Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Senjata Makan Nyonya.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Di sebuah mansion mewah, yang terletak di sebuah pulau terpencil. Dimana, terdaftar sebagai mansion milik miliarder tampan pengusaha barang antik.


"Klan Durex benar-benar habis. Di negara ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ต๐˜ฐ๐˜ณ, agen kiriman Don Domino di bantai oleh pasukan elit komando khusus.


Mereka bekerja sama dengan ahli militer dari negara dengan ikon menara tingginya itu.


" Menurut informan kita, mereka sengaja di jebak. Karena, klan Durex memang telah lama diintai oleh agen pemerintah."


Agen khusus yang bertugas menjadi mata-mata klan Toyobo. Menghadap Erik dengan sebuah kabar yang membuat pria itu tersenyum lebar.


"Serang sisa anak buahnya, paksa mereka menjadi pengikut kita. Atau hanguskan tanpa jejak dan sisa." titah dari ketua klan tersebut, yang tak lain adalah seorang pria matang yang sangat rupawan. Meski auranya kejam dan dingin, tapi tidak mengurangi kadar ketampanannya.


"Mungkin agak memakan waktu, karena mereka berpencar ke pelosok negri," ucap sang informan dengan membungkuk sopan.


"Itu tugasmu, cari mereka sampai ketemu. Biar orang-orangku yang akan menjemput mereka dengan ramah." Erik tersenyum smirk, lalu kembali menghisap cerutunya.


Klan Toyobo tidak seperti mafia sungguhan, mereka memanipulasi dengan usaha legal.


Mengelabui pemerintah bahkan bekerja sama dengan beberapa pengusaha yang terkesan bersih.


Demi melanggengkan klan mereka, setidaknya harus rela berbagi keuntungan untuk memberi upeti pada penguasa.


Dengan begitu wilayah mereka akan aman, di situlah saatnya mereka memanfaatkan kelengahan dari penguasa.


_______


"Membosankan, punya suami tapi tidak bisa berdiri. Aku juga tidak bisa bermain di luar, di karenakan perutku yang semakin membesar.


Apa yang harus kulakukan?" gumam Jelita, yang sedari tadi hanya membolak-balikkan tubuhnya di atas tempat tidur.

__ADS_1


Matanya nanar menatap punggung Seno yang membelakanginya.


"Aku tidak tahan lagi, melihat tubuhmu setiap hari, tapi tidak bisa menikmatinya." Akhirnya, Jelita pun turun dari kasur dan masuk kedalam ๐˜ธ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต.


Tak lama kemudian, wanita hamil itu keluar dengan dress selutut. Meski berbadan dua, ia tetaplah cantik dan menggoda.


Bahkan, beberapa bagian tubuhnya lebih menonjol sekarang.


"Aku yakin, masih banyak pria tampan nan perkasa di luar sana.


Mereka pasti menjadi partnerku malam ini." Gumam Jelita, sambil memandang kagum pada pantulan dirinya di cermin.


"Aihh, secantik ini ... tapi dianggurin. Jadi, bukan salahku dong kalau mencari pelampiasan diluar sana." Jelita tersenyum remeh, pada raga lemah yang tengah tertidur pulas.


Wanita itu melangkah anggun keluar dari kamar mewah bersama Seno. Pria yang tengah tertidur itu, membuka matanya perlahan-lahan.


Lalu ia bangun dan menyenderkan tubuhnya. Kedua matanya nanar menatap langit-langit kamar.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜š๐˜ถ๐˜ด๐˜ช. ๐˜›๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข? ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜‹๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ.


๐˜‘๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ข, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช.


Terlambat, mungkin bisa di katakan seperti itu. Kesadaran di akhir mengakibatkan penyesalan terdalam.


Namun, semua tidak akan bisa memutar balikkan keadaan. Kau hanya bisa merenunginya sebagai titik balik kisah.


Hanya manusia berhati besarlah, yang mampu mengakui kesalahan lalu meminta maaf.


Meski semua tidak akan merubah kenyataan, dan tidak akan mengubah posisimu. Setidaknya, semua itu membuat hidupmu lebih tenang.


_____

__ADS_1


Brakk!


Sontak Jelita menoleh ke asal suara. Dimana nampak sosok wanita paruh baya, dengan piyama tidurnya, duduk di atas sofa. Easy, baru saja menggebrak meja di hadapannya.


"Mau kemana kau istri tak tau diri!" Easy pun berdiri, lalu menghampiri Jelita dengan berkacak pinggang.


"Mau kemana aja boleh, mami mertua kenapa kepo?" sarkas Jelita, yang kemudian terkekeh dengan kencang.


"Ka-kau, menantu sialan!" maki Easy naik pitam.


" Setidaknya, aku ini menantu mu. Terimakasih, karena sudah mengakui ku, meski aku tak butuh itu." Lalu Jelita meninggalkan Easy yang tengah megap-megap sesak napas.


Sebelum menutup pintu, Jelita menyempatkan diri berbalik untuk meledek mertuanya.


"Makanya, kalau udah penyakitan itu ... jangan emosian. Nanti kalau anfal emang nya siap? Meski cepat atau lambat, anakku yang akan menguasai semuanya.


Jelita mengedarkan matanya memberi kode, yang semakin membuat Easy kesal setengah mati.


Wanita paruh baya itu pun berusaha mengontrol napasnya yang sesak.


"Jaga umurmu baik-baik mam, aku bukan menantu jahat yang akan meracuni mu secara perlahan. Dengan cara mengganti obat untuk jantungmu ..., upss!" Jelita membungkam mulutnya sesaat, lalu tergelak.


Brakk!


Suara pintu di tutup kasar.


"Wanita iblis!" Easy mencengkeram erat dadanya yang nyeri. Pantas saja, penyakitnya semakin lama semakin parah saja.


"Apa siluman rubah itu, benar-benar mengganti obat ku?"


๐ŸพPeliharaan mu gigit ya?

__ADS_1


Lagi, gerandong di piara๐Ÿ˜


Bersambung>>>>>


__ADS_2