
🔥🔥🔥🔥🔥
"Moy, malam ini kita di minta datang ke rumah tuan Arjuna," ucap Better pada Vanish yang kini berada di dapur. Istrinya itu tengah menyiapkan sarapan dan juga bekal untuk mereka berdua di kantor nanti.
"Wah, asik dong! Ninis bisa gendong baby S!" pekik Vanish nyaring karena kegirangan. Padahal dirinya tengah menumis.
"Seneng banget ya sama bayi?" tanya Better gemas, seraya mengelus kepala belakang Vanish. Dirinya yang sudah berpakaian rapi tak segan masuk dapur untuk menemani istrinya memasak.
"He'em, dari dulu Ninis paling seneng sama anak kecil terutama bayi. Sugan tau kenapa? Karena mereka itu lucu dan ketika kita memandang wajah polosnya itu bisa bikin hati tuh kayak adem gitu," tutur Vanish dengan ekspresif. Better memandangi wajah itu tanpa kedip, bibirnya terus menyunggingkan senyum menanggapi betapa antusiasnya Vanish.
"Mau, punya yang kayak baby S gak?" tanya Better. Seraya memegangi rambut Vanish yang terurai. Sepertinya istri mungilnya itu ribet sendiri. Vanish menoleh sebentar dan tersenyum.
"Mau banget dong. Tapi 'kan kita baru nikah juga. Belum ada satu bulan." Vanish menyahuti Better sembari menuang masakannya ke dalam piring.
"Kalau begitu, kita harus rajin-rajin usaha," bisik Better yang agak menunduk untuk mencapai telinga Vanish.
"Apa sih, Sugan ih. 'Kan udah tiap malem juga usaha," respon Vanish seraya bergidik geli. Lalu ia pun terkekeh ketika Better mendaratkan ciuman diceruk lehernya.
"Sugan ih, kebiasaan! Nanti kita kesiangan lagi lho kayak kemarin!" protes Vanish, yang mana kelakuan suaminya itu jika diikuti tidak akan hanya sampai di sini.
"Kesiangan ya gak usah ngantor," sahut Better asal.
"Lah, mana ada direktur sama asisten gak masuk barengan? Apa kata karyawan mu nanti." Vanish berkata sembari mencubiti tangan Better yang usil.
Kalian paham lah ya usilnya gimana. Kalau seorang suami ada di dapur kemudian mengganggu istrinya yang sedang memasak. Seharusnya siap dalam waktu satu jam bisa-bisa molor jadi berjam-jam.
"Sugan ih, bisa diem gak tangannya?" protes Vanish pada Better, karena tangan suaminya itu tak bisa diam. Ada saja yang di sentuh dan di elus.
"Enggak!" jawab Better asal, dan dia sengaja untuk menggoda istri mungilnya itu.
Plak!!
Sebuah pukulan ringan mendarat di punggung tangan Better.
"Duh!" Pria yang rambut gondrongnya selalu di gelung itu mengaduh kecil.
"Makanya jangan usil, nih tolong bawain ya ke meja makan," pinta Vanish, sambil menyerahkan mangkuk berisi sayur ke tangan suaminya yang memasang cemberut itu.
Cup!
__ADS_1
"Makasih ya, Sugan sayang,"
Wajah merenggut itu pun luntur sudah, ketika sebuah ciuman manis mendarat dengan pas di bibirnya. Better pun berlalu dari dapur dengan gembira. Sebenarnya memang hanya itu yang diinginkannya sejak tadi.
Vanish hanya bisa tersenyum sambil menggeleng kecil. Ia pun segera membuka celemeknya, lalu mengambil piring berisi lauk dan membawanya keruang makan. Keduanya kini sarapan dalam diam. Better lebih memilih menikmati makanan dan ia akan berbicara atau mengomentari makanannya jika sudah selesai.
"Sugan, mau bawa lauk yang mana buat bekal makan siang,?" tanya Vanish setelah ia melihat suaminya itu menyeka mulutnya.
"Semuanya aja deh Moy, perkedel sama sop iganya nyambung banget. Oh iya tuh, sambel gorengnya bawa juga ya." Better berkata sembari menunjuk satu persatu makanan yang ada di meja.
Sebelum menikah, dirinya selalu makan di luar. Atau bahkan memesan makanan dari layanan food online. Namun, semenjak menikah, dan tau bahwa masakan istrinya sangat enak. Better lebih suka bawa bekal dari rumah. Tak perduli apa kata orang. Mau di bilang irit, pelit atau apapun. Pastinya, hanya dirinya yang tau alasannya.
"Siap Sugan-nya Imoy gemoy," ucap Vanish. Sambil memasukkan sisa lauk ke dalam tupper* ware. Karena memang dirinya sengaja masak banyak, untuk sarapan sekalian bekal. Karena, semenjak menikah, Better lebih suka masakan dirinya. Selain nikmat dan enak, juga lebih terjamin kesehatannya.
