
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Selamat sore, Tuan Shim. Terima kasih, anda bersedia datang mengunjungi saya lagi." Pria paruh baya yang masih di pasangi selang infus serta selang oksigen itu, mencoba bangun dari posisi tidurnya.
"Tidak perlu memaksakan diri, kawan lamaku." Shim Izu, pria berdarah asia dengan latar belakang pendekar ๐ ๐๐ฉ๐๐ฃ๐ sebagai leluhurnya. Menahan tubuh pria yang tengah terbaring lemah itu.
"Kau mengatakan bahwa aku adalah kawan lamamu. Tapi ...." Pria paruh baya yang di ketahui bernama Roma tersebut, terlihat tersenyum seraya melepaskan selang yang terhubung ke hidungnya.
"Sialan kau!" Shim Izu memukul bahu Roma agak keras, hingga pria yang pura-pura sakit itu meringis sambil tertawa.
"Kalau tidak begini, mana bisa istri saya memaksa anak gadisnya, pulang ke kampung," kekeh Roma. Pria berusia sekitar 48 tahun itu, masih terlihat bugar di usinya yang hampir setengah abad. Mungkin, karena memang dia memiliki ilmu beladiri dan olah tubuh, sehingga membuat otot serta keperkasaannya menolak usia.
"Lalu, mana anak gadismu itu. Kenapa dia belum datang juga?" tanya mantan pendekar samurai itu heran.
"Mungkin sebentar lagi, istriku baru saja mengirim ku sebuah pesan," jelas Roma.
Tak lama kemudian.
Klek!
Terdengar suara kenop pintu yang di putar. Buru-buru Roma memasang kembali selang infus serta selang oksigennya. Pria itu, benar- benar seperti aktor saja. Wajahnya yang tadi tertawa sumringah, kini kembali ia buat lemah dengan sorot mata yang sendu. Entah, dengan apa ia mengoles bibirnya. Hingga, nampak seperti kering dan pucat.
__ADS_1
"Ayah!" Vanish langsung menghampiri brangkar dan memeluk raga yang tengah terbaring lemah itu.
"Ayah, maaf ... Ninis baru bisa datang," lirih Vanish dengan isaknya di atas dada Roma. Shim menepikan dirinya, memberi ruang bagi keluarga kecil yang harmonis itu meluapkan rasa di dalam dada mereka. Tentunya, dengan senyum tipis yang tak di sadari oleh orang lain.
๐๐ฐ๐ฎ๐ข ... ๐๐ฐ๐ฎ๐ข. ๐๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ. ๐๐ข๐ฑ๐ช, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฌ๐ข ๐จ๐ข๐บ๐ข๐ฎ๐ถ! ๐๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช ๐ช๐ฅ๐ฆ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฏ๐ต๐ช ๐ฎ๐ข๐ช๐ฏ๐ด๐ต๐ณ๐ฆ๐ข๐ฎ. ๐๐ข๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ญ๐ข๐ธ๐ข๐ฌ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ซ๐ข๐จ๐ฐ ๐ข๐ฌ๐ต๐ช๐ฏ๐จ. ๐๐ฆ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ต๐ณ๐ข๐ฅ๐ข๐ณ๐ข, ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ต๐ข๐ฎ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ง๐ช๐ญ๐ฎ ๐ฌ๐ถ. ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ช๐ฉ ๐ฑ๐ช๐ข๐ญ๐ข ๐ค๐ช๐ต๐ณ๐ข.
Shim menahan geli dengan apa yang ia lihat di hadapannya. Bagaimana seorang Roma telah membuat anak dan istrinya begitu sedih melihat keadaannya. Semua itu, hanya demi kelanggengan hubungan persahabatan mereka di masa lalu. Mereka berdua berniat, mengabadikan hubungan keduanya hingga ke masa depan.
"Sudah, kau jangan bersedih. Karenanya, Ayah ingin kau bahagia dan bersama pria yang tepat, sebelum ayah pergi meninggalkan kalian," tutur Roma dengan suara parau dan raut wajah sedih yang di buat senatural mungkin.
Benar- benar pandai sekali berakting. Hingga ketiga wanita yang mengerubunginya itu terisak.
"Ayah, jangan bicara seperti itu. Ayah pasti panjang umur. Ayah akan hidup untuk menggendong anak-anakku yang lucu dan imut sepertiku. Ayah yang akan mengajarkan mereka menjadi anak yang cerita dan dapat menikmati hidup. Ayah, tidak boleh pergi sekarang! Ninis gak ijinin pokoknya!" teriak Vanish, dengan ocehan beruntun, serta derai air mata yang membasahi kedua pipinya. Matanya serta hidungnya sudah memerah, pertanda bahwa gadis itu begitu sedih dan terpukul akan keadaan sang ayah yang ngedrop tiba-tiba.
๐พ Aih ... Ayah jago bener deh aktingnya. Mao nyaingin Dude herlino ye, yah? ๐คญ
"Nis, karena itu ... Ayah berharap kau mau menuruti permintaan, Ayah kali ini. Semua, demi kebaikan di masa depanmu, Nak," ucap Roma dengan suara lemah.
