
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Aku tau, Rich. Seno tidak akan marah padaku," ucap Jelita yakin diiringi tawa kemudian.
Saat ini mereka berdua telah berada di dalam mobil. Keluar dari area rumah sakit, menuju rumah besar.
" Dia itu, sangat mencintaiku. Lagipula, kehilangan anak ini bukan kesalahanku. Kepergiannya bukan sebab perbuatanku. Kau tau, aku itu hanya sial saja bertemu pria maniak seperti itu." Jelita terus mengoceh dengan berbagai ekspresi. Berusaha membela diri, di depan pria yang sama sekali tidak peduli apapun tentangnya.
๐๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ณ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฎ๐ถ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ช.
Rich, tetap fokus mengemudikan kendaraan beroda empat itu. Membelah jalanan yang ramai lancar, meski debu beterbangan dikarenakan kemarau.
Terkadang Jelita tertawa senang, terkadang pula wajahnya menampakkan ketakutan, terkadang juga dia marah-marah sendiri. Memaki pria yang tanpa diketahuinya sudah pergi ke alam baka.
Rich, hanya diam tak menanggapi. Sejak awal pria ini tak pernah menyukai pribadi Jelita yang suka seenaknya padanya. Sifat angkuh dan ๐ฃ๐ฐ๐ด๐ด๐บ, membuat asisten kepercayaan Seno ini, sama sekali tak menaruh respeknya.
Hanya satu tujuannya saat ini, membawa istri tuannya itu pulang kerumah besar. Meski, Rich harus menahan emosi karena Jelita tak kunjung diam.
"Rich, kau tau. Para tenaga medis itu hanya menakut-nakutiku. Mereka bilang aku sakit parah. Yang benar saja," Jelita tersenyum miring, setelahnya ia mendengus kasar.
"Aku ini baik-baik saja, seumur hidup aku tidak pernah sakit. Bagaimana mereka bisa mengatakan itu. Memberi ku obat dengan rasa yang menjijikkan." Lagi-lagi Jelita menggerutu panjang.
"Maaf, Nyonya. Kita sudah sampai," ucap Rich sedikit menoleh kebelakang. Baru saja ia hendak turun dari mobil, Jelita berteriak padanya.
"Tunggu, Rich!"
" Ya, Nyonya," Rich kembali duduk dan menoleh.
" Kenapa kau bawa aku kesini? aku tidak mau seatap dengan nenek sihir itu. Bawa aku ke apartemen saja," pintanya dengan memaksa.
"Maaf, Nyonya. Saya hanya melakukan sesuai perintah dari tuan Seno." Rich keluar dan membukakan pintu mobil untuk Jelita.
Jelita mendengus lalu menghentakkan kakinya sambil melirik sinis bin ketus kearah Rich. Namun, pria dingin bin kaku itu hanya abai.
Kemudian Rich mengeluarkan koper dari bagasi, setelah itu menyeretnya hingga ke dalam rumah besar.
"Heh! Ngapain kamu kesini lagi!" Easy, telah menyambut di depan pintu sambil bersedekap. Tatapan nya mengandung ketidaksukaan yang ketara jelas.
"Kau tau, rumah ini pernah melempar keluar wanita cacat yang tak tau diri!" hardik Easy, membuat kedua mata panjang Jelita menghunuskan kebencian.
"Kali ini, mungkin akan menendang satu lagi wanita tak berguna yang menyusahkan." Easy, kemudian membalas tatapan tajam Jelita.
"Aduuh, Mami mertua ku tercinta. Kenapa kau menampakkan wajah aslimu? Tidak bisakah kau berlagak menyukai dan menyayangiku?" sindir Jelita, dengan senyum remehnya. Sedangkan mata nya masih mendelik seram.
"Siapa kau! Sampai harus mendapat kasih sayang dari ku?" cebik Easy, membalas senyum remeh Jelita dengan tatapan merendahkannya.
