Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Pertemuan dengan ayah dan sahabatnya.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Selamat sore, Tuan Shim. Terima kasih, anda bersedia datang mengunjungi saya lagi." Pria paruh baya yang masih di pasangi selang infus serta selang oksigen itu, mencoba bangun dari posisi tidurnya.


"Tidak perlu memaksakan diri, kawan lamaku." Shim Izu, pria berdarah asia dengan latar belakang pendekar ๐™ ๐™–๐™ฉ๐™–๐™ฃ๐™– sebagai leluhurnya. Menahan tubuh pria yang tengah terbaring lemah itu.


"Kau mengatakan bahwa aku adalah kawan lamamu. Tapi ...." Pria paruh baya yang di ketahui bernama Roma tersebut, terlihat tersenyum seraya melepaskan selang yang terhubung ke hidungnya.


"Sialan kau!" Shim Izu memukul bahu Roma agak keras, hingga pria yang pura-pura sakit itu meringis sambil tertawa.


"Kalau tidak begini, mana bisa istri saya memaksa anak gadisnya, pulang ke kampung," kekeh Roma. Pria berusia sekitar 48 tahun itu, masih terlihat bugar di usinya yang hampir setengah abad. Mungkin, karena memang dia memiliki ilmu beladiri dan olah tubuh, sehingga membuat otot serta keperkasaannya menolak usia.


"Lalu, mana anak gadismu itu. Kenapa dia belum datang juga?" tanya mantan pendekar samurai itu heran.


"Mungkin sebentar lagi, istriku baru saja mengirim ku sebuah pesan," jelas Roma.


Tak lama kemudian.


Klek!


Terdengar suara kenop pintu yang di putar. Buru-buru Roma memasang kembali selang infus serta selang oksigennya. Pria itu, benar- benar seperti aktor saja. Wajahnya yang tadi tertawa sumringah, kini kembali ia buat lemah dengan sorot mata yang sendu. Entah, dengan apa ia mengoles bibirnya. Hingga, nampak seperti kering dan pucat.

__ADS_1


"Ayah!" Vanish langsung menghampiri brangkar dan memeluk raga yang tengah terbaring lemah itu.


"Ayah, maaf ... Ninis baru bisa datang," lirih Vanish dengan isaknya di atas dada Roma. Shim menepikan dirinya, memberi ruang bagi keluarga kecil yang harmonis itu meluapkan rasa di dalam dada mereka. Tentunya, dengan senyum tipis yang tak di sadari oleh orang lain.


๐˜™๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ข ... ๐˜™๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ข. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ. ๐˜›๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜จ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ! ๐˜š๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ฆ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฎ. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ข๐˜จ๐˜ฐ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ง๐˜ช๐˜ญ๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜”๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ค๐˜ช๐˜ต๐˜ณ๐˜ข.


Shim menahan geli dengan apa yang ia lihat di hadapannya. Bagaimana seorang Roma telah membuat anak dan istrinya begitu sedih melihat keadaannya. Semua itu, hanya demi kelanggengan hubungan persahabatan mereka di masa lalu. Mereka berdua berniat, mengabadikan hubungan keduanya hingga ke masa depan.


"Sudah, kau jangan bersedih. Karenanya, Ayah ingin kau bahagia dan bersama pria yang tepat, sebelum ayah pergi meninggalkan kalian," tutur Roma dengan suara parau dan raut wajah sedih yang di buat senatural mungkin.


Benar- benar pandai sekali berakting. Hingga ketiga wanita yang mengerubunginya itu terisak.


"Ayah, jangan bicara seperti itu. Ayah pasti panjang umur. Ayah akan hidup untuk menggendong anak-anakku yang lucu dan imut sepertiku. Ayah yang akan mengajarkan mereka menjadi anak yang cerita dan dapat menikmati hidup. Ayah, tidak boleh pergi sekarang! Ninis gak ijinin pokoknya!" teriak Vanish, dengan ocehan beruntun, serta derai air mata yang membasahi kedua pipinya. Matanya serta hidungnya sudah memerah, pertanda bahwa gadis itu begitu sedih dan terpukul akan keadaan sang ayah yang ngedrop tiba-tiba.


