Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Mengurus Ibu Hamil


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Tuk tuk tuk!


Joy, mengetuk kaca jendela. Berharap Milna, bangun dan membukanya.


"Na! Ya Tuhan!" teriak Joy dengan segala kepanikannya. Bagaimana tidak, jika dirinya melihat Milna terkulai lemas di depan pintu kamarnya. Pintu itu sudah terbuka, mungkin tadi Milna memaksakan bangun untuk menghampirinya.


"Ck. Kaca jendela ini juga terkunci. Dobrak pintu depan saja lah!" Joy pun kembali ke teras dengan berlari, bahkan dirinya sempat tersungkur karena tersandung selang air. Kemudian menubruk pot tanaman hingga pecah.


"Asshh!" Joy memegangi lututnya yang ngilu. Kemudian menendang pecahan pot itu dengan kesal.


"Sial! Menghalangiku saja!"


Sesampainya di depan pintu, tanpa menunggu waktu lama lagi. Joy menubrukkan bahunya dengan keras beberapa kali.


Brak!


Brak!


Brakk!


Hingga pada dorongan yang ketiga, barulah daun pintu itu terbuka. Joy segera merangsek ke dalam meninggalkan paper bag belanjaannya di teras. Pria itu sungguh mengkhawatirkan Ibu dari calon anak-anaknya itu.


" Na!" Joy menangkup wajah Milna yang pucat dan lesu. Mendapat sentuhan pada wajahnya, Milna mulai membuka matanya perlahan. Kemudian membola seketika, mendapati wajah Joy yang begitu dekat dengannya.


"Jangan takut ku mohon ...," lirih Joy dengan wajah sendu menyimpan rasa takut yang mendalam.


" Biarkan aku membantumu ke tempat tidur," pinta Joy. Setelah mendapat anggukan dari Milna, Joy menggendongnya ala bridal style. Milna mengalungkan kedua tangannya di leher Joy. Kedua matanya sengaja ia pejamkan, karena dirinya tak sanggup menatap pria itu sedekat ini.


Joy, meletakkan raga lemah itu pelan lalu ia mendengar Milna merintih kecil.


"Kenapa? Apa yang kau rasakan? Apa memanggil dokter atau bagaimana?" cecar Joy panik.


" Aku sangat lapar," rintih Milna dengan suara yang sangat pelan. Tapi Joy masih mampu mendengarnya.


"Ah, iya. Makanannya ku tinggal di depan. Tunggu sebentar." Secepat kilat Joy keluar dari kamar Milna, tak lama kemudian ia kembali masuk dengan beberapa tentengan di kedua tangannya.


"Aku akan siapkan. Aโ€“dimana dapurnya?" tanya Joy bingung.

__ADS_1


"Aโ€“jangan di jawab, biar aku cari sendiri," potong Joy, pada Milna yang hendak membuka mulut untuk menjawab.


Beberapa saat kemudian, Joy kembali dengan nampan di tangannya.


"Na. Ini makanan yang kamu pesan tadi, juga ku buatkan susu hamil. Ini rasa stroberi kesukaanmu. Minumlah dulu," jelas Joy, lembut. Kemudian ia menyodorkan gelas ke depan mulut Milna.


Milna tidak buru-buru meraihnya, dirinya terkesiap sesaat atas perhatian yang di berikan oleh Joy. Namun, setelahnya ia tersadar. Wajar jika Joy melakukan ini semua, karena ada anak-anaknya yang perlu di jaga. Begitulah pikirnya.


"Minumlah, selagi hangat." Joy kembali menyodorkan susu tersebut. Kali ini segera di raih Milna dan ditenggaknya hingga tandas.


"Hei, apa tidak bisa pelan-pelan saja minumnya?" heran Joy. Meski begitu senyum tipis tercetak di wajahnya. Ia senang karena Milna mau menerima minuman buatannya. Ternyata pilihan dari rasa susunya tidak salah.


"Sekarang makanlah. Apa boleh aku menyuapimu?" tanya Joy meminta izin yang tentu saja di tolak mentah-mentah oleh Milna.


Wanita itu langsung menyambar nampan yang ada di atas di pangkuan Joy. Rupanya setelah minum susu tenaganya telah kembali sekitar 40 persen.


"Baiklah, aku akan mengawasi mu." Kemudian Joy bangkit dan duduk di kursi yang terletak pada pojok kamar.


"Keluarlah! Aku gak suka kalo makan di liatin!" titah Milna. Membuat Joy hanya mampu menghela napasnya.


"Bagaimana jika kau butuh ...," Belum selesai Joy berbicara Milna sudah memotongnya.


"Aku akan memanggilmu nanti," ucapnya.


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜•๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ.


Joy hanya bisa mengusap kasar wajahnya. Kemudian menyugar rambutnya dan kembali menghela napasnya perlahan.


๐˜œ๐˜จ๐˜ฉ, ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช. ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช?


Milna menyingkirkan nampan di atas pangkuannya, berusaha turun dari atas kasur. Baru saja satu suap makanan yang masuk tapi perutnya kembali bergejolak. Ketika kedua kakinya menginjak karpet alas lantai kamarnya. Seketika itu juga kepalanya kembali berdenyut. Pandangannya seakan berputar dan raganya kembali limbung ke atas kasur.


