
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Imoy ...." Better buru-buru berbalik dan melepas tangannya dari gagang pintu. Ketika mendengar suara panggilan lirih dari atas brangkar.
Kedua mata itu masih terpejam ketika dirinya telah sampai di samping Vanish. Hanya saja, jemari istrinya itu tengah berusaha bergerak-gerak.
"Suโgan ...," lirih Vanish terdengar begitu lemah. Better menggenggam tangan itu erat, mendekatkannya lagi ke depan bibirnya untuk mengecupnya dalam.
"Imoy sayang, kau sudah sadar. Bukalah matamu, aku ada disini," ucap Better mendekatkan wajahnya ke samping kepala Vanish untuk berbisik. Perlahan Vanish membuka kedua matanya. Mengerjap beberapa kali untuk beradaptasi dengan cahaya terang di sekitarnya
"Suโgan," ucapnya dengan tatapan sendu.
"Iya sayang," jawab Better. Wajahnya agak dekat ke Vanish agar dapat mendengar istrinya yang begitu pelan. Apalagi hidung dan mulutnya tertutup alat bantu pernapasan.
"Haโus," lirihnya lagi.
"Sebentar sayang, aku akan mengambilkan air untukmu." Better kemudian memencet bel yang menempel pada dinding di atas kepala Vanish.
"Sebelumnya, aku harus memanggil dokter dulu sayang. Aku tidak ingin sembarangan bertindak, karena kau baru saja sadar dari operasi besar," jelas Better, membuat Vanish menghela napasnya pelan. Ia merasa tenggorokannya sangatlah kering. Karenanya ia kesulitan untuk mengeluarkan suara.
Tak lama kemudian beberapa tim medis memasuki ruangan steril tersebut. Better bergerak memundurkan tubuhnya. Ia akan memperhatikan dari jauh saja. Berharap agar dirinya tidak diusir dari sana.
Tatapan kedua mata yang sayu mengikuti arah pergerakan dirinya. Ia tahu bahwa Vanish tidak ingin di tinggal. Better memberi kode dengan anggukan kepala dan senyumnya.
"Semua bagus, Ibu Vanish bisa pindah ke kamar perawatan sekarang," ucap Dokter yang baru saja memeriksa Vanish kepada Better.
"Istri saya ingin sekali minum Dok, apakah sudah boleh?" tanya Better.
"Ah ya, berikan saja sedikit demi sedikit agar lambungnya tidak kaget," saran Dokter tersebut.
" Kami akan memindahkan istri anda jika kalian sudah siap. Sekarang, tim perawat kami akan menunggu di station nurse. Silakan pencet bel-nya lagi jika sudah siap pindah." Setelah mengatakan apa yang akab di lakukan selanjutnya. Tim medis tersebut keluar.
"Baik Dok, terima kasih!" Better menunduk singkat.
" Sayang ini minumnya. Tidak usah bangun kau masih lemas." Better mengarahkan botol mineral dengan sedotan bersiku. Beberapa kali hisap Vanish sudah merasa lebih baik.
__ADS_1
"Niโnis kenapa?" tanya Vanish setelah Better kembali memasang alat bantu pernapasannya.
"Jangan banyak bicara dulu ya. Kata dokter, Imoy harus banyak istirahat. Jangan pikirkan macam-macam dulu. Biar kamunya cepat pulih," jelas Better perlahan. Dengan kondisi Vanish yang masih begitu lemah, dirinya tidak akan kuat bila mendengar kenyataan yang terjadi pada dirinya.
"Iya, Niโnis mau pindah kamar. Di sini banyak yang liatin," ucap Vanish, membuat alis Better menukik seketika.
"Banyak yang liatin? Siapa sayang?" heran Better . Apa Vanish berhalusinasi karena pengaruh obat bius. Apakah dirinya harus memanggil dokter lagi? Better terjebak dalam kebingungan seorang diri.
"Niโnis gak keโnal," jawab Vanish terbata-bata.
"Dimana? Kamu melihat mereka dan seperti apa?" selidik Better, setelah ia bisa menyimpulkan barulah dirinya memanggil tim medis.
" Di sana ... di sana juga. Wajahnya ... ada yang jelek, ada yang cantik sekali," jelas Vanish dengan napas sedikit tersengal.
"Kenapa sayang? Apa kau kesulitan bernapas?" tanya Better dengan raut wajah khawatir.
"Mereka menindih tubuh ... ku," ucap Vanish agak susah. Membuat Better risau kembali. Ia tidaklah paham dan mengerti atas apa yang dikatakan oleh istrinya itu.
"Daโdaku ...," Vanish tidak dapat meneruskan kata-katanya. Better langsung memencet tombol darurat lagi.
" Siapa yang kau maksud sayang? Aku sama sekali tidak mengerti," gumam Better seraya menaikkan selimut hingga batas perut Vanish.
" Apa yang terjadi dengan istri saya Dok? Kenapa dia tiba-tiba sesak?" tanya Better panik.
