Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Mengganggu Nyonya "At the morning!"


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


________


"Sayang ... ." Panggilan dari suara bariton itu mengalun penuh kemesraan. Arjuna menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya, lalu ia menghampiri sang istri yang tengah berada di dapur.


๐˜—๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜บ ๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ค.


Arjuna mengendap-endap layaknya seorang pencuri. Melihat Susi begitu serius dan fokus terhadap kegiatannya, maka timbullah ide jahil di kepalanya.


Grep!


"Gyaa ...!" Susi memekik sampai sendok pengaduk telurnya terlepas. Untung saja mangkuk yang dipegangnya tidak terjatuh.


"Ar!"


"Aw!"


Arjuna mengaduh ketika salah satu tangan Susi menarik telinganya.


"Bukan aku yang salah, kau saja yang terlalu fokus," sungut Arjuna, seraya meletakkan dagunya pada bahu Susi.


"Ish, kebiasaan!" Susi menepuk pelan tangan kekar yang telah melingkar di perutnya itu.


"Kenapa lama sekali?" tanya Susi, sambil meneruskan kegiatannya mengocok telur.


"Tentu saja, aku mengantri. Semua itu demi siapa?" Arjuna malah balik bertanya.


"Apa sesusah itu, mendapatkannya?" Susi sedikit menoleh, dan ia mendapati senyum hangat itu terarah kepadanya.


"Setelah beberapa hari tidak pernah kebagian, ternyata hari ini ... aku berhasil mendapatkannya!" Arjuna menunjukkan tentengan di tangannya. Sebuah kotak makanan yang terbuat dari kertas.


" Akhirnya ... ." Susi menyambar kotak itu, kemudian segera membukanya.


"Hemm ... jadi, bentuknya ternyata seperti ini?" Susi mengerutkan dahinya menatap roti yang mirip dengan makanan kesukaannya, yaitu donut.


"Sama seperti sandwich?" Susi bertanya, seraya menengok ke arah suaminya. Arjuna yang masih mendekapnya, hanya mengangguk kecil dengan senyum manis di wajahnya.


๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ฎ. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ˆ๐˜ณ?


"Cobalah, bukankah My Queen sangat penasaran terhadap rasanya," ucap Arjuna.


"Nanti saja, aku masih harus menyelesaikan ini. Membuat sarapan untuk suamiku tercinta," godanya dengan mengedipkan mata.


"Hem ... genit ya." Arjuna menarik pelan ujung hidung mancung Susi. Membuat sang empunya, tertawa pelan.


"Bisa lepaskan aku sekarang? Nanti tidak selesai membuat sarapan tepat waktu," rengek Susi, yang merasakan dekapan Arjuna semakin erat memeluk pinggangnya.


"No! Aku mau begini saja." Arjuna menggeleng di belakang tengkuk Susi, sambil sesekali memberi kecupan di sana.

__ADS_1


" Tapi, aku harus bergerak kesana dan kesini," jelas Susi.


"Aku akan mengikutimu, lanjut saja." Arjuna tetap melanjutkan kegiatannya, meski sang istri sesekali mencubit tangannya yang iseng.


"Kau ini, kondisikan tanganmu!" pesan Susi yang kini tengah membuat dadar omelette dengan isi berbagai sayuran.


"Juga bibirmu!" tambahnya lagi. Karena Arjuna terus saja menciumi tengkuknya, serta caping telinganya. Membuatnya sesekali memejamkan mata merasakan merinding pada kulitnya.


Arjuna melingkarkan satu lengan di perut dan satu lagi di bahu Susi. Dirinya begitu candu dan tidak bisa berhenti, bila sudah menciumi aroma tubuh istrinya itu.


"Ar." Susi menyebut nama suaminya itu dengan mata terpejam. Lalu ia kembali ingat pada masakannya, kemudian membalik omelette sebelum hangus.


"Ssshh." Satu desisan lolos dari bibir seksi Susi. Ketika Arjuna bermain-main di ceruk lehernya. Hingga sebuah stempel kepemilikan, sukses tercetak dengan indah di sana. Berjejer dengan stempel yang sebelumnya.


Arjuna tersenyum, melihat beberapa tanda buatannya telah menghiasi leher mulus Susi. Membuat penampakan leher jenjang itu seperti baru kena gigit nyamuk raksasa.


"Ar." Susi menoleh dengan pandangan sendu. Arjuna pun segera merampas bibir itu. Menekan wajah Susi dengan sebelah tangannya, guna memperdalam ciumannya.


Susi yang hampir terbuai, kembali tersadar. Ia ingin segera melepas tautan mereka. Ingat akan masakannya yang belum selesai.


Akan tetapi, permainan Arjuna yang semakin hangat, telah berhasil kembali mengosongkan pikirannya. Pria itu, selalu bisa membuatnya melayang.


Hingga suatu aroma membangunkan keduanya, menyadarkan mereka pada keadaan sekitar.


"Sayang, kok kayak bau?" Arjuna mengerutkan dahinya sembari mengendus.


