
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Aku tidak akan melepas mu!"
"Aku akan segera menyusul mu, setelah urusanku dengan papi selesai." Better menutupi Vanish dengan selimut hingga sebatas leher. Kemudian, ia melabuhkan ciuman pada kening gadis itu dengan cepat. Takut, jika ia benar-benar tak mampu melawan gelora yang hampir meledak itu.
Segera, Better keluar dari kamarnya. " Kunci kamar ini dari dalam. Bagaimana pun, aku ini lelaki normal. Kau, tidak bisa mempercayaiku sepenuhnya," pesan Better, sebelum pria itu menutup pintu kamar.
๐พTakut ada saiton lewat ya bang, terus kamu kerasukan๐, setuju deh! Nis, kunci Nis! Jangan lupa kunci kamar!
Sekarang giliran Better yang mengguyur tubuhnya di bawah shower. Aliran air dingin membasahinya, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Berusaha meredam rasa panas yang menjalar kesetiap sendi.
Hasrat atau gelora, yang entah sudah berapa lama tak pernah ia rasakan. Kini, kembali menyiksa jasmani serta rohaninya. Agak lama, Better membiarkan air dingin itu mengguyur tubuhnya, demi meredakan hawa panas yang seakan hampir meledakkan akal sehatnya.
"Huft, aku jadi kedinginan." monolog Better, sembari menggulung dirinya dengan selimut tebal.
"Hatchiiww!" Better menyeka hidungnya yang berair. Tubuhnya sedikit bergetar. Ia semakin merapatkan selimut hingga menutupi seluruh wajahnya. Saat ini, ia bagaikan ulat yang menjadi kepompong.
๐๐ข๐ฏ๐ข๐ด ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐จ๐ข๐ฏ๐ต๐ช ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ฌ๐ถ, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด. ๐๐ช๐ฌ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ถ๐ณ ๐ด๐ข๐ฎ๐ฃ๐ช๐ญ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฑ๐ข-๐ข๐ฑ๐ข ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ?
Better bangun, dan beranjak dari sofa. Melangkah mendekati kamarnya. Namun, ketika ia hendak memutar knop pada pintu,
"Sial! Pintunya di kunci dari dalam!" Better, mengumpat di depan pintu kamarnya sendiri.
"Hatchiiwww!!" Lagi-lagi, dirinya bersin. Matanya juga mulai berat menahan kantuk, ia pun pasrah kembali lagi ke sofa. Lalu, bergelung rapat di dalam selimut.
Sementara itu, di dalam kamar di atas kasur yang nyaman. Gadis mungil itu tertidur pulas dengan keadaan mulut menganga. Bahkan, bantal bukanlah ia gunakan untuk alas kepala melainkan alas kakinya. Selain seprai yang kusut, selimut juga sudah berserakan di atas lantai.
๐พUntung aja pacar ganteng kagak liat kelakuan mu, Nis. ๐คฃ
Kamar yang tadinya rapih sekarang macam kapal pecah karena ulah perawan laksak.๐
__________
"Sebelum pulang, mendingan Ninis masak sarapan dulu deh. Kasian juga pacar, semaleman ngurusin aku. Mana tidurnya di sofa, pasti pada pegel deh badannya." Vanish bergumam sendiri, sambil memandangi sosok pria yang masih bergelung di dalam selimutnya.
" Masak apa ya." Vanish membuka kulkas, seketika matanya membola kala melihat isinya.
"Wah, komplit sekali. Sepertinya, pacar ganteng memang suka memasak." pujinya, ketika ia melihat isi kulkas yang penuh dengan bahan masakan. Bahkan, ada sisa daging giling yang sudah di pakai.
__ADS_1
Vanish pun mengeluarkan beberapa potong ayam, lalu merendamnya agar kembali pada suhu ruang. Setelahnya, gadis itu mencari beras. Karena ia memutuskan untuk memasak nasi terlebih dulu.
Mendengar suara orang sibuk di dapurnya, Better pun terbangun. Setelah mencuci wajahnya, Better menghampiri asal suara ribut itu.
๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐จ๐ช ๐ข๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ช๐ฏ๐ช! ๐๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ค๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฑ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ฌ๐ด๐ข ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ญ๐ข๐จ๐ช.
Better mengusap wajahnya, bagaimana tidak jika pagi-pagi saja dirinya sudah di suguhi pemandangan indah. Melihat gadis mungil yang tengah membelakanginya itu, bergerak dengan luwes. Kesana-kesini, dengan kaki jenjangnya yang terekspos. Serta kemeja yang sedikit miring, hingga menampilkan bahu mulus Vanish. Manakala gadis itu hanya menguncir rambut panjangnya asal.
Sungguh, penampilan berantakan Vanish justru terlihat seksi dan menggoda di mata Better. Membuat geloranya kembali bergejolak. Hingga, mendorong kakinya untuk melangkah mendekat.
"Sibuk banget sih, masih pagi begini!" Better yang sudah berada di belakang Vanish, mengulurkan kedua tangannya untuk menyusup ke depan perut ramping gadis mungilnya itu.
"Akh! Pacar!" pekik Vanish yang kaget. Seketika matanya pun ikut membola, ketika kekasihnya itu, mendekap erat dari belakang. Bahkan, Better mengecupi bahu serta tengkuknya.
"Paโpacar, Ninis lagi masak buat sarapan kita. Biโbisa lepas dulu gak? nanti goโgosong ayam bakarnya," ucap Vanish, tergagap. Ia merasa aneh dengan perlakuan Better, yang mana membuat sekujur tubuhnya meremang.
Vanish segera mematikan kompor, lalu memindahkan ayam bakar ke dalam piring, berusaha abai dengan sentuhan lembut yang dilabuh kan Better pada bahunya.
"Pacar, sarapannya sudah siap. Kita makan dulu ya." pinta Vanish, yang tak di jawab oleh Better. Karena, dirinya tengah sibuk menikmati bau tubuh gadis di dalam pelukannya ini.
"Aโaku tuh, belum ganti baju. Maโmasih bau." Vanish berusaha meronta, ia mulai merasa tak nyaman. Ia merasakan, ada sesuatu yang tak beres dengan Better.
"Paโpacar. Sepertinya ini tidak baik." Vanish berusaha melepaskan tangan Better yang merangkulnya. Bahkan, sepertinya, tangan pria itu sengaja semakin ke atas. Vanish mulai takut, kaki terasa gemetar.
"Kau sangat menggoda, aku tidak tahan lagi." Better benar-benar menekan tangannya, pada dua bongkahan bukit yang membuatnya penasaran sejak semalam. Tanpa sadar, hal tiba-tiba itu membuat Vanish mengeluarkan desah seksinya. Buru-buru ia membekap mulutnya sendiri.
Mendengar respon dari suara Vanish, semakin membuat gelora Better naik ke ubun-ubun. Lantas, pria itu membalik tubuh Vanish seketika, hingga kini mereka menjadi saling berhadapan.
Ternyata, dari depan Vanish lebih menantang. Pakaiannya yang telah berantakan karena ulah dirinya barusan, dengan beberapa kancing yang terbuka, menampilkan pemandangan dari belahan bukit kembarnya. Menyadari pandangan sang kekasih yang berkabut. Vanish memegangi erat depan kemejanya.
Mendengar napas Better yang memburu dengan tatapan lapar, membuat hatinya seketika gamang. Meskipun, sentuhan Better begitu ia inginkan. Namun, Vanish sadar, jika ini bukan waktu yang tepat untuk mereka. Ia harus bisa menjaga diri dan juga menyadarkan kekasihnya segera.
"Pacar." Vanish menahan dada Better yang semakin maju menempel pada tubuhnya.
"Kita,"
" Emmpphh!!" Seketika mata Vanish terbelalak lebar, tatkala bibirnya tak lagi suci. Better telah merampas ciuman pertamanya tanpa izin, serta kasar.