__ADS_1
"Kau itu hanya wanita tak berguna, tak ada lagi yang bisa dibanggakan dari tubuhmu itu. Berkacalah!" sarkas Easy kemudian.
Jari tangan Jelita mengepal kuat di samping tubuhnya, hingga buku-buku jemarinya memutih.
๐๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ต๐ถ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฐ๐ฃ๐ฆ๐ฌ ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ถ๐ต๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ด๐ข๐ซ๐ข, ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ช๐ญ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐๐ฆ๐ญ๐ช๐ต๐ข ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฌ ๐ด๐ช๐ฉ๐ช๐ณ ๐ฐ๐ฎ๐ฑ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฎ๐ถ!
๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ณ๐ข๐ด ๐ฉ๐ข๐ณ๐ต๐ข๐ฎ๐ถ. ๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐๐ฆ๐ฏ๐ฐ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ด๐ถ๐ต๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฉ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ถ๐ด๐ช ๐ด๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ ๐ช๐ต๐ถ.
"Bagaimanapun, aku masih istri sah Seno. Aku masih berhak pulang kerumah ini. Jadi, permisi Mami mertuaku tersayang." Jelita melenggang melewati Easy dengan membusungkan dada.
Braakkk!
Easy menendang koper yang baru saja di letakkan Rich di depan pintu. Hingga isinya berserakan keluar.
Melihat situasi yang tidak kondusif, Rich membungkukkan tubuhnya. Setelahnya, pria bermata sipit itu berlalu.
" Buang saja ! Lagipula aku mau shopping kok setelah ini." Jelita pun tertawa sambil meneruskan langkahnya menaiki tangga.
_
_
_
Jelita berjalan mondar-mandir didalam kamar dirinya dan Seno. Memandangi foto pengantin yang di letakkan di atas nakas samping tempat tidur.
๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ด๐ถ๐ข๐ต๐ถ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ค๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฑ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฌ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฌ๐ข๐บ๐ข๐ข๐ฏ ๐๐ณ๐ข๐ฅ๐ช๐ฑ๐ต๐ข. ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ถ๐ข๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข.
Jelita menyeringai penuh mistery, entah apa yang akan di lakukan wanita licik itu.
๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฏ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฉ๐ฌ๐ถ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ช๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ธ๐ข๐ฌ๐ต๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ต. ๐๐ฆ๐ฌ๐ข๐ด ๐ฐ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ช ๐ด๐ช๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ต๐ข๐ด๐ช ๐ณ๐ถ๐ข๐ฏ๐จ ๐จ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฌ๐ฌ๐ถ.
๐๐ณ๐ช๐ข ๐ด๐ช๐ข๐ญ๐ข๐ฏ, ๐ข๐ฑ๐ฆ๐ด ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข, ๐ด๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ด๐ฆ๐ฌ ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐จ๐ข๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฉ ๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ๐ถ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฐ๐ณ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช ๐ด๐ช๐ข-๐ด๐ช๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ข. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ต ๐ฃ๐ข๐ญ๐ข๐ด ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฉ๐ข๐ฏ๐ต๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ฑ๐ถ๐ฏ.
Brakkk!
Jelita menggebrak meja riasnya. Keadaannya saat ini yang lemah pasca operasi, membuat dirinya tak bebas seperti dulu. Belum lagi, penyakit yang tengah menggerogoti tubuhnya perlahan. Namun, Jelita dengan keangkuhan akut nya. Tetap berusaha menolak penyakit yang sekarang bersemayam di tubuhnya.
_______
"Rich, kirimkan bukti-bukti foto ini kepada, bang Nuvo Bahtiar." titah Seno, seraya melempar beberapa lembar foto. Dimana di sana tergambar, Jelita yang tengah di rangkul seorang pria masuk kedalam kamar hotel.
"Baik, Tuan." Rich menyambar kertas-kertas foto tersebut, lalu memasukkannya ke dalam mesin fax.
