
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
" Akh, Joy!" Milna mengerang panjang saat kontraksi luar biasa itu terjadi lagi. Entah bagaimana rupa Joy Kinder saat ini. Karena Milna menjambak rambutnya, bahkan menggigit tangannya. Rasa sakit itu tidaklah seberapa bagi Joy. Hanya saja, reaksi Milna lah yang membuat pertahanannya runtuh seketika.
๐๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต. ๐๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ช๐ญ๐ฏ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ญ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ช๐ด ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ด๐ข๐ฃ๐ฆ๐ต๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ต๐ข ๐ฎ๐ข๐ถ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ด๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ณ๐ถ. ๐๐ข ๐ต๐ข๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ต๐ฆ๐ณ๐ช๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช ๐ฃ๐ข๐จ๐ช๐ข๐ฏ ๐ต๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ฐ๐บ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ. ๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฎ๐ถ ๐ฌ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ฌ๐ด๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข ๐ฉ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ถ๐ข๐ฉ ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฌ๐ฆ ๐ฅ๐ถ๐ฏ๐ช๐ข. ๐๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ช๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ข๐ช๐ณ ๐ฎ๐ข๐ต๐ข ๐ด๐ฆ๐ณ๐ต๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต. ๐๐ฆ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ช๐ญ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐จ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต๐ฎ๐ถ ๐๐ข. ๐๐ข๐ต๐ช๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ฅ๐ช ๐ค๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฎ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ฎ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ฏ๐ช.
"Tolong hentikan penderitaan istri saya Dokter!"
"Anda jangan diam saja dan hanya melihat! Cepat segera keluarkan bayi kami!" teriak Joy. Dokter obgyn dan tim sontak menjengit kaget. Wajah mereka memucat, bahkan lebih pasi dari pasien yang tengah berjuang melahirkan bayi kembarnya. Sontak Milna menggigit tangan Joy semakin kencang.
"Astaga sayang!" pekik Joy. Karena kali ini gigitannya berbeda. Benar saja, ketika menoleh kearah Milna. Joy melihat tatapan marah yang tersorot dari kedua mata Milna.
"Kenapa? Aku hanya tak tega melihatmu." Joy mengusap lengannya yang bengkak. Kemudian beralih kembali menatap sang dokter obgyn.
"Maaf Tuan. Kami hanya bisa memantau dan mengarahkan saja. Karena, memang beginilah prosesnya. Setiap naik pembukaan, maka rasa sakit dan frekuensi mulasnya semakin tinggi," jelas sang dokter sambil menelan ludahnya kasar. Susah payah ia mengeluarkan kalimat tersebut dari bibirnya. Pasalnya, aura kemarahan Joy membuat semua tim menciut nyalinya. Mereka seakan tengah berada di ruang ujian. Apabila mereka melakukan kesalahan maka mereka akan di keluarkan dari universitas.
"Tinggal setengah senti lagi. Nyonya berjuanglah sebentar lagi. Saya akan membantu agar posisi bayi benar- benar pas," ujar salah satu bidan yang bertugas memijat perut dan juga pinggang Milna. Ia sedikit memutar bagian yang menonjol di sebelah kanan.
"Sudah benar. Posisi keduanya sudah siap launching," ucap perawat yang terus memantau keadaan bayi dengan alat ๐๐ญ๐ต๐ณ๐ข๐ด๐ฐ๐ฏ๐ฐ๐จ๐ณ๐ข๐ง๐ช ( ๐๐๐).
"Akkhh ...!!" Lagi-lagi Milna berteriak, ia bahkan menolehkan kepalanya dengan cepat. Tangannya menarik kuat kerah kemeja Joy. Hingga kancing pada pakaian tersebut terlepas dan bertebaran di lantai ruang bersalin tersebut.
"Oh Joy. Aku akan membunuhmu, jika kau tidak menyayangi bayi-bayi kita. Huff, aku ... mengeluarkan mereka ... dengan susah payahhh, eugh!" Milna tak tahan untuk tidak mengejan.
"Nyonya. Mengejan-lah seperti yang sudah saya ajarkan ya. Ingat jangan pejamkan matanya, dan bukan berpusat di tenggorokan tapi di bawah perut. Tarik napas dulu, nanti setelah kontraksinya datang lagi, anda boleh mengejan sekuat tenaga," ujar sang dokter memberi arahan. Agar Milna dapat melahirkan dengan minim komplikasi.
