Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Mendadak Miskin. (Bangkrut)


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Seno, kenapa kau tidak berangkat ke kantor, Nak?" tanya Easy heran, karena sejak kemarin Seno mengurung diri dikamar. Sedangkan malamnya pergi ke klab, dan berakhir mabuk-mabukan.


๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข? ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข.


"Seno, katakan ada apa? Mami rasa, kau sedang menyembunyikan sesuatu?" cecar Easy.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ.


"Keluarlah dari kamarku, Mam. Aku sangat lelah." Seno kembali menggulung dirinya di balik selimut. Sampai deringan ponsel yang nyaring, berkali-kali, memaksanya untuk kembali berbalik.


๐Ÿ“ฑ" Ada apa!" teriaknya pada seorang pria di ujung telepon.


๐Ÿ“ฒ" Ku mohon, Tuan kemarilah. Atau orang-orang dari pihak bank akan menyita semuanya," Rich berkata dengan risau dan kalut.


๐Ÿ“ฑ" Apa-apaan mereka!! Jangan lakukan apapun, sampai aku datang!" Seno, mematikan sambungan telepon itu. Lalu, dirinya segera bangkit dari atas tempat tidur.


Easy yang melihat gestur kepanikan dari sang putra semakin yakin. Bahwa ada suatu hal besar yang terjadi, dan putranya itu tidak mau berbagi dengannya.


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช! ๐˜‰๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช.


Setelah Seno masuk ke dalam kamar mandi, Easy pun keluar dari kamar itu untuk bersiap.


_


_


"Ikuti mobil putraku, tapi jangan sampai ketahuan!" titah Easy, pada sopir pribadinya. Karena kini penglihatan matanya tak seperti dulu, sehingga dirinya tak berani lagi mengendarai mobil seorang diri.


"Baik, Nyonya." Sang sopir pun menurut, dan langsung tancap gas. Setelah mobil yang di kendarai anak majikannya itu keluar gerbang.


__________


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข-๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช?!


Seno menapaki langkahnya semakin cepat kedalam perusahaannya. Tak ada lagi karyawan yang bekerja, kecuali para pihak keamanan yang masih di pekerjakan olehnya.


Brakk!!


"Ada apa ini, Rich?! Katakan!" teriak Seno, pada satu-satunya orang kepercayaan yang masih mau bekerja padanya.

__ADS_1


"Sejak kemarin, perusahaan di demo oleh karyawan. Mereka tidak terima jika di PHK tanpa pesangon. Bahkan, beberapa dari mereka bertindak anarkis dengan mengambil beberapa properti. Hingga Berakhir dengan merusak barang serta bangunan," Rich menjelaskan secara rinci dan terbuka atas apa yang terjadi.


๐˜‘๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜—๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ต๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฉ. ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ.


"Aku akan tetap disini sampai hari pelelangan tiba. Mungkin, setelahnya kita tidak akan berjumpa lagi, Seno Pradipta." Rich, menepuk pundak Seno dengan sedikit memberi tekanan di sana.


"Jadi, jangan lagi bersikap angkuh padaku mulai hari ini. Saya bertahan, hanya karena mengingat jasa tuan Pradipta." Rich, sedikit menoleh kearah Seno, dimana pria itu kini tengah mengeratkan gigi-giginya.


"Singkirkan tanganmu!" Seno menepis tangan Rich yang berada di bahunya. Membuat pria bermata sipit itu, menyeringai padanya.


"Sampai kapan anda akan diam pada nyonya Easy? Lambat laun, Ibu anda pasti tau. Sebaiknya, beritahu padanya secara perlahan. Bukankah, nyonya pernah terkena serangan jantung?" saran Rich, yang bagaimanapun masih peduli terhadap bekas majikannya itu.


๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฐ. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜”๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ง๐˜ช๐˜ข.


"Tidak perlu mengajariku! Jika kau ingin pergi, pergi saja sana! Aku tidak membutuhkanmu!" usir Seno pada bekas asisten setianya itu. Kini, Seno telah mendudukkan dirinya di atas sofa.


"Kau masih membutuhkanku, untuk mengurus acara lelang dan membujuk pihak bank," ucap Rich, tak gentar atau marah. Meski Seno telah meneriakinya sedemikian rupa.


Tugasnya belum selesai, setidaknya ia akan pergi setelah perusahaan ini laku terjual. Lalu, menyelesaikan hutangnya pada bank. Meskipun akan menyisakan sedikit harta untuk kelangsungan hidup satu-satunya keturunan pradipta ini.


๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜™๐˜ช๐˜ค๐˜ฉ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข-๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ. ๐˜ž๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ , ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ!


