
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Eh," Mata Vanish membola seiring keterkejutannya.
" Memangnya, Pak Bos mau kalo beneran?" tanya nya menegaskan.
"Tergantung alasannya," jawab Better, dengan memiringkan wajahnya.
"Selain saya yang memang membutuhkan bantuan, saya juga ... sebenarnya sudah lama," Vanish menghentikan kalimatnya, ia menunduk memilih menatap ujung sepatu sneaker nya.
"Sudah lama apa?" tanya Better penasaran. Pasalnya, gadis di hadapannya ini bicara dengan terputus-putus.
"Sudah lama ...." Vanish menatap wajah tampan pria di hadapannya ini.
๐๐ข๐ด๐ข, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฑ๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ด๐ช๐ฉ? ๐๐ฉ, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐จ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฏ? ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐ต๐ข๐ถ ๐ข๐ซ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ต๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข, ๐ด๐ถ๐ฌ๐ถ๐ณ-๐ด๐ถ๐ฌ๐ถ๐ณ ๐ด๐ช๐ฉ ๐ฌ๐ข๐จ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ช ๐ต๐ฐ๐ญ๐ข๐ฌ.
๐พNis, maksudnya gimana dah?
Di terima berarti kan emang kagak di tolak?๐ค
Vanish, senyum-senyum sendiri dengan spekulasi di alam pikirannya. Membuat Better menciptakan garis kerut di dahinya.
"Hei, saya sedang bertanya!" Better menyentil ujung hidung Vanish pelan. Membuat gadis mungil itu terkesiap, lalu tersadar dari lamunannya.
๐พLah, die ngayal duluan๐ .
"Ah, iโitu." Vanish pun menarik napas panjang sebelum meneruskan kata-katanya.
"Sebenarnya, saya sudah lama suka sama Bapak. Saya, gak berharap anda juga suka. Karena, saya juga sadar, jika masih banyak gadis di luar sana yang lebih cantik dan tinggi. Saya sangat membutuhkan bantuan anda saat ini, maka itu berpura-puralah sebagai pacar saya, dan mengaku lah di depan ayah, jika Bapak menyukai saya," tutur Vanish dengan satu helaan napas. Membuat Better tercengang dengan kecepatan suara yang di atas rata-rata itu.
๐พNis, kamu tuh merendah tapi maksa jatohnya๐
Better menghela napasnya sejenak, sebelum ia menjawab. Mendapat pernyataan jujur seperti itu, membuatnya kaget bukan kepalang.
๐พ Di tembak mendadak ya Bet, ๐
Pasti makjleb deh, uhuiii ...!
"Baiklah," jawabnya, dengan singkat. Meski dengan sekuat tenaga berusaha menyembunyikan rasa yang bergejolak di hatinya.
"Kapan saya akan bertemu dengan ayahmu?" tanya Better, yang mana membuat Vanish tersedak udara saking kagetnya.
"Iโitu, maksudnya, Bapak mau jadi pacar bohongan saya?" tanya Vanish memastikan lagi. Seraya menunjuk batang hidungnya sendiri.
"Kalau iya, ya berarti mau kan?" Better menjawab dengan pertanyaan juga. Meskipun begitu, kalimatnya telah mampu menciptakan senyum lebar di wajah Vanish.
"Hubungan kita ini sungguhan, status kita juga bukan bohongan atau rekayasa. Saya, tidak ingin memiliki hubungan di atas kepura-puraan," jelas Better tegas. Membuat Vanish semakin sumringah, lalu gadis itu kembali menarik tangan Better dan menggenggamnya.
"Benarkah? berarti, mulai saat ini, Bapak boleh panggil saya Ninis. Karena kita sudah dekat, dan punya hubungan spesial. Soal pertemuan dengan ayah, nanti akan Ninis kabari lagi," ucap Vanish bangga dan percaya diri, dengan pandangan yang tak lepas dari wajah pria tampan di hadapannya itu.
__ADS_1
๐๐ข๐ฅ๐ช๐ด ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฑ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ด๐ช ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ซ๐ข๐ฏ๐ต๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ณ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ฐ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ. ๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐ช๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ฏ๐ช? ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ฆ๐ฌ๐ด๐ฑ๐ณ๐ฆ๐ด๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ.
