Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Bab 290. ABPR


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"I got you," bisik Max dari belakang tengkuk Arjuna. Sementara itu revolver nya telah ia tempelkan di atas telinga Arjuna. Max hanya tinggal menekan pelatuk saja dan melesat lah timah panas berujung runcing itu menembus tempurung kepala hingga bersarang di dalam otak.


Akan tetapi tidak untuk saat ini, Max akan mempermainkan calon korbannya itu dahulu. Ia senang dan terhibur melihat wajah frustrasi dari musuh yang akan ia habisi.


Arjuna, merasa dirinya terlalu cepat menilai Max. Ternyata lawannya ini adalah pria yang cerdik dan licik. Max menggunakan jasad anak buahnya demi mengelabui Arjuna.


Saat ini nyawanya berada di ujung tanduk, walaupun begitu Arjuna tidak akan menyerah begitu saja.


๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ช๐˜ค๐˜ช๐˜ฌ. ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ! ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ! batin Arjuna sambil mengatur strategi.


Dirinya juga memegang senjata api, meskipun begitu ia tak dapat menggunakannya. Bahkan Max memerintahkannya untuk melempar senjata itu jauh ke depan kaki Arjuna.


"Lihatlah dirimu payah! Apa kau masih mau sombong saat ini! Siapa yang akan menjadi malaikat pencabut nyawa sekarang!" pekik Max tepat di telinga Arjuna. Hingga Arjuna merasakan telinganya berdengung karena teriakan yang begitu kencang.


"Haish, penjahat macam apa kau? Sejak kapan kau menyikat gigimu?" cibir Arjuna melirik dengan ekor matanya.


"Apa maksudmu!" bentak Max naik pitam.


"Mulutmu bau, apa kau baru saja makan bangkai!" cibir Arjuna. Membuat musuhnya kesal dengan cara mempermainkan emosinya. Berharap lawannya akan bertindak gegabah hingga memberinya celah.


"Apa kau sudah bosan hidup! Asal kau tau saja, aku makan daging segar. Selama ini aku hanya makan daging hewan gagah perkasa. Mungkin kali aku akan mulai memakan daging manusia. sepertinya otot tubuhmu bagus tidak terlalu berlemak," ucap Max dengan cara berbisik di samping telinga Arjuna.


Sembari tangannya menekan-nekan bagian bisep dan trisep Arjuna. Meskipun otot-otot tersebut terhalang oleh jubah akan tetapi jari jemari Max dapat merasakan betapa menakjubkannya massa lemak yang dibentuk menjadi otot oleh Arjuna.


"Pria gila! Hentikan tanganmu!" teriak protes Arjuna pada Max. Giginya bergemeletak menahan kesal. Belum ada orang lain yang berani melakukan ini padanya. Sekalipun itu anak buahnya sendiri. Arjuna mendengus bahkan dadanya naik turun merasa emosi.


Melihat telinga Arjuna yang memerah karena menahan amarah. Max semakin gencar menyentuh bagian-bagian berotot dari pria yang disandera-nya ini. Max mencium wangi yang nampak dikenalnya menguar dari tubuh Arjuna. Max semakin mendekatkan tubuhnya agar dapat memastikan, benarkah harum yang diendus-nya ini adalah aroma kesukaannya.


๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ! ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฌ๐˜ถ? ๐˜ˆ๐˜ฉ. ๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ช๐˜ต! ๐˜”๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช! umpat Arjuna dalam hati.


"Hei! Kau ini laki-laki macam apa. Kenapa aroma tubuhmu wangi sekali!" Goda Max mengendus ceruk leher Arjuna, membuat suami Susi itu menjengit karena geli sekaligus jijik. Gejolak emosi yang membakar amarah Arjuna sudah tak terkendali lagi.

__ADS_1


Akan tetapi ia tetap bertahan karena merasa memiliki kesempatan untuk lepas dari posisinya ini. Arjuna akan memanfaatkan kelemahan dari Max.


"Apa kau menyukai aroma tubuhku?" tanya Arjuna dengan gaya bicara yang di buat serak. Seakan dirinya merespon sentuhan dari Max. Meski didalam hati Arjuna mengutuk Max berkali-kali.


"Hm, ini aroma kesukaanku." Max menjawab kemudian memejamkan matanya. Menghirup aroma itu lagi dalam-dalam. Padahal Arjuna sengaja menggunakan parfum yang biasa di pakai oleh Susi.


Bermaksud agar dirinya tidak terlalu rindu dengan istrinya itu, karena merasa Susi seakan berada di pelukannya terus acapkali Arjuna menghirup aroma tubuhnya sendiri. Entah hal apa yang membuatnya Max begitu terhanyut. Apa iya dirinya berkepribadian ganda sehingga mampu berhasrat ketika bersama bunga dan juga terong?


Melihat ada celah karena Max sempat lengah akibat terbuai dengan aroma lavender yang menempel di tubuh Arjuna. Membuat Arjuna langsung melakukan gerakan cepat dengan menangkap pistol revolver yang di tujukan pada keningnya itu.


