Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Zombie ....


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Jelita terduduk lunglai di atas kursi roda, matanya nanar menatap undukan tanah basah. Dimana di sana telah dimakamkan, jasad anak lelakinya.


Keadaan cuaca yang teduh seakan ikut meratapi kepergian asa dan mimpinya itu. Di mana kekayaan dan jaminan masa tua yang jaya kini telah di sirna. Terempas oleh angkara gairah yang menggebu napsu.


Kini, semua angan-angan itu buyar tertiup angin penyesalan. Hanya mampu berandai-andai, bila saja waktu dapat di putar ulang.


Belum lagi, vonis Dokter beberapa hari yang lalu. Membuat dunianya seakan runtuh menimpa kepalanya. Semua terasa gelap, Jelita pun kembali pingsan di atas kursi rodanya.


"Merepotkan sekali, selalu saja pingsan." Gerutu Easy, sambil mendorong kursi roda itu menuju ambulance.


Karena memang pihak rumah sakit menunggui Jelita, yang akan menjalani proses kemoterapi setelah ini.


"Seno, Mami lelah. Tidak mau ikut kerumah sakit, mau pulang saja," rengek Easy, yang malas sekali bila harus menemani proses pengobatan Jelita.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข-๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช. ๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ.


"Mari kita pulang," ajak Seno.


"Kau, tidak menemani istrimu?" heran Easy.


"Biar saja, tidak ada gunanya. Biar dia rasakan apa yang selama ini aku rasakan ketika ia abai padaku," jelas Seno.


______


"Aku tidak mau minum obat!!"


Praangg!!


Nampan berisi gelas dan obat-obatan berserakan di lantai. Lagi-lagi, Jelita menolak untuk minum obat.


"Buang obat-obatan sialan itu!" jerit Jelita, pada perawat yang hendak memberi obat padanya.

__ADS_1


"Bagaimana ini, pasien menolak obat lagi," ucapnya pelan pada kawan sejawatnya.


"Ini, bahkan sudah kesekian kalinya. Kesehatan semakin memburuk, karena sel kanker itu semakin menyebar," ucap perawat itu, menatap iba sekaligus geram pada Jelita.


"Kalian lihat ini, lihat! Rambutku yang bagus jadi rusak dan rontok. Kulitku juga kusam dan kering!" Jelita menunjuk satu persatu bagian tubuhnya, dengan raut wajah penuh emosi.


"Kalian tahu,tidak! Berapa banyak aku menghabiskan uang dan juga waktuku, untuk mendapatkan kecantikan paripurna ini?!" Lalu Jelita tertawa miris. Ketika dirinya melihat pantulan wajahnya dari cermin didalam genggamannya.


Sementara, para perawat itu saling menatap satu sama lain dan bergidik. Setelahnya mereka pergi, keluar dari kamar rawat inap kelas 1 tersebut.


________


"Halo, Tuan Seno."


"Saya, adalah Dokter yang menangani istri anda."


"Selama beberapa hari ini, nyonya Jelita menolak obat dan kemoterapi. Sementara, keadaannya semakin memburuk."


"Bisakah, anda kesini dan membujuknya. Karena, dukungan keluarga terdekat sangat berarti bagi kesembuhan pasien." Jelas Dokter itu, panjang kali lebar.


"Menyusahkan!"


" Sudah sakit parah, masih tidak tau diri!"


"Apa dia tidak tau, berapa banyak uang yang harus kukeluarkan untuk pengobatannya!" Seno, memijat pelipisnya. Kepalanya akhir-akhir ini sering sakit karena mengurusi Jelita.


"Rich, keruangan ku sekarang!" ucapnya melalui interkom di mejanya.


"Permisi, Tuan."


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rich sang asisten, dingin.


" Pergilah kerumah sakit, bawa istriku pulang. Jangan lupa, selesaikan seluruh administrasinya." Titah Seno, kemudian ia merebahkan bahu di kepala kursinya itu.

__ADS_1


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ช ๐˜‘๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ!


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข? ๐˜“๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข, ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜‹๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜ ๐˜ข ... ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข.


Seno, pun menelepon kuasa hukumnya ketika menceraikan Susi dulu. Lalu ia menceritakan apa yang ia inginkan kali ini.


"Baik, bang. Saya akan mengirimkan berkas- berkasnya segera.Berikut, gugatannya." Kata Seno. Dibalik layar ponselnya, yang ia tempelkan di antara pipi dan telinganya.


" Gugatan saya kali ini ... perselingkuhan, hingga membunuh calon bayi saya, bang." Jelas Seno, dengan yakin. Ia telah menemukan senjata untuk menyingkirkan Jelita dari hidupnya.


_________


"Maaf, Dokter. Ini perintah dari suami pasien. Karena percuma di rawat bila pasien sendiri tidak ingin diobati." Rich mencoba mengajukan permohonan rawat jalan bagi Jelita.


"Mungkin, pihak keluarga ingin agar pasien mencoba pengobatan secara herbal," ucap Rich, berusaha memberi alasan. Apapun, yang penting istri bosnya itu keluar dari rumah sakit.


"Baiklah, jika itu keinginan dari keluarga pasien. Asal anda tau saja, kami pihak dari rumah sakit telah lepas tangan."


" Sejak pasien keluar dari rumah sakit ini. Kami, tidak bertanggung jawab lagi, jika kedepannya terjadi sesuatu pada pasien." Begitulah, pesan dan kesan dari Dokter yang menangani penyakit Jelita.


Rich hanya menunduk tanpa mengeluarkan kata-kata ataupun kalimat sanggahan lain.


"Jadi, Seno ingin aku pulang?" tanya Jelita, dengan wajah senang. Meskipun wajah itu tampak tirus dan pucat, tetap masih menyisakan sisi cantiknya.


" Benar, Nyonya. Mungkin, lebih baik anda bersenang-senang di luar," jawab Rich, mengarang bebas. Yang penting urusannya beres bukan.


"Kau benar, aku sudah rindu sekali ingin memanjakan diriku di salon." Jelita pun bersiap, sementara itu Rich menyelesaikan administrasinya.


" Salon dan mall ... aku datang!" jerit Jelita ketika mereka telah berada di luar rumah sakit.


"Aku merasa sehat dan baik-baik saja, Rich!" pekiknya pada asisten pribadi suaminya itu.


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ-๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข. ๐˜ž๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜ป๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฆ.

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2