
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
________
"Sayang ... ." Panggilan dari suara bariton itu mengalun penuh kemesraan. Arjuna menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya, lalu ia menghampiri sang istri yang tengah berada di dapur.
๐๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ด ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฎ๐บ ๐ฒ๐ถ๐ฆ๐ฆ๐ฏ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ ๐ฑ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ, ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ ๐ฎ๐ถ๐ด๐ช๐ค.
Arjuna mengendap-endap layaknya seorang pencuri. Melihat Susi begitu serius dan fokus terhadap kegiatannya, maka timbullah ide jahil di kepalanya.
Grep!
"Gyaa ...!" Susi memekik sampai sendok pengaduk telurnya terlepas. Untung saja mangkuk yang dipegangnya tidak terjatuh.
"Ar!"
"Aw!"
Arjuna mengaduh ketika salah satu tangan Susi menarik telinganya.
"Bukan aku yang salah, kau saja yang terlalu fokus," sungut Arjuna, seraya meletakkan dagunya pada bahu Susi.
"Ish, kebiasaan!" Susi menepuk pelan tangan kekar yang telah melingkar di perutnya itu.
"Kenapa lama sekali?" tanya Susi, sambil meneruskan kegiatannya mengocok telur.
"Tentu saja, aku mengantri. Semua itu demi siapa?" Arjuna malah balik bertanya.
"Apa sesusah itu, mendapatkannya?" Susi sedikit menoleh, dan ia mendapati senyum hangat itu terarah kepadanya.
"Setelah beberapa hari tidak pernah kebagian, ternyata hari ini ... aku berhasil mendapatkannya!" Arjuna menunjukkan tentengan di tangannya. Sebuah kotak makanan yang terbuat dari kertas.
" Akhirnya ... ." Susi menyambar kotak itu, kemudian segera membukanya.
"Hemm ... jadi, bentuknya ternyata seperti ini?" Susi mengerutkan dahinya menatap roti yang mirip dengan makanan kesukaannya, yaitu donut.
"Sama seperti sandwich?" Susi bertanya, seraya menengok ke arah suaminya. Arjuna yang masih mendekapnya, hanya mengangguk kecil dengan senyum manis di wajahnya.
๐๐ข๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ฎ. ๐๐ฑ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐จ๐ช๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฎ๐ถ, ๐๐ณ?
"Cobalah, bukankah My Queen sangat penasaran terhadap rasanya," ucap Arjuna.
"Nanti saja, aku masih harus menyelesaikan ini. Membuat sarapan untuk suamiku tercinta," godanya dengan mengedipkan mata.
"Hem ... genit ya." Arjuna menarik pelan ujung hidung mancung Susi. Membuat sang empunya, tertawa pelan.
"Bisa lepaskan aku sekarang? Nanti tidak selesai membuat sarapan tepat waktu," rengek Susi, yang merasakan dekapan Arjuna semakin erat memeluk pinggangnya.
"No! Aku mau begini saja." Arjuna menggeleng di belakang tengkuk Susi, sambil sesekali memberi kecupan di sana.
__ADS_1
" Tapi, aku harus bergerak kesana dan kesini," jelas Susi.
"Aku akan mengikutimu, lanjut saja." Arjuna tetap melanjutkan kegiatannya, meski sang istri sesekali mencubit tangannya yang iseng.
"Kau ini, kondisikan tanganmu!" pesan Susi yang kini tengah membuat dadar omelette dengan isi berbagai sayuran.
"Juga bibirmu!" tambahnya lagi. Karena Arjuna terus saja menciumi tengkuknya, serta caping telinganya. Membuatnya sesekali memejamkan mata merasakan merinding pada kulitnya.
Arjuna melingkarkan satu lengan di perut dan satu lagi di bahu Susi. Dirinya begitu candu dan tidak bisa berhenti, bila sudah menciumi aroma tubuh istrinya itu.
"Ar." Susi menyebut nama suaminya itu dengan mata terpejam. Lalu ia kembali ingat pada masakannya, kemudian membalik omelette sebelum hangus.
"Ssshh." Satu desisan lolos dari bibir seksi Susi. Ketika Arjuna bermain-main di ceruk lehernya. Hingga sebuah stempel kepemilikan, sukses tercetak dengan indah di sana. Berjejer dengan stempel yang sebelumnya.
Arjuna tersenyum, melihat beberapa tanda buatannya telah menghiasi leher mulus Susi. Membuat penampakan leher jenjang itu seperti baru kena gigit nyamuk raksasa.
"Ar." Susi menoleh dengan pandangan sendu. Arjuna pun segera merampas bibir itu. Menekan wajah Susi dengan sebelah tangannya, guna memperdalam ciumannya.
Susi yang hampir terbuai, kembali tersadar. Ia ingin segera melepas tautan mereka. Ingat akan masakannya yang belum selesai.
Akan tetapi, permainan Arjuna yang semakin hangat, telah berhasil kembali mengosongkan pikirannya. Pria itu, selalu bisa membuatnya melayang.
Hingga suatu aroma membangunkan keduanya, menyadarkan mereka pada keadaan sekitar.
"Sayang, kok kayak bau?" Arjuna mengerutkan dahinya sembari mengendus.
Sementara Susi membelalakkan matanya menatap wajan di hadapannya telah mengepulkan asap.
"Sarapanku ...,"lirih Arjuna, melihat penampakan omelette nya yang setengah hitam.
