
🔥🔥🔥🔥🔥
Arjuna berlari dengan panik, baru sedetik lengah saja dirinya sudah kecolongan.
"Bang, kakak ipar sepertinya di culik!"
" Mereka ada di base man, aku akan mencoba menahan mereka dengan mengecoh sistem." lapor Walls dari balik telepon seluler.
Arjuna memperlambat larinya, ia menghubungi orang-orangnya.
" Joy, hubungi Better dan orang-orangmu, bawa mereka ke baseman. Perintah Arjuna, yang kini tengah memasuki lift.
"Kamvrett!" umpat Walls, karena sistem unlocknya tidak bisa ia buka.
" Barakokok sia!"
" Ni mafia pake sistem apa sih, susah bener. Njiirr!" maki pemuda berambut pirang gelap itu. Keringatnya sudah mengucur deras.
CCTV di base man mendadak buyar. Pemuda itu terus mengutak-atik deretan angka dan alfabet pada layar komputernya, satu set komputer canggih dengan tiga layar sekaligus.
"Gilak. Gilak. Gilak. Oh no!"
Tek!
Bip!
Walls mematikan, sistem pada komputer pertama. Sepertinya aksinya sudah tercium pihak musuh.
"Kambing!" pekiknya pada layar, lalu melempar earphone nya, karena alat itu berdenging di telinganya.
" Orang mengerikan macam apa dia?"
" Kakak ipar ... kamu gak boleh kenapa-napa pokoknya, karena cuma kamu yang bisa bikin abang jadi normal." gumam Walls.
Beberapa saat sebelumnya. ( Flashback on)
__ADS_1
"Toilet kok sepi banget ya?" gumam Susi, setelah merapikan kembali gaunnya ia pun hendak melangkah membuka pintu bilik.
" Eh, nanti dulu mbak. Biar saya keluar dulu," kaget Susi karena dua orang wanita hendak masuk ke biliknya.
"Eh. Eh kalian mau ngapain? Hmppt ...!" Susi tak dapat mengeluarkan suaranya lagi karena ia di bekap.
Lalu tubuhnya lunglai dan pingsan.
Salah satu wanita mengunci pintu, sedangkan wanita satunya lagi memakaikan atasan untuk susi. Memakaikan wig serta kacamata, juga menganti warna lipstik pada bibir Susi.
Mereka berdua keluar terpisah, karena wanita pertama berbadan tegap maka ia bertugas memapah Susi layaknya membawa orang mabuk saja.
Sedangkan yang satu lagi memantau keadaan. Kebetulan saat itu Arjuna tengah menelepon.
Kedua wanita misterius itu, terus membawa Susi kebawah. Mengantarkan Susi ke mobil yang sudah menunggu mereka di baseman.
(Flashback of)
Arjuna telah sampai di base man. Pria itu terus berputar mencari keberadaan wanitanya.
"Shiit! Kemana mereka membawa Susi." Arjuna terus mengedarkan pandangannya dengan dada yang terus berdebar kencang. Ia tidak akan memaafkan dirinya, jika sesuatu yang buruk terjadi pada wanita itu.
Sampai ia melihat sebuah mobil tiba-tiba melesat.
Arjuna berlari sekencang-kencangnya, melewati beberapa portal pembatas. Menikung arah, hendak menyalip lajur mobil tersebut namun nihil.
Sampai akhirnya ...
Tiiiiinnnn ...!
Tiba-tiba ada mobil yang membunyikan klakson dari belakang. Arjuna pun sontak menoleh dengan cepat.
"Masuk Bos!"
Arjuna pun masuk, setelah ia tahu siapa orang yang ada di dalam mobil.
__ADS_1
Pletak!
"Kenapa kalian lama sekali!" maki Arjuna dengan sebuah jitakan yang mendarat mulus di kepala Joy.
"Maaf, Tuan. Kami menanti sistem gerbang terbuka." jawab Joy, sambil tetap fokus mengemudi dengan mengabaikan rasa berdenyut pada ubun-ubunnya.
"Lalu dimana Better?!" hardiknya lagi.
" Di belakang Tuan." jelas Joy masih tetap melihat kearah depan. Memantau mobil yang membawa Susi, jangan sampai ia kehilangan jejak. Atau, pria di sebelahnya ini akan langsung menelannya.
"Lebih cepat Joy! Pepet mereka!" titah Arjuna dengan berteriak tepat di telinga sang asisten.
" Berikan aku senjata." pinta Arjuna.
"Black pinjamkan Bos senjatamu, aku sedang fokus!" titah Joy pada anak buahnya yang berkulit hitam itu.
"Ini, Tuan." Black menyerahkan senjata api yang pas di genggaman tangan Arjuna.
"Kejar Joy, pepet dari samping. Cepat!"
Arjuna membuka kaca jendela mobilnya.
"Lebih dekat lagi Joy!" Arjuna mengeluarkan tangannya yang memegang senjata api.
Joy membanting stir hingga posisi mereka berada di samping ban belakang mobil musuh.
Dor!
Meleset.
Dor. Dor!
Crassshh!
Satu ban terkena lesatan peluru yang di tembakkan oleh Arjuna.
__ADS_1
Joy memundurkan sedikit mobil mereka, lalu ....
Bersambung>>>>