"Ah dia datang lagi Dokter!" teriak Milna sambil mengejan dengan kuat.
"Bagus! Kepalanya sudah kelihatan! Coba anda lihat Tuan. Ini rambut bayi anda," tunjuk sang dokter sambil membuat Joy melirik kebawah.
GLEK!
๐๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ญ๐ข!
๐ ๐ข ๐ต๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ!
Buru-buru Joy mengalihkan pandangan ke wajah Milna lagi. Ia pun berkata. "Semangat sayang, sedikit lagi kita akan berjumpa dengan mereka," ucap Joy pelan. Seraya menatap mata Milna dalam.
Milna pun mengangguk, kemudian ia kembali mengejan dengan kuat.
"Euughh!!"
__ADS_1
"Cukup Nyonya, sekarang tarik napas dan hembuskan ya!" seru sang dokter. Tak lama kemudian. Terdengar dengan nyaring suara dari tangisan bayi pertama.
"Bayi pertama kalian. Perempuan," jelas sang dokter dengan senyum sumringah. Kemudian ia segera meletakkan bayi itu sebentar di dada terbuka Milna.
"Istirahat dulu sebentar ya. Tuan, anda dapat memberikan minum pada Nyonya Milna," saran sang dokter obgyn tersebut.
"Milna sayang. Bayi pertama kita ..."
" Hexie," ucap Milna lemah. Namun, ia masih mampu menampilkan senyum tipisnya. Melihat kearah makhluk mungil yang berada di atas tubuhnya ini.
Tak lama kemudian, gelombang ajakan dari bayi kedua mereka datang. Perawat langsung mengambil alih bayi pertama JoโNa.
"Ayo Nyonya, kumpulkan tenaga dan mengejan-lah dengan kuat."
"Oeeekk ... oeekk!" Tangisan nyaring selanjutnya yang berasal dari bayi kedua.
"Bayi kalian, laki-laki." Dokter obgyn di bantu oleh bidan mengangkat bayi yang lebih besar dari kakaknya itu. Kemudian bidan tersebut meletakkan bayi kedua ke atas dada Milna. Tentunya sama seperti bayi yang pertama, yaitu dengan tali pusat yang belom di potong. Bahkan plasenta-nya ikut di bawa menggunakan sebuah wadah alumunium.
Hanya satu jam saja setelah kelahiran dengan metode ๐๐ฐ๐ต๐ถ๐ด ๐๐ช๐ณ๐ต๐ฉ. Karena, menurut penelitian, metode ini bertujuan untuk mengalirkan nutrisi yang terkandung dari plasenta hingga ke otak bayi. CMIWW๐ฃ
Joy mengikuti arahan sang perawat. Ia membuka kemejanya yang memang sudah tanpa kancing itu. Sang perawat memintanya ikut membantu proses Inisiasi Menyusu Dini. Kali ini hanya bermaksud menghangatkan suhu bayi. Agar mengurangi resiko hipotermia.
Betapa suatu godaan berikut ujian bagi mata perawan para perawat muda tersebut. Bagaimana tidak, jika mereka dapat melihat secara langsung roti kotak delapan serta dada bidang yang sedikit berbulu itu.
Joy mengabaikan pandangan kagum sekaligus takjub yang ditujukan padanya. Ia sudah terbiasa mendapat tatapan memuja dari para wanita. Ia tak peduli, Joy kini tak seperti dulu yang mana suka sekali tebar pesona. Baginya cukuplah Milna saja yang terpesona dan memuja ketampanannya.
Keesokan harinya.
"Milna ...!" Panggilan serempak di ucapkan oleh dua orang sahabatnya.
"Uhh, kalian ...! Akhirnya sampai juga," sambutnya dengan senyum gemilang. Pertanda Milna sangat bahagia. Kedua sahabatnya hadir untuk saling berbagi kerinduan dengannya.
"๐๐ฐ๐ฏ๐จ๐ณ๐ข๐ต๐ถ๐ญ๐ข๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ!!" ucap Vanish dan Susi bergantian memeluk Milna.