Vanish berusaha berontak, dari dekapan erat Better. Pria ini sudah di kuasai oleh napsu yang menutupi akal sehatnya. Vanish sadari itu, karenanya ia berusaha menghentikan semuanya. Selagi dirinya masih dilingkupi kewarasan.
__ADS_1
Apalagi ketika tangan Better mulai naik ke atas tubuhnya untuk menjamah bukit perawan nya. Sekuat tenaga, Vanish menahan tangan kekar itu. Dirinya yang kecil mungil hampir kalah tenaga. Hingga, akhirnya sang kekasih berhasil menguasai dirinya sepenuhnya.
Vanish, ikut terbawa arus pagi itu. Ia yang memang mencintai Better sepenuh hati, bahkan begitu mengagumi apapun yang ada pada diri pria itu. Sudah terbuai dengan sesapan serta remasan di beberapa bagian tubuhnya.
Vanish, mulai menikmati permainan Better, hingga dirinya ikut menimpali pertautan panas dari bibir keduanya. Mereka terus melakukan ciuman panas itu, tanpa terasa keduanya kini telah berada di atas sofa. Dengan posisi Better yang mengungkung tubuhnya, Vanish hampir di kuasai oleh Better, sampai pada saat Better hendak menyusupkan tangannya kedalam pakaian Vanish, terdengar dering nyaring dari suara ponsel.
Seketika mereka tersadar, lalu buru-buru melepaskan tautan yang tengah membara itu.
"Maaf, aku tidak bisa menguasai diriku. Aku angkat telepon dulu." Better meninggalkan Vanish termangu di atas sofa. Setelah sadar, segera ia merapikan keadaannya yang berantakan
๐๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ณ ๐ด๐ข๐ซ๐ข! ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฌ๐ถ๐ต๐ช ๐ข๐ญ๐ถ๐ณ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ข๐ช๐ฏ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ถ! ๐๐ข๐ถ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฎ๐ถ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐บ๐ข!
Vanish, sangat menyesali perbuatannya barusan. Hampir saja ia terbawa situasi . Ia pun kembali ke dapur, lalu menata makanan di atas meja.
"Baik, Papi. Aku akan segera pulang setelah mengantar kawanku ke stasiun."
"Perusahaan, bisa dihandle oleh beberapa anak buah kepercayaan ku. Lagipula, aku hanya meninggalkannya selama dua hari saja bukan?"
"Baik." Kemudian Better pun mengakhiri panggilannya.
"Fiuuhhh ...!" Pria itu menghembuskan napas kasar.
"Untung saja, ponsel ini berdering. Jika tidak, aku pasti sudah memakan gadisku sendiri." Better mengusap kasar wajahnya. Ia menyesali dirinya yang tak mampu mengendalikan keinginan dari nalurinya.
________
"Maafkan aku, atas kejadian tadi pagi. Sungguh, aku tidak bermaksud ...." Better tidak lagi meneruskan kata-katanya, karena Vanish meletakkan jari telunjuk ke depan bibirnya.
"Aku juga salah, semua tidak sepenuhnya salah mu. Untung saja semua tidak terjadi. Sepertinya, kita harus berterima kasih pada papimu," ucap Vanish mencoba tersenyum. Meski harus ia paksakan, karena jujur saja, hatinya sangat sedih saat ini.
"Entahlah, aku harus berterima kasih atau tidak padanya. Secara tidak langsung, ia juga yang membuat kita terpisah," lirih Better. Lagi, apakah ia harus kehilangan lagi. Ketika ia baru saja menyadari perasaannya.
"Sampai di sini ya, cukup sampai di sini saja ternyata," keluh Vanish meratapi nasib percintaannya.
"Jangan begitu." Better merengkuh tubuh Vanish, tak peduli pandangan aneh dari orang-orang di sekitar mereka. Dimana kini keduanya berada di tempat umum, yaitu stasiun.
"Tunggu kabar dariku, aku hanya perlu menemui gadis pilihan papi sekali. Aku masih bisa menolak perjodohan ini," bisik Better lirih.
Bersambung>>>>
__ADS_1