Secepat kilat Arjuna menarik tangan Max, memelintirnya hingga pria itu berputar. Kemudian menendang kaki belakang Max, membuat pria itu berlutut di atas pasir.


"Sialan kau! Ternyata kau bermaksud mengecohku!" teriak Max mencoba meronta. akan tetapi Arjuna telah mengunci pergerakannya. Menahan kedua tangan Max di belakang tubuhnya sendiri. Menekan tubuh Max dengan menindih kaki. Arjuna juga telah memposisikan tangannya ke leher Max.


Arjuna menaikkan sudut bibirnya mendengar gelegar senjata di hadapannya. Bagaimana anak buah Max di bantai habis-habisan dengan begitu mudah. Selain kalah jumlah mereka pun kalah kemampuan.


"Ternyata hanya segini skill dari pemimpin sindikat curanmor!" cibir Arjuna. Membuat Max meronta semakin kencang seraya menggeram. Karena tubuhnya terkunci dengan jurus lawannya yang begitu kuat.


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข! ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜จ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต. ๐˜๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ! batin Max mendengus kesal.


Ia tak terima di kalahkan. Bahkan barang hasil curiannya rusak semua. Barang-barang mewah yang telah diincarnya selama satu bulan. Semua hal besar habis dalam satu malam.


BRUGGHH


Puluhan jasad dilempar ke hadapan Max. Mata pria itu memerah dengan urat yang tercetak di samping pelipisnya. Tak ada raut takut dan gentar, meskipun nyawanya saat ini juga sudah berada di ujung tanduk Arjuna.


Max berusaha meronta dengan erangan menggema. Seketika Better maju dan menodongkan senjata api tepat di depan wajah Max.


"Apa lagi yang ingin kau lakukan? Melawan? Jika kau pintar, menyerah-lah. Maka kami akan mengirim dirimu ke alam baka dengan meminimalkan rasa sakit." Better berkata dengan nada sarkas yang di tujukan kepada Max.


"Aku akan melawan. Satu lawan satu dengan Bos-mu!" tawar Max yang justru ditertawakan oleh anak buah Arjuna.


"Kau sudah terkunci. Bos tidak akan melepaskanmu!" ucap Better lagi dengan senyum smirk-nya.

__ADS_1


"Apa!"


KREKK


Arjuna memelintir batang leher Max dengan cepat. Hingga menimbulkan bunyi nyaring pertanda tulang yang patah. Kemudian Arjuna melempar tubuh tak bernyawa gembong curanmor itu ke tumpukkan jasad anak buahnya yang lain.


"Apa yang akan kita lakukan pada mereka Tuan?" tanya Better seraya memandangi tumpukan manusia tak bernyawa di hadapannya. Ia tak menyangka akan kembali melakukan hal ini. Hal yang berusaha di jauhi nya semenjak berkeluarga.


"Bakar!" Hanya sepatah kata sudah mampu membuat Better mengangguk paham. Better pun langsung mengerahkan anak buah lainnya untuk segera mengeksekusi onggokan manusia yang sudah tidak bernyawa tersebut. Anak buah Arjuna termasuk pasukan yang dikirim oleh Erik sangat mengerti apa yang harus mereka lakukan saat ini.


Mereka mengumpulkan mobil-mobil curian tersebut yang mana sudah penuh lubang di setiap bodinya. Anak buah Arjuna serentak membocorkan selang bahan bakar, membiarkannya mengalir di atas pasir.


Setelahnya mereka mundur serentak secara teratur. Red menembakkan peluru ke arah mobil-mobil yang sudah mereka rusak. Kemudian diikuti oleh beberapa anak buah Arjuna yang lainnya. Seketika itu juga suara menggelegar berdentum dengan keras yang berasal dari ledakan beberapa mobil secara berbarengan. Api membesar dengan cepat membakar sekelompok manusia tak beruntung karena telah berurusan dengan komplotan Arjuna.


Arjuna dan pasukannya pun segera meninggalkan tempat pertempuran tersebut. Karena tak lama lagi kejadian ini akan terendus oleh pihak berwajib daerah setempat.


_______


"Kau tidak apa-apa Rose? Jalanmu?" Mona membekap mulutnya menyadari hal buruk yang telah menimpa Rose kemarin malam.


"Ini sudah takdirku. Masuk ketempat ini, merupakan jalan semesta," ucap Rose pasrah. Justru kejadian ini membuatnya bertekad untuk berontak.


"Mona, dengarkan aku. Anak buah Max tinggal beberapa saja. Aku akan membawamu keluar dari tempat ini," bisik Rose. Karena ia tak ingin rencana yang baru dipikirkannya tadi bocor.


"Kau yakin, Rose?"


Rose mengangguk dengan pasti.


BRAAKK


"Kalian!"


Bersambung>>>

__ADS_1


__ADS_2