
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Seno merebahkan tubuh penatnya di atas sofa. Temaram pencahayaan berganti kedap-kedip lampu disco. Suara musik dari DJ yang menghentak, sehingga membuat adrenalin meningkat.
Seiring pula dengan degup jantung yang meletup kencang.
Dreett ... Dreett ...
Getar ponsel yang di silent terasa di dalam saku pria berkacamata itu. Seorang wanita berpakaian minim sedang memulai aksinya, membuka kancing kemeja Seno bagian atas serta mengelus dada dengan sedikit bulu halus itu.
"Sebentar." Seno meletakkan telunjuk di bibirnya, memberi kode pada wanita sewaannya itu agar berhenti.
" Ya mam!" teriak Seno mendekati ponsel itu ke bibirnya.
"Kau di bar lagi!" pekik Easy di seberang sana.
" Ada apa meneleponku!" Karena lokasi Seno di tempat yang bising, jadilah ia berteriak.
Begitupun Easy, ia menimpali dengan teriakan pula.
"Kau pulanglah malam ini!" Pinta Easy dengan berteriak dari seberang ponselnya.
"Berhentilah menuntut ku mam!" Dengan geram Seno menekan tombol pada ponselnya. Kemudian, menonaktifkan ponselnya.
"Menganggu saja!" umpat Seno kesal.
"Selalu menyusahkan!" Seno memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantung jasnya.
Easy sangat geram sekali, karena Seno memutuskan panggilannya secara sepihak. Sedangkan dirinya belum selesai bicara.
__ADS_1
"Jelita, kira-kira di bar mana Seno suka main?" tanya Easy pada calon menantunya itu.
"Aku tau Mam, di salah satu klab malam milik Don Domino, pria yang di juluki King Of Casino. Selain bar, ia pun memiliki tempat judi dan billiar," jelas Jelita.
"Kau susul dia, kalian harus segera menikah!" titah Easy pada Jelita.
"Aku pergi Mam ... Bye!" Jelita pun pamit dengan mencium pipi calon ibu mertuanya itu.
Kembali ke klab malam.
"Jangan marah-marah Tuan, lebih baik kita bersenang-senang malam ini." Wanita berpakaian kurang bahan itu menuang minuman dari botol kedalam gelas, kemudian mengajak Seno bersulang.
"Berikan aku satu botol lagi ... Hukk!" pinta Seno, padahal dirinya sudah menghabisi beberapa botol minuman perusak jiwa dan raga itu.
"Kau sudah hampir mabuk Tuanku ...," ucap wanita bergincu merah itu mengingatkan.
Hingga wanita itu melenguh dan memekikkan desah bersuara berat. Karena gairah penuh gelora telah mengeroyok raga mereka bersamaan.
"Jangan disini Tuan!"
Lalu wanita itu merapikan pakaiannya, yang mau di tarik kemanapun tetap saja membuat beberapa lekuk dan bagian menonjol dari tubuhnya itu terlihat jelas.
"Ayolah babe ... aku sudah tidak tahan ... sesuatu dari bawah sini hendak meledak." Seno mengarahkan tangan wanita itu pada pusakanya.
"Saya pun sama, Tuanku." Wanita itu tersenyum seraya menggigit bawah bibirnya. Lalu memapah Seno keluar dari bar itu.
Sepanjang koridor yang minim pencahayaan itu, Seno tidak melepaskan pertautan bibirnya pada wanita tersebut.
Mereka sesekali berhenti, karena kondisi tubuh keduanya telah memanas. Tanpa menghiraukan orang-orang yang kadang melewati mereka.
__ADS_1
Karena kejadian dan penampakkan seperti itu telah biasa di tempat seperti ini.
"Tuan ... akh!" Wanita itu memekik tertahan. Ketika bibir Seno mendarat kasar di tulang selangka.
Seno meninggalkan jejak pramuka sambil memerah susu.
Ketika bibirnya hendak turun kebawah, sebuah tangan menariknya kencang. Sontak tubuh Seno berbalik, dan mata berkabut nya mendelik.
"Jelita!" kagetnya.
"Apa-apaan ini!"
PLAK!
Tangan mulus berjari lentik itu, mendarat dengan kasar di pipi Seno.
Seno menengok cepat, menatap geram kearah Jelita.
"Ikut aku! Dan kau, pergi sana!" Jelita menarik Seno dan mengusir wanita yang sudah setengah polos itu.
" Apa-apaan kau!" Seno menepis kasar cekalan tangan Jelita hingga wanita itu terjerembab ke sofa.
Kini mereka telah berada di apartemen Seno.
"Kau yang apa-apaan!" teriak Jelita geram, dirinya sangat kesal luar biasa pada lelaki di hadapannya ini.
"Inikah yang kau dapatkan, ketika aku tengah memperjuangkan pernikahan kita!" pekik Jelita murka.
Bersambung>>>>
__ADS_1