
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Sekarang, saatnya yoga bersama pasangan ya Mom's end Dad's. Silakan, stand by di atas matrasnya masing-masing." Instruktur yoga kembali memberi arahan.
"Ayo sayang, kita yoga bareng bertiga." Susi menarik kedua tangan Arjuna, mengajaknya menuju ketengah ruangan. Tak banyak pasangan yang datang untuk yoga pekan ini. Instruktur dan tim, sengaja mengatur waktunya menggunakan sesi agar lebih private.
" Sebelum itu, oleh ajak bicara janinnya dulu. Setelahnya baru kita mulai." (Instruktur)
Arjuna menurunkan tubuhnya, kemudian bertumpu dengan kedua tungkai kakinya. Kebetulan, Susi masih duduk di atas kursi. Mereka berdua memang belum pindah ke atas matras.
"๐๐บ ๐๐ข๐ฃ๐บ, buah cintanya Mommy end Daddy. Sekarang kita yoga bertiga ya, sayang. Agar kalian berdua selalu sehat sampai kita bertemu nanti di dunia. Kau tau, Daddy sungguh tidak sabar menantikan hingga hari itu tiba," ucap Arjuna pelan di depan perut buncit Susi. Sesekali ia mendaratkan ciuman lembut di sana.
Tanpa mereka sadari, terdapat beberapa pasang mata yang menyaksikan keromantisan mereka berdua.
"Lihat tuh, Bang. Jadi suami tuh kayak gitu! Perhatian ama binik!" protes seorang wanita yang tengah hamil besar. Ia menunjuk samar ke arah Susi dan Arjuna yang berada tak jauh dari dirinya.
"Lha ini, Abang ude perhatian. Makanya nemenin ke sini," sahut sang suami yang badannya kurus macam tiang listrik.
"Ye, kalo kagak di paksa juga gak bakalan jalan, Bang," ketus wanita hamil itu lagi.
"Bosen kali, Dek. Ude empat kali kita kayak gini. Tiap hamil selalu beginian," balas pria yang memasang wajah masam itu.
"Yee! Bikinnye aje lu kagak bosen, Bang!" cebik wanita hamil itu sembari mendorong bahu suaminya hingga pria itu terjengkang.
Mengabaikan pasangan di sebelahnya yang terus berdebat. Susi mengulurkan tangannya, untuk mengelus rambut Arjuna. Hatinya menghangat ketika melihat kelembutan sikap dari suaminya itu.
__ADS_1
"Akh, sayang. Dia merespon mu!" pekik Susi, yang merasakan tendangan kecil dari dalam perutnya. Sebuah respon positif dari calon bayi mereka.
"Iya, aku merasakannya. Sayang, bayi Daddy yang hebat dan pintar. Apa itu adalah tanda kau menjawab kata-kata ku barusan?" Arjuna menempelkan pipinya, ke dinding perut Susi. Berharap mendapat tendangan lagi dari calon bayi mereka. Sembari terus mengelus perut Susi dengan arah memutar.
Tanpa sadar, Susi meluruhkan kristal bening yang menggumpal di ujung matanya sejak tadi. Selama kehamilan, baru kali ini ia menangis haru.
๐๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฏ๐จ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฎ๐ถ, ๐๐ณ.
Arjuna mengusap pipi istrinya yang basah, dengan kedua ibu jarinya. Kemudian, ia mengecup sekilas bibir istrinya itu. Membuat Susi tersenyum dengan sangat lebar.
๐พBikin ngiri orang aja dah ah!๐
"Boleh kita mulai ya!" Instruktur kembali memberi instruksi. Hingga para pasangan, berada siap di posisi mereka masing-masing.
Arjuna dan Susi begitu kompak dengan setiap gerakan yang diarahkan oleh instruktur. Gerakan yang sulit pun dapat mereka lakukan secara bersama. Senyum sumringah setia menghiasi wajah cantik alami Susi. Meski peluh membanjiri seluruh tubuh mereka. Namun, ia nampak bahagia, karena sang suami yang selalu ada untuknya dan juga calon bayi mereka.
"Kalian semua adalah pasangan yang hebat dan luar biasa. Dukungan ini berpengaruh sangat besar bagi para ibu hamil. Agar mereka dapat menjalani setiap fase kehamilan dengan pikiran lebih fresh dan hati yang tenang. Sekarang, adalah saatnya kita memberi sugesti pada diri sendiri ya. Para ibu atau ayah bisa ikuti saya." Instruktur telah mengambil posisi duduk bersila dengan punggung yang tegak.
"Mula-mula letakkan telapak tangan kalian di atas perut. Para suami atau calon ayah, boleh juga meletakkan tangan kalian ya. Setelah itu, pejamkan mata kalian. Tarik napas dalam dan hembuskan perlahan. Ulangi sampai tiga kali." Sang instruktur wanita itu mulai berbicara dengan nada perlahan.
"Fokuskan pikiran ... buang segala resah serta kerisauan." Sang instruktur memberi sugesti dengan nada yang lirih serta mendayu.
