Tangan kekarnya menarik sesuatu dari bawah bantal.
__ADS_1
"Lalu ini apa?" tanya nya dengan nada tegas mengintimidasi.
"Tentu saja itu ponselku, memangnya kau mau apa dengan barang milikku?" Milna berusaha tenang meski hatinya jedak-jeduk tak karuan.
"Aku tidak mengalami gegar otak. Jadi aku tau kalau ini adalah sebuah ponsel. Ku rasa, dengan basic serta skill yang kau miliki, dirimu sudah pasti tau maksud dari perkataan ku?" tukas Joy Kinder dengan tatapan tajamnya.
"Tidak ada yang ku lakukan dengan ponselku, selain bermain sosmed untuk mengusir jenuh. Sekarang kembalikan!" pinta Milna berusaha merampas ponselnya dari tangan Joy.
Namun, pria itu sengaja menjauhkannya. Dengan menyembunyikan ponsel itu kebelakang tubuhnya.
"Apa mencuri foto pria tampan yang sedang tidur itu juga salah satu caramu mengusir jenuh?" sindir Joy tepat sasaran. Membuat wajah yang masih agak pucat itu bertambah pasi.
๐๐ช-๐ฅ๐ช๐ข ๐ต๐ข๐ถ? ๐๐ข-๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข? ๐๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฅ๐ถ๐ณ ๐ต๐ข๐ฅ๐ช. ๐๐ข๐ฉ๐ฉ ... ๐ฃ๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ข๐ญ๐ถ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ! ๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ง๐ฐ๐ต๐ฐ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ฆ๐ญ ๐ช๐ต๐ถ.
"Ish, mana ada! Jangan asal tuduh Tuan!" pekiknya berusaha berkilah.
"Kembalikan ponselku! Kau sungguh tidak sopan, merebut barang orang tak berdaya serta menuduhnya yang bukan-bukan."
"Aku sebagai pasien disini, pasti punya hak privasi!" protes Milna.
"Ahh ...," desisnya sambil memegangi kepalanya yang di balut perban.
"Baiklah, ini kukembalikan. Lain kali, ijinlah jika ingin memotret wajah tampanku ini." Joy menyerahkan ponsel itu dengan mimik wajah menyebalkan. Dirinya masih tak terima dengan aksi pemotretan diam-diam.
๐๐ข๐ด๐ข๐ณ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข ๐ฏ๐ข๐ณ๐ด๐ช๐ด! ๐๐ฏ๐ต๐ถ๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ข๐ฌ๐ต๐ช๐ฏ๐จ๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ด๐ช๐ญ, ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ญ๐ฆ๐ต๐ข๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ธ๐ข๐ซ๐ข๐ฉ ๐ช๐ฎ๐ถ๐ต๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช.
"Kalau naksir bilang saja, aku masih sanggup menampung wanita cantik. Meskipun, dia sedikit kelebihan hormon ๐ต๐ฆ๐ด๐ต๐ฐ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ๐ฐ๐ฏ dalam darahnya." Sarkas Joy dengan senyum smirknya.
__ADS_1
"Siapa yang naksir padamu! Cih, pergi sana! Kau membuat kepalaku sakit atas tuduhan tak mendasar darimu itu!" hardik Milna, dirinya tak dapat menahan emosinya lebih lama lagi.
Pria di hadapannya ini benar-benar memojokkannya. Belum pernah seorang Milna merasa terintimidasi seperti saat ini.
๐๐ฌ, ๐จ๐ข๐ฅ๐ช๐ด ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ด๐ถ๐ฅ๐ฏ๐บ๐ข? ๐๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐ต๐ณ๐ฆ๐ต๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฌ๐ถ. ๐๐ช ๐ฃ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฏ๐ข๐ฌ๐ด๐ช๐ณ ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ฏ. ๐๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ, ๐ฃ๐ช๐ญ๐ข ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ค๐ข๐ฎ ๐ฅ๐ช๐ข.
Hei, jangan mengumpat ku seenaknya! Apa kau sedang menyumpahi ku juga!" teriak Milna pada punggung Joy yang perlahan menghilang di balik pintu.
"Wanita itu berisik sekali, suaranya macam gergaji mesin." Gerutu Joy, sambil terus berlalu menyusuri koridor.
_______
Di sebuah restoran yang masih berada di area rumah sakit.
"Sial sekali nasibmu Joy. Semalaman menemaninya, bukan terimakasih yang kau dapat. Tapi, malah pelecehan serta pengusiran. Apa wajah tampan mu sudah tak berguna lagi untuk memikat hati wanita?" gumam Joy. Sambil menunggu pesanannya siap. Sesekali, ia menyeruput kopi yang masih mengepulkan uap panasnya itu.
Dirinya yang memang sengaja duduk dekat jendela, menangkap sepasang manusia yang bergandengan tangan.
"Aih, tuan dan nyonya. Mau apa mereka kesini? Tumben tidak menghubungiku dulu." Gumam Joy, seraya mengambil ponsel dari saku celananya.
"Hisshh ...! Sial!"
"Ponselku tertinggal didalam saku Jas, dan aku meninggalkannya di sofa kamar si cerewet itu. Kenapa kau bisa ceroboh seperti ini, Joy!" makinya pada diri sendiri.
๐๐ข๐ฅ๐ช๐ด ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ญ๐ฆ๐ฏ๐ฌ. ๐๐ฏ๐ช ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ฌ๐ถ. ๐๐ฆ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ต๐ณ๐ข๐ด๐ช ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ...
๐๐ฉ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ๐ญ๐ข๐ฉ.
__ADS_1
Bersambung>>>>