
🔥🔥🔥🔥
" Tenanglah, aku tidak akan tinggal diam dan akan kucari siapa pelakunya. Aku telah mengerahkan tim untuk mencari tahu siapa saja yang sudah masuk ke dalam ruangan peralatan snorkeling. Percayalah, jika uang sudah berbicara maka semua urusan pasti akan beres." Joy berkata dengan seringai sadisnya.
"Awas saja jika sudah tertangkap, aku tidak akan melepaskan orang itu!" geram Milna masih dengan kedua tangannya yang mengepal di atas meja.
"Jaga emosimu, ingatlah bayi kita. Jika kau risau mereka juga tidak akan tenang di dalam sana. Pegang janjiku! Aku tidak akan membiarkan para pengganggu itu melenggang dengan bebas dalam waktu yang lama." Joy berkata dengan kedua mata yang berkilat penuh amarah.
Sangat disayangkan bahwa wanita misterius itu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa saat ini. Tak lama kemudian seorang pramusaji membawakan makanan dan minuman yang dipesan oleh pasangan suami istri ini."
"Nah, minumlah. Agar kepala dan juga hatimu mendingin." Joy menyodorkan gelas berisi minuman dingin ke hadapan Milna.
"Aku tidak jadi minum orange jusnya. Aku mau minumanmu saja!" Tanpa menunggu persetujuan, Milna langsung saja mengambil minuman pesanan milik Joy.
"Ambilah aku bisa pesan lagi. Sekarang kau jangan terlalu banyak berpikir, serahkan semua ini padaku. Mulai sekarang kita harus lebih berhati-hati dan waspada. Karena ternyata ada orang jahat yang tengah menguntit kita," tutur Joy serius.
" Joy Kenapa pramusaji tadi terus melihat ke arah kita?" heran Milna Bahkan ia menghentikan gerakan tangannya yang sudah hampir mendekatkan gelas itu di depan bibirnya. seketika Joy menoleh ke arah yang dilihat oleh Milna.
Merasa sudah ketahuan, pramusaji tersebut segera berlalu dengan cepat ke belakang Resto. Justru gerak-geriknya itu menimbulkan kecurigaan yang nyata bagi Joy dan Milna.
"Pasti ada yang tidak beres dengan makanan atau minumannya. Kau tunggu di sini jangan sentuh apapun sebelum aku kembali." pesan Joy kemudian pria itu berdiri dan segera berlalu mengikuti arah ke mana sang pramusaji pergi.
"Adududuh, semoga saja aku tidak ketahuan. Aku kan sudah menerima upahnya. Dengan uang segini banyak aku bisa Healing. Aku tidak peduli obat apa yang tadi diberikan oleh wanita cantik itu. Bukan urusanku juga." Gumam wanita yang tengah mendekap nampan di dadanya.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus segera pergi dari sini. Minta izin dulu saja deh sama kepala manajer. Bilang saja kalau aku sakit perut atau kepalaku pusing hihihi." Sang pramusaji tersebut terkikik menertawai rencananya sendiri.
Ketika dirinya hendak melangkah keluar dari loker tempat berganti baju, saat itu juga ada seseorang yang menarik tangannya. Kemudian cengkraman itu berpindah ke lehernya. Sehingga membuat tubuhnya kecil terdorong dengan keras ke dinding.
"Katakan apa yang telah kau letakkan dalam makanan dan minuman yang kami pesan. Siapa yang telah menyuruhmu melakukan itu." Joy mengendurkan cengkraman pada leher wanita tersebut agar ia dapat menjawab pertanyaannya. Pramusaji itu gemetar hebat wajahnya langsung pucat pasi. Bagaimana tidak wajah pria dihadapannya ini sangatlah sangar dan bengis. Meskipun tampan tetapi aura kekejamannya begitu kentara. Membuat pramusaji tersebut tanpa sadar mengeluarkan air seninya di celana. Seumur hidupnya ia belum pernah mendapatkan ancaman seperti ini.
"Ma–Maaf Tuan. A–aku tidak tahu, hanya saja tadi ...," Sang pramusaji itu tidak dapat meneruskan kata-katanya, lidahnya seakan kaku untuk mengucapkan kalimat. Bahkan dia sekarang menutup kedua matanya agar tidak dapat melihat wajah bengis Joy.
Joy kembali mengencangkan cengkraman pada leher pramusaji tersebut. Membuat wajah wanita kurus itu semakin pucat.
"Katakan dengan jelas! Siapa yang telah menyuruhmu mencelakai kami!" Mendapat bentakan serta gerakan seperti ini membuat wanita itu menangis.
"Aku tidak tau Tuan. Aku tidak kenal siapa dia. Tiba-tiba saja ada wanita cantik yang datang menghampiriku. Lalu memberikan uang yang lumayan banyak kepadaku. Ia memerintahkan ku untuk memasukkan entah itu serbuk apa ke dalam minuman yang kalian pesan. Sungguh hanya itu, selebihnya aku tidak tahu lagi. Kumohon jangan bunuh aku ... tolong lepaskanlah aku tuan," jelas pramusaji itu panjang lebar dengan wajah memelas dan sambil terisak.
"Aku akan melepaskan mu, asalkan kau bisa bekerja sama dengan baik. Wanita yang menyuruhmu pasti masih berada di sekitar sini. Keluarlah dan temui dia! Katakan jika rencana mu sudah berhasil!" titah Joy membuat sang pramusaji mengangguk dengan cepat. Bukan hanya kedua kaki yang basah oleh air seninya sendiri. Akan tetapi wajah wanita itu juga sudah basah karena berlinang air mata.
