Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Rencana Keduluan Aksi.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Aku tau, Rich. Seno tidak akan marah padaku," ucap Jelita yakin diiringi tawa kemudian.


Saat ini mereka berdua telah berada di dalam mobil. Keluar dari area rumah sakit, menuju rumah besar.


" Dia itu, sangat mencintaiku. Lagipula, kehilangan anak ini bukan kesalahanku. Kepergiannya bukan sebab perbuatanku. Kau tau, aku itu hanya sial saja bertemu pria maniak seperti itu." Jelita terus mengoceh dengan berbagai ekspresi. Berusaha membela diri, di depan pria yang sama sekali tidak peduli apapun tentangnya.


๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช.


Rich, tetap fokus mengemudikan kendaraan beroda empat itu. Membelah jalanan yang ramai lancar, meski debu beterbangan dikarenakan kemarau.


Terkadang Jelita tertawa senang, terkadang pula wajahnya menampakkan ketakutan, terkadang juga dia marah-marah sendiri. Memaki pria yang tanpa diketahuinya sudah pergi ke alam baka.


Rich, hanya diam tak menanggapi. Sejak awal pria ini tak pernah menyukai pribadi Jelita yang suka seenaknya padanya. Sifat angkuh dan ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ด๐˜บ, membuat asisten kepercayaan Seno ini, sama sekali tak menaruh respeknya.


Hanya satu tujuannya saat ini, membawa istri tuannya itu pulang kerumah besar. Meski, Rich harus menahan emosi karena Jelita tak kunjung diam.


"Rich, kau tau. Para tenaga medis itu hanya menakut-nakutiku. Mereka bilang aku sakit parah. Yang benar saja," Jelita tersenyum miring, setelahnya ia mendengus kasar.


"Aku ini baik-baik saja, seumur hidup aku tidak pernah sakit. Bagaimana mereka bisa mengatakan itu. Memberi ku obat dengan rasa yang menjijikkan." Lagi-lagi Jelita menggerutu panjang.


"Maaf, Nyonya. Kita sudah sampai," ucap Rich sedikit menoleh kebelakang. Baru saja ia hendak turun dari mobil, Jelita berteriak padanya.


"Tunggu, Rich!"


" Ya, Nyonya," Rich kembali duduk dan menoleh.


" Kenapa kau bawa aku kesini? aku tidak mau seatap dengan nenek sihir itu. Bawa aku ke apartemen saja," pintanya dengan memaksa.


"Maaf, Nyonya. Saya hanya melakukan sesuai perintah dari tuan Seno." Rich keluar dan membukakan pintu mobil untuk Jelita.


Jelita mendengus lalu menghentakkan kakinya sambil melirik sinis bin ketus kearah Rich. Namun, pria dingin bin kaku itu hanya abai.


Kemudian Rich mengeluarkan koper dari bagasi, setelah itu menyeretnya hingga ke dalam rumah besar.


"Heh! Ngapain kamu kesini lagi!" Easy, telah menyambut di depan pintu sambil bersedekap. Tatapan nya mengandung ketidaksukaan yang ketara jelas.


"Kau tau, rumah ini pernah melempar keluar wanita cacat yang tak tau diri!" hardik Easy, membuat kedua mata panjang Jelita menghunuskan kebencian.


"Kali ini, mungkin akan menendang satu lagi wanita tak berguna yang menyusahkan." Easy, kemudian membalas tatapan tajam Jelita.


"Aduuh, Mami mertua ku tercinta. Kenapa kau menampakkan wajah aslimu? Tidak bisakah kau berlagak menyukai dan menyayangiku?" sindir Jelita, dengan senyum remehnya. Sedangkan mata nya masih mendelik seram.


"Siapa kau! Sampai harus mendapat kasih sayang dari ku?" cebik Easy, membalas senyum remeh Jelita dengan tatapan merendahkannya.

__ADS_1


"Kau itu hanya wanita tak berguna, tak ada lagi yang bisa dibanggakan dari tubuhmu itu. Berkacalah!" sarkas Easy kemudian.


Jari tangan Jelita mengepal kuat di samping tubuhnya, hingga buku-buku jemarinya memutih.


๐˜ž๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜“๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜‘๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ!


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฐ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ด๐˜ช ๐˜ด๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ.


"Bagaimanapun, aku masih istri sah Seno. Aku masih berhak pulang kerumah ini. Jadi, permisi Mami mertuaku tersayang." Jelita melenggang melewati Easy dengan membusungkan dada.


Braakkk!