Vanish yang tidak terlalu pandai memasak pun, rela belajar melalui you*tube. Sering bertanya dengan Emak lewat telepon juga terkadang menghubungi sahabat yang sudah dianggap kakak sendiri, yaitu Susi. Kerena memang Susi bisa memasak apa saja. Mau itu makanan western, jappanese, chinesse dan korea sekalipun.
Mereka selalu berangkat dan pulang ke kantor bersama. Untuk urusan apartemen, sudah ada yang mengurus untuk membersihkannya. Termasuk jasa laundry yang akan menjemput pakaian kotor mereka.
_______
"Sugan, nanti kita pulang dulu kan ke apartemen?" tanya Vanish di saat ia menyerahkan laporannya pada Better. Direktur sekaligus suaminya itu.
"Kita gak akan pulang malem, kok. Tiga jam lagi juga selesai," jelas Better, seraya menunjuk beberapa tumpukkan dokumen.
"Kerjaan Ninis juga udh gak banyak sih," ucap Vanish, ia pun menoleh ke arah meja kerjanya. Sengaja, Better menempatkan istrinya itu agar satu ruangan dengannya.
"Ninis serahin beberapa dokumen dulu ke Rapika. Karena aku butuh salinan dari beberapa kontrak kerja kita," ucap Vanish. Setelah mendapatkan izin berupa anggukan dari Better, Vanish segera keluar.
"Ika!" panggil Vanish. Seraya menghampiri gadis berambut pendek itu di meja sekretaris.
"Ya ampun, Nis. Akhirnya kau keluar juga," celetuk Rapika. Salah satu sahabat dari Susi dan Vanish. Satu grup di saat mereka sama-sama meniti karir di basecamp 17.
"Ini juga karena aku mau ngasih tugas buat kamu," jelas Vanish seraya meletakkan map berisi berkas ke tangan Rapika.
" Biasanya juga kau ada panggil aku ke dalam,"ucap Rapika dengan logat khasnya. Gadis yang biasa di panggil butet oleh beberapa karyawan itu segera mematikan laptopnya.
"Ish, biarin kenapa sekali-kali keluar. Biar kesannya aku tuh gak di sekap sama pak direktur," kekeh Vanish.
"Padahal mah, emang iya." Rapika membungkam mulutnya ketika mereka berdua tertawa.
__ADS_1
" Udah ah, jangan lupa foto copy ya! Bawa keruangan ku setengah jam lagi!" Vanish pun berlalu sambil melambaikan tangannya.
"Sugan, ada sedikit masalah dengan para distributor coklat kita di beberapa negara LN. Salah satunya, Belgia. Bukankah, kita sudah memberikan harga yang pantas untuk bahan baku?" heran Vanish, keningnya berkerut ketika membaca laporan yang masuk ke email-nya.
" Kirim laporannya ke email-ku." titah Better.
"Sepertinya ada yang bermain kotor, dengan cara menyabotase para distributor." Better terlihat geram, bahkan tangannya mengepal di atas meja.
________
"Van–Be!" teriak Susi dari ruang tengah, sementara itu Arjuna berjalan dibelakangnya sembari menggendong baby S.
" Kakak! sahut Vanish, lalu ia beralih ke depan Arjuna. Menyingkap selimut agar bayi dalam gendongannya terlihat.
"Aih! Makin gembul aja ni pipi." Vanish mencolek pelan pipi chubby yang kemerahan itu.
"Tuan, nanti Ninis mau gendong ya. Setelah cuci tangan tentunya," izin Vanish sembari nyengir. Siapa juga yang tidak keder menatap wajah kaku dengan tatapan dingin itu. Hanya berlaku kepada Susi dan baby S saja tatapan hangat juga senyum manisnya.
"Hemm." Begitulah jawabannya, yang mana langsung membuat wajah Vanish merona senang.
"Terima kasih, Tuan."
Tanpa menanggapi, Arjuna pun berlalu, melewati Vanish.
"Ya ampun Kak. Suami Kakak makin cool aja deh," bisik Vanish ke telinga Susi, hingga dirinya mendapat lirikan dari ekor mata Arjuna yang berjalan lambat di depan mereka.
Keduanya hanya terkekeh pelan, selanjutnya Vanish izin kebelakang.
"Tuan." Better berdiri dari duduknya lalu menundukkan kepalanya menyambut kedatangan Arjuna.
"Tidak perlu sungkan begitu, Pak Direktur. Silakan duduk!" jawab Arjuna sopan. Bagaimanapun, Better adalah anak buah andalannya.
Kenapa terhadap Vanish begitu ya sikapnya? Sangat dingin dan kaku.
"Aku mengundangmu kesini, karena ingin membahas rencana resepsi kalian. Juga, Joy dan Milna.
" Apa! Kak Nana!" Tiba-tiba Vanish muncul seraya membekap mulutnya.
Bersambung>>>
__ADS_1