Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Bab 291. ABPR


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Tiba-tiba terdengar suara daun pintu yang dibuka secara kasar. Berbarengan dengan jatuhnya gelas yang di sodorkan Rose untuk Mona. Untung saja kapsul obatnya telah tertelan.


Sesosok wanita bertubuh sintal dengan perban yang melingkar di pergelangan tangannya. Sorot kedua matanya memandang marah pada kedua wanita di sisi tempat tidur. Di mana keduanya tengah memandanginya dengan awas.


"Saudaraku belum kembali. Seharusnya dia sudah ada di mansion!" bentak La Venda pada kedua orang wanita korban kejahatan seksual Max ini.


"Kami tidak tau Nona. Kami selalu berada di kamar. Sehingga tidak tau kabar dan apa yang terjadi di luar kamar," sahut Rose tenang. Baginya gadis ini tidaklah jahat seperti Max saudara kembarnya. Mereka berdua memiliki tabiat yang berbeda. Akan tetapi jika menyangkut libido keduanya sama-sama tinggi.


Setau Rose, bahkan La Venda rela mengobrak abrik bagian tubuhnya demi mengejar cinta seorang pria. Di mana lelaki itu pernah ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ ๐˜ฏ๐˜ช๐˜จ๐˜ฉ๐˜ต ๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ dengannya di sebuah club.


"Max tidak bisa di hubungi." Seketika raga La Venda luruh ke lantai. Wanita muda itu jatuh terduduk dengan lunglai. Rose berjalan perlahan menghampiri La Venda. Area pribadinya masih terasa ngilu meskipun Rose sudah mengobatinya.


"Max adalah laki-laki yang jahat. Sebaiknya kau relakan saja. Mungkin dia sudah kena batunya," ucap Rose asal. Tentu saja ia kesal. Pria gila itu telah mengoyak segelnya. Hingga ia merasa tersiksa sakit dan perih di area pribadinya lebih dari 24 jam.


Itu semua karena Max melakukannya lebih dari sekali malam itu. Entah berapa kubik sudah benih dari senjata Max yang mengguyur rahim Rose. Kekhawatirannya bukan tanpa alasan, sebab Max menabur di masa subur dirinya.


"Bagaimanapun dia satu-satunya keluargaku, Rose! Kau tak berhak menghakiminya!" teriak Le Venda memaksakan berdiri meski keadaannya masih lemah. Namun, Rose bergeming ia hanya melihat saja bagaimana wanita di hadapannya ini berusaha berdiri. Akan tetapi La Venda terjatuh lagi.


"Sudah ku katakan pada Max agar membawamu ke rumah sakit. Aku sendirian dengan alat yang kurang lengkap, tidak akan bisa memantau penyakitmu," ucap Rose sambil berusaha membantu La Venda dengan memegangi bahunya. Rose dengan tertatih memapah La Venda ke dalam kamar.


Rose memeriksa denyut nadi kembaran Max ini setelah berhasil mendudukkannya di atas tempat tidur. Mona memalingkan wajahnya tak ingin berpapasan tatap dengan La Venda. Dirinya yang sudah bisa duduk meski harus menggunakan bantalan khusus, sengaja menyingkir agak ke sudut.


Bagaimanapun, ia yang sangat membenci Max begitu juga dengan saudara kembarnya. Karena, sekalipun La Venda tidak pernah membela dirinya. Meski perlakuannya selama ini sangat baik pada adik iparnya itu. La Venda memilih cuek dan masa bodoh atas apa yang di lakukan oleh Max.


"Denyut nadi-mu sangatlah lemah. Kau harus di rawat secara intensif di rumah sakit besar," saran Rose, karena wajah La Venda juga kian pucat. Bisa saja kesadaran wanita ini sewaktu-waktu akan hilang. Karenanya Rose bergegas memanggil anak buah Max yang tersisa untuk berjaga di mansion.


"Cepat bawa Nona kalian ke rumah sakit. Aku yang akan menemaninya!" titah Rose lantang pada anak buah Max yang berwajah penuh gambar.


"Bagaimana mau memberi kabar tentang bos Max. Jika Nona sedang sakit seperti ini." Gumam sang anak buah.


"Apa katamu?" tanya Rose yang sengaja menguping gumaman pria tinggi besar itu.


"Bos Max dan yang lainnya telah di serang oleh kelompok yang tak di kenal. Misi mereka berhasil akan tetapi barang curian itu musnah terbakar semua," jawab pria bertato di wajah itu.


"Lalu, bagaimana keadaan Max?" tanya Rose penuh selidik.


"Bos dan anggota yang lain ikut terbakar. Kawan kami tidak bisa terlalu dekat karena polisi telah mengepung tempat tersebut," jelas pria itu lagi.

__ADS_1


Rose tidak menyangka jika pria ini cukup terbuka padanya. Ia jadi tau kabar baik ini. Membuat semangatnya untuk pergi dari tempat terkutuk ini semakin besar. Rose tidak peduli, ia akan memanfaatkan situasi yang ada.


๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข, ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜”๐˜ข๐˜น. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ. batin Rose dengan sebuah senyuman penuh arti, yang tersungging di wajah cantiknya.


"Sudah, aku tidak peduli. Bagus jika pria gila itu sudah mati. Kalian bisa menikmati hartanya bukan!" sarkas Rose membuat senyum miring terbit dari si wajah stiker.


"Ide bagus Bu Dokter yang cantik." Pria itu mengulurkan tangannya hendak mencolek dagu Rose. Akan tetapi dengan cepat dan sigap Rose menepis tangan pria berwajah stiker itu.


"Jangan macam-macam! Cepat bawa Nona kalian!" hardik Rose pada pria di hadapannya beserta anak buah di belakangnya.


"Kenapa galak sekali." Sungutnya seraya melangkah masuk ke dalam kamar. Kemudian ia menggendong raga lemah La Venda untuk segera membawanya dengan mobil jeep.


"Kau juga Mon, kau juga harus mendapat perawatan lebih baik," ajak Rose seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah Mona.


"Aku mengerti, baiklah." Mona mengangguk paham. Apa rencana Rose.


"Bawa sekalian Nyonya kalian! Beliau sakit!" titah Rose lagi. Seraya memasukkan barang-barang penting milik Mona. Hingga satu tas siap di bawa.


"Nampaknya Nyonya baik-baik saja," ucap salah satu anak buah Max menelisik.


"Kau tau apa! Di sini Dokternya aku atau kau!" hardik Rose. Membuat anak buah tersebut ciut nyalinya.


"Aku akan mendaftarkan Nona kalian. Kalian temani dia dulu di ruangan IGD. Sedangkan Nyonyw biar bersamaku saja. Karena gedung kliniknya nanti berbeda," jelas Rose seraya mengambil alih kursi Roda yang di duduki oleh Mona dari tangan sang anak buah Max.


"Baiklah, gunakan ini. Pin-nya tanggal lahir Nona," ucap sang anak buah berwajah penuh stiker itu..


๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ถ๐˜ด! ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฏ-๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. batin Rose seraya memasang senyum penuh arti di wajahnya.


____


"Rose kita mau kemana?" tanya Mona yang memegang pegangan kursi rodanya erat.


"Pertama, kita akan cari taksi dulu. Setelah itu, ke bandara. Kemana tujuannya kita pikirkan nanti. Saat ini yang penting kita kabur saja dulu," jelas Rose sambil melambaikan tangannya di pinggir jalan. Demi menghentikan sedan berwarna biru dengan lambang burung walet itu.


"Bawa kami ke bandara cepat!" titah Rose pada sang pengemudi.


"Rose kau yakin, kita sudah bebas sekarang?" tanya Mona sambil sesekali menengok-kan kepalanya kebelakang. Akan tetapi Rose hanya menjawab dengan sebuah senyuman lebar dan pelukan pada Mona.


Sesampainya di bandara.

__ADS_1


"Kita kemana?" tanya Rose pada Mona.


"Apa kau tidak memiliki rumah untuk pulang Rose?" tanya Mona balik yang segera di jawab dengan gelengan oleh Rose.


"Baiklah, kita sama. Aku juga tidak memiliki rumah saat ini. Karena aku tidak mungkin kembali ke rumah lama. Mereka taunya aku sudah mati ketika aku memilih menikah dengan Max," ucap Mona berkata sendu sembari menundukkan wajahnya.


"Sudahlah, kita juga memiliki modal yang cukup. Aku sudah menarik tunai di tiga tempat. Sementara itu, card-nya aku biarkan tenggelam di ATM terakhir. Aku yakin mereka tidak akan bisa melacak kita," jelas Rose pada Mona yang lebih tua lima tahun darinya.


"Kau pintar Rose!" puji Mona dengan senyumnya. " Kita bisa tinggal bersama dan saling menyayangi sebagai saudari," ucap Mona lagi yang kali ini di sambut dengan pelukan oleh Rose.


"Kita ke kota J!" seru keduanya serempak.


_____


"Kau keren Bang! Aku baru saja tiba di bandara, mungkin beberapa jam lagi akan segera sampai ke rumah sakit, " jelas seorang pemuda berwajah tampan dengan rambutnya yang pirang. Ia berbicara melalui ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต yang melingkar di kepalanya.


"Baiklah, sampai ketemu di rumah sakit ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ!" seru Arjuna di seberang sana.


"Ayo cepat!" seru pemuda tersebut pada asisten yang membawakan barang-barangnya.


Tiba-tiba ...


BRUAGH!


"Aww ...!" pekik seorang wanita yang terpental karena tabrakan dengan pemuda itu.


"Maaf, Noโ€“na." Pemuda itu terkesiap ketika ia hendak membangunkan wanita yang ditabraknya hingga jatuh.


Rose mendongak dengan raut wajah kesal.


Com



COMING SOON NIH GAIS ...!!


IKUT EVEN ...๐Ÿ˜โœŒ


BANTU DUKUNG YA KALO UDAH LAUNCHING ...๐Ÿ˜„

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2