
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
__**__
Seno dan Rich telah sampai di gedung ARSA. Asisten Joy bersama Better menyambut mereka di lobi. Mereka saling menyapa dan memberi hormat.
Joy mengarahkan Seno menuju ruangan rapat presdir, di mana di sana Arjuna telah siap dengan aksi penyambutan spektakulernya.
"Selamat pagi, Tuan Arjuna Satria," Seno menyapa dan segera menjabat tangan pria gagah sang pemilik perusahaan. Pria dingin yang terkenal killer yang terpaksa di pilihnya sebagai dewa penyelamat perusahaannya.
"Selamat pagi, silakan." Arjuna menerima uluran tangan Seno dan kembali duduk tanpa membalas basa-basi.
Arjuna mengkode Joy agar menyiapkan berkas-berkas perjanjian kedua perusahaan yang lumayan di perhitungkan ini.
Sedangkan Better si pria berkumis dengan rambut model kuncir atas, bertugas memanggil Susi.
"Tuan Seno, pemimpin kami tidak ingin membuang waktunya yang berharga. Karena tim kami telah mempelajari proposal yang di kirim melalui email, maka ARSA. Mandiri memutuskan akan menanamkan investasi sebesar 40%." Joy menyerahkan surat perjanjian pada asisten Rich.
"Baiklah, Tuan Arjuna. Waktu sangatlah berarti dan begitu mahal bagi pengusaha hebat seperti anda," Seno mulai mengeluarkan jurus menjilat dewa penolong.
Arjuna yang telah mengetahui sifat dan sepak terjang Seno sebagai salah satu pengusaha ambisius dan licik. Hanya, mendengus kecil karena merasa begitu mual.
__ADS_1
" Sebagai perwakilan dari perusahaan ARSA, maka kami mengutus nona Susi Rahayu sebagai wakil presdir di perusahaan anda." Joy, mengarahkan proyektor pada layar putih di belakang Arjuna.
"Silakan Tuan-tuan semua, para dewan direksi yang terhormat, juga Tuan Seno Pradipta. Inilah dia profil nona Susi yang di tunjuk sebagai perwakilan dari ARSA Mandiri. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah calon istri dari Tuan Arjuna Satria." Joy memutar film sehingga layar menampilkan gambar demi gambar seorang wanita cantik yang anggun dan elegan. Di mana di sana Susi tengah melakukan presentasi ketika masih bekerja team di basecamp 17. Bagaimana ketika Susi memimpin rapat di divisi yang berisi laki-laki semua. Juga kebersamaannya akhir-akhir ini dengan sang pemimpin ARSA.
Gambar yang terakhir tentu saja baru diambil kemarin sore dan pagi tadi. Sungguh settingan dan editing yang luar biasa, untuk urusan ini Joy memang jagonya.
(Coba tadi aku selipin adegan ciuman uhhuuy tuh. Bakalan seru pasti, tapi ujungnya pasti kepala bawah gue bakal di penggal abis sama si bos.) Joy terkekeh pelan memikirkan ide usilnya.
Beberapa orang di ruangan itu saling berbisik, mereka kagum akan kehebatan dan kecerdasan wanita di dalam layar itu.
Sedangkan sepasang mata di ujung meja sana, hampir saja meloncat keluar dari cangkangnya.
Tuk. Tuk. Tuk.
Langkah anggun dari sepasang kaki jenjang memasuki ruangan yang di dominasi oleh beberapa pria dengan peranan penting mereka.
"Selamat pagi semuanya!" Susi menyapa seluruh orang yang hadir termasuk Seno, namun ia hanya melihat sekilas dan tampak biasa saja.
Seno seperti tersedot kedalam lubang bumi yang dalam. Sendinya lemas seketika.
(Takdir apa ini, apa dunia tengah mempermainkan ku!) jeritnya tentu hanya bisa di dalam hatinya.
__ADS_1
Karena dirinya telah menandatangani berkas perjanjian itu.
Kini kertas-kertas itu telah berpindah ke tangan ramping berjari lentik, siapa lagi pemiliknya kalau bukan Susi Rahayu si mantan istri dari presdir Pradipta Residen.
Karena dirinya dulu tidak pernah di perkenalkan di publik oleh Seno, sehingga dunia luar tidak ada yang tau siapa dirinya.
Susi yang duduk di sebelah Arjuna mulai memainkan perannya. Meski pun dirinya dan Arjuna tidak merekayasa rencana pernikahan mereka. Akan tetapi, Arjuna dan Susi akan merekayasa kemesraan mereka di hadapan dewan direksi terutama Seno Pradipta.
"Maaf, sayang bila aku sedikit terlambat," ucap Susi menatap hangat dan menyentuh punggung tangan Arjuna.
Arjuna terkesiap sesaat, ia tau bahwa inj adalah peran mereka berdua. Namun, tatapan hangat wanita itu dan senyumnya tidaklah palsu dan di reka.
"Tidak apa, kami setia menunggu wakil presdir utama yang baru," Arjuna berkata dengan senyum menawan yang tak pernah di lihat Susi sebelumnya, sehingga membuatnya begitu terkesima.
Pemandangan itu tak lepas dari perhatian Seno, pria yang tengah terbakar entah oleh api apa.
(Damn it! Ini adalah nasib tergila! Bagaimana bisa dia yang memiliki saham di ...? Argh ...! Mami pasti akan mengamuk selepas ini.) Seno tanpa sadar meremas rambutnya.
"Tuan Seno yang terhormat! Anda nampaknya sangat kagum sekali hingga spechlees seperti itu." Arjuna menyunggingkan senyum remeh nya.
Bersambung>>>>
__ADS_1