"Lihatlah, akibat kau menggangguku," protes Susi. Sedih juga melihat hasil karyanya menjadi sia-sia seperti itu.
"Kenapa menyalahkan ku," sanggah Arjuna tak terima.
"Tentu saja kau salah, Ar. Kau terus mencumbu aku yang sedang memasak sarapan untukmu," ketus Susi.
"Aku bukan mengganggumu, tapi memberimu semangat," dalih Arjuna. Bahkan pria itu kini bersandar santai di depan meja.
"Ih, bisa-bisanya bilang gitu." Susi mengerucutkan bibirnya, sebal sekali melihat muka tanpa dosa suaminya itu.
๐๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ซ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฌ๐ถ, ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข ๐ด๐ฆ๐จ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ๐บ๐ข.
"Ya, kan aku tidak salah. My Queen menikmatinya. Juga membalas, kan? Kenapa tidak mematikan kompornya dulu, sebelum membalas ciumanku tadi?" Arjuna sukses membalik keadaan. Membuat asap sukses keluar dari ubun-ubun Susi yang sudah mengeluarkan tanduknya.
"Enak saja! Semua ini salahmu! Pokoknya salahmu!" Susi bersikeras tetap menyalahkan Arjuna.
"Hem, berani melotot padaku." Arjuna kembali mendekati Susi yang tengah membulatkan mata padanya.
๐๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ช ๐ด๐ข๐ณ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐จ๐ฐ๐ด๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ข๐ต๐ข๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ถ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ฑ๐ถ๐ฏ. ๐๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ ๐ฑ๐ข๐จ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ช๐ต๐ถ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐จ๐ช๐ฌ๐ถ.
__ADS_1
๐๐ข๐ฅ๐ช, ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ต๐ถ. ๐๐ข๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ด๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ด๐ช.
๐พDasar bucin๐apapun yang dilihat oleh orang yang tengah jatuh cinta itu, indah aja.๐
"Masakan itu, karya baruku. Gara-gara kau semuanya gagal," omel Susi dengan bibir yang mencebik ke depan.
"Ck, kenapa marah? Salah sendiri kau begitu menikmati sentuhan ku tadi." Arjuna menarik pinggang Susi, dirinya tak mampu lagi menahan rasa gemas pada istrinya ini.
"Sudah, lepaskan aku. Kau mengacaukan menunya." Susi berusaha menjauh dari raga Arjuna yang terus menghimpitnya. Sebelum pada akhirnya, ia akan terhanyut dan terbuai lagi.
"Coba saja, aku tidak akan melepaskan mu." Arjuna memajukan wajahnya, meski pun Susi melengos kesana-kemari.
"Ar! Jangan menggodaku lagi!"
"Sana, ahh ...," Meronta seperti apapun, ketika bibir Arjuna sukses menempel pada kulit lehernya. Susi pun merengket tak berdaya.
Seketika tenaganya lemas, bahkan kakinya saja seakan tidak menapak di lantai. Saat ciuman Arjuna beralih ke tulang selangkanya. Susi hanya bisa berpegangan erat pada raga kekar itu, dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Arjuna.
Maka, terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Kedua raga polos itu berpelukan setelah melepas gelora yang membuncah tak karuan.
๐๐ข๐ช๐ฉ๐ฉ ... ๐ญ๐ข๐จ๐ช-๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ, ๐๐ถ๐ด๐ช. ๐๐ช๐ข๐ต ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ด๐ข๐ณ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ ๐ด๐ข๐ณ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข.
Susi tersenyum miring menertawakan dirinya sendiri. Lalu ia bergerak hendak memisahkan dirinya. Sebelum, kepala pedang naga puspa bangun dan meminta jatah kedua.
Benar saja, Arjuna menahan pinggangnya. Senyum manis di wajahnya, tercetak menggoda. Tatapan mata penuh cinta itu, hampir saja hendak meluluhkannya.
"Cukup sekali! Aku lapar, sangat-sangat lapar!" tolak Susi ketika wajah tampan itu berusaha memelas.
"Bersihkan juga dirimu, kita harus sarapan. Bukankah jadwal cek up ku siang ini?" titah Susi, seraya mengenakan kembali baju haramnya.
"Sayang, kau benar! Aku hampir saja lupa!" Arjuna pun segera turun dari tempat tidur.
"Ayo, mandi bareng aja kalau begitu." ajaknya seraya menyambar tangan Susi.
"Eh, gak ada ya! Modus pastinya, yang ada bakalan lama!" Susi menepis tangan Arjuna, lalu berlari masuk kekamar mandi.
"Sayang, kau semakin mengenalku ... ." Arjuna pun terkekeh melihat kelakuan menggemaskan istrinya itu.
Sambil menunggu Susi mandi, ia pun berinisiatif untuk menyiapkan sarapan mereka.
Menata bagel di piring, membuat minuman untuk mereka berdua nanti. Kebetulan, Arjuna juga telah membeli menu lain untuk sarapannya.
Kemudian, mereka berdua pun menikmati sarapan di balkon. Sambil memandangi view gedung pencakar langit di hadapan mereka. Cuaca yang cerah serta angin yang bertiup lembut, membuat suasana pagi begitu hangat.
Itu sarapan mereka gais, jangan ngeces ya๐๐๐คฃ.
__ADS_1
Bersambung>>>