Seno terlihat sangat kacau, rambutnya bahkan sudah berantakkan. Karena tangan berkali-kali, menarik dan memberi remasan pada kepalanya.


Blakk!


Easy masuk dengan mendorong pintu.


"Inikah yang tengah kau sembunyikan pada Mami?! Apa yang telah kau lakukan pada perusahaan ini, peninggalan mendiang Papimu, Seno!!" Easy menjerit dan berteriak pada putranya. Putra yang sejak tadi menampakkan wajah kaku bagai robot.


" Lihatlah di depan! Kaca-kaca jendela pecah dan berhamburan. Sungguh kacau sekali, apa yang sebenarnya terjadi? Katakan!!" Easy berteriak sambil menarik-narik kerah kemeja Seno. Sementara, pria itu hanya diam dengan tatapan kosongnya.


"Rich, katakan! Jangan diam dan membuatku bingung!" teriak Easy pada satu-satu karyawan perusahaan Pradipta Residen yang masih bertahan.


"Nyonya, sebaiknya anda duduklah dulu. Lalu minum ini." Rich menyerahkan air mineral pada Easy, agar wanita paruh baya itu rileks terlebih dahulu.


"Jangan mengalihkan pertanyaanku, Rich!" tolak Easy, menepis botol itu hingga menggelinding ke lantai.


๐˜ž๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ญ! ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ.


"Ucapkan selamat tinggal pada perusahaan ini, Mam. Berpisahlah pada kejayaan dan kemewahan yang selama ini memanjakanmu," sarkas Seno, tanpa melihat kearah sang mami.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Easy mulai terlihat memegangi dadanya. Wajahnya agak pucat karena dia mulai kesulitan bernapas.


"Nyonya, minumlah." Rich, menyerahkan kembali air mineral tersebut.


Pletak!!


Blughh!


Botol air mineral itu, kembali menggelinding ke lantai. Setelah untuk kedua kalinya, Easy menepis dengan kasar.


๐˜ž๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ! ๐˜๐˜ข๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข, ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜—๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ข? ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข.


"Semua sudah berakhir. Perusahaan ini hancur, penyebabnya adalah wanita pilihanmu itu!" Seno berkata dengan kilat penuh amarah dan sesal yang menjadi satu.


"Tidak mungkin!! Bukankah iblis itu hanya mencuri sebagian harta kita saja!!" hardik Easy yang tak terima.


Seno melemparkan beberapa berkas penyitaan. Easy, mengambil kertas-kertas itu dengan tangan gemetar.


"Tidak!! Tidak dengan rumah mewahku!! Kau tidak bisa melakukan ini!! Dia tidak mungkin melakukan ini pada kita!! Dia sudah menjadi abu!!" Easy berteriak histeris, melihat kenyataan. Bahwa, setitik perbuatan dapat menghancurkan kerja keras yang di kumpulkan bertahun-tahun.


Skandal Jelita yang mencoreng nama keluarga, serta kenyataan bahwa keadaan Seno yang tidak sempurna. Membuat saham perusahaan merosot tajam, hingga para pemegang saham menarik kembali investasi mereka.


Beberapa proyek yang telah berjalan setengah terhenti mendadak. Membuat perusahaan mendapat pinalti dari beberapa klien.


Untuk menutupi biaya ganti rugi, Pradipta Residen harus menjual seluruh asetnya. Termasuk rumah mewah dan juga beberapa kendaraan.


Hutang yang bejibun, membuat perusahaan tak mampu memberi pesangon secara pantas terhadap ribuan karyawannya.


"Karena itu, kita akan melelang perusahaan serta rumah mewah anda Nyonya. Sehingga, anda masih akan menerima sedikit uang dari sisa pembayaran hutang nanti," jelas Rich.


Seketika Easy menoleh kemudian menatap tajam ke arah Rich.


"Berapa sisa uang yang bisa ku terima?" tanya nya dengan rasa diujung putus asa.


" Sekitar 200 juta," jawab Rich santai. Sementara Easy terlihat megap-megap.


"Mam!! Mami!!" Seno berteriak ketika wanita paruh baya itu limbung dan jatuh ke atas lantai marmer.


๐Ÿพ Sekedar info gais, harta mereka kalau di hitung sekitar satu triliun lebih. Karena rumah mewah bak istana Easy saja bisa seharga 400 milyar.


Kira-kira Easy pingsan aja apa langsung koid ya?๐Ÿค”

__ADS_1


Kuy, isi di kolom komen ya mengenai nasib Easy selanjutnya๐Ÿคฃ ...


Bersambung>>>>


__ADS_2