
🔥🔥🔥🔥🔥
"Kita balik yuk, udah kelamaan," ajak Susi.
"Balik kemana?" tanya Arjuna, meletakkan dagunya di bahu Susi.
Karena saat ini dia tengah memeluk wanita itu dari belakang.
" Tentu saja ke kantor, memang kemana lagi." cetus Susi tanpa bisa menoleh karena Arjuna kini menempelkan bibirnya di leher putih Susi.
"Hentikan ... kau lupa ini tempat umum!" omel Susi membuat Arjuna menggeliat kecil.
"Jari mu itu ... benar-benar mirip kepiting. Capit sana ... capit sini." protes Arjuna disertai kekehan kecilnya.
"Jangan terlalu keras pada diri mu ... biarkanlah begini sebentar lagi." pinta Arjuna semakin mengeratkan pelukannya.
Matanya terpejam menikmati aroma harum dari rambut coklat sebahu itu.
Wangi yang sudah menjadi candu bagi Arjuna.
" Kamu pakai shampo apa sih kalau keramas?"tanya Arjuna penasaran, karena aromanya selalu segar dan wangi.
"Shampo kucing." jawab Susi asal, bahkan ia terkekeh kecil. Kedua tangannya ikut memeluk tangan besar Arjuna yang melingkar di perut dan dadanya.
"Aww!" seru Susi, ketika Arjuna menggigit kecil telinganya.
"Kenapa menggigit sih!" protes Susi, mencebik gemas.
" Makanya jawab dengan benar." ucap Arjuna masih dengan posisi yang sama dengan mata yang terpejam.
"Aku serius itu juga." kilah Susi.
"Aku bingung karena tidak ada shampo yang cocok sama rambutku. Ya sudah aku pakai sampo kucing saja ... buktinya kau suka kan?" tutur Susi, sambil merasai angin yang menerpa lembut wajahnya.
Ombak yang sesekali menghantam batu karang besar, yang tengah mereka pijaki itu. Membuat alunan nada harmonis yang berasal dari alam.
Berpadu kontras dengan suasana hati keduanya.
" Ar ...." panggil Susi.
__ADS_1
"Hemm ...." sahut Arjuna pelan.
"Apa tidak apa bila ...,"
" Better sudah mengurusnya." timpal Arjuna memotong kalimat yang hendak meluncur dari bibir Susi.
"Tapi ... aku merasa seperti ...,"
" Kau hanya bertugas membalas dendam. Urusan perusahaan biar menjadi urusan Better." sambar Arjuna lagi, tak membiarkan Susi menyelesaikan kalimatnya.
"Huuftt ...." Susi mengembuskan nafasnya panjang.
"Jangan risau kan apa yang tidak pantas kau pikirkan. Aku menunjuk mu sebagai Direktur hanya sebagai maskot saja.
Jadi, biarlah asisten mu itu yang bekerja keras sungguhan." tutur Arjuna, membuat Susi berbalik seketika.
" Jadi aku yang kepedean ya?" cebik Susi bertolak pinggang.
Arjuna menaikkan satu alisnya, bingung.
" Ya, otak sebiji jagung ku mana pantas bila menjadi Direktur sungguhan ... sungguh tidak pantas." Susi menghela napas, lalu membuang wajahnya ke samping.
" Bukan tidak pantas, aku tidak ingin kau lelah dan berpikir keras. Cukup pikirkan bagaimana cara menghancurkan manusia laknat itu hingga dasar," ucap Arjuna sambil mengelus kepala.
Susi merenggangkan pelukannya dan mendongak.
" Jadi, kau menghawatirkan ku?" tanya Susi sambil menatap dalam iris pekat yang tajam itu.
Menyusuri alisnya yang tebal membingkai
wajah itu hingga begitu menawan.
" Tentu saja, kau ini tidak peka sekali!" Arjuna mengulurkan tangannya ke wajah Susi.
"Ishh ...." Susi meringis sambil melepas paksa jari besar Arjuna, karena pria itu mencubit hidung mancung bin mungil Susi.
Arjuna menatap dalam wajah itu dari mata indah Susi hingga turun ke bagian yang paling menarik minatnya.
Arjuna menyibak anak rambut yang terurai menutupi wajah cantik natural di hadapannya ini. Menyelipkannya ke belakang telinga.
__ADS_1
Jemarinya terus menyusuri wajah Susi, hingga Ibu jari Arjuna mendarat di bibir kenyal nan penuh milik Susi.
Sepasang mata gelapnya telah berkabut, kerinduan selama beberapa hari ini telah memenuhi dadanya. Perlahan tapi pasti, wajah rupawan Arjuna semakin mendekat dan mengikis jarak diantara mereka.
Susi sempat terkejut, meski ini bukan ciuman pertama mereka. Hanya saja, hatinya tetap selalu berdesir, ketika bibir sensual Arjuna menempel dan meninggalkan sengatan listrik pada seluruh sendinya.
Susi memejamkan matanya kini, aksi Arjuna telah sukses membiusnya.
Pikirannya kosong, yang ia tau hatinya menghangat dan ia merasa rindunya menguar seiring decapan dari sesapan keduanya.
Arjuna semakin mengeratkan rangkulannya, bahkan ia menekuk tengkuk Susi demi memperdalam ciuman mereka.
Lidahnya pun ikut bermain-main, membelit dan mengabsen seluruh isi didalam rongga mulut seksi itu.
Alunan merdu nan lembut sukses meluncur dari bibir Susi, ketika aksi hangat dan basah itu membuai dirinya.
Reflek, kedua tangan kecilnya mengalung di leher kekar Arjuna. Melingkar erat disana, seakan tak ingin momen ini di pisahkan oleh apapun.
Terusin ... terusin.
Gak ada yang liat juga ...
Paling cuma burung camar ... kerang nyasar ... sama mister crab yang lagi nyari koin jatoh.
" Kita pulang ke apartemen saja, aku mau makan steak buatanmu." Arjuna mengusap bibir Susi yang basah karena perbuatannya.
Susi menunduk malu, karena ia selalu saja terbawa, oleh kedekatan keduanya. Di tambah, momentum dan situasinya sangatlah mendukung.
" Ayo! Tapi, kita harus membeli bahannya dulu," jelas Susi.
" Baiklah. Itu bukan masalah." Arjuna membantu Susi menuruni batu karang besar itu dengan memegang pinggangnya.
" Aakh!" Susi memekik karena Arjuna sedikit memutarnya sebentar. Lalu pria itu melabuhkan kecupan di ujung kepalanya.
(Kenapa dia manis sekali hari ini?)
Arjuna mengabaikan tatapan Susi, ia menggandeng tangan itu menyusuri pantai menuju lokasi di mana mobil mereka di parkir sembarang.
Bersambung>>>>
__ADS_1