"Apapun, Yah. Apapun itu, akan Ninis lakukan. Semua demi Ayah, atur saja. Ninis percaya bahwa pilihan, Ayah adalah yang terbaik." Vanish menubruk kan kembali dirinya di atas dada bidang sang ayah. Ia telah menyetujui dengan segenap jiwanya. Apapun yang telah di rencanakan sang ayah untuknya. Kebahagiaannya hanya satu, yaitu melihat ayahnya kembali gagah perkasa dengan sikapnya yang ceria seperti biasanya.
"Benarkah, apa yang kamu katakan, Nis?" tanya Roma memastikan, jika pendengarannya tidak salah. Vanish hanya mengangguk dengan cepat, pertanda ia telah setuju dengan apapun titah dan perintah sang ayah.
__ADS_1
"Syukurlah, Ayah sangat lega dan bahagia mendengarnya. Terima kasih, Nak. Kau memang anak yang berbakti." Roma sekuat tenaga berupaya mengelus kepala sang putri. Namanya juga sedang pura-pura sakit dan lemah. Karena itulah, Roma dengan sekuat tenaga menahan keinginannya untuk tidak memeluk Vanish.
Tanpa ia sadari, keanehan pada raut wajahnya telah di sadari oleh Kelly. Karena, Roma sempat nyengir meski hanya sebentar. Memang, sifat ekspresif nya tidak mampu ia tutupi sepenuhnya. Bagaimanapun, Kelly paham bagaimana ciri-ciri suaminya ketika tengah bercanda.
๐๐ข๐ฏ๐จ, ๐ข๐ฑ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช ๐ค๐ถ๐ฎ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ญ-๐ข๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ข๐ซ๐ข. ๐๐ข๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ช๐ฏ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ. ๐๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช-๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ๐ถ๐ต ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฌ๐ข๐ญ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฎ ... ๐ข๐ธ๐ข๐ด ๐บ๐ข, ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ! ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ!
Kelly, memicingkan matanya tajam, dengan kedua tangan menyilang di depan dada. Ia menatap lekat suaminya itu. Hingga, kedua mata mereka beradu pandang. Roma hanya bisa mengerling sekejap sebagai kode kepada Kelly.
๐๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ค๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ช๐ฌ, ๐ด๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข-๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฐ๐ฉ๐ฐ๐ฏ๐จ๐ช๐ฎ๐ถ. ๐๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ถ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ช, ๐ฎ๐ข๐ด๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ถ๐ต๐ณ๐ช ๐ฌ๐ช๐ต๐ข.
Roma hanya bergumam dalam hati, berharap Kelly, sang istri tercinta, tidak akan merusak rencananya.
"Nis, perkenalkan yang di sana itu adalah, Tuan Shim Izu. Beliau adalah mantan majikan ayah dulu. Selain itu, kami juga bersahabat." Roma menunjuk ke arah pria perlente yang berpakaian sangat rapi. Usia yang banyak, ternyata tidak mengurangi sisa-sisa ketampanannya di masa muda dulu. Bahkan, senyumnya begitu berkharisma.
Vanish menoleh sebentar, melihat wajah rupawan itu meski usianya di atas sang ayah. Namun, pria itu masih tampak gagah dengan postur tubuhnya yang masih terawat. Vanish hanya memberikan senyum tipisnya, lalu, ia menunduk sopan.
๐๐บ๐ข๐ฉ, ๐ฅ๐ช๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฌ. ๐๐ข๐ฅ๐ช, ๐ฅ๐ช๐ข ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ฎ๐ถ . ๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ณ๐ช๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฉ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ฎ๐ถ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ช๐ด๐ต๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข? ๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ช๐ฉ, ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐จ๐ข๐จ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ณ๐ถ๐ฑ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ. ๐๐ข๐ฑ๐ช, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ด๐ถ๐จ๐ข๐ณ ๐ฃ๐ข๐ฃ๐บโ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช. ๐๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ง๐ง๐ต๐ต ...
Vanish menghela nafasnya perlahan, sebelum ia mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.
"Aku setuju, Yah. Atur saja semuanya. Ayah harus sehat lagi. Ayah adalah kebahagiaanku. Keluarga ini adalah mutiara bagiku. Tolong, jangan sakit lagi, sembuhlah." Vanish memajukan tubuhnya, ia melabuhkan kecupan dalam di kening sang ayah.
__ADS_1
๐๐ข๐ข๐ง๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐บ๐ข๐ฉ๐ฎ๐ถ ๐ฏ๐ข๐ฌ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฎ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐จ๐ช๐ข๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ช ๐ฎ๐ข๐ด๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ. ๐๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฑ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ด๐ถ๐ด๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ค๐ช๐ญ. ๐๐ข๐ฑ๐ช, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ด๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ค๐ถ๐ค๐ถ- ๐ค๐ถ๐ค๐ถ๐ฌ๐ถ ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช. ๐๐ฆ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช, ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด๐ฌ๐ถ ๐ด๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ.
Bersambung>>>