Easy menendang koper yang baru saja di letakkan Rich di depan pintu. Hingga isinya berserakan keluar.


Melihat situasi yang tidak kondusif, Rich membungkukkan tubuhnya. Setelahnya, pria bermata sipit itu berlalu.


" Buang saja ! Lagipula aku mau shopping kok setelah ini." Jelita pun tertawa sambil meneruskan langkahnya menaiki tangga.


_


_


_


Jelita berjalan mondar-mandir didalam kamar dirinya dan Seno. Memandangi foto pengantin yang di letakkan di atas nakas samping tempat tidur.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜—๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ต๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข.


Jelita menyeringai penuh mistery, entah apa yang akan di lakukan wanita licik itu.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต. ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด๐˜ช ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ถ.


๐˜—๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ข-๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ.


Brakkk!


Jelita menggebrak meja riasnya. Keadaannya saat ini yang lemah pasca operasi, membuat dirinya tak bebas seperti dulu. Belum lagi, penyakit yang tengah menggerogoti tubuhnya perlahan. Namun, Jelita dengan keangkuhan akut nya. Tetap berusaha menolak penyakit yang sekarang bersemayam di tubuhnya.


_______


"Rich, kirimkan bukti-bukti foto ini kepada, bang Nuvo Bahtiar." titah Seno, seraya melempar beberapa lembar foto. Dimana di sana tergambar, Jelita yang tengah di rangkul seorang pria masuk kedalam kamar hotel.


"Baik, Tuan." Rich menyambar kertas-kertas foto tersebut, lalu memasukkannya ke dalam mesin fax.


"Rich, aku lupa kamarku tidak ada kameranya. Sedangkan wanita itu tidak pernah keluar kamar. Bagaimana kalau rubah itu merencanakan sesuatu?" risau Seno. Terlihat dari raut wajahnya yang mendadak tengah berpikir keras.

__ADS_1


"Apa yang sekiranya, Tuan lupakan?" tanya Rich.


"Entahlah." Seno menumpang dagu dengan kepalan tangannya.


"Kartu platinum ku Rich!"


"Cepat, hubungi pihak bank!" panik Seno, yang baru saja mengingat. Jika kartu no limit itu masih ada di laci nakas kamarnya.


"Tenang, Tuan. Bukankah nyonya Jelita, tak nampak keluar kamar beberapa hari ini?" ucap Rich berusaha berpikir tenang.


"Benar juga, tapi sebaiknya cek saja pengeluaran beberapa hari yang lalu. Karena aku meninggalkan ponselku di kamar. Sial!" umpat Seno, pria itu benar-benar merasa tak tenang.


Ia tahu benar sifat Jelita, mana mungkin wanita itu betah berhari-hari di kamar saja. Jelita adalah rubah yang licik, sejauh ini Seno baru menyadarinya. Siapa sebenarnya wanita yang ia cintai sejak jaman sekolah dulu.


Hingga, ia harus merebutnya dari pria cupu. Kakak kelas mereka, yang begitu menyayangi Jelita.


๐˜ž๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜š๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ. ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜‘๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ.


Seno memijat pelipisnya, kemudian ia memberi remasan kencang pada rambut dengan kedua tangannya. Ketika sepasang matanya menatap tagihan, yang tertera lada layar laptopnya.


"Aku terlambat, Rich."


"Aku bahkan tidak bisa, menggagalkan transaksinya." Seno meluruhkan raganya, matanya terpejam. Menahan pukulan keras yang seakan menimpa kepala serta dadanya bersamaan.


"Tu-tuan? anda baik-baik saja?" Rich mendekati Seno, lalu menggoyangkan bahu pria itu sedikit kencang.


"Tuan Seno pingsan? memangnya apa yang ia lihat pada laporannya?" Lalu Rich menggeser laptop ke arahnya. Seketika itu juga, sepasang mata sipit sang asisten pun membola.


"Wanita gila yang licik!" umpatnya geram.


_______


๐˜š๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช. ๐˜’๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ.


Jelita pun tertawa puas, hingga wajah pucat itu mengeluarkan keringat lewat pelipisnya.


"Uhukkk ... uhukkk!" Jelita memukul-mukul, dadanya yang tiba-tiba sesak.


"Penyakit sialan! Aku masih belum bersenang-senang!" umpatnya seraya meringis pelan.


Broommm ....


Wanita itu menekan pedal gas pada kendaraan barunya. Hingga roda-roda itu berputar kencang di aspal hitam.


Bersambung>>>>

__ADS_1


__ADS_2