Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Pacar Sungguhan.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Eh," Mata Vanish membola seiring keterkejutannya.


" Memangnya, Pak Bos mau kalo beneran?" tanya nya menegaskan.


"Tergantung alasannya," jawab Better, dengan memiringkan wajahnya.


"Selain saya yang memang membutuhkan bantuan, saya juga ... sebenarnya sudah lama," Vanish menghentikan kalimatnya, ia menunduk memilih menatap ujung sepatu sneaker nya.


"Sudah lama apa?" tanya Better penasaran. Pasalnya, gadis di hadapannya ini bicara dengan terputus-putus.


"Sudah lama ...." Vanish menatap wajah tampan pria di hadapannya ini.


๐˜”๐˜ข๐˜ด๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ? ๐˜Œ๐˜ฉ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ-๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ.


๐ŸพNis, maksudnya gimana dah?


Di terima berarti kan emang kagak di tolak?๐Ÿค”


Vanish, senyum-senyum sendiri dengan spekulasi di alam pikirannya. Membuat Better menciptakan garis kerut di dahinya.


"Hei, saya sedang bertanya!" Better menyentil ujung hidung Vanish pelan. Membuat gadis mungil itu terkesiap, lalu tersadar dari lamunannya.


๐ŸพLah, die ngayal duluan๐Ÿ˜….


"Ah, iโ€“itu." Vanish pun menarik napas panjang sebelum meneruskan kata-katanya.


"Sebenarnya, saya sudah lama suka sama Bapak. Saya, gak berharap anda juga suka. Karena, saya juga sadar, jika masih banyak gadis di luar sana yang lebih cantik dan tinggi. Saya sangat membutuhkan bantuan anda saat ini, maka itu berpura-puralah sebagai pacar saya, dan mengaku lah di depan ayah, jika Bapak menyukai saya," tutur Vanish dengan satu helaan napas. Membuat Better tercengang dengan kecepatan suara yang di atas rata-rata itu.


๐ŸพNis, kamu tuh merendah tapi maksa jatohnya๐Ÿ˜†


Better menghela napasnya sejenak, sebelum ia menjawab. Mendapat pernyataan jujur seperti itu, membuatnya kaget bukan kepalang.


๐Ÿพ Di tembak mendadak ya Bet, ๐Ÿ˜


Pasti makjleb deh, uhuiii ...!


"Baiklah," jawabnya, dengan singkat. Meski dengan sekuat tenaga berusaha menyembunyikan rasa yang bergejolak di hatinya.


"Kapan saya akan bertemu dengan ayahmu?" tanya Better, yang mana membuat Vanish tersedak udara saking kagetnya.


"Iโ€“itu, maksudnya, Bapak mau jadi pacar bohongan saya?" tanya Vanish memastikan lagi. Seraya menunjuk batang hidungnya sendiri.


"Kalau iya, ya berarti mau kan?" Better menjawab dengan pertanyaan juga. Meskipun begitu, kalimatnya telah mampu menciptakan senyum lebar di wajah Vanish.


"Hubungan kita ini sungguhan, status kita juga bukan bohongan atau rekayasa. Saya, tidak ingin memiliki hubungan di atas kepura-puraan," jelas Better tegas. Membuat Vanish semakin sumringah, lalu gadis itu kembali menarik tangan Better dan menggenggamnya.


"Benarkah? berarti, mulai saat ini, Bapak boleh panggil saya Ninis. Karena kita sudah dekat, dan punya hubungan spesial. Soal pertemuan dengan ayah, nanti akan Ninis kabari lagi," ucap Vanish bangga dan percaya diri, dengan pandangan yang tak lepas dari wajah pria tampan di hadapannya itu.

__ADS_1


๐˜Ž๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ด๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ. ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ.


"Baiklah, kita bisa jalan sekarang 'kan?" tanya Better. Vanish, yang sadar bahwa sedari tadi menggenggam tangan Better, buru-buru melepasnya.


๐˜ˆ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ.


Vanish, melempar pandangannya ke luar jendela mobil. Demi menutupi kemerahan malu pada kedua pipinya.


Better, tersenyum simpul, melihat tingkah malu-malu pada pacar barunya itu, sembari mengencangkan pegangan pada kemudinya.


Setelah berhasil mengurai kikuk di dalam dirinya, Vanish kembali menoleh ke arah Better.


"Ayo, jalan pacar! Pasti Kak Susi sudah menunggu kita," ucap Vanish, dengan seulas senyum yang menghiasi wajah naturalnya.


๐˜ž๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข-๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ถ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ถ? ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜›๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฏ.


Better pun melaju, membawa kendaraan roda empat itu memasuki area pinggiran kota. Dimana di sana, Susi dan Arjuna merencanakan kencan triple date.


______


"Sejak kapan sih, tuan jadi kurang kerjaan begini?" gumam Joy, sembari mengemudikan mobilnya dengan cepat. Pasalnya, Arjuna telah menghubunginya berkali-kali.


"Meninggalkan meeting penting demi kencan di kebun binatang, kau sudah gila Joy! Tapi, aku akan tambah gila jika presdir ARSA itu mengamuk." Joy masih sibuk menggerutu di depan kemudinya.


"Gadis tomboi itu, awas saja kau! Membuat repot saja! Aku jadi putar balik, karena mu!" umpat Joy, tatkala mengingat kelakuan Milna.