Sementara Susi membelalakkan matanya menatap wajan di hadapannya telah mengepulkan asap.


"Sarapanku ...,"lirih Arjuna, melihat penampakan omelette nya yang setengah hitam.


"Lihatlah, akibat kau menggangguku," protes Susi. Sedih juga melihat hasil karyanya menjadi sia-sia seperti itu.


"Kenapa menyalahkan ku," sanggah Arjuna tak terima.


"Tentu saja kau salah, Ar. Kau terus mencumbu aku yang sedang memasak sarapan untukmu," ketus Susi.


"Aku bukan mengganggumu, tapi memberimu semangat," dalih Arjuna. Bahkan pria itu kini bersandar santai di depan meja.


"Ih, bisa-bisanya bilang gitu." Susi mengerucutkan bibirnya, sebal sekali melihat muka tanpa dosa suaminya itu.


๐˜š๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


"Ya, kan aku tidak salah. My Queen menikmatinya. Juga membalas, kan? Kenapa tidak mematikan kompornya dulu, sebelum membalas ciumanku tadi?" Arjuna sukses membalik keadaan. Membuat asap sukses keluar dari ubun-ubun Susi yang sudah mengeluarkan tanduknya.


"Enak saja! Semua ini salahmu! Pokoknya salahmu!" Susi bersikeras tetap menyalahkan Arjuna.


"Hem, berani melotot padaku." Arjuna kembali mendekati Susi yang tengah membulatkan mata padanya.


๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ. ๐˜‰๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ.

__ADS_1


๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ด๐˜ช.


๐ŸพDasar bucin๐Ÿ˜šapapun yang dilihat oleh orang yang tengah jatuh cinta itu, indah aja.๐Ÿ˜†


"Masakan itu, karya baruku. Gara-gara kau semuanya gagal," omel Susi dengan bibir yang mencebik ke depan.


"Ck, kenapa marah? Salah sendiri kau begitu menikmati sentuhan ku tadi." Arjuna menarik pinggang Susi, dirinya tak mampu lagi menahan rasa gemas pada istrinya ini.


"Sudah, lepaskan aku. Kau mengacaukan menunya." Susi berusaha menjauh dari raga Arjuna yang terus menghimpitnya. Sebelum pada akhirnya, ia akan terhanyut dan terbuai lagi.


"Coba saja, aku tidak akan melepaskan mu." Arjuna memajukan wajahnya, meski pun Susi melengos kesana-kemari.


"Ar! Jangan menggodaku lagi!"


"Sana, ahh ...," Meronta seperti apapun, ketika bibir Arjuna sukses menempel pada kulit lehernya. Susi pun merengket tak berdaya.


Seketika tenaganya lemas, bahkan kakinya saja seakan tidak menapak di lantai. Saat ciuman Arjuna beralih ke tulang selangkanya. Susi hanya bisa berpegangan erat pada raga kekar itu, dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Arjuna.


Maka, terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Kedua raga polos itu berpelukan setelah melepas gelora yang membuncah tak karuan.


๐˜๐˜ข๐˜ช๐˜ฉ๐˜ฉ ... ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช-๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜š๐˜ถ๐˜ด๐˜ช. ๐˜•๐˜ช๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


Susi tersenyum miring menertawakan dirinya sendiri. Lalu ia bergerak hendak memisahkan dirinya. Sebelum, kepala pedang naga puspa bangun dan meminta jatah kedua.


Benar saja, Arjuna menahan pinggangnya. Senyum manis di wajahnya, tercetak menggoda. Tatapan mata penuh cinta itu, hampir saja hendak meluluhkannya.


"Cukup sekali! Aku lapar, sangat-sangat lapar!" tolak Susi ketika wajah tampan itu berusaha memelas.


"Bersihkan juga dirimu, kita harus sarapan. Bukankah jadwal cek up ku siang ini?" titah Susi, seraya mengenakan kembali baju haramnya.


"Sayang, kau benar! Aku hampir saja lupa!" Arjuna pun segera turun dari tempat tidur.


"Ayo, mandi bareng aja kalau begitu." ajaknya seraya menyambar tangan Susi.


"Eh, gak ada ya! Modus pastinya, yang ada bakalan lama!" Susi menepis tangan Arjuna, lalu berlari masuk kekamar mandi.


"Sayang, kau semakin mengenalku ... ." Arjuna pun terkekeh melihat kelakuan menggemaskan istrinya itu.


Sambil menunggu Susi mandi, ia pun berinisiatif untuk menyiapkan sarapan mereka.


Menata bagel di piring, membuat minuman untuk mereka berdua nanti. Kebetulan, Arjuna juga telah membeli menu lain untuk sarapannya.


Kemudian, mereka berdua pun menikmati sarapan di balkon. Sambil memandangi view gedung pencakar langit di hadapan mereka. Cuaca yang cerah serta angin yang bertiup lembut, membuat suasana pagi begitu hangat.




Itu sarapan mereka gais, jangan ngeces ya๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿคฃ.

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2