"Istri anda sepertinya belum sadar sepenuhnya. Dia berhalusinasi dan ketakutan sendiri," jelas Dokter. Kemudian salah satu perawat memberikan obat penenang.
"Kita pindahkan saja sekarang. Agar anda dapat menemaninya di kamar perawatan." Para perawat itu pun segara mendorong brangkar Vanish keluar dari ruangan ICU. Kemudian Better menyusulnya di belakang. Better mengeluarkan ponselnya.
"Kami pindah ruangan. Lantai 6 kamar Bougenvil 212." jelas Better pada pria yang dihubunginya dari ponsel.
๐๐ข๐ช๐ฌ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ด๐ถ๐ญ.
Jawab Joy, ia kembali meletakkan ponsel di dalam sakunya. Melirik kearah sang majikan yang bucin tak tau tempat, situasi dan kondisi.
Bagaimana tidak, saat ini ia melihat seorang Arjuna. Pria yang mengidap OCD ringan. Mau - maunya memijat telapak kaki Susi. Menaikkan sebelah kaki itu keatas pangkuannya.
__ADS_1
"Sudah Ar, tidak pegal lagi," tahan Susi menangkap tangan Arjuna yang hendak memijat sampai betisnya.
"Baiklah, kalau begitu tetap di luruskan kakinya. Kau itu kelelahan berlari dan berdiri. Belum lagi kau juga kan sedang dalam masa pemulihan pasca operasi cesar," pinta Arjuna. Menyarankan pada istrinya yang sok kuat itu.
" Aku ingin melihat Vanish."
"Betternya juga belum mengabari lagi. Mungkin keduanya saling menumpahkan perasaan. Kita jangan mengganggunya dulu."
"Baiklah." Susi menghela napas pasrah. Lebih baik menikmati pijitan dari tangan suaminya ini. Membuatnya rileks dan ingin tertidur. Susi pun menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Arjuna yang melihatnya langsung menyambar kepala Susi agar tidak terbentur, lalu meletakkannya pada bahu.
๐๐ฌ. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ต๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฌ ๐ณ๐ฐ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ต๐ช๐ด ๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ซ๐ข. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ณ๐ช ๐ด๐ข๐ซ๐ข. ๐๐ฉ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฅ๐ข ๐๐ช๐ญ๐ฏ๐ข. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฃ๐ช๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ๐จ? ๐๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ณ๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ช๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ช๐ด ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ด๐ถ๐ข๐ฎ๐ช ๐ด๐ข๐ฉ๐ข๐ฃ๐ข๐ต๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ข๐ช๐ฌ๐ญ๐ข๐ฉ ๐๐ข, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ธ๐ถ๐ซ๐ถ๐ฅ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ. ๐๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ต๐ถ๐ข๐ฏ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฎ๐ถ.
Joy yang sedang berdiri karena baru saja menerima telepon dari Better segera menghampiri Milna. Wanita itu terlihat menyandarkan kepalanya pada dinding. Karena kursi yang didudukinya tak memiliki sandaran. Seketika Joy terlupa akan pesan dari Better.
" Na, apa kau lelah? Sini biar aku pijat kakimu." Tanpa menunggu ijin dari Milna, Joy menarik kaki jenjang itu ke atas pangkuannya.
Tiba-tiba ...
"Apa-apaan sih!" Milna mendorong bahu Joy hingga pria itu mundur ke belakang dan terjatuh dengan posisi duduk di atas lantai.
Dugh!
"Aww! Sakit Na! Kejam sekali sih?" pekik Joy protes.
" Itu pantas di dapatkan bagi pria kurang ajar sepertimu!" ujar Milna dengan sorot mata yang tak suka. Baru saja dirinya memejamkan mata. Tau-tau ada yang mengagetkannya dengan menarik kakinya. Dasar pria gila! Batinnya.
"Kok kurang ajar sih? Aku hanya mencoba perhatian dan romantis padamu," ucap Joy berusaha melembutkan suaranya. Meski dalam hatinya ia sangat dongkol sekali. Betapa linu bokongnya ini, harus mencium marmer yang keras dan dingin.
" Jangan pernah memaksakan perbuatan. Lakukan dengan dan dari hatimu. Jika ingin semua berjalan dengan benar dan alami!" ketus Milna. Dirinya tau, jika Joy ingin meniru kelakuan manis Arjuna.
Glek!
Joy seraya sedang menelan batu. Perkataan Milna benar-benar menyudutkannya. Sementara, kedua pasangan soulmate di ujung sana nampak terkekeh geli memperhatikan tingkah Joy dan Milna.
๐๐ข๐ฎ๐ท๐ณ๐ฆ๐ต๐ต ...
__ADS_1
๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ข๐ธ๐ข ๐ต๐ถ๐ข๐ฏ, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ฅ๐ข๐ณ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ถ ๐ด๐ข๐ซ๐ข.
Bersambung>>>