๐Ÿพ Aih ... Ayah jago bener deh aktingnya. Mao nyaingin Dude herlino ye, yah? ๐Ÿคญ


"Nis, karena itu ... Ayah berharap kau mau menuruti permintaan, Ayah kali ini. Semua, demi kebaikan di masa depanmu, Nak," ucap Roma dengan suara lemah.


"Apapun, Yah. Apapun itu, akan Ninis lakukan. Semua demi Ayah, atur saja. Ninis percaya bahwa pilihan, Ayah adalah yang terbaik." Vanish menubruk kan kembali dirinya di atas dada bidang sang ayah. Ia telah menyetujui dengan segenap jiwanya. Apapun yang telah di rencanakan sang ayah untuknya. Kebahagiaannya hanya satu, yaitu melihat ayahnya kembali gagah perkasa dengan sikapnya yang ceria seperti biasanya.


"Benarkah, apa yang kamu katakan, Nis?" tanya Roma memastikan, jika pendengarannya tidak salah. Vanish hanya mengangguk dengan cepat, pertanda ia telah setuju dengan apapun titah dan perintah sang ayah.

__ADS_1


"Syukurlah, Ayah sangat lega dan bahagia mendengarnya. Terima kasih, Nak. Kau memang anak yang berbakti." Roma sekuat tenaga berupaya mengelus kepala sang putri. Namanya juga sedang pura-pura sakit dan lemah. Karena itulah, Roma dengan sekuat tenaga menahan keinginannya untuk tidak memeluk Vanish.


Tanpa ia sadari, keanehan pada raut wajahnya telah di sadari oleh Kelly. Karena, Roma sempat nyengir meski hanya sebentar. Memang, sifat ekspresif nya tidak mampu ia tutupi sepenuhnya. Bagaimanapun, Kelly paham bagaimana ciri-ciri suaminya ketika tengah bercanda.


๐˜‰๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ-๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜š๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช-๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฎ ... ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ด ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ! ๐˜›๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ!


Kelly, memicingkan matanya tajam, dengan kedua tangan menyilang di depan dada. Ia menatap lekat suaminya itu. Hingga, kedua mata mereka beradu pandang. Roma hanya bisa mengerling sekejap sebagai kode kepada Kelly.


๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ, ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข-๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข.


Roma hanya bergumam dalam hati, berharap Kelly, sang istri tercinta, tidak akan merusak rencananya.


"Nis, perkenalkan yang di sana itu adalah, Tuan Shim Izu. Beliau adalah mantan majikan ayah dulu. Selain itu, kami juga bersahabat." Roma menunjuk ke arah pria perlente yang berpakaian sangat rapi. Usia yang banyak, ternyata tidak mengurangi sisa-sisa ketampanannya di masa muda dulu. Bahkan, senyumnya begitu berkharisma.


Vanish menoleh sebentar, melihat wajah rupawan itu meski usianya di atas sang ayah. Namun, pria itu masih tampak gagah dengan postur tubuhnya yang masih terawat. Vanish hanya memberikan senyum tipisnya, lalu, ia menunduk sopan.


๐˜ˆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฌ. ๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ . ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข? ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜จ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜›๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ๐˜บโ€“๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช. ๐˜๐˜ถ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ง๐˜ง๐˜ต๐˜ต ...


Vanish menghela nafasnya perlahan, sebelum ia mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.


"Aku setuju, Yah. Atur saja semuanya. Ayah harus sehat lagi. Ayah adalah kebahagiaanku. Keluarga ini adalah mutiara bagiku. Tolong, jangan sakit lagi, sembuhlah." Vanish memajukan tubuhnya, ia melabuhkan kecupan dalam di kening sang ayah.

__ADS_1


๐˜”๐˜ข๐˜ข๐˜ง๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜Š๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ช๐˜ญ. ๐˜›๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช, ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ค๐˜ถ๐˜ค๐˜ถ- ๐˜ค๐˜ถ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช, ๐˜•๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ.


Bersambung>>>


__ADS_2