"Katakan pada diri kita, bahwa ... aku sehat, bayiku juga sehat. Aku bahagia dengan kehamilan ku ini. Aku ... sangat menyayangi bayiku. Aku dan suamiku, kami sebagai orang tua ... begitu rindu dan tak sabar ... untuk segera berjumpa dengan bayi kami. Aku yakin kehamilanku ini tidak akan bermasalah. Aku ... mendapatkan kebahagiaan melimpah dari kehamilan ini. Aku ... menjalani kehamilan ini dengan nyaman ... dengan hati yang senang. Bayiku ... kami sangat menyayangimu. Lahirlah, dengan selamat dan tanpa masalah. Tuhan ... jagalah kami. Pertemukan kami dengan cara yang baik." Instruktur menghentikan kata-katanya, lalu kembali memberi perintah untuk membuka mata.
"Para suami boleh peluk istrinya masing-masing. Ucapkan terima kasih, karena istri kalian telah menjadi wanita yang hebat dan kuat." Instruktur pun melengkungkan senyumnya, melihat beberapa pasangan di hadapannya saling berpelukan erat.
__ADS_1
"Sayang, terima kasih. Terima kasih banyak, atas kerelaan mu menanggung benih ku. Membawa bayi kita, membuatmu susah dan tak nyaman. Terima kasih sayang, aku berhutang budi padamu," bisik Arjuna dengan lirih di samping telinga Susi. Ia mendekap raga itu erat, seraya memberi kecupan berkali-kali di pipi dan juga ceruk leher istrinya itu.
Air matanya berlinang membasahi seluruh wajahnya. Napasnya tercekat menahan isak tangisnya. Hal yang serupa juga, di lakukan oleh pasangan yang lain. Hingga, aula itu menjadi arena mengharu biru. Ketika para suami mengungkapkan perasaannya pada istri mereka.
"Sayang, kau tak perlu mengatakan itu. Aku menerima ini dengan kerelaan dan senang hati. Aku tidak merasa terbebani, aku sangat bahagia. Kau tidak berhutang apapun padaku. Kau yang telah melimpahkan kebahagiaan serta kesempurnaan ini untukku. Aku begitu beruntung karena semesta telah mempertemukan aku dengan mu." Susi merangkul tubuh tegap Arjuna semakin erat. Melepaskan semua rasa yang membuncah dari dalam dada mereka. Menumpahkan isi hati yang selama ini masih mereka simpan dalam dan tertutup rapat.
Arjuna melabuhkan kecupan berkali-kali ke seluruh area wajah lembab Susi. Menyeka air mata yang terus merembes melalui kedua pipinya yang semakin chubby. Hingga, kedua pasang iris pekat mereka kini beradu dalam pandang.
"Kita lanjutkan di rumah, setelah menangis, aku jadi ingin memakan mu," ucap Arjuna pelan dengan senyum nakalnya.
"Arjuna," gemas Susi. Seraya melabuhkan cubitan cinta di perut delapan kotak Arjuna.
"Aduh, di rumah lagi aja ya. Takut ada yang bangun," goda Arjuna lagi. Membuat Susi langsung membekap mulut ember nya itu. Takut, jika ada yang mendengar omongan mesumnya.
Mendapat perlakuan seperti itu, membuat Arjuna semakin terkekeh geli.
"Kau ini." Susi mengeratkan giginya menahan gemas terhadap tingkah laku suaminya itu. Apalagi setiap kelakuan mereka tak luput dari perhatian setiap peserta lainnya. Mungkin, karena mereka satu-satunya peserta yang bersinar macam bintang hollywood.
"Tuan dan Nyonya, sekalian. Terima kasih, atas kehadiran kalian pekan ini. Jangan lupa untuk selalu berpikiran positif ya! Sampai ketemu lagi pekan depan! Jangan lupa datang, karena lusa kita ada kelas parenting. See you next time!" Sang instruktur pun mohon pamit untuk melarikan diri.
Dia yang masih jomblo tak cukup kuat melihat adegan romantis yang sejak tadi di tebar oleh pasangan fenomenal kita ini. Salah sendiri juga sih, kenapa juga sejak awal perhatiannya tak luput dari keduanya.
๐๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฉ, ๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ฆ๐ต ๐ด๐ถ๐ข๐ฎ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐บ๐ข๐ฌ ๐จ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐บ๐ข๐ณ๐ช ๐ฅ๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ค๐ฐ๐ฃ๐ข? ๐๐ข๐ญ๐ฐ ๐ข๐ซ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฐ๐ญ๐ด๐ฉ๐ฐ๐ฑ ๐ข๐ฅ๐ข, ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ด๐ถ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฏ๐ซ๐ข ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ฆ ๐ฑ๐ข๐บ ๐ญ๐ข๐ต๐ฆ๐ณ.
Sang instruktur pun terkekeh geli dengan jalan pikirannya sendiri.
__ADS_1
๐พEmang ya, Susi ma Arjuna. Gak dimana juga, selalu ... aja jadi pusat perhatian.๐
Bersambung>>>