"Lain kali berpikirlah bila ingin melakukan kejahatan. Karena bila berhadapan dengan orang lain kau pasti sudah tinggal nama saat ini." Joy pun mendorong tubuh pramusaji itu keluar dari loker.
Wanita itu berusaha berdiri meski dengan gemetar, bagaimanapun posisinya saat ini serba salah. Akan tetapi wajah pria yang mencekiknya tadi lebih menakutkan ketimbang wanita yang telah menyuruhnya meracuni pelanggan.
" Aduh biyung kenapa jadi begini? Bagaimana nasibku ke depan? Apakah aku akan mati atau cacat?" Gumam pramusaji itu sambil melangkah dengan gontai. Ia berjalan ke arah terakhir kali melihat wanita misterius yang menyuruhnya itu.
Untung saja wanita misterius yang berpakaian sangat seksi itu belum pergi jauh dari sana. Ternyata ia masih memantau bagaimana kelanjutan dari aksi pramusaji yang telah dibayarnya. Saat ini dirinya tengah menunggu buruannya keluar dari Resto.
__ADS_1
"Bagaimana, apa kau sudah menjalankan perintahku dengan baik?" tanyanya pada pramusaji yang berjalan lemas ke arahnya. Bahkan tubuh wanita itu terlihat gemetar dan sedikit terisak.
"Maafkan aku. Aku sudah berhasil mengantarkan minumannya dan hampir saja diminum. Akan tetapi aku ... aku mohon lepaskan aku Nona. Aku hanya...," sang pramusaji itu tidak dapat meneruskan kata-katanya karena seorang pria dengan postur gagah dan maskulin keluar dari balik pintu.
"Jadi semua ini adalah ulah mu Miranda!" suara Bariton Joy mengagetkan seluruh sendi dan tulang Miranda. Membuat wanita itu terperanjat dan langsung berpegangan pada pagar besi. Ia segera menopang tubuhnya agar tidak limbung ke belakang.
Betapa kaget dirinya bahwasanya aksinya telah ketahuan oleh sang korban. "Joy kau! Bagaimana bisa? Aku hanya, sungguh aku tidak bermaksud," kilah Miranda dengan terbata-bata. Wanita seksi itu merasakan tubuhnya gemetar dengan begitu hebatnya. Merasakan aura kejam di sekitar Joy yang belum pernah disaksikannya selama ini.
"Kalian! Bawa kedua wanita ini ke tempat yang sudah kusiapkan!" Joy memberi perintah kepada beberapa pria yang keluar dari belakang tubuhnya. "Baik Tuan laksanakan!" jawab tegas salah satu pria berpakaian serba hitam tersebut.
'Bagus saja aku langsung gerak cepat. Menyewa para pengawal ini setelah mengetahui bahwa Milna tengah diincar oleh seseorang. Aku tidak peduli berapa banyak uang yang harus ku keluarkan. Semua aku lakukan demi keselamatan dan kenyamanan istri dan juga anak-anakku. Kau Miranda, tunggu pembalasanku nanti! Kau salah telah bermain-main dengan seorang Joy.' batin Joy memendam kesal. Seraya menyiapkan sebuah rencana untuk memberikan ganjaran pada expartner yang telah menjadi penguntit nya.
Bahkan Miranda telah merencanakan pembunuhan kepada Milna. Karena jika bukan Milna yang mendapatkan alat snorkeling yang rusak itu, mungkin sudah tiada karena kehabisan nafas dan panik.
"Joy ... Joy kumohon lepaskan aku Joy! Ingatlah bahwa aku pernah memanaskan malam-malam kesepian mu! Aku hanya ingin menolong mu agar terbebas dari wanita kampung itu Joy! Joy lepaskan aku!" teriak Miranda yang akhirnya dibungkam oleh salah satu pengawal bayaran Joy menggunakan lakban.
' Miranda Miranda, berani benar kau mengatakan bahwa Istriku adalah wanita kampung. Sepertinya aku harus sangatlah keras padamu. Beberapa hari lalu kau telah mengacaukan pernikahanku dan sekarang kau berniat mengacaukan honeymoon ku. Wanita busuk! Secara tidak langsung kau telah menyerahkan nyawamu pada orang yang tepat.' Joy memasang seringai bengisnya yang dapat membuat siapapun gemetar bila melihatnya.
"Bagaimana Joy? Apa kau sudah menemukan siapa dalangnya?" cecar Milna dengan guratan khawatir yang kentara di wajahnya.
"Kau tenang saja, kan sudah kukatakan semua pasti akan beres. Tidak ada siapapun yang bisa bermain-main dengan Joy. Sebaiknya kita cari restoran lain. Atau lebih baik kau makan di dalam hotel saja. Aku janji akan memesankan banyak makanan kesukaanmu." Joy pun segera berdiri dan menarik tangan Mirna untuk ikut bersamanya.
Tak ada pilihan lain demi keselamatan dirinya dan juga kedua janin di dalam rahimnya. Kali ini Mirna akan menuruti apapun perkataan Joy. Sebelum ia mengetahui dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi dan siapa orang yang telah mengincar nyawanya. Karena dirinya pun tidak akan tinggal diam begitu saja.
__ADS_1
Bersambung>>>>>>