"Baiklah, kita bisa jalan sekarang 'kan?" tanya Better. Vanish, yang sadar bahwa sedari tadi menggenggam tangan Better, buru-buru melepasnya.
๐๐ช๐ด๐ฉ, ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ด๐ข๐ฏ? ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ด๐ช๐ฉ, ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ช๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ต๐ข๐ฉ.
Vanish, melempar pandangannya ke luar jendela mobil. Demi menutupi kemerahan malu pada kedua pipinya.
Better, tersenyum simpul, melihat tingkah malu-malu pada pacar barunya itu, sembari mengencangkan pegangan pada kemudinya.
Setelah berhasil mengurai kikuk di dalam dirinya, Vanish kembali menoleh ke arah Better.
"Ayo, jalan pacar! Pasti Kak Susi sudah menunggu kita," ucap Vanish, dengan seulas senyum yang menghiasi wajah naturalnya.
๐๐ข๐ซ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ช๐ข๐ด๐ข-๐ฃ๐ช๐ข๐ด๐ข ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ช๐ถ๐ด๐ฌ๐ถ? ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ฆ๐ด๐ฐ๐ฏ๐ข, ๐ฉ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ข๐ฏ๐ฑ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ฃ๐ข๐ฉ ๐ด๐ต๐ข๐ต๐ถ๐ด ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ญ๐ช๐ฎ๐ข ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ฏ.
Better pun melaju, membawa kendaraan roda empat itu memasuki area pinggiran kota. Dimana di sana, Susi dan Arjuna merencanakan kencan triple date.
______
"Sejak kapan sih, tuan jadi kurang kerjaan begini?" gumam Joy, sembari mengemudikan mobilnya dengan cepat. Pasalnya, Arjuna telah menghubunginya berkali-kali.
"Meninggalkan meeting penting demi kencan di kebun binatang, kau sudah gila Joy! Tapi, aku akan tambah gila jika presdir ARSA itu mengamuk." Joy masih sibuk menggerutu di depan kemudinya.
"Gadis tomboi itu, awas saja kau! Membuat repot saja! Aku jadi putar balik, karena mu!" umpat Joy, tatkala mengingat kelakuan Milna.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan menyukai gadis menyebalkan sepertinya. Bisa naik darah setiap hari, jika aku punya istri macam itu! Lebih baik batang ku pensiun dini, jika wanita terakhir di bumi hanya tinggal dia!" Joy belum berhenti juga, menumpahkan segala kekesalan dalam hatinya.
________
"Hei, gadis tomboi gila!" teriak Joy ketika ia melihat Milna di area pintu masuk. Membuat beberapa pasang mata pengunjung menoleh ke arahnya.
Apalagi, ketika Joy melepaskan kaca mata hitamnya, lalu menggantungnya di kerah kaus.
Para wanita yang tengah mengantri tiket itu, histeris seketika. Mereka lupa akan niatnya sesaat. Beralih memperhatikan apa yang terjadi di seberang sana.
"Jangan cari gara-gara! Kendalikan lidahmu itu!" hardik Milna dengan membulatkan matanya. Setiap berhadapan dengan Joy, hanya membuat tensi darahnya bergerak naik.
Gadis ini seakan tak peduli dengan beberapa pasang mata yang menyaksikan mereka berdua.
Mereka benar-benar tak tau tempat untuk berseteru. Membuat mata pengunjung berdecak kagum, mengira mereka hanyalah pasangan yang tengah bertengkar.
" Kau yang memulainya lebih dulu!" Joy, mendorong bahu Milna dengan ujung jarinya. Hingga gadis itu, menangkap telunjuk Joy, kemudian memelintirnya.
"Sshh!" desis Joy.
๐พRasakan!๐
Udah tau cewek galak๐
__ADS_1
" Jangan berani menyentuh ku meski seujung jarimu!" sarkas Milna dengan wajah sangarnya.
Begitupun dengan Joy. Pria itu tengah mengeratkan rahangnya demi menahan kesal. Kemudian, ia menarik jarinya dari genggaman kencang Milna.
๐๐ข๐ฅ๐ช๐ด ๐จ๐ช๐ญ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ณ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ต๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ซ๐ข๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ! ๐๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช.
