Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Mencuri Diam-Diam.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Mau sampai kapan kau mengagumi ku?" sarkas dari seorang pria narsis yang baru saja terjaga dari tidurnya.


Membuat seorang pasien yang sedang bersandar pada kepala brankarnya gelagapan. Buru-buru ia membenahi posisinya.


"Si-siapa ... yang mengagumi siapa? Jangan asal bicara!" tampiknya tak terima. Padahal jelas-jelas dirinya memang tengah memandangi pria, yang ia pikir sedang tertidur pulas itu.


"Ck sudah merugikan orang masih tak mau mengaku," decak pria dengan potongan rambut ๐˜ค๐˜ถ๐˜ต ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ itu.


"Rugi ...? Memangnya apa yang diambil darimu?" gemas gadis itu, terus protes tak terima atas tuduhan dari asisten Arjuna.


๐˜‰๐˜ฆ๐˜ต๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช-๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜›๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฑ๐˜ฆ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜ณ๐˜ข๐˜บ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ต, ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ.


Pria dengan postur tinggi tegap itu berjalan perlahan mendekati brankar. Dua buah kancing pada kemejanya yang terbuka, menampilkan sedikit dada bidangnya.


Gadis di atas brankar pasien menelan ludah kasar. Melihat bagaimana mata tajam yang disertai senyum nyeleneh itu, berjalan ke arahnya dengan begitu cool.


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข? ๐˜ˆ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ...


Gadis tomboi itu gusar di bawah selimutnya, selama ini belum pernah ia merasa tak nyaman ketika berdua dengan lawan jenis.


Asisten pria bernama Joy itu, semakin mendekat ke arah kepala brankar. Tangannya terulur kedepan, hendak menggapai bantal yang di gunakan untuk mengganjal punggung Milna.


Srett ...


Tangan kekarnya menarik sesuatu dari bawah bantal.

__ADS_1


"Lalu ini apa?" tanya nya dengan nada tegas mengintimidasi.


"Tentu saja itu ponselku, memangnya kau mau apa dengan barang milikku?" Milna berusaha tenang meski hatinya jedak-jeduk tak karuan.


"Aku tidak mengalami gegar otak. Jadi aku tau kalau ini adalah sebuah ponsel. Ku rasa, dengan basic serta skill yang kau miliki, dirimu sudah pasti tau maksud dari perkataan ku?" tukas Joy Kinder dengan tatapan tajamnya.


"Tidak ada yang ku lakukan dengan ponselku, selain bermain sosmed untuk mengusir jenuh. Sekarang kembalikan!" pinta Milna berusaha merampas ponselnya dari tangan Joy.


Namun, pria itu sengaja menjauhkannya. Dengan menyembunyikan ponsel itu kebelakang tubuhnya.


"Apa mencuri foto pria tampan yang sedang tidur itu juga salah satu caramu mengusir jenuh?" sindir Joy tepat sasaran. Membuat wajah yang masih agak pucat itu bertambah pasi.


๐˜‹๐˜ช-๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ? ๐˜‰๐˜ข-๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข? ๐˜’๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฉ ... ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ! ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ.


"Ish, mana ada! Jangan asal tuduh Tuan!" pekiknya berusaha berkilah.


"Kembalikan ponselku! Kau sungguh tidak sopan, merebut barang orang tak berdaya serta menuduhnya yang bukan-bukan."


"Aku sebagai pasien disini, pasti punya hak privasi!" protes Milna.


"Ahh ...," desisnya sambil memegangi kepalanya yang di balut perban.


"Baiklah, ini kukembalikan. Lain kali, ijinlah jika ingin memotret wajah tampanku ini." Joy menyerahkan ponsel itu dengan mimik wajah menyebalkan. Dirinya masih tak terima dengan aksi pemotretan diam-diam.


๐˜‹๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ด! ๐˜œ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ญ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.


"Kalau naksir bilang saja, aku masih sanggup menampung wanita cantik. Meskipun, dia sedikit kelebihan hormon ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฏ dalam darahnya." Sarkas Joy dengan senyum smirknya.

__ADS_1


"Siapa yang naksir padamu! Cih, pergi sana! Kau membuat kepalaku sakit atas tuduhan tak mendasar darimu itu!" hardik Milna, dirinya tak dapat menahan emosinya lebih lama lagi.


Pria di hadapannya ini benar-benar memojokkannya. Belum pernah seorang Milna merasa terintimidasi seperti saat ini.


๐˜Š๐˜ฌ, ๐˜จ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข? ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜‹๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ช๐˜ณ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ถ๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ. ๐˜“๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข.


Hei, jangan mengumpat ku seenaknya! Apa kau sedang menyumpahi ku juga!" teriak Milna pada punggung Joy yang perlahan menghilang di balik pintu.


"Wanita itu berisik sekali, suaranya macam gergaji mesin." Gerutu Joy, sambil terus berlalu menyusuri koridor.


_______


Di sebuah restoran yang masih berada di area rumah sakit.


"Sial sekali nasibmu Joy. Semalaman menemaninya, bukan terimakasih yang kau dapat. Tapi, malah pelecehan serta pengusiran. Apa wajah tampan mu sudah tak berguna lagi untuk memikat hati wanita?" gumam Joy. Sambil menunggu pesanannya siap. Sesekali, ia menyeruput kopi yang masih mengepulkan uap panasnya itu.


Dirinya yang memang sengaja duduk dekat jendela, menangkap sepasang manusia yang bergandengan tangan.


"Aih, tuan dan nyonya. Mau apa mereka kesini? Tumben tidak menghubungiku dulu." Gumam Joy, seraya mengambil ponsel dari saku celananya.


"Hisshh ...! Sial!"


"Ponselku tertinggal didalam saku Jas, dan aku meninggalkannya di sofa kamar si cerewet itu. Kenapa kau bisa ceroboh seperti ini, Joy!" makinya pada diri sendiri.


๐˜Ž๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฌ. ๐˜๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ...


๐˜ˆ๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ.

__ADS_1


Bersambung>>>>


__ADS_2