Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Meradang Kekalahan.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Dor!!


Pria di hadapannya pun tumbang, dengan bersimbah darah. Sebab, peluru telah menembus dada sebelah kirinya.


Dor!!


Doorr!!


Milna kembali melempar tembakan, ke arah dua orang pria yang berada di meja bartender.


Seketika Better pun mendudukkan dirinya sambil menarik nafas dalam.


"Kau sangat berantakan, Pak." ejek Milna yang melihat rambut Better sudah carut marut tak karuan.


"Baru saja aku mau berterimakasih padamu, tapi kau sudah mengejekku lebih dulu." Better melepas kunciran nya, kemudian menyugar rambutnya kebelakang.


"Aihh, gantengnya ...." seru Milna sok kagum, lalu ia pun tertawa setelah mendudukkan dirinya di sebelah pria macho nan cuek itu.


"Untung saja aku dan para anak buahku sempat menyusup, sebelum si kadal burik itu mengunci semua akses keluar." desah Milna.


" Kita harus segera pergi dari sini, sebelum mafia bau tanah itu mengirim pasukannya lagi, bahkan dia bisa saja meledakkan tempat ini." titah Better.


"Apa pria yang suka jelalatan itu, harus ku hormati?" tanya Milna pada Better, sambil melirik ke arah Joy yang tengah menghampiri mereka berdua.


Sambil memapah Walls, yang sepertinya terkilir pada kaki.


"Tentu saja, dia kaki tangan Tuan Arjuna sama sepertiku," sarkas Better menyindir.


"Baiklah, Bos." ucap Milna dengan serius.


"Nah, begitu!"


Wanita tomboi itu malah terkekeh.


" Kau kenapa anak kecil?" tanya Milna dengan nada meledek pada Walls.

__ADS_1


" Nona, tolong jangan meledekku. Nanti, bukan hanya kakiku yang sakit tapi juga hatiku," lirih Walls seakan begitu menderita.


Milna hanya terkekeh di buatnya, dirinya adalah tipikal wanita yang ceria dan mudah tertawa, bahkan pada jokes receh sekalipun.


"Cepat kita pergi dari sini!" Better memerintahkan pada semuanya agar angkat kaki segera. Sebelum ada hal buruk yang berkelanjutan.


Lagipula, tubuhnya serasa remuk.


Kepalanya pusing, karena mencium bau anyir darah bercampur dengan wine.


Klab malam itu begitu berantakan, dengan raga terkapar hampir di setiap sudut. Para pengunjung sudah kocar-kacir keluar sejak pertempuran awal. Sedangkan para pekerja, mungkin bersembunyi di salah satu ruangan.


DOR ... DOR!!


Milna menembaki kunci, dan pintu pun terbuka.


"Menurutmu, apakah kejadian ini akan tercium pihak berwajib?" tanya Joy pada Better.


"Kurasa, Don Domino telah mensiasatinya. Karena itu ia dengan percaya diri mengirim anak buah tanpa senjata." jawabnya, sambil kembali menguncir rambutnya.


"Siapa bilang, mereka tidak bersenjata?"


Better menengok cepat ke arah Milna, memasang senyumnya dan berkata, "maksudmu kita impas?" Better bahkan menaikkan sebelah alisnya.


_________


Kejadian di klab malam membuat Don Domino meradang. Pria itu rugi besar, kehilangan anak buah serta kehilangan uang. Kerena harus mengganti kerugian akibat kerusakan yang di timbulkan saat pertarungan malam itu.


"Mereka benar-benar tidak bisa dianggap remeh. Dari mana Arjuna mendapatkan anak buah sekompeten itu." gumam Domino kesal, marah semakin dendam.


"Aku menginginkan wanita itu!" teriak Don di tengah mini bar-nya. Nampaknya, pria paruh baya itu sudah mulai mabuk.


"Aku benar-benar menginginkannya, merasakan tubuhnya, hahaha ...!" Tawa pengusaha aliran hitam itu menggema. "Nick, kau harus mendapatkannya untukku. Atau, tubuhmu akan kulemparkan pada dragonku." ancam, Domino. Membuat, Nick mengangguk patuh.


(Sial, kenapa jadi aku yang harus melakukannya. Sedangkan, wanita itu pasti di kawal ketat saat ini.) batin Nick mengumpat pada nasibnya.


" Sementara ini, bawa masuk wanita yang dikirim oleh Jelita." Titah Don, yang merasa harus mengeluarkan sesuatu dari tubuhnya.

__ADS_1


" Yang mana, Don?" tanya Nick, karena Jelita membawa beberapa wanita cantik.


"Yang paling muda itu, yang tubuhnya berisi di beberapa bagian." jelas Domino sambil membayangkan.


Dasar kadal tua mesum😠


Tak lama, yang diinginkan Don masuk kedalam ruangan. Dirinya mengenakan dress di atas paha berbahan satin.


" Apa anda membutuhkan saya, Don?" pertanyaan yang manis manja menggoda, keluar dari pemilik bibir mungil itu.


"Yaaah, siapa namamu ? Cantik." Tangan Don melambai memberi kode, agar para pengawal dan kaki tangannya undur diri.


"Anda, dapat memanggil saya Frenta ...."


Kemudian, Jeff dan Nick pun pamit dengan patuh.


" Kita pun harus bersenang-senang dengan salah satu gadis itu," ajak Nick pada si bisu Jeff. Di katakan begitu, karena Jeff jarang sekali bicara.


Bahkan kali ini, dirinya hanya menanggapi dengan senyum miring yang sebentar.


" Ku kira kau tidak butuh wanita Jeff," gelak Nick, seraya memukul bahu pria salju itu.


Jeff hanya melirik sinis kepada Nick.


" Lihat mereka ...."


"Aku yang berambut hitam dan kau yang silver itu." tunjuk Nick kearah dimana kedua wanita itu tengah duduk di dalam kamar mereka.


" Untuk mempersingkat waktu, kita main disini saja."


...Besok kita kondangan gais .......


...Siap gak kalo seandainya ketemu mafia pas lagi makan prasmanan?😱...


_


_

__ADS_1


_


Bersambung>>>


__ADS_2