"Buanglah, tingkat kepercayaan dirimu itu. Aku juga tidak sudi menyentuh tubuhmu, tidak menggairahkan!" sarkas Joy dengan senyum smirk nya.
๐พMasa ...?!๐คจ
๐๐ข๐ด๐ข๐ณ, ๐ค๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐ฐ๐ท๐ข ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฌ ๐ด๐ช๐ข๐ญ๐ข๐ฏ! ๐๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ช๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ต๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฉ๐ฌ๐ถ!
Milna, mendengus kasar, berkali-kali mendapat hinaan dari Joy, membuatmu semakin tak respek terhadap pria di hadapannya ini.
"Kalau begitu, minggir lah! Jangan menghalangi jalanku! Juga, jangan coba-coba bersikap manis di hadapan tuan dan nyonya." Milna pun berlalu dari hadapan Joy, dengan langkah tegapnya.
Penampilan nya dengan jaket semi levis serta celana jeans belel yang terdapat beberapa sobekan di beberapa bagian. Membuatnya terlihat macho dan sangar. Berbanding terbalik dengan Joy yang berpenampilan menawan dengan gaya maskulinnya.
๐๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ญ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ต๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ต๐ข๐ถ ๐ข๐ค๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ฏ, ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ช๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ค๐ข๐ฎ ๐ฑ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ด๐ข๐ณ. ๐๐ช๐ข๐ญ! ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ต๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ด๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ!
Joy menyugar rambutnya kasar. Kemudian ia kembali mengenakan kaca mata hitamnya. Pria yang mengenakan setelan jas non-formal dan kaus Vโneck di dalamnya, melangkah dengan berat untuk menyusul Milna.
Melewati pemeriksaan tiket dengan menunjukkan tanda scan QR, yang terdapat pada ponselnya. Karena pembelian serta pembayaran tiket di lakukan secara online.
"Apakah yang barusan melewati kita itu, seorang aktor?" decak kagum, seorang wanita berpakaian modis kekinian, kepada salah satu kawannya.
"Harum tubuhnya masih tertinggal, sayang sekali, jalannya begitu cepat." sesal wanita lain yang berdiri di sebelahnya. Mereka hanya bisa memandangi punggung tegap Joy yang telah masuk gerbang.
" Kenapa mereka datang secara terpisah?" Susi menatap Arjuna dengan wajah di tekuk.
"Mana aku tau, sayang," jawab Arjuna, seraya merangkul bahu sang istri.
"Aku sudah memerintahkan mereka datang secara bersama. Bahkan, Joy sedang berada di perjalanan menjemput Milna ketika aku menghubunginya," jelas Arjuna. Kepalanya mulai berdenyut ketika Susi memasang wajah kecut.
Bagaimanapun urusan hati itu, memang tak bisa di paksakan. Apalagi, Joy dan Milna sama-sama memiliki ego serta temperamen tinggi. Mereka akan terus bergesekan, sebelum ada yang mengalah diantara keduanya.
Milna menghentikan langkahnya, kemudian ia berbalik 180% menghadap Joy yang berada tak jauh di belakangnya.
"Cepatlah, jangan terlalu banyak bergaya," ucap Milna dengan memelankan suaranya.
"Apa masalahmu." Joy memandang sinis pada wanita di hadapannya, ketika mereka telah berhadapan.
"Katakan jika kita tadi berangkat bersama. Atau kau tau akibatnya, jika merusak suasana hati Nyonya!" ancam Milna, yang akhirnya mendapat sorotan mata tajam dari Joy.
๐๐ข๐ฅ๐ช๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ! ๐๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ถ๐ณ๐ฌ๐ถ, ๐ด๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ช๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ด-๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ด๐ข๐ฏ.
Joy hanya bisa mengumpat dalam hatinya. Dengan geraham yang saling beradu ia melangkah di sisi Milna.
๐๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ข๐ญ ๐ค๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐ฐ๐ท๐ข ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฌ? ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข? ๐ข๐ฌ๐ถ, ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ.
__ADS_1
"Mereka serasi bukan?" ucap Susi, tersenyum. Ketika Joy dan Milna mendekat.
Bersambung>>>