"Kak Susi, Ninis. Tuan Arjuna dan kau ๐ฎ๐บ ๐๐ณ๐ฐ! Terimakasih karena sudah menyempatkan diri untuk mengunjungi kami." Milna sedikit menundukkan wajahnya sebagai ucapan terima kasih. Begitupun dengan Joy. Ia bahkan sedikit merunduk pada semua orang yang baru saja datang.
" Aku ingin melihat Foxie." Vanish menghampiri kotak bayi sambil menuntun tangan suaminya.
"Ouh, sayang suami gantengnya Ninis. Lihatlah, betapa imutnya dia!" Vanish memekik tertahan. Ia bahkan memegang kedua pipinya saking gemasnya.
"Jadi, dia bayi laki-laki?" tanya Better, yang kemudian diangguki dengan antusias oleh Vanish.
__ADS_1
" Haihh, baby S. Kau memiliki saingan berat. Karena baby F juga tampan dan menggemaskan," ucap Vanish dengan mata berbinar. Ia mengelus perutnya yang tiba-tiba tak bisa diam.
"Kenapa sayang?" heran Better, karena Vanish meringis sambil tertawa.
"Bayi kita merespon. Ketika aku memuji baby F. Tapi di saat Ninis memuji Satria, dia biasa saja. Bahkan anteng dan terkadang sedikit merespon dengan kedutan halus dan samar. Tapi barusan, bayi kita seolah marah," tuturnya sambil tertawa kecil.
"Bisa saja, bayi di dalam perutmu itu sudah beneran bucin sama abangnya, baby S," ucap Susi sambil menatap bayinya yang di gendong ala kangguru oleh Arjuna.
"Bagaimana bisa dibilang bucin. Sementara kami saja belum tau jenis kelaminnya," heran Better.
"Entahlah, itu hanya perasaan istrimu saja. Jika bayi kalian itu perempuan. Bahkan dia sudah meminang Satria," ucap Susi dengan santai. Sementara yang lain tengah mendelikkan mata mereka lantaran kaget.
"๐๐ฎ๐ฐ๐บ, apa itu benar?" tanya Better dengan berbisik. Ia sempat melirik demi menelisik ekspresi dari Arjuna.
"Hanya berandai-andai saja. Jika anak kita perempuan. Karena Ninis sudah terlanjur sayang dengan baby S," jawab Vanish lugas.
Better, menghela napasnya berat. Tidak menyangka jika istrinya bisa seberani itu.
"Lalu, apa jawabanmu?" tanya Arjuna seraya menatap intens ke arah Susi, istrinya.
"Aku tidak ingin menjodoh-jodohkan anak. Biar saja mereka dekat dan kenal secara alami. Berikan mereka kesempatan untuk memilih cintanya sendiri," jawab Susi. Hingga senyum mekar itu terbit di wajah berkharisma Arjuna.
"Kau paham maksud kami Bet?" tanya Arjuna ke arah Better.
"Kami sangat paham, Tuan." Better menundukkan kepalanya. Untung saja Arjuna tidak menanggapi ini sebagai masalah. Kemudian ia menoleh ke arah istrinya, takut Vanish tersinggung dan kecewa.
"Gak dapet Satria, Foxie juga boleh. Bule lagi," ucap Vanish santai. Tanpa ia sadari jika Better tengah mengeratkan gerahamnya.
"Ehm, Nis. Aku juga setuju dengan pendapat Kak Susi. Lagipula, kau pun belum mengetahui jenis kelamin bayimu. Kurang pantas jika kau bersikap seperti itu," timpal Milna dari atas brangkar.
"Kan baru seandainya. Kenapa kalian semua seakan menolak bayiku." Vanish yang sepertinya tersinggung langsung meninggalkan ruangan kamar inap. Segera Better mengejar langkah cepat istrinya itu.
"Yah, Joy. Ninis marah. Tapi bukan maksudku begitu," lirih Milna dengan raut sendu.
"Hah, kenapa jadi begini?"
"Sudahlah sayang, seharusnya kita iyakan saja dulu. Namanya juga wanita hamil, apalagi Vanish sedang dalam mode ngidam. Tapi, semua sudah terlanjur. Semoga saja, Better dapat membujuk istrinya.
"Ar, bagaimana ini?"
"Maaf, aku juga tidak ingat jika Vanish dalam mode mengidam." Arjuna ternyata juga menyesali sikapnya tadi.
__ADS_1
Bahkan, Better keluar tanpa menoleh sedikitpun.
Bersambung>>>