"Sampai kapanpun, aku tidak akan menyukai gadis menyebalkan sepertinya. Bisa naik darah setiap hari, jika aku punya istri macam itu! Lebih baik batang ku pensiun dini, jika wanita terakhir di bumi hanya tinggal dia!" Joy belum berhenti juga, menumpahkan segala kekesalan dalam hatinya.


________


"Hei, gadis tomboi gila!" teriak Joy ketika ia melihat Milna di area pintu masuk. Membuat beberapa pasang mata pengunjung menoleh ke arahnya.


Apalagi, ketika Joy melepaskan kaca mata hitamnya, lalu menggantungnya di kerah kaus.


Para wanita yang tengah mengantri tiket itu, histeris seketika. Mereka lupa akan niatnya sesaat. Beralih memperhatikan apa yang terjadi di seberang sana.


"Jangan cari gara-gara! Kendalikan lidahmu itu!" hardik Milna dengan membulatkan matanya. Setiap berhadapan dengan Joy, hanya membuat tensi darahnya bergerak naik.


Gadis ini seakan tak peduli dengan beberapa pasang mata yang menyaksikan mereka berdua.


Mereka benar-benar tak tau tempat untuk berseteru. Membuat mata pengunjung berdecak kagum, mengira mereka hanyalah pasangan yang tengah bertengkar.


" Kau yang memulainya lebih dulu!" Joy, mendorong bahu Milna dengan ujung jarinya. Hingga gadis itu, menangkap telunjuk Joy, kemudian memelintirnya.


"Sshh!" desis Joy.


๐ŸพRasakan!๐Ÿ˜Ž


Udah tau cewek galak๐Ÿ˜‘

__ADS_1


" Jangan berani menyentuh ku meski seujung jarimu!" sarkas Milna dengan wajah sangarnya.


Begitupun dengan Joy. Pria itu tengah mengeratkan rahangnya demi menahan kesal. Kemudian, ia menarik jarinya dari genggaman kencang Milna.


๐˜Ž๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ! ๐˜“๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช.


"Buanglah, tingkat kepercayaan dirimu itu. Aku juga tidak sudi menyentuh tubuhmu, tidak menggairahkan!" sarkas Joy dengan senyum smirk nya.


๐ŸพMasa ...?!๐Ÿคจ


๐˜‹๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ค๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ท๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ! ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ!


Milna, mendengus kasar, berkali-kali mendapat hinaan dari Joy, membuatmu semakin tak respek terhadap pria di hadapannya ini.


"Kalau begitu, minggir lah! Jangan menghalangi jalanku! Juga, jangan coba-coba bersikap manis di hadapan tuan dan nyonya." Milna pun berlalu dari hadapan Joy, dengan langkah tegapnya.


Penampilan nya dengan jaket semi levis serta celana jeans belel yang terdapat beberapa sobekan di beberapa bagian. Membuatnya terlihat macho dan sangar. Berbanding terbalik dengan Joy yang berpenampilan menawan dengan gaya maskulinnya.


๐˜ž๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜š๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ณ. ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ! ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ!


Joy menyugar rambutnya kasar. Kemudian ia kembali mengenakan kaca mata hitamnya. Pria yang mengenakan setelan jas non-formal dan kaus Vโ€“neck di dalamnya, melangkah dengan berat untuk menyusul Milna.


Melewati pemeriksaan tiket dengan menunjukkan tanda scan QR, yang terdapat pada ponselnya. Karena pembelian serta pembayaran tiket di lakukan secara online.


"Apakah yang barusan melewati kita itu, seorang aktor?" decak kagum, seorang wanita berpakaian modis kekinian, kepada salah satu kawannya.


"Harum tubuhnya masih tertinggal, sayang sekali, jalannya begitu cepat." sesal wanita lain yang berdiri di sebelahnya. Mereka hanya bisa memandangi punggung tegap Joy yang telah masuk gerbang.


" Kenapa mereka datang secara terpisah?" Susi menatap Arjuna dengan wajah di tekuk.


"Mana aku tau, sayang," jawab Arjuna, seraya merangkul bahu sang istri.


"Aku sudah memerintahkan mereka datang secara bersama. Bahkan, Joy sedang berada di perjalanan menjemput Milna ketika aku menghubunginya," jelas Arjuna. Kepalanya mulai berdenyut ketika Susi memasang wajah kecut.


Bagaimanapun urusan hati itu, memang tak bisa di paksakan. Apalagi, Joy dan Milna sama-sama memiliki ego serta temperamen tinggi. Mereka akan terus bergesekan, sebelum ada yang mengalah diantara keduanya.


Milna menghentikan langkahnya, kemudian ia berbalik 180% menghadap Joy yang berada tak jauh di belakangnya.


"Cepatlah, jangan terlalu banyak bergaya," ucap Milna dengan memelankan suaranya.


"Apa masalahmu." Joy memandang sinis pada wanita di hadapannya, ketika mereka telah berhadapan.


"Katakan jika kita tadi berangkat bersama. Atau kau tau akibatnya, jika merusak suasana hati Nyonya!" ancam Milna, yang akhirnya mendapat sorotan mata tajam dari Joy.


๐˜Ž๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ! ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด-๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ.


Joy hanya bisa mengumpat dalam hatinya. Dengan geraham yang saling beradu ia melangkah di sisi Milna.


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ ๐˜ค๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ท๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ? ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข? ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ.

__ADS_1


"Mereka serasi bukan?" ucap Susi, tersenyum. Ketika Joy dan Milna mendekat.


Bersambung>>>


__ADS_2