Grep!


"Milna!" Joy yang sudah melihat dari ruang tamu segera berlari menghampiri. Untung saja, dirinya masih keburu menangkap tubuh Milna.


"Kenapa tidak memanggilku, Na. Aku 'kan ada di depan. Tolong, jangan sungkan apalagi berpikiran lain. Percayalah padaku karena ini demi kebaikan kalian bertiga. Izinkan aku menjaga dan merawat kalian. Berikan aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku. Berikan aku kesempatan untuk melaksanakan tanggung jawabku," pinta Joy dengan raut wajah memohon yang tulus.


๐˜‘๐˜ฐ๐˜บ. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ? ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ? ๐˜š๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ? ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜‘๐˜ฐ๐˜บ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ. ๐˜’๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ. ๐˜๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? ๐˜—๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ?

__ADS_1


Milna tanpa sadar terus menatap wajah di hadapannya itu tanpa kedip.


"Na? Apa kau mendengarkan ku?" Joy mengibaskan telapak tangannya di wajah Milna.


"Ehm, ya ... baiklah. Aku merasa sangat mual tadi, dan ingin ke kamar mandi," jelasnya masih dengan suara lemah.


"Jadi, apa sekarang masih mual?" tanya Joy lembut. Entah sejak kapan pria itu merubah perangainya. Hingga setiap perlakuannya dan ucapannya saat ini, mampu memadamkan kebencian itu sedikit demi sedikit.


"Sudah tidak lagi," jawab Milna tanpa melihat wajah pria tampan di hadapannya.


Joy memberanikan diri untuk menyibak surai yang menutupi wajah pucat Milna. Karena rambutnya pendek, surai itu terus saja turun ke depan.


"Apa kau punya pita, bando atau jepit rambut?" tanya Joy. Lantas Milna menggeleng.


"Maafkan aku, besok aku belikan ya. Sekarang kamu pakai ini dulu." Joy mengambil karet gelang bekas bungkusan makanan yang barusan ia beli. Kemudian, berdiri kebelakang Milna dan mulai mengikat rambut.


"Aww!" pekik Milna, tanpa sadar tercipta seulas senyum di wajahnya. Pria arogan yang selalu di panggil tengil olehnya, yang selalu memerintahkannya untuk ini dan itu tanpa perasaan. Kini mau tak mau mengurus dan melayani dirinya. Takdir memang tidak bisa ditebak.


" Maaf ya, sementara saja. Besok akan aku belikan jepitan dan kunciran yang bagus," ucap Joy berjanji.


"Gimana? Mau di lanjut makannya?" tanya Joy yang sudah kembali memegang piring berisikan sate ayam lontong bumbu kacang. Milna hanya mengangguk, tiba-tiba seleranya naik lagi. Hingga ia kembali menelan ludahnya ketika melihat makanan kesukaannya itu.


"Boleh, aku menyuapi mu?" ijin Joy. Kembali, ia mendapat anggukan dari Milna. Hingga senyum sumringah itu terbit di wajah calon papa tersebut.


"Gimana, enak?" tanya Joy, sambil sesekali menyeka sudut bibir yang terkena bumbu kacang. Mendapat perlakuan tersebut, secara reflek membuat kedua pipi Milna bersemu merah. Ia merasakan hangat di sudut hatinya.


"Hemm ... Pinter deh, makanannya habis," puji Joy pada Milna. Membuat wanita di hadapannya ini malu bukan kepalang. Pasalnya dirinya benar- benar berselera makan ketika tangan Joy yang menyuapkan makanan itu ke mulutnya. Padahal tadi dirinya sangatlah mual.


"Semoga gak di keluarin lagi ya. Agar kalian bertiga sehat. Aku akan menyiapkan makanan yang bergizi dan lezat tentunya." Joy berkata sambil merapikan bekas makan calon istrinya.


Ahh ... memikirkan itu membuatnya tersenyum dengan lebar. Selesai mencuci piring pria itu kembali ke kamar. Kemudian mendapati Milna sudah terlelap di atas kasurnya.


"Sudah jam dua dini hari. Mau pulang, tapi mana tega meninggalkannya? Apa aku menginap saja?" Gumam Joy, ia pun masuk kekamar dan mencari selimut serta mengambil bantal.


"Wanita ini, bisa-bisanya tertidur pulas disaat ada pria lain di rumahnya.


" Na, aku menginap ya. Aku ada di ruang tamu. Maaf bila aku lancang. Aku hanya ingin menjaga kalian bertiga. Aku menyayangimu dan calon anak kita. Entah, mulai kapan perasaan ini muncul di hatiku." Joy memberanikan diri untuk mengelus perut rata Milna. Kemudian menaikkan selimut hingga sebatas leher.


"Ibu ...." lirih Milna di sela tidurnya.

__ADS_1


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ. ๐˜๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜•๐˜ข. ๐˜›๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ด๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ช ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ. ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช. ๐˜’๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฌ.


Bersambung>>>>


__ADS_2