"Rich, aku lupa kamarku tidak ada kameranya. Sedangkan wanita itu tidak pernah keluar kamar. Bagaimana kalau rubah itu merencanakan sesuatu?" risau Seno. Terlihat dari raut wajahnya yang mendadak tengah berpikir keras.
__ADS_1
"Apa yang sekiranya, Tuan lupakan?" tanya Rich.
"Entahlah." Seno menumpang dagu dengan kepalan tangannya.
"Kartu platinum ku Rich!"
"Cepat, hubungi pihak bank!" panik Seno, yang baru saja mengingat. Jika kartu no limit itu masih ada di laci nakas kamarnya.
"Tenang, Tuan. Bukankah nyonya Jelita, tak nampak keluar kamar beberapa hari ini?" ucap Rich berusaha berpikir tenang.
"Benar juga, tapi sebaiknya cek saja pengeluaran beberapa hari yang lalu. Karena aku meninggalkan ponselku di kamar. Sial!" umpat Seno, pria itu benar-benar merasa tak tenang.
Ia tahu benar sifat Jelita, mana mungkin wanita itu betah berhari-hari di kamar saja. Jelita adalah rubah yang licik, sejauh ini Seno baru menyadarinya. Siapa sebenarnya wanita yang ia cintai sejak jaman sekolah dulu.
Hingga, ia harus merebutnya dari pria cupu. Kakak kelas mereka, yang begitu menyayangi Jelita.
๐๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ณ๐ฆ๐ญ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ณ๐ช๐ข ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ๐ฎ๐ถ, ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ช๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ณ๐ช๐ข ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฎ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข๐ฎ๐ถ. ๐๐ถ๐ข๐ต๐ถ ๐ด๐ข๐ข๐ต, ๐ช๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ญ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฎ๐ถ. ๐๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข, ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ช๐ข ๐ต๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ต๐ช๐ข ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ. ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ ๐ช๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ต๐ช๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฎ๐ถ. ๐๐ช๐ฌ๐ข ๐ช๐ข ๐ต๐ข๐ฌ ๐ซ๐ถ๐ซ๐ถ๐ณ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ, ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ ๐ช๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ถ๐ญ๐ถ๐ด ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฎ๐ถ.
Seno memijat pelipisnya, kemudian ia memberi remasan kencang pada rambut dengan kedua tangannya. Ketika sepasang matanya menatap tagihan, yang tertera lada layar laptopnya.
"Aku terlambat, Rich."
"Aku bahkan tidak bisa, menggagalkan transaksinya." Seno meluruhkan raganya, matanya terpejam. Menahan pukulan keras yang seakan menimpa kepala serta dadanya bersamaan.
"Tu-tuan? anda baik-baik saja?" Rich mendekati Seno, lalu menggoyangkan bahu pria itu sedikit kencang.
"Tuan Seno pingsan? memangnya apa yang ia lihat pada laporannya?" Lalu Rich menggeser laptop ke arahnya. Seketika itu juga, sepasang mata sipit sang asisten pun membola.
"Wanita gila yang licik!" umpatnya geram.
_______
๐๐ฆ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช ๐ญ๐ถ๐ฎ๐ข๐บ๐ข๐ฏ, ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช. ๐๐ช๐ต๐ข ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต, ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ธ๐ข๐ซ๐ข๐ฉ๐ฎ๐ถ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ, ๐ด๐ถ๐ข๐ฎ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ด๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ.
Jelita pun tertawa puas, hingga wajah pucat itu mengeluarkan keringat lewat pelipisnya.
"Uhukkk ... uhukkk!" Jelita memukul-mukul, dadanya yang tiba-tiba sesak.
"Penyakit sialan! Aku masih belum bersenang-senang!" umpatnya seraya meringis pelan.
Broommm ....
Wanita itu menekan pedal gas pada kendaraan barunya. Hingga roda-roda itu berputar kencang di aspal hitam.
Bersambung>>>>
__ADS_1