
π₯π₯π₯π₯π₯π₯
Seonggok tubuh polos yang terbungkus selimut, terlihat meregangkan raganya. Tatkala indera pendengarannya menangkap suara dering ponsel berulang kali.
"Ck ... Berisik banget sih!" Wanita 32 tahun itu menyambar benda pipih yang berdering dan bergetar diatas nakas.
"Halo!"
"(.....)"
" Mami ...!"
"(....)"
"Iya, aku baik-baik saja mam."
" Aku tinggal bersama Don Domino sekarang."
"(...)"
"Jangan pikirkan aku mam, aku akan aman selama bersamanya. Aku telah setuju akan bekerja untuknya."
"(....)"
"Ya, kapan-kapan aku akan menemui mu."
Lalu, Daia mematikan sambungan teleponnya.
"Hooaamm ... menganggu saja!" gerutu Daia, kembali menutupi tubuhnya dengan selimut..
__ADS_1
Dirinya baru sadar jika hari ternyata sudah siang, bahkan Don, Domino sudah tidak ada.
(Haish ... Pria tua itu bahkan pergi tanpa membangunkanku.)
Daia tersenyum smirk, " tua, tapi perkasa dan menggairahkan."
"Aku akan betah di sini, persetan dengan perusahaan. Aku tidak mau pusing!" gumam Daia, kembali mendekap guling dan bergulung dengan seprai lembut.
Tak lama kemudian, ponselnya kembali berdering dengan nyaring.
"Ha! Mengganggu sekali!" Daia menekan tombol off itu, membuat ponselnya seketika diam.
" Nah, gini kan enak." Daia kembali hendak melanjutkan tidurnya, sebelum sesuatu kembali berbunyi nyaring dari bagian tengah tubuhnya.
"Uh, aku lapar sekali." keluhnya sambil mengelus perut ratanya.
"Hemm ... Baiklah, saatnya membersihkan diri dan menikmati fasilitas sebagai permaisuri." Daia pun turun, berjalan santai menuju kamar mandi dengan raga indahnya yang tak tertutup oleh apapun.
ππππ
Beberapa dewan direksi memutari meja itu, dengan menduduki kursinya masing.
Sebagian dari mereka terlihat kaget dan saling pandang. Bagaimana bisa, Direktur baru mereka sudah mendapat sambutan begitu keras.
"Siapa yang berani melakukan itu pada Direktur S?" bisik beberapa orang dewan dari divisi berbeda.
"Kami selaku team, pembantu tugas Nona Direktur ... tidak akan tinggal diam, dan kami akan mengusut kasus ini hingga tuntas." jelas Better dengan tatapan dingin dan tajamnya.
" Berani-beraninya, melakukan serangan. Siapa mereka?" bisik salah satu anggota dewan pada Seno.
__ADS_1
Sementara Seno hanya diam dan memasang wajah datar.
" Team kami, cepat atau lambat pasti akan menemukan pelakunya. Belum lagi, yang mengalami luka parah adalah CEO ARSA. Bukankah sudah jelas, bahwa Direktur S adalah calon istri dari pemilik perusahaan besar tersebut."
"Kami berharap sang pelaku menyerahkan diri, atau hukum yang akan bicara dengan adil?" tegas Better lagi, mata tajamnya berkeliling. Hingga, pria itu menangkap gelagat gelisah dari Seno Pradipta.
Better tersenyum miring penuh arti.
"Bagaimana menurut anda, Tuan ... Seno?" tanya Better penuh penekanan.
"Apa maksud anda asisten ... Better." tukas Seno dengan wajah tak senang.
" Meskipun kami terlihat beberapa kali beradu argumen, bukan berarti anda bisa melayangkan praduga itu kepada saya!" sanggah Seno dengan nada yang sudah terbawa emosi.
(Kena kau!) Better tersenyum tipis.
"Saya hanya minta pendapat anda Tuan, karena bisa saja tim penyelidik akan menginterogasi pihak-pihak atau orang yang pernah berhubungan tak baik dengan Direktur." ucap Better lagi. Secara tak langsung telah membuat seluruh tubuh Seno bergetar.
πππππ
"Suster, bisakah kau mencabut selang menyusahkan ini!" titah Arjuna, pada seorang juru rawat wanita yang saat ini tengah memeriksanya.
" Tentu Tuan, karena keadaan tubuh anda telah stabil." Juru rawat wanita itu pun, mulai melepas selang yang menancap di punggung tangan Arjuna.
" Kateter anda pun sudah di lepas kan?" tanya wanita berpakaian serba putih itu.
"Tentu saja." jawab Arjuna membuang wajahnya ke samping.
Pria itu tak mau siapapun melihat perubahan warna di kedua pipinya. Karena ini adalah hal memalukan di mana ketika orang lain melihat dan melakukan sesuatu terhadap pusaka keramatnya.
__ADS_1
(Aku akan membuat siapapun yang melakukan ini menderita dan menanggung malu lebih dari yang kurasakan!) batin Arjuna, sangat kesal.
Bersambung>>>>