Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Anak yang terabaikan.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Bi-bi...!" panggil seorang bocah kecil perempuan dengan rambut di kepang dua.


"Iya, Nona Po. Ada apa?" sahut wanita paruh baya yang rambutnya di konde dan mengenakan kebaya serta kain sebagai penutup bawahnya.


Bocah perempuan itu berlari hingga kemudian memeluk pinggang wanita itu.


"Pokky kangen sama bunda.... Kapan bunda pulang? Kenapa lama sekali,hiks." Anak perempuan itu terisak.


"Sabar ya, bunda kan lagi kerja. Biar nanti bisa belikan Nona Po, boneka teddy bear berwarna pink yang besar," jelas wanita itu sambil mengelus punggung kurus anak perempuan itu.


Hatinya ikut sakit, karena kenyataan bahwa sang anak di abaikan oleh ibunya sendiri.


"Nona ikut bibi ke warung depan mau? Bonceng sepeda, nanti tak ajak ngebut, wuusshhh...!" bujuk wanita itu sambil memperagakan dengan tangan dan mimik wajahnya. Membuat anak perempuan itu tertawa dan memperlihatkan giginya yang rata dan kecil.


__***__


📨 Aku telah mengirim uang, belikan saja apapun yang ia mau. Ajak dia jalan-jalan. Apapun itu terserah, asal jangan menyuruhku pulang!


✉️ Tapi nyonya, nona kecil sekarang sedang sakit tubuhnya panas sekali.


📨 Urus dia, bawa ke Dokter, lakukan apa saja. Aku sudah membayar mu dengan pantas untuk ini semua.


Seorang wanita cantik dengan baju tidur bertali tipis, kembali meletakkan ponselnya setelah membalas pesan terakhir.

__ADS_1


Ia tersenyum menggoda pada seorang lelaki yang menatapnya liar di atas pembaringan di sebuah villa.


Tak lama kemudian ponselnya kembali berdering, ia meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya. Memberi tanda diam pada pria yang tengah bersamanya.


"Sayang, a-aku merindukan mu." sahut Jelita menanggapi panggilan dari Seno tunangannya.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Bagaimana keadaanmu sekarang? Kenapa aku tidak boleh menemui mu, aku ingin merawat mu sayang." ucap Jelita sok peduli, sementara pria di atasnya tengah bermain menikmati tubuh indahnya.


Sesekali wanita itu membekap mulutnya sendiri demi meredam desah yang mengalun dari bibirnya.


" Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri. Bila di tanya mami, katakan aku keluar kota selama dua pekan." jelas pria berkacamata yang tengah duduk di atas kursi roda, dengan perban di kepalanya.


"Kau, emh..., benar baik-baik saja, sayang?" tanya wanita yang tengah di mabuk kepayang itu.


"Ah, tidak sayang aku tadi sambil menuruni tangga. Karena lokasi pemotretannya ada di lantai tiga." dusta Jelita.


Ia memberi kode pada pria di hadapannya agar berhenti sejenak. Namun, pria itu malah sengaja memosisikan jemarinya untuk menembus hutan belantara. Hingga, wanita bertubuh sintal itu bersuara nyaring dengan lengkingan yang panjang.


"Jelita! Apa yang terjadi?!" pekik Seno, pria tampan yang menjadi pesakitan selama beberapa pekan terakhir ini, nampak terkejut. Hingga ia lupa keadaannya dan hampir berdiri.


"Huh.hah...,"


"Tidak sayang, aku hanya menabrak orang saja. Baiklah, sudah dulu ya. Jaga dirimu baik-baik. Aku mencintaimu!" Jelita segera menekan tombol merah itu. Tak lama kemudian lenguhan panjangnya mengalun dari bibir tipisnya, menandakan bahwa ia telah mencapai puncak nirwana nya.


"Sekarang giliran ku, my sugar," ucap pria paruh baya itu sembari menerjang tubuh lemas Jelita. Ia meraup buas bibir sensual berwarna merah itu, dengan kedua tangan besarnya menangkup bongkahan padat berbiji merah muda.

__ADS_1


Mengelusnya perlahan, hingga sentuhan demi sentuhan itu telah membuat Jelita kembali bergelora.


Karena tenaganya telah pulih setelah pelepasan pertamanya tadi, Jelita pun berinisiatif untuk memegang kendali kali ini.


Ia membalik posisi mereka, menjadikan tubuh pria tua itu di bawah kuasanya.


"Your'e so hot baby!" Pria tua itu, menggeliat ketika Jelita memainkan pinggulnya. "Kau pasti akan_ mendapatkan_ peran itu_ sayang...," lirihnya dalam lenguh yang panjang, hingga akhirnya ia menggelepar tiga puluh menit kemudian.


(Pria tua payah, tapi permainan lidah dan jari mu boleh juga. Setidaknya aku cukup puas.) Jelita menyeringai sambil beringsut dari atas pria yang telah terkapar lemas itu.


"Aku akan mendapatkan karirku, kekasihku dan kekayaan melimpah ruah. Harta, tahta dan cinta akan ku dapatkan bersamaan.


Kau pintar, licik dan cantik Jelita Kirana." Monolognya di depan cermin toilet.


Bibir tipis sensualnya menyunggingkan senyum miring nan sinis.


Dengan segala niat licik yang telah tersusun di kepalanya.


Jemari lentik nya menjelajahi setiap jengkal tubuhnya yang molek. Beberapa kali memiringkan raganya, berputar dan berpose dengan gaya menantang.


" Tak sia-sia aku merombak beberapa bagian ini," ucapnya sambil menyentuh dada, pinggul, bokong dan juga wajahnya.


"Aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan, hahaha....!" tawanya menggelegar di ruang kedap suara itu.


Bersambung>>>>>

__ADS_1


__ADS_2